Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
27: Balas dendam


__ADS_3

Angin berhembus kencang sore itu. Awan mendung bergerak cepat menutupi langit yang sedari tadi tampak cerah.


Ada alasan, mengapa semut-semut lebih banyak ditemukan di permukaan sedari pagi. Burung-burung pun terlihat terbang rendah, pergi ke sana kemari.


Oh, hujan datang.


Tetesan hujan di sisi luar ruangan terlihat cukup deras. Walau tidak sederas tetesan air mata lelaki yang ada dihadapannya itu.


Apa yang sekiranya ia pikirkan sampai-sampai harus mengeluarkan air mata di depan orang yang ia benci?


Lelaki dihadapannya hanya tau, jika seseorang mengeluarkan air mata, maka alasannya adalah, karena orang tersebut sedang merasa sedih, kecewa, atau sebaliknya, mungkin merasa sedang sangat bahagia.


Jawabannya mungkin salah satu dari tiga alasan tersebut. Tapi anehnya, sedikitpun ia tidak menemukan adanya kesedihan, kekecewaan, maupun kebahagiaan pada tatapannya. Ia hanya menemukan perasaan benci dan ingin balas dendam dari dalam pantulan matanya.


Walau begitu, ia tidak merasa tersinggung dengan perasaan-perasaan buruk yang menyerang tegas pada dirinya itu. Karena ia tahu, bahwa ia berhak menerima itu semua.


“Jika kau ingin balas dendam, bunuhlah aku sekarang,” ucap Egon dengan suara serak.


Petir besar menyambar sebuah pohon tak jauh dari apartemen Frederick, pada sudut matanya, ia dapat melihat pohon itu tumbang dengan perlahan.


‘Ah, apakah jika seseorang akan mati, semuanya akan terlihat lebih lambat?’ Tanya Egon dalam hati.


Ia pun menutup matanya. Tak disangka air mata ikut menetes dari ujung matanya yang tertutup.


“Kau pikir dengan membunuhmu begitu saja aku akan puas?” Frederick, sang mantan putra mahkota berdengus kesal. Air mata yang tak berhenti mengalir, jatuh mengenai pelipis Egon. Tangannya yang memegang pisau ikut bergetar karena kuatnya kemurkaan yang ia tahan.


“Aku ingin membunuhmu pelan-pelan, mencabik-cabikmu, setelah aku berhasil menghancurkan hidupmu,” lanjut Frederick.


“Dan kau tau apa yang lucu? Hal-hal yang kusebutkan tadi, kau melakukannya padaku lebih dulu. Kau menghancurkanku lebih dulu. Tidak di dunia itu, tidak di dunia ini, setelah semua milikku bahkan kau ambil, sekarang kau berharap bisa mati dengan nyaman?” Frederick terus melanjutkannya sambil tertawa menghina.


“Atau kau ingin merasakan rasanya dipenggal seperti yang kau lakukan padaku?” Frederick menusukkan sedikit ujung pisaunya ke leher Egon.

__ADS_1


Egon hanya terdiam. Ia tidak berniat untuk menjelaskan kembali padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Amarah telah menguasain diri Frederick. Semua yang akan ia ucapkan akan hanya menjadi omong kosong di telinganya.


Lagipula, Egon juga merasa dirinya membuat terlalu banyak melakukan dosa pada Frederick. Tidak ada salahnya ia menerima sebuah penghinaan sekali lagi, berharap ia pun dapat memaafkan dirinya sendiri.


“Katakanlah sesuatu…” melihat Egon yang menjadi pasrah, malah membuatnya semakin kesal.


“Aku tidak ingin beralasan lagi,” jelas Egon.


“Menurutmu aku akan menerima itu?”


“Lalu, apa yang sebaiknya kulakukan?” Egon membuka matanya kembali dan menatap balik Frederick.


“Tinggalkan Mysha..” Frederick mengucapkannya dengan suara pelan. “Dan bawa nyawamu pergi dari dunia ini dengan tanganmu sendiri,” lanjutnya.


“Jika itu yang akan membuatmu tenang, akan kulakukan,”


Egon menyentuh lembut tangan Frederick yang sedang memegang pisau dengan kuat. Frederick pun mengerti maksudnya, lalu membiarkan Egon mengambil alih pisau yang ada digenggamannya.


Apakah ini yang Frederick inginkan?


Apakah dengan ini rasa ingin balas dendamnya akan hilang?


Frederick mengalihkan pandangan matanya ke arah lantai. Walaupun hanya ada kebencian yang tersisa pada lelaki dihadapnnya, tetapi, ia bukanlah orang yang tega. Tidak seperti saat Egon menatapnya tanpa terlihat bersalah sama sekali saat akan memenggalnya.


“Frederick! Egon! Buka pintunya!!” Sesaat Egon mau membunuh dirinya sendiri, suara Mysha yang lantang menyadarkan kedua lelaki yang sedang terhanyut pada keadaan di sana.


***


Segera setelah Mysha memutuskan untuk segera menemui Egon dan Frederick, Mysha terbangun dari tidurnya.


Namun, keadaan dan kondisi sekitarnya, membuat dirinya sempat bingung untuk beberapa saat.

__ADS_1


Ia berbaring pada sebuah kasur yang ukurannya tidak terlalu besar. Tirai berwarna coklat tua mengelilingi ruangan kecil tempat ia berada. Dilihat dari bentuk kasur dan aroma obat-obatan yang tercium, Mysha dapat menebak bahwa dirinya berada di rumah sakit.


Mysha langsung turun dari kasurnya dan membuka tirai untuk memastikannya.


Dan ternyata tebakannya tepat.


Tak jauh dari ruangannya, ia dapat melihat beberapa perempuan dan seorang lelaki memakai seragam rumah sakit. Salah seorang dari mereka, yang menyadari Mysha keluar dari tirai ruangannya, segera melangkahkan kakinya untuk menghampirinya.


“Kau sudah siuman, bagaimana perasaanmu,”


“Saya tidak apa-apa,” jawab Mysha dengan cepat. “Tapi saya harus segera keluar dari sini, saya sedang terburu-buru,” lanjutnya.


Perawat itu pun langsung membantunya untuk mengurus administrasinya, setelah ia diperiksa sekali lagi oleh dokter jaga di sana.


Supir taksi yang membawa Mysha, menemukan Mysha tidak sadarkan diri di kursi penumpang. Sudah jadi kewajibannya untuk membawanya langsung ke rumah sakit agar penumpangnya itu dapat ditangani dengan tepat.


Walaupun begitu, karena ia harus bekerja, tak lama setelah ia menitipkan Mysha pada pihak rumah sakit, ia meninggalkan rumah sakit lebih dulu. Tentu saja setelah meninggalkan pesan berupa nomor ponselnya di resepsionis kalau-kalau terjadi sesuatu yang mengharuskan ia turut terlibat.


Setelah Mysha selesai mengurus administrasi rumah sakit pun, Mysha meminta nomor supir taksi tersebut untuk berterima kasih. Tetapi, karena ia harus melakukan sesuatu yang lebih penting, ia mengabaikan itu untuk sementara dan segera pergi dari sana dengan menggunakan taksi lain yang sudah bersiap di sekitar rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Mysha hanya diselimuti kegelisahan dan kekhawatiran. Ia menggigit ujung kuku ibu jarinya sambil menatap jalanan yang diguyur hujan deras dari balik jendela. Ia berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Egon dan Frederick.


Sementara pada sisi lain pikirannya, ia pun bingung, apa yang harus ia katakan pada kedua lelaki tersebut. Jangankan tentang itu, sebenarnya Mysha sendiri saja masih tidak yakin dengan identitas dirinya sendiri.


Tak lama, Mysha pun tiba di lobi apartemen Frederick. Ia berjalan cepat ke arah resepsionis. Setelah mengkonfirmasi identitas diri, ia segera berlari pelan menuju lift. Perjalanan lift menuju lantai kamar Frederick terasa begitu lambat. Dari dalam lift yang dikelilingi kaca, ia melihat pohon besar yang berada di dekat sana tumbang oleh petir. Ia bersyukur sudah melewati jalan itu lebih dulu. Jika tidak, mungkin akan terlambat baginya untuk menemui Egon dan Frederick.


“Ya Tuhan, semoga aku masih belum terlambat..” ucapnya.


Pintu lift pun terbuka. Mysha kembali berlari menuju unit kamar Frederick. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka pintu unit kamarnya. Tetapi sayangnya, itu terkunci. Mysha pun mengedor pintu Frederick, tanpa mempedulikan apa yang tetangganya akan bilang padanya.


“Frederick! Egon! Buka pintunya!!”

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2