
"Kenapa? Bukankah tidak ada salahnya jika kita untuk berteman? Aku rasa sekarang kamu membutuhkan teman, apa bisa aku menjadi temanmu?"
Ayolah Felly benar-benar kesal di buat oleh laki-laki yang berada di hadapannya itu. Dia sama sekali tidak berpikir untuk mempunyai teman seperti dirinya.
Laki-laki yang berada di sampingnya, dia terus saja mengoceh membuat Felly kesal dan langsung menyumpal mulut laki-laki itu menggunakan wadah eskrim.
"Diamlah!" Bentak Felly kesal.
Bukannya marah, Bryan justru tertawa melihat ekpresi yang diberikan oleh Felly. Seorang wanita yang berhasil membuat hatinya bergetar, sensasi baru yang baru pertama kali dia rasakan.
Banyak wanita yang terang-terangan mendekatinya, namun mereka tidak bisa membuat Bryan merasakan hal yang saat ini dia rasakan bersama Felly. Maka dari itu, rasa penasaran Bryan untuk mendekati Felly semakin besar.
Bryan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Felly. "Namaku, Bryan." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Felly melirik sekilas ke arah Bryan, dia tidak menyambut ataupun menyahut ucapan laki-laki yang memperkenalkan dirinya.
Tidak mendapatkan respon, rupanya itu bukan hambatan bagi Bryan untuk mendekati Felly. Dia menatap wajah cantik Felly yang membuatnya tenang setiap kali menatapnya.
"Bola matamu sangat cantik, apa ibu mu mempunyai keturunan?" Tanya Bryan.
"Ya. Ibu ku mempunyai keturunan untuk membasmi orang-orang sepertimu!" Sahut Felly dengan kasar, dia berdiri meninggalkan Bryan yang tengah mencerna ucapan Felly.
Detik berikutnya, Bryan tersentak saat melihat Felly yang mulai menjauh darinya. Dia langsung berlari menyusul Felly.
Bryan tidak memperdulikan bagaimana tatapan orang-orang tentang dirinya yang mencoba mendekati wanita yang berada di hadapannya.
"Pelan-pelan jalannya, nanti jatuh."
Felly memutar bola matanya dengan malas. Dia sangat risih dengan sikap Bryan yang so akrab dengannya. Felly terus berjalan tanpa memperdulikan ucapan Bryan.
Namun, dia terkejut saat Bryan menarik tangannya dan memutar tubuhnya ke belakang. Ternyata sebuah motor melaju kencang ke arahnya, beruntung Bryan langsung menarik Felly ke dalam pelukannya sehingga motor itu tidak mengenai Felly.
Felly menatap lekat wajah Bryan yang sangat dekat dengan wajahnya. Wajah yang tampan, tidak terlihat adanya pori-pori di wajahnya tersebut.
"Tutup mulutmu, aku kok, kalau aku tampan." Celetuk Bryan yang membuat Felly langsung menjauh darinya.
__ADS_1
Felly menatap kesal ke arah Bryan, dia melirik tangan Bryan yang mengeluarkan cairan merah, tangannya terluka. Dia menarik tangan Bryan dan memperhatikan luka tersebut, luka yang cukup dalam.
"Duduklah di sana (Felly menunjuk kursi yang berada di tepi danau.) tunggu disana, aku akan membawa obat untuk lukamu." Ucap Felly. Dia meminta Bryan untuk menunggunya di kursi yang letaknya di tepi danau.
Bryan mengangguk, dia dengan senang hati mengikuti perintah dari Felly, ia duduk di kursi yang Felly tunjuk.
Tidak ada rasa sakit yang Bryan rasakan, selain rasa bahagia karna mendapatkan kekhawatiran Fellysia, seorang wanita cantik yang sudah membuat hatinya bergetar.
Felly kembali setelah membawa alat-alat yang akan menghentikan luka di tangan Bryan. Dia melihat sekeliling yang tidak ada kain sedikitpun, Felly yang tidak mempunyai pilihan, dia merobek bajunya untuk menghentikan pendarahan Bryan.
Hal yang pertama kali Bryan rasakan, seorang wanita memperlakukannya seperti ini. Memang banyak wanita yang lebih dari Felly, namun rasanya wanita yang di inginkan Bryan, ada pada Fellysia.
"Apa ini terlalu kencang?" Tanya Felly mendongak menatap Bryan yang masih setia menatapnya.
Bryan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini sudah cukup." Jawabnya.
Felly mengikat kain bajunya, dia membalut tangan Bryan yang terluka. Entah mengapa Felly berperilaku seperti ini, biasanya dia tidak perduli dengan orang lain yang akan terluka.
Tapi sekarang, dia justru menolong Bryan yang jelas-jelas tadi membuatnya kesal. Mungkin ini rasa bersalah karna berkat menolongnya, Bryan mendapat sayatan dari seseorang.
Bryan terdiam, jika dia memberitahukan alamat yang sebenarnya, yang ada Felly tahu bahwa dirinya adalah anak atasannya. Dan, rencana Bryan untuk mendekati Felly akan semakin susah.
"Aku tinggal di apartemen." Sahut Bryan mencoba berdiri. "Kamu maun mengantarkanku?" Tanya Bryan.
"Iya, anggap saja ini balas budi." Felly terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya yang langsung di susul dengan Bryan.Felly melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan oleh Bryan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan apapun yang terjadi kepada Felly dan Bryan. Keduanya sama-sama terdiam, tanpa kata yang keluar dari bibirnya.
Bryan menatap Felly dengan lekat, dia sudah yakin bahwa dirinya jatuh cinta kepada Felly. Rasah dia tidak mau berpisah, Bryan ingin tetap bersama Felly.
Sebuah ide melintas di pikiran Bryan untuk berlama-lama dengan Felly. "Aku rasanya lapar, dari tadi perutku terus bunyi. Apa kamu bisa menghentikan mobilmu di dekat grobak bakso itu?"
"Aku banyak kerjaan."
"Ck, ayolah. Bukankah tadi kamu mengatakan ingin membalas budi?"
__ADS_1
Felly mengumpat, dia menghentikan mobilnya tepat di samping bakso. "Silahkan." Ucapnya mempersilahkan Bryan untuk turun dari mobilnya.
"Astaga, kamun tega sekali. Kamu mau melihat aku berjalan dengan luka seperti ini?" Bryan memasang mimik wajah sedihnya, tidak perduli jika Felly semakin kesal kepadanya.
Felly turun dari mobilnya, dia membanting pintu mobilnya dengan keras membuat Bryan tertawa senang melihat ekpresi yang diberikan oleh Fellysia kepadanya.
Bryan mengulurkan tangan kirinya. "Bantu aku berdiri." Ucapnya meminta Felly untuk membantunya berdiri.
"Yang luka itu tanganmu, bukan kakimu!" Gerutu Felly kesal, dia membantu Bryan masuk ke dalam ruko bakso.
Seumur hidup, Felly tidak pernah menginjak hal seperti ini. Dia menatap sekeliling yang banyak pengunjung menatap ke arahnya. "Tempat seperti apa ini?" Tanya Felly dengan suara lirih.
"Ini tempatnya orang untuk memenangkan pikiran mereka, dengn bakso semuanya akan tenang." Jawab Bryan, dia menarik tangan Felly untuk ikut masuk bersamanya.
"Apa kamu belum pernah ke tempat seperti ini?" Bryan bertanya setelah melihat ekpresi Felly yang seolah bingung.
Felly mengangguk. "Iya, aku belum pernah."
Bryan tersenyum mendengar jawaban Felly. Dia mengajak Felly untuk duduk bersamanya, Bryan memesan bakso yang sudah menjadi langganan nya. "Dulu, keluargaku sangat miskin. Kami makan dengan sisa sisa bakso yang ada di sini." Celetuk Bryan yang membuat Felly menatap ke arahnya.
"Watuku sudah habis, nikmati saja sendiri." Ucap Felly, dia berdiri dari duduknya.
"Sayang, kamu memilih tukang gorengan itu? Astaga, apa kurangnya aku?"
"Damn!"
Bryan benar-benar membuat kesabaran Felly teruji, berani sekali Bryan mengatakan seperti itu, membuat orang-orang sekitar menatapnya dengan berbisik.
"Sialan!" Lirih Felly yang masih terdengar oleh Bryan.
...---------------...
Hallo, terimakasih telah membaca cerita ini. Sambil nunggu update, yuk mampir ke sini:
__ADS_1