
"Kamu tidak akan pernah merasakan sakit yang aku alami, Dira! apa yang akan kamu lakukan ketika semua keluargamu di banta-i dengan begitu kejam, apa yang akan kamu lakukan? apa kamu akan diam begitu saja?"
"A-aku tau Felly, t-tapi anak-anak mereka tidak salah, mereka tidak tahu apa-apa Felly!"
Seorang wanita cantik dengan raut wajah yang memendam amarah, dia menatap tajam ke arah sahabatnya, Dira. "Cih, ucapan bo-doh! apa orangtua mereka juga berpikir seperti itu sebelum menghabisi kakak dan adik-adik ku? apa mereka pernah berpikir bahwa anak-anak ayahku tidak bersalah, apa mereka mempunyai pikiran seperti itu?"
Dira terdiam mendengarnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Akan tetapi Dira takut jika hal buruk justru menimpa sahabatnya.
"Pikirkan lagi baik-baik, ini sudah 14 tahun yang lalu. Mungkin saja mereka juga menyesali perbuatan mereka." sahut Dira, dia mengusap punggung sahabatnya.
Sekeras apapun Dira menasehatinya. Tidak akan membuat dirinya merubah akan niatan untuk membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah menghabisi semua keluarganya. Menanamkan rasa trauma dan dendam yang sangat besar.
"Menyingkirlah Dira, jangan halangi aku jika kamu masih ingin menjadi sahabatku." wanita yang mempunyai tatapan tajam itu langsung berdiri dari duduknya. Dia meninggalkan sahabatnya yang masih terdiam seribu bahasa.
"Sudah cukup 14 tahun mereka hidup bahagia begitu saja, sudah cukup mereka tertawa bahagia. Kini saatnya mereka menanggung semua atas apa yang mereka perbuat saat 14 tahun yang lalu."
---
14 tahun yang lalu...
Sebuah keluarga besar tengah merayakan pesta ulangtahun putri kedua mereka. Terlihat semua orang tersenyum bahagia dengan canda tawa.
"Selamat ulangtahun Bintang, putri mamah sangat cantik." Vina mengecup pipi putrinya yang saat ini menginjak usia 6 tahun.
"Terimakasih mamah," Bintang kecil memeluk mamahnya dengan erat.
"Bintang gamau minta kado sama ayah?"
Bintang mengalihkan pandangannya. Dia berlari untuk memeluk ayah nya yang sangat dia cintai. "Ayah..." panggilnya sambil memeluk ayah nya degan erat.
Tian mengecup kening putrinya. "Putri ayah sangat cantik, kamu mau kado apa dari ayah?"
__ADS_1
"Aku mau liburan ke pantai," jawab Bintang dengan antusias.
"Baiklah nanti kita akan berlibur ke pantai." Tian mengusap rambut putrinya.
"Bintang..."
"Kakak?" Bintang yang sudah sangat lama tidak bertemu dengan kakaknya, dia langsung turun dari gendongan ayahnya dan berlari memeluk kakaknya.
"Kenapa terlambat? hampir saja Bintang nangis." tanya Vina kepada anak laki-lakinya.
Gean memeluk adiknya. "Maaf ya, tadi kakak banyak kerjaan." ucapnya sambil mengusap punggung adiknya. "Kakak bawakan sesuatu buat kamu, kamu pasti akan suka." Gean mengambil sebuah kotak merah yang saat dia buka berisikan sebuah kalung yang sangat cantik.
"Ini untuk Bintang?" tanya Bintang dengan raut wajah senangnya.
Gean mengangguk, dia memakaikan kalung cantik tersebut kepada adiknya. "Jangan lepaskan kalung ini. Anggap saja ini kenang-kenangan dari kakak untukmu." ucap Gean yang terdengar lirih.
"Selama ulangtahun ya bintang, semoga kamu bisa menjadi wanita hebat." Gita, kekasih kakaknya ikut serta memeriahkan acara ulangtahun adik kekasihnya itu.
Akan tetapi, kebahagiaan itu berubah menjadi sebuah tragedi yang membuat Bintang ketakutan.
Terdengar suara tembakan yang menggelegar membuat Bintang dan adik-adiknya menjerit. Beberapa orang berpakaian hitam masuk ke dalam rumahnya. Mereka mengh-ajar kakak dan ayah Bintang.
Ibunya berlari untuk menyelamatkan adik-adiknya. Bintang yang dibawa oleh Gita. Bintang dibawa ke dalam sebuah kamar yang baru diketahui olehnya. Terlihat kamar tersebut sangat tersembunyi.
"Bintang sayang, kamu jangan nangis, semuanya akan baik-baik saja. Kamu tunggu disini, jangan keluar ya." Ucap Gita kepada Bintang. Dia memeluk adik kekasihnya dengan berlinang air mata.
"Kakak, kenapa mereka memukuli ayah dan kak Gean." tanya Bintang dengan isak tangisnya.
"Sudah jangan menangis, mereka hanya sedang berolahraga saja. Kamu tunggu disini ya. Ingat pesan kakak, jangan keluar." ucap Gita, dia mengunci pintu dari luar yang membuat Bintang terkurung di dalamnya.
Bintang berteriak histeris saat melihat bagaimana keluarganya hancur. Entah darimana kaca yang berada di hadapannya karna saat dirinya masuk, kamar tesebut tidak memiliki kaca ataupun celah-celah sedikit. Namun saat masuk, banyak cermin yang menampakkan bagaimana penyiksaan yang dialami oleh keluarganya.
__ADS_1
"Jangan sakiti keluargaku, hiks.. berhenti!!" Bintang menutup telinganya sesaat mendengar suara teriakan dari keluarganya.
Acara ulangtahun yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Justru malah menjadi tragedi berdarah yang membuat Ayah, Ibu, Kakak, Adiknya mendapatkan penyiksaan dari seseorang yang kejam. Keluarganya hancur, seorang penjahat dengan tidak mempunyai perasaan, mereka menyiksa keluarganya.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh gadis kecil tersebut. Dia hanya mampu menangis di bawah kasur. Dengan rasa takut, gadis kecil itu melihat bagaimana kejamnya mereka menyiksa keluarganya.
Mereka tidak memperdulikan bagaimana jeritan kesakitan kelurganya. Mereka justru malah tertawa puas mendapati jeritan tersebut.
Terlihat Ayah dan kakaknya terluka parah, banyak da-rah yang bercucuran dari tubuh ayah dan kakaknya. Ayahnya terus di cam-buk dan mendapatkan puk-ulan dari orang-orang kejam itu.
"Bos, semuanya telah selesai." ucap salah satu anak buah seorang pria kejam, dia memberitahukan bahwa tugas mereka telah selesai.
"Bagus, bakar rumah ini. Pastikan semuanya tidak ada yang tersisa." pria kejam itu menarik rambut yang dulu menjadi sahabatnya. "Bagaimana, Ilyas? apa kamu sudah puas? semua keluargamu telah habis, bahkan calon menantumu dan istri mu mengakhiri hidupnya setelah digilir oleh orang-orang ku. Hahaha..."
"KAMU MEMANG IBLIS, TIDAK PANTAS DI SEBUT SEBAGAI MANUSIA. INGAT INI BAIK-BAIK INDRA. SUATU SAAT KAMU AKAN MENDAPATKAN BALASAN YANG LEBIH PEDIH DARI APA YANG KAMU PERBUAT. KAMU AKAN MENDAPATKAN BALASANNYA, SEMUA ANGGOTA KELUARGAMU BAHKAN CUCU-CUCU MU SEKALIPUN, MEREKA AKAN IKUT MENANGGUNG PERBUATANMU. AKU MENGUTUKMU INDRA!!"
flasback of.
----
Tragedi 14 tahun lalu itulah yang membuat dirinya penuh rasa dendam kepada orang-orang yang telah menghabisi keluarganya.
Tidak ada yang tau bahwa dirinya menyaksikan bagaimana peristiwa pembantaian yang terjadi kepada keluarganya. Dan tidak ada yang tau juga bahwa dirinya selamat atas pristiwa pembantaian tersebut.
Bertahun-tahun wanita cantik itu mencoba menghilangkan ingatan tragedi masalalu, justru semakin membuat hatinya merasa sakit.
Bintang Maharani, seorang gadis kecil yang selamat dari tragedi pemban-taian yang menimpa keluarganya. Semua anggota keluarganya tidak selamat atas tragedi tersebut. Bintang di usia 6 tahun, yang seharusnya menjalani masa-masa kecilnya dengan penuh bahagia, namun kini berubah setelah tragedi masalalu.
Orang-orang kejam itu merenggut kebahagiaan Buntang. Mereka menggoreskan luka yang amat dalam di dalam hati Wulan.
Tragedi tersebut menimbulkan rasa dendam di dalam hati Bintang. Dia berjanji untuk membalaskan dendamnya kepada siapapun orang-orang yang ikut serta dalam tragedi 14 tahun yang lalu.
__ADS_1