Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
22: Janji


__ADS_3


Tik tok tik tok


Alunan detik jam terdengar jelas memenuhi ruangan. Angin sejuk yang dihembuskan mesin pendingin ruangan pun membuat suasana ruangan itu tenang dan nyaman.


Di sana, terdapat dua orang yang sedang duduk berhadapan sambil menyantap roti panggang yang telah diolesi mentega dan diberi potongan buah-buahan segar, sebagai menu sarapan pagi itu.


Sang gadis yang merasa bahagia dengan pelayanan penuh dari pasangannya pun, melahapnya dengan senyuman terukir di wajahnya.


“Sesenang itukah dirimu dengan makanan yang kubuat?” Tanya Egon.


“Iya! Aku saaaangat menyukai ini,” jawabnya dengan lantang.


“Syukurlah..” ucap Egon.


“Wajahmu terlihat lelah, apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Mysha.


Sejak Mysha dibangunkan oleh Egon, ia menyadari raut wajah lelaki tersebut terlihat sendu. Ia pikir, itu hanyalah perasaannya, karena Egon pun belum lama bangun.


Tapi, sampai setelah mereka mulai menyantap sarapan dan sedikit berbincang, kesedihan itu tak kunjung hilang. Mysha yang merasa khawatir pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.


“Ah iya, hanya masalah kecil dengan diriku sendiri..” jawabnya.


“Oh begitu, kau bisa cerita kapanpun kalau kau mau..”


“Terima kasih,”


Keheningan kembali muncul di antara keduanya. Walaupun Mysha berkata padanya untuk bercerita kapanpun ia mau, sesungguhnya ia sedikit kecewa pada jawaban Egon yang tak memberitahu masalahnya saat itu juga. Disisi lain, ia pun ingin menghargainya jika memang ia belum siap untuk menceritakannya.


Ia masih merasa bahwa lelaki dihadapannya masih memiliki sejuta rahasia yang belum ia ketahui.


“Apa yang ingin kau tau dariku?” seakan Egon dapat membaca pikirannya, ia pun angkat bicara.


“Aku tau kau ingin tau semua, kau mengatakan itu beberapa hari lalu. Tapi aku tak tau harus mulai darimana,” jelasnya lagi.


“Hmm,” Mysha pun memilih salah satu dari beberapa pertanyaan yang melintas dibenaknya. “Seberapa miripnya kah cerita novel itu dengan kehidupan aslimu?”


“Buku pertama 90% dan buku kedua 30%”


“Wow.. sejauh itu?”


“Iya, buku pertama benar-benar mirip. Hanya sebagian kecil yang hilang. Buku kedua, secara garis besar mirip, tapi bagian detailnya banyak yang keliru..”


“Wow.. itu seakan pada buku pertama, si penulis mendapat ilham tentang dirimu. Sementara buku kedua hanya menulis sesuai imajinasinya..”


“Mungkin begitu,”


“Kau tidak curiga dengan penulisnya?” Tanya Mysha.


“Maksudmu, karena ia bisa menulis tentang kehidupanku?”


Mysha mengangguk.


“Aku hanya mencoba berpikir kalau aku memang berasal dari novel seperti yang kau bilang padaku. Karena, aku pun baru-baru ini yakin, bahwa aku dan dirimu, memang berasal dari dimensi yang berbeda..”


“Hmm.. berarti kau memang tokoh ciptaannya, begitu?”


“Bisa dibilang begitu..” Egon mengangguk.


“Atau penulis itu dapat ilham?”


“Mungkin begitu.. atau..”


“Atau?”


“Penulis itu berasal dari dunia yang sama denganku.”

__ADS_1


“!!!” Mysha terkejut mendengar itu. Frederick? seorang Frederick berasal dari tempat yang sama dengan Egon?


“Menurutku itu tidak mungkin!” Mysha menolak pemikiran Egon tentang itu.


“Aku sudah beberapa kali bertemu Frederick. Dia terlihat seperti orang biasa. Bahkan ia memiliki foto-fotonya waktu kecil bersama kedua orang tuanya..” jelasnya.


“Oh ya?”


Mysha pun mengangguk lagi.


“Ngomong-ngomong tentang Frederick, aku menyuruhnya untuk menghubungimu..”


“Ah, pantas tadi malam dia mengirim pesan..”


“Oh? Dia sudah mengirim pesan rupanya.”


“Kenapa tiba-tiba?”


*“*Aku dan dia berbicara tentang jalan cerita The Dark Prince. Aku memberitahunya bahwa kau memiliki sudut pandang yang menarik tentang cerita tersebut.”


“Kalau dia mendengar ceritaku, sama saja seperti mendapat jalan pintas untuk menulis buku selanjutnya..” Egon mendengus kesal tidak terima.


“Kau benar! Dia sebenarnya sedang kehabisan ide untuk itu..”


“Kalau dia memberiku royalti, aku mau..”


“Aku yakin orang sekaya dia, pasti akan memberimu royalti yang tak terhingga,”


“Hmm” Egon telah menyelesaikan sarapan lebih dulu. Ia pun meminum teh putih yang mulai hangat karena udara dingin kamar tersebut.


“Egon, apa kamu kenyang dengan makanan seperti itu?” Tanya Mysha penasaran.


“Hmm.. makan itu bukan sampai kenyang, tapi apakah kandungan gizi setiap harinya terpenuhi atau tidak,” jawabnya.


“Oh tidak, aku akan mati dengan keadaan lapar jika aku menerapkan itu..”


“Hmm.. tapi tubuhmu berotot.. Aku pikir orang berotot sepertimu makannya juga banyak, setidaknya lebih banyak dari yang kau makan sekarang” Mysha yang juga selesai melahap sarapannya, bangkit dari kursinya dan membereskan piring kotor yang ada di meja.


“Kau tau tubuhku berotot?” Egon tersenyum nakal padanya.


“Dari tanganmu.. dan di novel pun tertulis begitu,” dengan wajah malu-malu ia pun menjawabnya.


“Kau mau lihat yang lainnya?” Egon menahan lengan Mysha yang mencoba kabur ke dapur untuk menaruh piring kotor.


Melihat Mysha yang berusaha menyembunyikan senyumannya dari Egon dengan wajah yang sangat merah, Egon pun semakin ingin menggodanya.


“Mysha..”


“Y—ya?”


“Biar aku saja yang taruh piringnya.” Egon menyeringai.


Ia mengambil semua piring kotor ditangannya dan mulai berbisik di telinganya, “kalau kau yang mulai duluan, mungkin aku bisa menahannya..”


“Egon!” Mysha pun meneriakinya yang sudah berjalan lebih dulu ke arah dapur.


“Hahaha” suara tawa Egon menggema di ruangan tersebut.


Di saat yang bersamaan, ponsel Mysha yang ia taruh diatas meja, bergetar. Ia pun langsung memeriksa layar ponselnya untuk mengetahui orang yang meneleponnya tersebut.


“Ah? Frederick meneleponku..” dengan ragu, ia memberitahu Egon.


“Angkat saja, itu pekerjaanmu juga..”


“Hmm, baik” Mysha pun pergi ke balkon kamar Egon lalu mengangkatnya.


“Halo?”

__ADS_1


***


“Mysha!” Frederick langsung memanggil Mysha dari kejauhan ketika melihat dirinya muncul di pintu masuk sebuah toko baju.


“Oh hai!” Mysha pun menoleh ke arah Frederick dan menyapanya begitu jarak mereka mendekat.


“Maaf tiba-tiba memanggilmu kemari..”


“Tidak apa.. memangnya kau mau membeli hadiah untuk siapa?” Tanya Mysha penasaran.


“Ibuku, besok beliau ulang tahun,” sambil tersenyum Frederick pun menjawabnya.


Mysha dapat melihat bagaimana lelaki tersebut terlihat senang menemuinya. Matanya terlihat berbinar. Berbeda dengan tatapan Egon yang jarang sekali terlihat emosi di dalamnya, kecuali ketika Egon sedang menginginkan dirinya.


“Oh begitu ya?”


*“*Ya, karena aku tidak banyak punya teman wanita, aku memanggilmu kemari.. Ditambah lagi, setiap kali kita bertemu, aku melihatmu selalu menggunakan baju yang fashionable, aku yakin selera bajumu bagus..” jelasnya.


“Oh ya? Padahal selama ini, aku hanya memilih baju yang terlihat simpel..”


“Hahaha.. atau mungkin aku hanya membuat alasan saja karena aku ingin bertemu denganmu..”


Mendengar itu, Mysha pun terdiam dengan perasaan tidak enak.


“Ah, tapi tentang ibuku yang ulang tahun itu benar kok..”


“Kalau begitu, apa kita masuk saja?” Mysha menanggapinya sambil tersenyum.


“Iya, ayo!” Frederick pun berjalan masuk, bersebelahan dengan Mysha.


***


*Flashback sebelum bertemu Frederick*


“Dia memintamu menemuinya di toko baju?” Egon mengernyitkan dahinya mendengar alasan Frederick meneleponnya.


“Iya,” jawab Mysha sambil menaruh ponselnya kembali.


“Kau akan pergi?”


“Iya, aku ingin berbicara langsung padanya bahwa ada orang yang aku sukai, makanya aku tidak bisa menemaninya lagi kedepannya..”


“Baiklah.. kalau begitu, hati-hatilah..”


“Iya.. terima kasih.. kau juga semangat dengan pekerjaanmu hari ini..” Mysha pun berjalan ke arah pintu.


“Iya..”


“Egon..” sebelum ia melangkah lebih jauh, ia menghentikan langkahnya dan menoleh kembali untuk melihat Egon.


“Humm?”


“Aku benar-benar menyukaimu,”


“Hmm? Aku juga.. Ada apa?” dengan sedikit kebingungan dengan pernyataan Mysha yang tiba-tiba, Egon pun menjawab.


“Tidak, barang kali kau tiba-tiba hilang saat aku kembali, jangan lupakan aku..”


Egon tersenyum. Setelah ia mengeringkan tangannya yang baru ia cuci, ia pun menghampirinya dan mengecup bibirnya lembut.


“Tidak akan..” jawabnya.


***



Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2