
"Bagaimana X, apa kamu menemukan celah?" tanya Felly saat berhadapan dengan Xavier.
Xavier memberikan ponselnya kepada Felly. Dia memperlihatkan seorang anak kecil yang hidup di keluarga Lesmana. "Lihat anak ini Fel. Sepertinya dia bisa menjadi target kita. Aku akan meminta orang-orang untuk menculiknya..."
"Tunggu, untuk apa menculik dia?" tanya Dira yang menghentikan ucapan Xavier. Dia sejujurnya tidak mau jika ada anak kecil yang ikut menjadi target balas dendam Felly. Dia teringat akan penderitaan adiknya dulu. Namun, Dira tidak bisa menghentikan Felly, karna dirinya sudah mengalami bagaimana sakitnya melihat orang yang kita sayangi di siksa dengan kejam.
Xavier melirik Dira. "Anak ini akan membuka jalan Felly untuk lebih masuk ke dalam keluarga Lesmana." sahutnya. "Nanti aku akan meminta orang-orang ku untuk menculik anak ini. Felly akan aku buat seperti orang yang menyelamatkannya. Dan satu lagi, aku akan mengajak Indra dan win untuk membicarakan kontrak kerjasama, tepat di tempat kejadian itu." jalas Xavier.
Mendengar penjelasan dan ide dari sahabatnya. Tentu Felly langsung setuju, dia ingin lebih dalam masuk ke dalam keluarga Lesmana, keluarga yang telah menghancurkan keluarganya. "Aku setuju. Jadi kapan kita akan memulainya?" tanya Felly.
"Kita akan memulai nanti sore. Tepat saat anak itu waktunya untuk mengunjungi taman bersama pengasuhnya."
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita langsung berpisah. Jangan membuat orang-orang curiga dengan kepergian kita yang terlalu lama." Ucap Dira yang mengakhiri pertemuannya dengan kedua sahabatnya. Dira, Felly, dan Xavier, ke-tiganya langsung berpisah. Mereka kembali ke perusahaan masing-masing.
Saat sampai di perusahaan. Beruntungnya waktu masih menunjukkan waktu istirahat. Felly memilih pergi ke kantin untuk membeli makan siangnya. Namun sepertinya Felly bukan membeli makan siangnya. Dia ingin membeli makanan kesukaan ayah, mamah, adik, dan kakaknya.
Felly tersenyum sendu saat menatap makanan kesukaan ayahnya masih ada di kantin perusahaan ayahnya. Sudah 14 tahun lebih rasanya Felly belum mencoba makanan itu lagi. Dia bergegas untuk langsung memesannya.
Setelah memesan beberapa makanan, Felly memutuskan untuk duduk tepat di samping dinding yang memperlihatkan pemandangan luar kantor. "Ayah, mamah, kakak, adik, andai saja kalian masih ada di sisiku, mungkin sekarang kita akan menikmati hidup bahagia bersama." lirih Felly menatap langit yang cerah.
Tidak menunggu lama, makanan yang dipesan oleh Felly, kini sudah berada di hadapannya. Bukannya langsung menyantap makanan tersebut. Felly justru menatapnya dengan tatapan sendu, dia teringat bagaimana dulu terakhir kalinya ayah nya menyuapi Felly dengan makanan yang ada di hadapannya.
"Felly, kamu kenapa?" tanya Sena, teman kantor Felly. Dia melihat kedua mata Felly yang sendu sambil menatap makanan yang berada di meja.
Felly menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit mengenang kenangan dulu." jawab Felly yang langsung menetralkan dirinya. Dia langsung menyantap makanannya.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang. Felly dan Sena berbincang sedikit untuk menghilangkan rasa kecurigaan. Felly mencoba berbasa-basi dengan Sena, ya walaupun dalam hati Felly ingin rasanya menemb4k Sena yang terlalu banyak bicara.
Beruntungnya waktu istirahat telah habis. Felly kembali ke ruangannya yang ternyata di dalam sudah ada beberapa berkas-berkas.
Tok
Tok
Tok
"Felly, kamu di minta tuan Id untuk ke ruangannya." ucap seseorang yang berada di luar.
"Iya, aku akan kesana." sahut Felly. Dengan malas Felly kembali keluar dari ruangannya. Dia berjalan menuju ruangan ayah nya dulu.
Hati Felly kembali merasa sakit saat melihat ruangan ayah nya yang telah di ubah banyak sudut. Tidak ada lagi foto-foto keluarganya dulu.
Sekertaris Win membukakan pintu untuk Felly. "Silahkan masuk, Felly."
Felly tersenyum. "Terimakasih, sekertaris Win."
Terlihat di hadapannya seorang laki-laki tengah menghadap ke arah lain. Dia membelakangi Felly. Sedetik kemudian, dia perlahan mulai membalikan tubuhnya menghadap ke arah Felly.
"Bajing4n, wajah ini akan hancur di tanganku." batin Felly yang mengingat bagaimana dulu wajah Indra yang tertawa puas menatap kehancuran keluarganya. Sebisa mungkin Felly menahan dirinya agar tidak langsung menyerang Indra.
"Fellysia Anastasya." panggil Indra, menatap Felly dengan lekat. "Itu nama mu?"
__ADS_1
Felly mengangguk hormat. "Benar tuan, itu nama saya." jawab Felly. Hati Felly rasanya tidak menentu saat Indra dan Win menatap ke arahnya. Dia takut jika mereka berhasil menemukan identitas aslinya.
Namun diluar pikiran Felly. Indra justru mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Felly. "Terimakasih karna berkat kamu, perusahaan saya berhasil berkerjasama dengan perusahaan CU company." ucap Indra, dia mengucapkan terimakasih kepada Felly karna berkat Felly yang mengerjakan berkas-berkasnya. Perusahaan Indra berhasil berkerjasama dengan perushaan CU company. Perusahaan terbesar.
Felly menerima ukuran tangan Indra. Dalam hati dia hanya bisa tertawa karna Indra berhasil masuk ke dalam jebakannya. Ya, perusahaan CU company adalah milik Xavier. "Sama-sama tuan. Itu sudah menjadi tugas saya untuk membantu perkembangan perusaan ini." sahut Felly tersenyum kecil.
Indra mengangguk, tidak ada raut kecurigaan apapun kepada wanita yang berada di hadapannya. Mungkin karna Indra terlalu senang dengan kontrak kerjasamanya dengan perusahaan terbesar milik Xavier. Dalam pikiran Indra hanya terlintas sebuah kekayaan, kekuasaan, dan keberhasilannya.
Setelah berbincang-bincang sedikit membahas kontrak kerja sama. Sebagai bentuk terimakasih kepada Felly. Indra mengundang Felly ke rumahnya untuk acara makan malam.
"Kebetulan sekali malam ini keluarga saya kumpul. Sebagai bentuk terimakasih, saya mengundang anda secara pribadi untuk makan malam di rumah saya."
"Terimakasih tuan, saya akan datang malam nanti." jawab Felly yang setuju dengan ajakan Indra. Lagi dan lagi, semesta seakan merestui Felly yang ingin menghancurkan keluarga Lesmana. Terbukti saat Felly ingin masuk ke dalam keluarga Lesmana, justru Indra sendiri yang membukakan pintu kehancuran keluarga Lesmana.
Felly berpamitan untuk kembali ke ruangannya. "Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi."
Setelah Felly tidak ada, Indra duduk di kursinya. "Apa kamu bisa bayangkan Win, berapa keuntungan yang akan kita dapatkan?"
"Tentu sangat besar Tuan. Kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar." jawab Win yang ikut bahagia dengan kontrak kerja sama dengan perusahaan CU company.
"Ya, kamu benar. Beruntung kita menerima Felly, kecerdasannya bisa menjadi emas untuk perusahaan ini."
"Cih, beruntung? ya, kamu beruntung karna sebentar lagi kehancuranmu akan segera tiba Indra. Kehadiranku bukanlah emas untuk dirimu, namun kehadiranku akan menjadi neraka yang mengerikan untuk dirimu." gumam Felly saat mendengar pembicaraan Indra dan Win.
...----------------...
__ADS_1
Hallo semuanya. Terimakasih telah membaca cerita ini. Yuk berikan dukungan kalian dengan cara like, komen, vote, dan share. Sambil nunggu update, yuk mampir ke novel di bawah ini: