DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Nantikan balasan dariku


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari Felly, membuat dirinya terdiam untuk sesaat. X nampak ragu untuk mempertimbangkan permintaan Felly. "Ini terlalu beresiko, aku tidak ingin mengambil keputusan sekarang."


Felly menatap tajam ke arah Xavier. Tidak salah dengar bukan dirinya? Xavier baru saja menolak permintaan dirinya. "Kenapa?" tanya Felly dengan wajah tidak bersahabat.


Memahami situasi, membuat Dira lekas langsung menarik tangan Felly dan memintanya untuk kembali duduk. "Diamlah dulu, biarkan X menjelaskannya."


Tidak ada sahutan apapun dari Felly. Dia hanya menghela nafas kasarnya sambil menatap Xavier seolah menanyakan kenapa Xavier menolak permintaannya.


"Dengarkan aku baik-baik, Felly. Bukannya aku menolak permintaanmu, hanya saja aku harus memikirkan bagaimana kedepannya. Tidak mungkin jika orang-orang Indra tidak bisa mengenali mata-matanya, mereka orang yang berbahaya Felly, kita tidak bisa langsung mengambil keputusan."


"Tapi X, akan mudah bagimu untuk mengirimkan orang kepercayaanmu untuk menjadi pengasuh anak itu, apa susahnya? jika kamu tidak mau lagi membantuku, aku bisa sendiri!"


Xavier menghembuskan nafas dengan kasar, benar-benar Felly sangat keras kepala. "Aku akan membantumu, aku akan meminta orang ku untuk mengirimkan pengasuh." ucap Xavier memilih mengalah daripada sahabatnya itu berbuat nekat.


Felly tersenyum mendengar jawaban Xavier, dia memeluk Xavier dengan erat, di ikuti dengan Dira yang ikut memeluk. Ke-tiganya seakan melakukan flashback dulu saaat masih kecil, selalu bersama-sama.


Xavier mengusap rambut Felly dan Dira. Ke-dua wanita di hadapannya seakan telah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. Namun entah mengapa berbeda sesaat dirinya dengan Felly, hatinya selalu saja merasa hal yang asing. "Kita akan membantumu untuk mendapatkan hak mu kembali, Felly. Hanya saja, aku mohon kamu jangan gegabah mengambil keputusan."


"X benar, kita berdua akan membantmu Felly." sahut Dira.


Setelah berdiskusi dan membicarakan bagaimana rencana selanjutnya, Felly dan Dira berpamitan untuk pulang. Keduanya tidak menginap lantaran takut menjadi kecurigaan orang-orang Indra.


Kali ini Felly yang menyetir, dia mempersilahkan Dira untuk beristirahat sampai nanti keduanya sampai di rumah. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang datang. Felly tidak mengganggu istirahat Dira dengan beberapa pertanyaannya seperti biasanya.


Felly tidak langsung menuju jalan yang menuju ke rumahnya. Dia memilih untuk mengunjungi tempat-tempat indah dulu sesaat bersama mendiang kakaknya, Gean. Dia memarkirkan mobilnya tepat di pinggiran danau, terlihat sepi dan tenang.


Tidak membangunkan Dira, Felly turun dari mobilnya. Dia berjalan menuju pinggiran danau. Felly terduduk sambil menatap ke arah cahaya bulan yang begitu indah.


Benar yang dulu dikatakan oleh mendiang kakaknya, jika mempunyai pikiran atau masalah yang besar, mungkin danau bisa menjadi tempat untuk beristirahat sejenak dari banyaknya pikiran.

__ADS_1


Felly menatap sendu dengan banyaknya bintang-bintang di langit. "Ayah, Mamah, Kakak, Adik, apa kalian ada di sini? aku merindukan kalian, sangat sakit rasanya." lirih Felly menangis dalam keheningan.


Jika saja saat acara ulangtahunnya, Bintang memilih untuk mengikuti usulan dari kakaknya yang mengajak dirinya untuk berlibur. Mungkin tragedi 14 tahun itu tidak akan terjadi kepada keluarganya. Dan sampai saat inilah itu yang membuat Felly selalu menyesali setiap ulangtahun-nya.


Namun ya, mungkin ini sudah menjadi takdir. Dirinya tidak bisa memutar balikkan waktu. Akan tetapi Felly merasa bahwa dirinya bisa mengulang kejadian 14 tahun itu dengan para-para pelaku yang telah menghancurkan keluarganya.


Dengan langkah gontai, Felly memutuskan untuk kembali ke mobilnya. Dia kembali melaju ke arah rumahnya. Sesaat sudah sampai, Felly membangunkan Dira untuk turun dari mobil.


Keduanya masuk ke dalam rumah besar yang dulu menjadi tragedi 14 tahun yang lalu. Disaat Dira langsung masuk ke dalam kamarnya, namun berbeda dengan Felly yang memilih untuk menuju ke arah dapur.


Felly kembali teringat dulu mendiang mamahnya selalu memanggil namanya untuk membersihkan mainan mainannya yang berada di dapur.


Tidak mau terlalu larut dalam flashback masalalu, Felly memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, karna besok dirinya akan langsung berhadapan dengan Indra. Dia akan memberikan kesaksiannya saat nanti para wartawan menanyainya.


Pagi menjelang.


"Terimakasih Dira." Felly menyantap sarapan yang di buatkan oleh Dira.


Kurang 15 menit mereka sarapan, Dira dan Felly sudah siap menuju perusahaan mereka. Dengan wajah cantik keduanya masuk ke dalam mobil.


"Akan ada banyak wartawan yang meminta kejelasan kepadamu atas kejadian kemarin. Jangan menimbulkan kecurigaan apapun degan pertanyaan pertanyaan mereka, Felly. Biarkan saja Win dan Indra yang mengurus wartawannya sendiri." ucap Felly yang langsung menancapkan gas menuju perusahaan Indra Lesmana.


"Ya. Aku mengerti Dira." sahut Felly yang mengerti dengan ucapan sahabatnya itu.


Sesampainya di pertengahan jalan, Felly seperti biasa selalu turun disana, dia tidak ingin karyawan-karyawan lainnya mencurigainya.


"Ingat pesanku, Felly."


Felly mengangguk, dia lekas langsung berjalan setelah mobil yang dikendarai oleh Dira mulai hilang dari pandangannya.

__ADS_1


Benar ternyata, ucapan Dira tadi pagi benar adanya. Kini di depan gedung perusahaan, banyak wartawan yang menyebutkan namanya. Mereka pastinya ingin menyerbu jawaban dari Felly.


Felly berjalan dengan santai masuk ke dalam perusaan. Dia tersenyum sesaat para wartawan mulai berjalan ke arahnya, Felly tidak bergetar atau cemas sedikitpun. Dia justru tersenyum menanti para wartawan menuju ke arahnya.


"Nona Felly..." teriak para wartawan yang langsung berlari menghampirinya.


Felly langsung dikerumuni dengan wartawan wartawan, mereka berbondong-bondong memberikan pernyataannya kepada Felly. Bahkan sepertinya mereka tidak membiarkan Felly berucap sedikitpun.


Indra dan Win, keduanya melihat Felly yang tengah di kerumuni wartawan, Indra langsung meminta keamanan untuk membubarkan para wartawan, dia juga meminta Win untuk membawa Felly masuk.


"Nona anda belum menjawab pertanyaan kami!"


"Tuan apa benar anda dulu melakukan pembantaian dengan sebuah keluarga, dan mengambil harta mereka, apa itu benar tuan?" tanya salah satu wartawan sesaat dirinya melihat Indra.


Tentu pertanyaan itu menghentikan langkah kaki Indra. Dia benar-benar marah dengan pernyataan tersebut. "Siapa yang memberikan berita palsu seperti itu hah?berani-beraninya kalian menuduhkan pertanyaan seperti itu!!"


Felly hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dari Indra. Dia memang tepat untuk mengungkapkan rencana yang di susun oleh Xavier.


Xavier meminta Felly untuk tidak langsung mengotori tangannya untuk menjatuhkan Indra. Dia mempunyai cara yang lain untuk menghancurkan secara perlahan-lahan, tentu Felly ikut menyetujuinya.


"Cih, kamu bertanya seolah kamu sedang mendapatkan ancaman Indra! benar adanya, bajing4n tidak akan mengakui perbuatannya sebelum ada balasannya, nantikan balasan dariku!"


...****************...


Hallo, terimakasih sudah membaca cerita ini. Yuk berikan dukungan kalian dengan cara komen, like, vote, and share ya.


Sambil nunggu update, yuk mampir ke cerita ini:


__ADS_1


__ADS_2