
Melihat ekpresi kesal yang ditujukan oleh Felly, membuat Bryan sangat puas. Hatinya semakin tidak karuan jika terus menatap Felly. Sepertinya memang benar, dia sudah jatuh cinta kepada wanita yang kemarin dia temui di rumah sakit.
Pesanan bakso yang di pesan oleh Bryan, kini sudah datang. Bryan memberikan semangkuk bakso untuk di nikmati Felly. "Makanlah, aku tau kamu ingin mencobanya." Ucap Bryan memberikan mangkuk berisikan bakso kepada Felly.
Felly tidak mengucapkan kata apapaun, dia memperhatikan bakso yang berada di hadapannya. Sangat asing, dia tidak pernah melihat ataupun memakannya.
Bryan tersenyum melihat Felly yang hanya menatap bakso yang ada di hadapannya itu. "Jangan di lihat terus, cepat makan."
Hujan tiba-tiba saja turun, membuat kesan menambah dengan memakan bakso. Felly menyicipi kuah bakso, dia terdiam sesaat merasakan rasa yang asing baginya, namun sangat enak.
Lupakan bagaimana tadi Felly menolak ajakan Bryan, saat ini dia ingin menghabiskan bakso yang ada di hadapan-Nya. Felly mengikuti cara Bryan dengan menuangkan sambal dan saus, membuat rasa yang ada di kuah baksonya semakin enak.
Karna terlalu bersemangat untuk memakan bakso tersebut, membuat Felly tersedak yang membuat Bryan menyodorkan segelas air kepadanya.
"Pelan-pelan, aku tidak akan meminta makananmu."
Felly meminum air yang diberikan oleh Bryan, dia tidak mengatakan apapun, rasanya sangat malu. Ah namun lupakan rasa itu dia ingin lagi memakan bakso nya.
Melihat wanita yang dia sukai kini tengah lahap memakan bakso, membuat Bryan semakin menyukainya. Bryan merasa bahwa Felly bukanlah orang yang biasa-biasa saja, dia yakin bahwa Felly adalah orang yang berkuasa, dan tentunya orang yang mempunyai kekuasaan besar.
Bryan tidak mengurusi itu, dia ikut memakan bakso miliknya.
Kurang dari 15 menit, Felly sudah menghabiskan bakso miliknya. Dia mengusap perutnya yang kenyang memakan bakso tersebut.
"Kamu baru mencobai bakso?" Tanya Bryan setelah menyelesaikan makannya.
Felly mengangguk. "Iya. Dulu kakakku pernah mengajakku ke tempat bakso, tapi tidak jadi karna sebuah insiden." Jawab Felly mengingat bagaimana mendiang kakaknya dulu mengajaknya untuk makan bakso, namun terlebih dahulu sebuah tragedi terjadi kepada keluarganya.
Bryan mengangguk, dia memanggil tukang bakso untuk membayar makanannya. Setelah selesai, Bryan mengulurkan tangannya, meminta Felly untuk kembali memapahnya.
"Yang benar saja! Yang terluka itu tanganmu, bukan kakimu!" Gerutu Felly kesal karna Bryan menyuruhnya untuk memapah tubuh gagah Bryan.
"Aku sudah menolongmu tadi, coba kalau aku tidak menolongmu, mungkin sekarang kamu sudah innalillahi." Ucapa Bryan dengan tertawa.
__ADS_1
Dengan berat hati, Felly membantu Bryan untuk masuk ke dalam mobilnya. Baru kali ini dia sedekat ini dengan pria asing, selain dengan Xavier. Entah kenapa, Bryan memberikan sedikit rasa yang baru di dapatkan oleh Felly.
Tidak mau berpikiran terlalu dalam, Felly masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju apartemen Bryan. Felly tidak memperdulikan bagaimana Bryan yang selalu memandang wajahnya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan apapun di antara keduanya. Baik Felly dan Bryan, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Bryan menatap wajah cantik Felly, dalam hatinya dia berkata andai saja jika Felly bukanlah sekertaris ayahnya, mungkin saat ini dia sudah melamar Felly.
Namun sialnya, Felly adalah sekertaris ayahnya. Tentu hal itu membuat Bryan berat, lantaran pastinya Felly akan menolak dirinya jika dia mengetahui bahwa dirinya adalah anak Indra Lesmana.
Sesampainya di apartemen Bryan, Felly turun dan kembali membantu Bryan untuk masuk ke dalam apartemen.
Bryan memberikan kunci apartemennya kepada Felly. Entah di buat-buat atau memang kesakitan, Bryan meringis saat tangannya di pegang oleh Felly.
Pintu apartemen terbuka, sebuah apartemen mewah dan megah langsung terpampang. Bryan membeli apartemen megah ini dengan hasil keringatnya sendiri, dia membelinya dari gaji dirinya sebagai dokter di luar negri.
"Luka ku sepertinya infeksi, kamu mau membantuku untuk membersihkan lukaku?"
"Ck, cepatlah tunjukan dimana kotak obatnya?"
Bryan memberikan kotak obat kepada Felly, dia melihat Felly mengambil air hangat untuk membasuh luka yang ada di tangannya.
Felly membuka perban yang tadi dia buat, luka tangan Bryan sepertinya dalam, perban berwarna putih itu kini berubah menjadi warna merah pekat.
"Apa kita sebaiknya ke rumah sakit?" Tanya Bryan kepada Felly.
Felly yang sudah paham dengan kondisi tangan Bryan, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku bisa mengobatinya." Jawabnya dengan tegas. Felly yakin dia bisa mengobati luka tangan Bryan, karna dulu dia selalu membantu rekannya yang terluka.
Ringisa terdengar dari bibir Bryan saat Felly mulai membasuh luka tusuknya yang ada di tangannya. Luka yang cukup dalam, namun beruntungnya tidak melukai urat tangannya.
"Tahan sedikit, mungkin ini akan terasa perih." Ucap Felly, dia menekan luka yang ada di tangan Bryan.
Tidak ada ringisan apapun dari Bryan, dia justru memperhatikan wajah cantik Felly. Namun saat Felly menoleh ke arahnya, dia berpura-pura meringis kesakitan.
__ADS_1
"Pelan-pelan, rasanya ngilu sekali." Ringis Bryan yang sengaja memeluk tangan Felly untuk meredakan rasa sakit yang dia rasakan, namun semua itu hanya pura-pura nya saja.
"Baru luka seperti ini."
"Tapi rasanya sakit sayang."
Felly melayangkan tatapan tajamnya mendegar kata terang dari Bryan. "Apa katamu tadi?"
Bryan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Aku rasa tanganku bengkak." Celetuk Bryan setelah Felly selesai mengobati lukanya.
Mendengar ucapan Bryan yang mengkhawatirkan tangannya, Felly langsung menyahut sambil memasangkan perban. "Tidak akan, aku sudah memberikan obat pereda nyeri, mungkin besok akan baik-baik saja." Sahut Felly, dia mengunci perban yang dia buat.
Setelah selesai, Felly membersihkan obat-obatan yang tadi dia pakai. Setelah itu, dia langsung berkata untuk pulang. Namun, Bryan lagi-lagi menahannya.
"Kamu mau menginggalkanku dengan kondisi seperti ini?" Ucap Bryan yang menghentikan langkah kaki Felly.
Felly kembalikan tubuhnya, dia menatap Bryan. "Kamu tidak lumpuh, Bryan. Kamu masih bisa berjalan, dan menggunakan tangan satunya lagi." Jawab Felly yang langsung keluar dari apartemen Bryan.
Bryan semakin menyukai Felly setelah ucapan Felly yang tegas, sangat di sukai olehnya. Bryan tersenyum menatap mobil Felly yang sudah mulai menghilang dari parkiran, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Sementara itu Felly, dia saat ini melajukan mobilnya menuju kediamannya. Entah kenapa, kejadian tadi bersama Bryan, terputar di pikirannya yang membuat Felly tiba-tiba saja tersenyum.
Namun, Felly langsung menghentikan senyumannya. Dia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. "Gila!" Ucapnya pada dirinya sendiri mengingat bagaimana hal baru yang baru dia rasakan.
...----------------...
Hallo, terimakasih sudah membaca cerita ini. Yuk tinggalkan jejak kalian dengan cara Like, komen, And Vote, tebar bunga juga.
sambil nungguin up, yuk mampir sini.
__ADS_1