Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
08: Alasan


__ADS_3

*“*Jadi, apa kau akan ikut casting-nya?” Tanya Mysha sambil menatap mata Egon dengan penuh harapan. Seakan Ia memaksa untuk menjawab ‘iya.’


Egon yang merasa terbebani oleh tatapan Mysha pun tanpa menjawab apapun, menyuruh Mysha kembali untuk melanjutkan makan malamnya. Selain karena Egon sendiri khawatir akan Mysha yang sebelumnya terlihat kelelahan, ia ingin Mysha menenangkan hatinya terlebih dahulu. Karena bagi Egon, mengambil pekerjaan sebagai pemain film merupakan langkah besar yang harus benar-benar ia pikirkan terlebih dahulu, bukan hanya sekedar karena nafsu semata.


“Oh ya, tadi katamu, siapa yang menghubungimu?” Mysha memulai kembali percakapan tentang undangan casting Egon setelah ia menyelesaikan makannya.


*“*Hmm.. aku tidak ingat namanya siapa, tapi, dia dari miracle entertainment.”


“Oh! Aku tau itu! Itu perusahaan produksi yang terkenal telah mendebutkan banyak artis muda berbakat!”


“Benarkah? Apa menurutmu lebih baik aku ikut? Menurut penilaianku sendiri, sepertinya aku tidak terlalu berbakat dalam seni peran.”


“Hmm..” mengingat bagaimana pertama kali Egon berswafoto, Mysha memang awalnya berpikir apa Egon tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang seleb. Tetapi, melihat bagaimana ia berpose saat Mysha mengambil fotonya, juga perkembangan Egon beberapa minggu ini, menurut Mysha, hal seperti ini hanya butuh waktu terbiasa. “Bagaimana kalau kau coba dulu?” Lanjutnya.


“Apa menurutmu aku bisa?”


Melihat keseriusan Egon saat bertanya, membuat Mysha terdiam. Egon seakan mengirimkan telepati pada Mysha, bahwa keputusan kali ini tidak bisa main-main.


Mysha melipat tangannya di depan dadanya, sambil bersandar pada kursi makannya, ia pun bertanya pada lelaki di hadapannya. “Egon, apa kau akan pergi dari sini?” Matanya yang selalu terlihat bulat itu, menatap kedua matanya dengan berani.


“Aku termasuk orang yang selalu merencanakan hal-hal yang akan aku lakukan kedepannya. Karena, aku tidak mau menyesali waktu yang akan terbuang jika aku tidak melakukannya.” Sebelum menjawab pertanyaan Mysha, Egon mencoba menjelaskan keadaannya terlebih dahulu.


Mysha memasang telinganya dengan seksama sambil menunggu jawaban Egon dri pertanyaannya tersebut.


“Tapi, semenjak aku muncul di sini, entah kenapa, selalu ada rasa takut setiap aku mau membuat rencana. Aku takut jika suatu saat aku akan kembali ketempatku tanpa diberi kesempatan untuk menyelesaikan hal-hal yang sudah aku mulai di sini.”


Mysha memperhatikan kedua mata Egon yang terlihat sedikit pilu. Entah mengapa, ia dapat dengan jelas mengerti perasaan Egon. Mungkin karena ia pun memiliki ketakutan yang sama. Takut jika tiba-tiba Egon menghilang tanpa ia sempat mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu.


‘Lalu, Jika kamu memiliki pemikiran seperti ini, kenapa waktu itu kau menciumku?’ Mendengar hal itu, Mysha pun langsung memikirkan kejadian beberapa waktu lalu—yang tentu saja, itu membuat dia sedikit kesal—.


Tetapi, disamping rasa kesalnya tersebut, Mysha bersyukur, sebelum bertemu Egon, dia sudah mendapatkan pencerahan untuk masalah ini dari Floria.

__ADS_1


“Sejujurnya, aku juga takut, jika tiba-tiba harus kehilanganmu..” Mysha berusaha menjelaskan perasaannya. “Tapi, bukankah lebih baik menyesal karena sudah mencoba daripada menyesal karena tidak pernah mencoba?”


“…”


“Kalaupun kamu tiba-tiba kembali ke sana, ini akan jadi kenangan yang baik, bukan?” Ucap Mysha dengan senyuman.


“Dan lagi, coba pikirkan ini! Jika kemungkinan kau kembali itu ada, berarti kemungkinan kau akan di sini selamanya juga ada, ‘kan?” lanjutnya.


Egon terdiam mendengar ucapan Mysha. ‘Mysha benar, jika ada kemungkinan aku kembali berarti ada juga kemungkinan aku akan di sini selamanya’ pikirnya.


‘Sepertinya aku terlalu ketakutan jika aku tiba-tiba kembali ke duniaku, sampai-sampai hal sepele seperti ini saja tidak sadar,’ lanjutnya.


Egon lalu menjulurkan tangannya untuk mengambil gelas yang berada tak jauh dari piringnya. Menegukkan air putih di dalamnya, sambil tetap memikirkan apa yang dikatakan oleh Mysha.


"Aku punya ide! Bagaimana kalau kau coba latihan berakting terlebih dahulu? Masih ada 3 hari sebelum hari casting, ‘kan?" Tiba-tiba suara Mysha memecah konsentrasi Egon. Egon langsung melihat mata bulat Mysha yang kembali bersinar.


"Kau benar-benar berharap aku jadi ‘Egon’ ya?" Egon menggodanya.


"baiklah, aku akan mencobanya,” pasrah dengan tingkah lakunya, Egon pun menerima tawaran Mysha. “Jadi, latihan akting yang kau maksud itu seperti apa?"


"Ah itu..Sebentar..." Mysha yang cenderung mudah terdistraksi pun, langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja komputer untuk mengambil remot TV. Setelah itu, Ia menuju kasurnya dan mengajak Egon untuk duduk disampingnya.


"Lihat, sebenarnya aku berlangganan TV kabel. Di sini kita bisa banyak menonton berbagai macam film." Sambil terus menggerakkan jarinya di atas remot, Mysha memerlihatkan berbagai macam cover film yang terpampang di layar TV.


"Jadi, untuk membuat film, setiap pemain melakukan adegan seakan-akan mereka berada pada keadaan sebenarnya. Lalu, semua itu direkam dan diedit. Suara, mimik, pandangan mata, mungkin sama pertingnya seperti saat bermain theater, tapi intensitasnya berbeda.” Jelas Mysha.


"Hmm.. sepertinya aku bisa mengerti.. Itu seperti saat aku membuat iklan-iklan video di stagram kan? Hanya saja dengan setting berbeda?"


"Ya! Betul! Nah, dengan ini, aku berpikir bagaimana kalau kita nonton beberapa film terlebih dahulu agar kita bisa mendapat gambaran apa yang bisa kita persiapkan untuk casting nanti? Jika dalam 3 hari ini kau merasa tidak cocok, kau tidak perlu ikut!" Mysha tersenyum lebar pada Egon. Ia lagi-lagi terlihat sedang berusaha untuk memantrai Egon agar menurut padanya.


"Baiklah..." walaupun Egon merasa sedikit terbebani dengan senyuman Mysha, Egon menyetujuinya.

__ADS_1


"Asyik!!!! Baiklah, kalau begitu, karena novel 'The Dark Prince' itu latar temanya kerajaan, bagaimana kalau kita nonton drama yang berlatar sama?" dengan senang hati Mysha pun mulai memilih filter film dengan tema kerajaan.


'Sepertinya aku harus menghindari tema yang vulgar karena kami hanya berdua. Tapi, bukankah di 'the dark prince' pun ada cerita vulgarnya ya? Di dramanya nanti, mungkin saja itu ditiadakan' Mysha yang seharusnya fokus memilih drama yang sekiranya cocok untuk Egon belajar, malah mengingat-ingat bagaimana adegan Egon di dalam novel yang melakukan hubungan intim dengan salah satu wanita yang dikirim oleh sang raja. Bentuk tubuh Egon dan suasana saat itu, dideskripsikan dengan baik oleh sang penulis, hal itu tentu saja membuat bab tersebut melekat dengan baik di dalam ingatan Mysha. Dan sekarang, tokoh yang ada di dalam cerita tersebut ada disampingnya, Mysha pun menahan dirinya untuk tidak berkhayal lebih jauh.


"Mysha, apa ada kemungkinan aku melakukan hubungan intim di dalam drama itu?" Tiba-tiba pertanyaan yang sama terlontar begitu saja dari mulut Egon. Seakan tertangkap basah dengan pikiran mesumnya, Mysha pun sedikit tersentak begitu mendengarnya.


"Hmm? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Ah, cover film-nya, beberapa terlihat terbuka.. Aku jadi penasaran.."


"Oh... hmm... mungkin saja iya mungkin saja tidak, tergantung sutradara dan penulis ceritanya, siapa yang mereka targetkan untuk jadi penonton.."


"Begitu ya..." respon Egon dengan suara tidak puas. "Ngomong-ngomong, sepertinya aku belum memberitahukan tentang ini padamu."


"Tentang apa?"


"Novel itu, memang memiliki cerita yang hampir sama dengan yang aku alami, tapi, itu tidak seutuhnya benar. Seperti cerita di kehidupan keduaku, dengan putri Anastasia. Ia memang diperintahkan untuk datang ke kamar oleh raja, tapi, tidak lebih dari itu, kami hanya berbincang saja."


"Oh?" mendengar hal itu, entah mengapa hati Mysha merasa tenang. Ia memang curiga dengan cerita itu, karena banyak sekali wanita yang diperintah untuk melayani Egon, tapi tak ada satupun dari mereka yang berhasil menggodanya. Lalu, kenapa dengan putri Anastasia ceritanya berbeda?


Memang, di dalam novel putri Anastasia digambarkan sebagai wanita yang memiliki daya tarik yang tak dapat tertandingi. Bahkan seorang Egon yang terlihat tidak tertarik dengan siapapun pun, terpesona dengannya. Tapi, Mysha tidak percaya jika seorang Egon yang membenci ayahnya akan tetap menerima wanita suruhan ayahnya itu. Lagipula, Mysha yakin Egon tidak menilai wanita hanya dari fisik.


"Kau tau kan kalau Putri Anastasia itu, istri kakakku, Frederick. Mungkin ini tidak ada di cerita novel itu, tapi mereka mempunyai anak dari hubungan mereka. Anak mereka...mirip denganku... Aku melihatnya saat pemenggalan di alun-alun kota.” Untuk pertama kalinya dalam hidup Mysha, ia melihat mata Egon memperlihatkan sebuah kesedihan.


“Dari situ aku merasa bersalah pada Frederick. Makanya aku berusaha tidak menjalin hubungan apapun dengan wanita itu di kehidupanku selanjutnya,” lanjutnya lagi.


‘Lalu, kenapa akhirnya kau membunuh Frederick?’ Sesungguhnya, ia ingin mendengar lebih jauh tentang ceritanya tersebut. Tetapi, ia mengurungkan niatnya. Ia berpikir bahwa topik ini terlalu sensitif untuk ia tanyai lebih lanjut. Ia bertekad untuk menunggunya sampai Egon bercerita lebih dulu padanya, seperti masalah ini.


"Kau bercerita seperti ini, seakan-akan, kau bukan tokoh dari novel itu.”


“Karena aku yakin, aku bukan dari novel itu” Jawabnya tegas.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2