DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Bryan Lesmana


__ADS_3

"Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Indra dengan wajah yang khawatir. Dia langsung berteriak memanggil supir untuk membawa putra bungsu nya itu ke rumah sakit.


Suasana rumah menjadi ramai setelah kejadian yang menimpa anak bungsu Indra Lesmana. Para maid di minta untuk berkumpul di aula, tentu untuk mendapatkan siapa yang berani berbuat seperti itu kepada tuan muda Hais.


Pengasuh Ezie tidak takut ataupun bergetar gugup. Dia justru bertingkah normal dengan membantu cucu Lesmana untuk bermain di taman belakang.


Melihat bagaimana putra ketiga nya mengalami kejang-kejang, membuat dirinya kembali teringat dengan ingatan masalalu yang dimana dirinya membuat seorang anak kecil kejang-kejang dengan dosis besar. Tidak mungkin, Indra menggelengkan kepalanya menatap lekat putra bungsunya.


Mobil yang ditumpangi oleh keluarga Lesmana, melaju cepat menuju rumahsakit milik keluarga Lesmana. Ah ralat, lebih tepatnya rumah sakit milik mendiang dokter Gean, kakak Felly.


Indra berlari sambil berteriak memanggil dokter. "Dokter! tolong bantu anak saya!" tegasnya meminta dokter menangani putranya.


Dokter dengan cepat langsung membawa putra bungsu Lesmana untuk mendapatkan pertolongan medis. Dia sebenarnya tau dengan kedatangan Indra yang membawa putra bungsu nya, pasti dengan kejadian yang sama... kejadian yang dimana Hais meminum obat-obatan dengan dosis tinggi.


Keluarga Lesmana menunggu dengan cemas. Nyonya Indra nampaknya masih menangis dalam pelukan suaminya, dia sangat mengkhawatirkan keadaan putra bungsu nya itu.


"Mah, berhentilah menangis. Hais baik-baik saja, dokter sedang memeriksa dirinya." ucap Diva mencoba memenangkan mamah mertuanya.


Tidak ada jawaban dari nyonya Indra. Dia menatap lurus ke arah pintu UGD yang berharap akan segera terbuka. Nyonya Indra takut putra bungsu nya itu mengalami hal yang serius, karna sudah lama sekali anaknya tidak mengonsumsi obat-obatan lagi, dan sekarang dia mengonsumsi obat-obatan itu dengan dosis yang tinggi.


"Kamu sudah mencari tau siapa yang berani membuat Hais seperti ini, Ruel?" tanya Indra kepada putra pertama nya.


Ruel mengangguk. "Sudah. Aku sudah meminta orang-orang untuk mencari siapa orang yang sengaja memasukan obat-obatan ke makanan Hais." jawab Ruel.


"Bagus. Pastikan orang itu mendapatkan balasan yang setimpal, Ruel. Papah tidak ingin hidup Hais kembali hancur."


"Bukankah Papah sudah menghancurkan hidup Hais?"


Indra membalikkan tubuhnya menantatap tajam ke arah putra pertama nya itu. "Apa maksudmu, Ruel?!"

__ADS_1


Ruel tidak menjawab, dia memilih pergi dari hadapan papah nya. Hal itu membuat Indra geram lantaran sikap putra pertamanya itu masih saja sama dengan dulu. Mungkin karna dulu dirinya memisahkan putranya dengan wanita yang Ruel cintai, maka dari itu sekarang sikap putranya seperti ini kepadanya.


Kurang dari 15 menit, pintu UGD terbuka dan menampakan sosok dokter yang tadi menangani Hais. Nyonya Indra langsung menghampiri dokter, dia bertanya tentang bagaimana kondisi putranya saat ini.


"Tuan Hais baik-baik saja, nyonya. Beliau hanya perlu istirahat saja. Obat itu sudah saya tangani. Namun, sepertinya tuan Hais akan mengalami halusinasi karna efek obat tersebut." Jelas dokter kepada keluarga Lesmana.


Ruel mengangguk paham. "Baik dok, terimakasih. Jadi sekarang kami boleh melihat Hais?" tanya nya.


"Kalian bisa menemui Hais jika sudah di pindahkan ke ruang rawat." Jawabnya. "Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap dokter yang berpamitan kepada keluarga Lesmana.


Hais di pindahkan ke ruang rawat, dia mendapatkan perawatan yang khusus di buat untuk dirinya. Tentu dengan kekuasaan Indra, dia mampu membuat semua orang terdiam jika mengetahui putra bungsu nya adalah pecandu obat-obatan.


"Bagaimana keadaan adikku?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Hais.


Nyonya Indra membalik melihat siapa yang berbicara, kedua bola matanya berbinar sesaat mengetahui siapa yang berbicara seperti itu. "Bryan..." panggil nyonya Indra yang berlari memeluk putranya.


Bryan Lesmana. Anak ke-dua dari keluarga Lesmana yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. Dia menjalani profesinya sebagai seorang dokter muda yang tampan, bukan hanya tampan melainkan sangat pintar juga.


"Bagaimana kabarmu, Bryan?" tanya Diva kepada adik iparnya.


Bryan tersenyum, dia memeluk mamah nya terlebih dahulu. "Kabarku baik, kak." jawabnya di sela-sela pelukan mamahnya.


Ruel menepuk pundak adiknya. "Bagus, kamun membuktikan kepadaku bahwa kamu layak menjadi seorang dokter."


Bryan memeluk kakaknya. "Ya. Karna aku harus menyembuhkan dirimu dari wanita-wanita, kak!" ucap Bryan tepat di telinga Ruel.


Untung saja ucapan tersebut tidak terdengar oleh telinga Diva, jadi dirinya bisa bernafas lega. Jika sampai Diva mengetahui perbuatannya, bisa-bisa Diva merebut kekuasaannya untuk menikmati kemanisan para wanita-wanita nya.


Bryan menatap seorang laki-laki yang sangat tidak mempercayai tentang impiannya menjadi seorang dokter. Entah kenapa Papahnya itu melarang keras Bryan untuk menjadi seorang dokter.

__ADS_1


"Pah," panggil Bryan menatap papahnya.


Indra Lesmana menatap putra keduanya yang saat ini berada tepat di hadapannya. Seorang putra yang berani menentang ucapannya bahkan tidak segan-segan untuk memarahinya jika dirinya membuat suatu kesalahan.


Indra Lesmana tidak menjawab sapaan dari Bryan, dia justru pergi dari hadapan putranya tersebut.


Bryan cukup memaklumi sikap papahnya. Dia beralih dengan kondisi adiknya yang saat ini terbaring lemah. Mendengar kabar bahwa adiknya kembali mengalami kejadian yang sudah lama, membuat dirinya langsung memutuskan untuk kembali ke tanah air nya.


"Hais, ini kakak." Bryan mengusap kening Hais, adiknya.


Cukup lama Bryan berbincang-bincang dengan keluarganya, sampai akhirnya Bryan memutuskan untuk keluar dari ruangan adiknya.


Saat hendak keluar, Bryan tidak sengaja menabrak tubuh seorang wanita yang tengah membawa buah-buahan.


"Maaf-maaf, saya tidak sengaja." ucap Bryan yang langsung membantu orang yang dia tabrak tadi untuk membetulkan buah-buahan yang dia bawa.


Seorang wanita cantik dengan rambut yang terurai, membuat Bryan yang baru saja menatapnya langsung terpesona. Bryan tidak bisa berkata apapun lagi sesaat melihat bagaimana kecantikan yang dimiliki oleh seorang wanita yang berada di hadapannya saat ini.


"Tidak apa-apa, terimakasih karna sudah membantu saya membetulkan buah-buahan ini." ucap wanita tersebut yang semakin membuat Bryan terpesona.


"Felly, apa kamu membawa buah-buahan nya?"


"Felly, nama yang cantik seperti wajahnya." gumam Bryan menatap wanita yang bernama Fellysia Anastasya.


...****************...


Hallo semuanya, terimakasih ya sudah membaca cerita ini. Yuk berikan dukungan kalian dengan cara like, komen, and vote, tebarkan bunga kalian juga.


Sambil nunggu update, yuk mampir ke cerita di bawah ini:

__ADS_1



__ADS_2