
Ping!
Ping!
Ping!
Tebakan Egon tepat. Sehari setelah melakukan siaran bersama Lentera, Egon menerima banyak sekali e-mail mengenai endorsement.
‘Jika sudah seperti ini, sepertinya aku harus segera mempekerjakan seorang manajer,’ gerutunya dalam hati.
Siaran langsung yang ia lakukan bersama Lentera di hari sebelumnya, berjalan dengan lancar. Walaupun itu kali pertamanya Egon melakukan hal tersebut, Lentera yang seorang artis profesional, dapat dengan mudah menutupi kekurangan Egon.
Hal itulah yang kemudian membuat Egon merasa tenang dan bisa membawa dirinya dengan lebih baik di depan kamera.
Mengenai hal-hal pribadi yang tidak ingin Egon bawa ke publik pun, disetujui oleh Lentera. Karena, Lentera sendiri pun, memiliki banyak rahasia yang tidak bisa ia biarkan lolos ke publik.
Apalagi menurutnya, masyarakat di sana hanya mau menerima baiknya saja dari seorang seleb stagram. Sedikit saja keburukan sang artis terbongkar, karir mereka bisa hancur.
Seolah ia memahami hal tersebut, Egon pun mengangguk, menyetujuinya.
Sebagai seorang setengah bangsawan, secara tidak langsung posisi Egon sangatlah terancam. Sedikit saja gosip miring sampai ke telinga publik. Dirinya akan terseret kemalangan dalam waktu lama.
Ia selalu menghindari itu. Makanya ia selalu berusaha untuk tampil sempurna.
Walau ternyata, justru kesempurnaan itulah yang membawa malapetaka baginya.
Ia tidak ingin kesalahan-kesalahan yang ia selalu lakukan di kehidupan-kehidupan sebelumnya terbawa sampai ke dunia ini.
Ia tidak ingin kembali salah langkah. Sampai-sampai ia harus kehilangan orang-orang berharga bagi dirinya.
“Hmm, sebaiknya aku memberitahu tentang ini dulu pada Mysha…” mengingat bahwa selama ini pekerjaan manajer, Mysha-lah yang melakukannya, Egon pun berpikir bahwa ia harus mencocokan jadwal Mysha dengan manajer barunya, agar Mysha dapat menyerahkan laporan dan jadwal pekerjaannya selama ini dengan santai.
Mysha. Apa kau lagi di kamar?
Ada yang ingin kubicarakan denganmu tentang manajer baruku.
Tidak lama setelah Egon mengirim pesan tersebut, Mysha terlebih dulu mengunjungi kamar Egon.
“Hey! Apa kau sudah mempekerjakan orang baru?” Tanya Mysha begitu Egon membukakan pintunya.
“Belum, tapi mungkin dalam 2-3 hari ini akan kulakukan..” jawabnya.
Mysha pun lalu masuk ke dalam kamarnya. Berjalan ke arah meja makan kecil dengan cat putih, lalu duduk di kursinya.
“Baiklah..” ucapnya sambil ia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Ia terdiam sejenenak, mencoba merangkai kata yang ada dalam benaknya.
“Ada apa?”
*“Tidak, setelah dipikir-pikir aku sebenarnya ingin jadi manajermu. Tapi aku mengerti, seorang manajer itu, setidaknya harus tau dan mengerti mengenai dunia entertainment*. Repot, bukan? Jika aku yang tidak berpengalaman ini menjadi manajer dari seorang seleb stagram yang tidak berpengalaman juga..”
“Iya, tapi ada apa tiba-tiba? Aku tidak pernah memaksamu, bukan?”
“Kau benar..” Mysha tersenyum paksa.
“Hey, kau tidak perlu merasa kesepian seperti ini..” Egon yang sedari tadi berbicara sambil berdiri pun, akhirnya menarik kursi dan duduk dihadapan Mysha. Dengan seperti itu, ia pun dapat menatap mata Mysha dengan posisi sejajar.
“Kau masih bisa sering-sering ke mari, bukan?” Lanjutnya. Ia pun menyentuh tangan Mysha yang masih menopang dagu dan pipinya.
“Kau ini terlalu percaya diri. Aku tidak merasa kesepian tuh..” Mysha menurunkan kedua tangannya, lalu mencubit pipi Egon dengan cukup keras.
__ADS_1
“Baguslah” Egon tersenyum.
Ia pun kembali berdiri dan berjalan menjauh ke arah dapur. Menyiapkan dua buah minuman segar untuk mereka berdua minum.
“Egon, tadi pagi aku mendapat e-mail tentang pekerjaan dadakan, jadi, aku akan kembali lagi ke kamarku..” ucapnya dengan sendu.
“Oh ya? Kalau begitu aku akan cepat.”
Mysha mengangguk.
“Kau tau, tawaran pekerjaan membludak. Aku butuh seseorang yang lebih senggang untuk mengatur jadwal, janji temu, dll.” Egon menghidangkan minuman tersebut di atas meja makannya.
“Oh? Baguslah!” mendengar kabar baik tersebut, Mysha pun kembali terlihat senang. Ia bangga pada dirinya karena sudah berhasil mengurus bocah yang tersasar ke dunianya.
“Terima kasih. Aku butuh informasi jadwal kosongmu. Jadi kau bisa memberikan pekerjaanmu selama ini secara langsung padanya, untuk ia ambil alih.”
“Hmm.. setiap jam makan malam aku bisa..”
“Baiklah, kalau begitu, aku akan memberi tahumu kembali dalam 2-3 hari.”
“Iya..” Mysha lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju arah pintu, tanpa mengucapkan sepatah kata.
“Kau ada apa?”
“Huh? Tidak ada apa-apa kok..” tanpa berbalik arah, Mysha pun menjawab.
“Aku pulang dulu ya..” lanjutnya lagi.
Saat kemudian ia akan membuka pintu kamarnya, Egon tiba-tiba sudah berada dibelakangnya dan menyentuh lembut tangan yang akan meraih knob pintu tersebut.
“Aku tidak akan mengerti kalau kau tidak bicara…” ucap Egon.
“Apa kau masih belum bisa percaya padaku?” Ucapnya ragu.
“Maksudmu?”
“Kau belum menceritakan semua tentang kehidupanmu. Yang aku tau hanya dari novel..”
“Apa yang ingin kau tau?”
‘Anakmu..’ ia menjawabnya di dalam hati terlebih dahulu.
Sebenarnya, Mysha pun tidak yakin dengan cerita yang diceritakan Frederick mengenai anaknya itu. Tapi reaksinya saat itu, membuat Mysha ingin mengetahui kejadian sebenarnya.
“Semua..” ucapnya.
Mysha pun membalikkan tubuhnya dan menatap langsung kedua mata Egon.
“Aku ingin tau semua..” lanjutnya.
“Jika kau bersedia mendengarnya, aku mau menceritakan apapun itu,” Egon meraih beberapa helai rambut Mysha yang terurai dengan jarinya.
“Tapi sebelum itu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu..”
“Apa?”
“Tentang hari itu..”
“Hari—“ menyadari topik yang ingin Egon bicarakan, muka Mysha langsung memerah dengan cepat. Ia pun mengalihkan pandangannya ketika menyadari sorot mata Egon yang menatapnya dengan tidak biasa.
“Maaf” itulah kata pertama yang diucapkan Egon.
__ADS_1
Hati Mysha bergemuruh mendengar itu. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan sebuah perasaan yang bergejolak di dalam dirinya.
Mysha menyukainya. Ia yakin Egon pun merasakan yang sama, itulah alasan mengapa saat itu dia menciumnya, bukan? Setelah ia dibuatnya bimbang selama berhari-hari. Dan setelah akhirnya ia mendapat pencerahan dari temannya?
Lantas, kenapa kata yang keluar dari mulutnya kata ‘maaf’?
Mysha pun terus bertanya akan situasi yang sedang ia alami saat itu.
“Maaf, seharusnya aku berpikir lebih matang sebelum aku melakukan hal itu. Aku yakin kau pun sudah tau, kalau hubungan kita ini terlalu beresiko..” ucapnya.
‘Dia menolakku? Tidak. Akulah yang pertama kali menolaknya.. Tapi, kenapa sekarang akulah yang merasa seperti ditolak?’ Mata Mysha mulai buram karena air mata yang tergenang di matanya.
“Kau jahat…” ucap Mysha.
“Hmm?”
“Kenapa kau berbicara seperti itu tanpa memastikan padaku terlebih dahulu tentang perasaanku?” Mysha kembali menatap Egon.
“Apa kau pikir masalah ini hanya ada pada dirimu?” Lanjutnya.
“Aku menyukaimu, bodoh!” Air mata Mysha mengalir pada pelipis pipinya.
“Saat itu aku hanya butuh waktu! Aku pun—hmmp!”
Belum selesai Mysha berbicara, Egon menempelkan bibirnya padanya. Menciumnya dengan kuat, seakan hari esok tidak akan datang.
“Eg—on”
“Aku akan mendengarmu setelah ini” Egon mengecup bibirnya lembut. Ia tersenyum, sambil menanti Mysha memberi izin untuk melanjutkan hal yang sempat tertunda itu.
Mysha mengangguk. Ia tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Egon seperti menggunakan sihir yang membuatnya jadi menurut.
Egon pun meraih belakang kepala Mysha yang masih menempel pada pintu dengan tangannya. Mencoba mendongakkan kepalanya ke atas, agar ia bisa menciumnya lebih dalam.
Mysha menanggapinya. Lidah mereka saling bertautan untuk beberapa saat.
Ketika Mysha menyadari tempo Egon yang terlalu cepat, ia sedikit mendorong tubuhnya, memintanya untuk berhenti.
“Ada apa?” Ucap Egon dengan nafas yang berat.
“Ah, tidak, aku masih ada pekerjaan..” Mysha yang malu untuk mengakui bahwa ia kewalahan mengikuti tempo Egon pun, membuat alasan mengenai pekerjaannya.
“Baiklah..” Egon mengecup bibirnya sekali lagi sebelum ia mengambil langkah mundur.
Mysha sedikit kecewa dengan itu. Tapi karena pekerjaannya memang benar-benar menunggunya. Ia pun sedikit pasrah menerima keadaannya.
“Aku akan menunggumu.. jadi pergilah..” lanjut Egon.
“Kau mengusirku?”
“Aku tidak yakin jika aku tidak mengusirmu sekarang, kau bisa pulang sampai besok” Egon tersenyum nakal padanya.
Mengerti dengan maksud yang Egon ucapkan, ia pun langsung berbalik arah ke pintu untuk menyembunyikan rasa malunya yang terpampang jelas di wajahnya. Mysha pun lalu membuka pintunya dan bersiap untuk keluar.
“Kalau begitu aku permisi..” ucapnya sebelum mengambil langkah cepat untuk keluar dari kamar Egon.
***
Bersambung…
__ADS_1