
Mendengar penjelasan dari Dira, membuat Ruel langsung menemui putrinya, Cila. Dengan raut wajahnya yang cemas, dia memperhatikan putrinya yang saat ini tengah tertidur pulas.
"Entah siapa yang mempunyai masalah dangan kita. Tapi aku takut mas, takut jika mereka akan tetap menargetkan Cila." ucap Diva sambil memeluk putrinya.
Ruel tidak menjawab ucapan Diva. Dia memperhatikan luka yang ada di tangan putrinya itu sama persis dengan cerita ayahnya yang dulu pernah memberitahukannya bahwa ayahnya telah menggoreskan luka berhuruf L.
Mengingat itu, Ruel langsung bangkit dari tempat tidur anaknya. Dia menatap wajah Diva dengan lekat, jika Ruel memberitahukannya kepada Diva, jelas-jelas istrinya itu akan heboh sendiri.
"Kenapa mas?" Diva bertanya sesaat melihat wajah suaminya yang sendari tadi menatap ke arahnya.
Ruel menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak apa-apa. Sudahlah, temani Cila. Ada perkerjaan yang harus aku bicarakan bersama Dira." sahut Ruel yang langsung pergi dari kamar putrinya.
Sedangkan itu di ruang kerja Indra Lesmana. Terlihat Felly dan Win tengah membicarakan tentang hal yang menimpa kepada cucu Lesmana.
Dengan hati yang bertolak belakang dengan mulutnya. Felly terus saja tersenyum puas sesaat rencananya berhasil untuk membuat Indra masuk ke dalam perangkapnya. Dia berpura-pura serius menanggapi ucapan Indra, walaupun dalam hatinya dia benar-benar ingin segera menembak kepala Indra.
"Apa kamu benar-benar tidak mengetahui wajah-wajah mereka, Felly?" tanya Sekertaris Win menatap Felly dengan lekat.
Felly menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak melihat dengan jelas bagaimana wajahnya, tuan. Yang jelas mereka benar-benar tidak terlihat, karna saat aku melawan, mereka langsung mendorongku." jawab Felly dengan tenang dan cepat. Dia memberitahukan bahwa dirinya benar-benar tidak mengetahui bagaimana wajah-wajah yang telah menyerang cuci Lesmana.
Indra menghembuskan nafas kasarnya. Dengan usia yang sudah memasuki 48 tahun, dirinya benar-benar tidak siap jika mendapatkan balasan dari apa yang dirinya perbuatan dulu.
Felly melirik Indra yang saat ini seakan tengah memikirkan sesuatu. Dalam hatinya, Felly mengumpat Indra. "Cih, apa kamu teringat dengan perbuatanmu dulu? atau kamu teringat akan ucapan ayahku yang mengutukmu dengan kehancuran, haha Indra Indra... aku rasa kamu cukup bod0h untuk menangkap bencana yang jelas-jelas berada di hadapanmu." batin Felly.
"Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Saya akan meminta orang-orang untuk mencari pelaku yang telah membuat nona Cila terluka."
__ADS_1
"Ya. Cari mereka sampai dapat, aku benar-benar akan menghancurkan mereka."
"Mencari? aku berada di hadapanmu, sial4n!"
Setelah cukup membicarakan tentang penyerangan Cila. Felly langsung berpamitan untuk pulang karna dirinya harus memberitahukan kepada X untuk mengirimkannya sebuah bodyguard wanita untuk menyamar sebagai pengasuh Cila.
"Nyonya. Apa saya boleh menemui Cila?" tanya Felly tiba-tiba membuat orang-orang menatap ke arahnya.
Nyonya Indra mengangguk, dia mempersilahkan Felly untuk menemui cucunya. "Silahkan Felly, Cila berada di kamarnya."
"Terimkasih nyonya." dengan di antar oleh maid, Felly masuk ke dalam kamar Cila. Kamar seorang gadis kecil yang akan menjadi targetnya.
Saat pertama kali masuk ke dalam kamar Cila. Felly merasa dejavu dengan beberpa lukisan, dan aksesoris kamar Cila yang mirip sekali dengannya dulu. Cila ternyata menyukai beberapa gambar.
Felly mendekat ke arah Cila yang saat ini tengah tertidur pulas. Dia mengusap wajah Cila dengan pelan. "Gadis yang malang, andai saja kamu tidak terlahir dari keluarga biad4b ini, mungkin aku tidak akan menyerangmu. Namun kamu justru terlahir dari keluarga biad4b ini, maka maafkan aku jika kamu akan terluka kembali." batin Felly tersenyum sinis menatap Cila.
Tidak mau membuat orang-orang curiga kepadanya, Felly langsung keluar dari kamar Cila. Dia berpamitan dengan keluarga Lesmana.
"Terimakasih tuan, nyonya, nona, terimakasih karna telah membawa adik saya, dan terimakasih atas sambutannya." ucap Dira berterimakasih kepada keluarga Lesmana.
Diva mengangguk. "Sama-sama, seharusnya kami yang berterimakasih kepada Felly karna jika tidak ada dirinya, mungkin putri saya tidak tertolong."
"Benar yang dikatakan oleh menantuku, kamu berhutang budi kepada Felly. Jangan sungkan sungkan jika menginginkan apapun, kami akan memberikannya untuk kalian." nyonya Indra ikut menyahut.
"Bagaimana kalau dengan keha-"
__ADS_1
"Maksud adik saya, dia memberikan saran untuk nona Cila mendapatkan pengasuh yang bisa menjaganya. Begitu, tuan, nyonya." Dira memotong ucapan Felly yang sudah dia tebak jika Felly akan mengucapkan kata 'kehancuran' itu sama saja dengan Felly bunvh dir1.
Ruel tersenyum mendengar ucapan Dira. "Benar kata Dira. Kita harus mencari pengasuh yang bisa benar-benar menjaga Cila."
"Ya kamu benar mas, Cila harus mendapatkan pengasuh yang benar-benar bisa menjaganya."
Tidak memakan waktu yang lama untuk berbasa-basi, Dira dan Felly langsung pergi dari kediaman Lesmana.
Sepanjang perjalanan Felly terus saja memejamkan kedua matanya. Dia tidak menyahut dengan ucapan Dira yang menegurnya lantaran selalu saja gegabah dalam berucap.
"Aku mengerti, Fel. Kamu menginginkan kehancuran mereka, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat. Coba kamu bayangkan, jika kamu menghancurkan mereka saat ini, mungkin akan banyak hal yang tidak akan kamu dapatkan kembali. Perusahaan ayahmu masih sepenuhnya milik Indra Lesmana. Kita memerlukan waktu untuk merebutnya, Felly." jelas Dira yang menjelaskan bahwa tindakan gegabah Felly harus di kurangi.
Felly menghembuskan nafas kasarnya. Dia melirik sekilas ke arah Dira, sahabatnya. "Rasanya masih benar-benar sakit, Dira. Mereka memakai barang-barang ayahku, mamah, adik, kakaku, bahkan menantu Lesmana itu memakai kalung milik mendiang kekasih kakakku."
Dira mengusap lengan Felly, dia mengerti bahwa saat ini sangatlah sulit untuk Felly meredakan emosinya. Dia mengerti sangatlah sulit untuk sahabatnya itu beradaptasi dengan penyamaran.
"Aku mengerti, aku harap kamu benar-benar mempertimbangkan semuanya Felly. Kita harus berhati-hati dengan setiap tindakan yang akan kita perbuat, Win dan Indra bukanlah lawan yang lemah, mereka bisa saja langsung melenyapkan kita jika kita memperlihatkan kecurigaan."
Felly tidak menjawab ucapan Dira. Pikirannya saat ini masih tertuju dengan sebuah buku deary yang ada di kamar Cila tadi. Felly sempat membacanya, di dalamnya ternyata telukiskan sebuah keluarga yang bahagia, sama seperti yang dia lukis dulu.
Tidak mau lansung lemah karna sebuah lukisan. Felly mengirimkan X sebuah pesan yang memberitahukan mereka akan bertemu di kediaman Felly, untuk membicarakan langkah selanjutnya.
"Perlahan semua akan mendapatkan balasannya."
...----------------...
__ADS_1
Hallo, terimakasih telah membaca cerita ini. Yuk berikan dukungan kalian dengan cara like, komen, and vote. Sambil nunggu up, yuk mampir ke sini: