
"Win, aku ingin yang menyebarkan berita hoax seperti itu, ada din hadapanku sekarang!" perintah Indra. Dia meminta Win untuk mencari orang yang telah menyebarkan berita yang tidak benar bagi-Nya.
Win mengangguk paham, dia berpamitan untuk menjalankan perintah atasannya itu. "Baik tuan, saya akan mencarinya." Win langsung berlalu dari hadapan Indra dan Felly.
"Kalau begitu, saya juga permisi untuk kembali ke ruangan saya, tuan." ucap Felly yang ikut pergi dari hadapan Indra. Dalam hati dia hanya bisa tertawa dengan sikap cemas Indra yang seolah takut jika orang-orang akan mengetahui dirinya lah dalang dari peristiwa 14 tahun yang lalu.
Sudah cukup lama Indra menutup rapat-rapat kejadian 14 tahun yang lalu. Dia bahkan sudah melenyapkan orang-orang yang terlibat dengan pembanta1an yang dia lakukan dulu. Jadi, bagaimana bisa orang-orang berkata seperti itu? tidak mungkin jika Win yang menyebarkan berita seperti itu.
"Sialan, siapa yang berani menyebarkan berita itu? aku rasa dia mengetahui kejadian 14 tahun yang lalu." gumam Indra menatap layar laptop nya.
Sedangkan itu Felly, dia tengah menyiapkan beberapa laporan yang akan dia berikan kepada Indra. Namun ada banyak laporan yang Felly salin ke ponselnya untuk dia ubah suatu saat nanti. Tentu Felly menutup semua CCTV yang berada di ruangannya.
"Baiklah, mari kita bermain-main. Aku akan memainkan permainanmu dulu, Indra." lirih Felly.
Felly tidak menyaka bahwa berita yang di sebarkan oleh Xavier, ternyata langsung tersebar luas, bahkan banyak orang-orang yang menyerbu sosmed keluarga Lesmana untuk mendapatkan jawaban dari berita tersebut.
Hal itu membuat Felly sangat bahagia, dia memainkan jarinya tidak sabar untuk menunggu berita-berita itu sampai di telinga keluarga Lesmana. Dia ingin mereka cemas, ketakutan, seperti keluarganya dulu.
Tidak hanya orang-orang luar yang mengetahui berita itu. Namun orang-orang kantor ternyata sudah mengetahui tentang berita itu. Mereka membicarakan atasannya sendiri. Mereka tidak menyangka jika atasannya akan berbuat keji seperti itu.
"Aku tidak menyangka tuan Id akan seperti itu."
"Banar, aku kira dia benar-benar membeli perusahaan ini. Tapi kenyataannya, dia merampas nya."
__ADS_1
"Iya, pantas saja semenjak di kelola olehnya, perusahaan ini tidak lagi mendapatkan tender yang besar."
"Wajar saja, itu karna dia merampas hak orang lain."
Mendengar orang-orang yang membicarakan tentang Indra. Felly benar-benar puas, dia tidak sabar menanti Indra yang menghadapi semua pertanyaan-pertanyaan wartawan. "Sekuat apapun kamu menutupinya, semua itu hanya akan sia-sia saja, Indra. Karna, kamu melupakan musuhmu yang sebenarnya." batin Felly.
Tentu saja, orang-orang yang membicarakan hal itu langsung membuat Indra marah besar. Dia meminta orang-orang kantornya untuk menghapus berita yang mereka punya.
Baru saja Win meminta orang-orangnya untuk menyingkirkan wartawan, lagi dan lagi wartawan tersebut kembali datang dan berteriak memanggil Indra. Ada salah satu wartawan yang dengan beraninya meminta kejelasan langsung dari Indra Lesmana.
"Benar, tuan Indra harus menjelaskannya jika ingin berita ini berakhir!" sahut salah satu wartawan yang di sahuti semuanya.
"Kami akan menjelaskannya, jadi silahkan kalian pergi terlebih dahulu!" Sekertaris Win meminta wartawan untuk pergi dari perusahaan. Karna sebentar lagi akan ada pertemuan dengan investor baru.
Nyonya Indra tidak tahan dengan berita-berita yang beredar. Dia benar-benar takut jika orang-orang mengetahui kenyataannya tentang berita tersebut. "Jangan sampai mereka tau dengan kenyataannya, jika sampai mereka tau, habis sudah semuanya, hancur!!" lirih nyonya Indra cemas dengan pikirannya sendiri.
Seperti yang dikatakannya kemarin, hari ini ada seorang wanita yang akan menjadi pengasuh baru untuk cucu nya. Dia memilih ketat wanita yang akan menjadi pengasuh cucu nya.
"Mah, kenapa mereka terus saja membicarakan tentang papah mertua?" tanya Diva yang tidak paham degan berita yang beredar. Dia benar-benar tidak yakin jika papah mertuanya itu adalah dalang dari pembantaian sadis yang terjadi saat 14 tahun lalu.
Mendengar pertanyaan menantunya. Nyonya Indra menatap Diva, dia berusaha bersikap se-normal mungkin. "Berita itu tidak benar, jangan terlalu memikirkannya, Diva. Pokus saja dengan Cila dan model mu."
"Baiklah," Diva mengangguk.
__ADS_1
"Sudah, sebaiknya kita temui pengaruh baru cucuku, aku ingin dia bisa menjaga Cila dengan benar." nyonya Indra mengajak menantunya untuk menemui pengasuh baru untuk cucu nya.
Malam menjelang, namun berita tersebut masih saja tersebar luas. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali Indra melakukan pertemuan untuk menjelaskan tentang berita yang beredar. Sudah banyak hal yang Indra lakukan untuk menutupi berita tersebut, namun sepertinya lawan nya kali ini benar-benar hebat, dia mampu kembali membuka berita yang sudah di kunci oleh Indra menggunakan kekuasaannya.
"Tuan, saya rasa anda tidak perlu secemas itu. Ini hanya berita sepele saja, jika memang anda tidak melakukannya, anda tidak perlu repot-repot mengurusnya." ucap Felly yang langsung membuat Indra tersentak kaget.
Indra dan Win gelagapan dalam menjawab ucapan Felly. Namun karna Win adalah sekretaris sekaligus tangan kanan Indra, tentu dia yang menjawab ucapan Felly. "Kamu benar Felly, tapi sebagai seorang pemimpin perusahaan, tentu berita ini akan mempengaruhi dengan kerjasama antara investor lainnya."
Felly tersenyum mendengar ucapan Win, menang benar jika mereka tidak ingin mengakui kesalahan mereka. "Cukup sulit juga tuan, namun rasanya akan sangat merugikan jika berita ini sampai di tangan pemimpin Xavier, dia akan membatalkan rencananya untuk berkerjasama dengan perusahaan kita. " setelah mengatakan itu, Felly mengumpat Win dan Indra di dalam hatinya.
"Ya. Kamu benar Felly, maka dari itu kita harus cepat menghapus berita itu." Win menatap Felly. "Bukannya kamu mempunyai seorang kakak perempuan yang cukup cerdik dengan komputer? aku rasa kakakmu bisa mengatasi nya."
Indra ikut menatap Felly. "Benar itu Felly?" tanya nya.
Dengan tenang, Felly mengangguk. "Benar tuan, kakak perempuan saya dulu pernah berkerja di perushaan luar, dia mendapatkan posisi yang cukup sulit. Namun sepertinya kemampuannya semenjak berkerja di perusahaan itu jadi terbawa bawa sampai sekarang." jelasnya dengan tenang.
"Kalau begitu, aku ingin menemui kakakmu. Berapapun bayarannya akan saya bayar jika dia benar-benar mampu menghapus berita ini."
...---------------...
Hallo semuanya, terimakasih yah sudah membaca cerita ini. Ayo dong berikan dukungan dan support dari kalian dengan cara Like, komen, vote, and share. Terimakasih untuk yang sudah ❤
Sambil nunggu yuk mampir ke karya di bawah ini, ceritanya tidak kalah seru loh!
__ADS_1