DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Menyusun rencana baru


__ADS_3

"Aku rasa dendam Felly semakin besar." gumam Dira sambil menatap Felly yang masih tidak sadarkan diri.


X mengangguk. Dia ikut memperhatikan sahabatnya. "Ya, dendam Felly semakin besar. Namun, Felly belum bisa mengendalikan dirinya."


"Apa maksudmu?" Dira menatap X.


Xavier, seorang laki-laki tampan yang ikut menemani Felly di masa sulitnya. Xavier cukup terkenal dengan kecerdasannya. Selain itu, Xavier adalah pewaris perusahaan ternama di Eropa.


"Bukannya tadi kamu sudah melihatnya? Felly tidak bisa mengontrol emosinya. Dia turun tangan mengatasi orang-orang kecil seperti tadi. Tanpa dia sadari itu akan membuat identitasnya langsung terbongkar."


Dira terdiam mendengarnya. Memang benar yang dikatakan oleh Xavier. Felly cukup gegabah dengan langsung turun tangan mengatasi musuh-musuh yang kecil. "Kita akan bicarakan kepada Felly. Dia orangnya keras dan susah untuk di atur. Pelan-pelan saja kita berbicara kepadanya." ucap Dira. Dia menepuk pundak Xavier yang sudah rela jauh-jauh untuk membantu balas dendam Felly.


Beberapa menit kemudian. Felly telah sadar dari pingsannya. Dia terdiam sambil menatap kalung pemberian dari kakaknya dulu.


"Jangan lepas kalung ini. Anggap saja ini kenang-kenangan dari kakak buat kamu."


Ucapan itu terus teringat dipikiran Felly. Sejak kecil sampai sekarang, dia tidak pernah melepaskan kalung pemberian dari kakaknya. Entah kenapa Felly merasa bahwa kakak dan keluarganya telah mengetahui rencana para bajing4n yang akan menghancurkan keluarganya.


Dari kalung pemberian kakaknya sudah sangat besar saat dipakai Felly dulu. Sehingga sampai usianya 20 tahun ini kalungnya sangat pas dia pakai.


Felly beranjak dari kasurnya. Dia mencari kedua sahabatnya yang kini Felly lihat sedang menonton film.


"Makan dulu Fel, tadi aku sudah siapkan makanan untukmu." ucap X yang memberikan makanan untuk Felly.


Melihat sikap X yang perhatiannya lebih kepada Felly. Dalam hati Dira, dia merasa bahwa X mencintai Felly. Jika sampai itu benar-benar terjadi. Mungkin akan terjadi perseteruan dengannya.


Ketiganya makan bersama. Selesai makan, Felly meminta senjata-senjata baru kepada Xavier. Ketiganya berbicara di ruang khusus.


Brak!


X melemparkan beberapa berkas ke arah Dira dan Felly. "Lihat itu Felly. Sudah aku peringatkan berkali-kali, jangan langsung turun tangan mengatasi orang-orang kecil seperti mereka." X menghela nafasnya. "Jika saja aku tidak langsung membereskannya. Mungkin kamu sudah tertangkap olehnya. Ingat ini baik-baik Felly. Win, Indra, bukanlah orang yang lemah atau orang bod0h. Mereka bisa gampang menangkapmu." sambung Xavier.

__ADS_1


Brak!


Felly memvkul meja. Dia berdiri tegas menatap Xavier. "Mereka menghancurkan keluargaku menggunakan tangan mereka, Xavier! dan aku ingin menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri! jangan selalu mengomentari diriku, aku bisa mengatasi mereka!"


Dia mengusap tangan Felly. "Sudah Fel, diam dulu. Biarkan X menjelaskannya."


"Dira, mereka menghancurkan keluargaku! mereka membunvh keluargaku dengan tangan mereka sendiri!"


Dira paham betul dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya. Dia mengerti bahwa Felly sangat hancur mengingat bagaimana dulu kehancuran keluarganya. "Iya Fel, kita mengerti. Coba kamu pikirkan ini baik-baik. Benar yang dikatakan oleh X, mereka bisa saja langsung mengetahui identitas asli mu. Jangan gegabah. Apa kamu ingin rencana yang sudah kamu bangun 14 tahun yang lalu itu langsung hancur begitu saja? bukannya kamu ingin menghancurkan mereka?"


Mendengar penjelasan dari Dira. Membuat Felly menghela nafasnya. Felly menatap X yang kini sedang menatap ke arahnya. "Maaf X."


Xavier mengangguk. "Sudahlah, ini hanya masalah kecil. Lain kali jika ingin menyerang, jangan langsung turun tangan. Biarkan orang-orangku yang mengurusi mereka."


"Sudah, lebih baik kita bicarakan langkah selanjutnya." Dira membuka laptop nya. Dia memperlihatkannya kepada X dan Felly. "Lihat ini, keluarga Indra terdiri dengan 3 orang anak. Anak pertama seorang laki-laki yang saat ini sedang berada di LA. Anak kedua seorang dok--"


"Cih, apa pentingnya membaca kesenangan anak-anak bajing4n itu?"


Felly menatap layar laptop Dira. "Bandar narkob4?"


Dira mengangguk, dia kembali mengutak-atik laptopnya untuk mencari target mereka. "Dia, Hies. Anak ke-tiga Indra Lesmana."


"Sepertinya keberadaan Hies disembunyikan oleh Indra." sahut X yang ikut mencari data diri Hies, anak ke-tiga Indra Lesmana.


"Ya, kamu benar X. Indra Lesmana sengaja menyembunyikan Hies. Salah satunya dia tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa anaknya adalah salah satu orang yang sudah kecanduan dengan obat-obatan terlarang. Hies adalah anak yang berbeda dari ke-dua kakaknya. Dia selalu berbuat onar." jelas Dira.


"Aku rasa anak ini akan menjadi alat untuk balas dendam ku." gumam Felly. "Lihat, dia terakhir berada di ruang isolasi. Kecanduannya sudah sangat parah."


Xavier menatap Felly yang saat ini tengah menatapnya. X tau apa yang di rencanakan oleh Felly untuk anak ke-tiga Indra Lesmana. "Aku akan meminta orang-orang ku untuk memberikan Hies obat dengan harga murah."


"Bagus, buat anak itu kembali kecanduan. Dia akan menjadi celah untuk balas dendam ku nanti."

__ADS_1


Setelah cukup berdiskusi di rumah Xavier.


Felly dan Dira berpamitan untuk pulang. Ke-duanya menolak saat X ingin mengantarkan mereka.


"Diamlah di rumah X, jangan buat orang-orang curiga dengan kita."


"Felly benar. Untuk saat ini kamu harus menjaga jarak dengan kita."


"Hmm ya, baiklah. Kalian hati-hati, ingat Felly kamu harus bisa mengendalikan emosimu."


Felly mengangguk. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil mewah milik Felly langsung pergi dari perkarantan rumah Xavier.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun diantara Felly dan Dira. Keduanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing.


Felly melirik ke arah Dira yang saat ini tengah fokus menyetir mobilnya. "Dira, besok aku ingin kamu menyelidiki CCTV yang ada di rumahku, perusahaan ayahku, dan rumah sakit kakak ku."


"Ada apa?"


"Aku merasa ada yang janggal dengan keluargaku. Mereka seperti yang sudah mengetahui bahwa Indra akan melakukan penyerangan kepada keluargaku. Dan aku ingin mengetahui motif Indra yang sesungguhnya."


Dira melirik sekilas ke arah Felly. "Kamu yakin?"


Felly mengangguk. Dia sagat yakin ingin mengetahui apa yang sebernarnya terjadi kepada keluarganya. "Aku sangat yakin. Kakak ku, Gean seakan sudah mengetahuinya. Saat dia datang ke acara ulangtahunku dulu, kedua matanya sembab."


"Aku akan mencari tau semuanya. Kamu yang tengah Fel, jangan banyak memikirkan hal yang tidak penting. Besok kamu akan bertemu dengan Win. Jangan sampai dia mencurigaimu. Besok kita akan menyusun rencana baru."


...----------------...


Hallo, terimakasih telah membaca cerita ini. Yuk tinggalkan jejak kalian. Berikan dukungan kalian untuk novel ini dengan cara Like, komen, vote, dan tebar bunga kalian. Sambil nunggu, yu mampir ke novel di bawah ini:


__ADS_1


__ADS_2