DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Cila trauma


__ADS_3

"Tidak perlu Nyonya, dengan kedatangan kalian saja sudah cukup membuat saya senang." jawab Felly dengan tersebut manis ke arah Diva dan Nyonya Indra.


"Tapi kami tidak menerima penolakan, Felly. Nanti setelah Cila diperbolehkan untuk pulang, kamu akan ikut bersama kami." sahut Nyonya Indra menatap Felly dengan lekat.


Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Felly. Mereka sendiri yang memaksa kehancuran mereka semakin dekat. Felly dengan raut wajah sedikit senang, dia menganggukan kepalanya. "Baiklah Nyonya, saya akan ikut."


Setelah mengobrol sebentar, rupanya Felly mempunyai kesempatan untuk menanyakan perihal kalung yang dipakai oleh menantu keluarga Lesmana. Tepat saat Nyonya Indra dan sekertaris Win telah pergi dari ruangannya, Felly langsung menanyakan tentang kalung yang dipakai oleh Diva, menantu kesayangan keluarga Lesmana.


"Permisi nona, boleh saya bertanya?"


Diva melirik Felly, dia tersenyum kecil sambil mengangguk. "Silahkan Felly, tanyakan saja."


Felly memposisikan dirinya berhadapan dengan Diva. Dengan hati-hati Felly bertanya tentang kalung yang dipakai oleh Diva. "Maaf nona, kalung yang anda pakai itu anda dapatkan dari mana, nona?" tanya Felly dengan hati-hati.


Diva melirik kalung yang dia pakai, dia langsung tersenyum sambil mengarahkan kalungnya kepada Felly. "Ouh kalung ini. Ini pemberian dari suamiku, dia bilang kalau kalung ini dia dapatkan dari seseorang." jawab Diva tanpa mencurigai Felly sedikitpun.


"Memangnya kenapa dengan kalung ini? kamu menyukainya?" sambung Diva bertanya balik kepada Felly.


Mendengar itu, Felly lantas langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak nona, kalungnya cantik sama seperti nona yang sangat cantik." sahut Felly dengan tersenyum kecil.


"Kamu ini bisa saja." Diva kembali memainkan ponselnya. Ya, meskipun Diva adalah seorang menantu Lesmana, namun dia berbeda dengan keluarga Lesmana yang lebih menjaga dari orang-orang disekitarnya.


Diva juga menanyakan beberapa hal kepada Felly. Termasuk tempat tinggal Felly. Namun Felly merasakan Diva tidak mengetahui tentang kasus yang dibuat oleh mertuanya 14 tahun yang lalu.


Sampai saat dokter memeriksakan Felly. Dira datang sebagai kakak perempuan Felly. Dira bertemu langsung dengan orang yang bernama Indra Lesmana. Dia cukup terkejut saat mengetahui sosok Indra Lesmana yang sebenarnya, Dira teringat dengan ucapan mendiang adiknya yang memberitahukan orang yang menyiksanya mempunyai tanda di pipi atasnya.


Dira tidak mau salah menangkap dugaaan. Dia dengan tenang menemui Felly. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Dira menghampiri Felly.


"Aku sudah baik-baik saja, kak. Hanya luka kecil." jawab Felly menggunakan kata "Kak" karna di ruangannya masih ada Diva yang sentiasa terus menunggunya.


Melihat lirikan Felly yang mengarah kepada seseorang yang tengah duduk di sopa. Dira lantas langsung bersalaman dengan Diva. "Saya kakaknya Felly, nona. Terimakasih karna anda sudah menunggu adik saya. Maaf jadi merepotkan." ucap Dira dengan sedikit tertawa kecil.


Diva menyambut salaman dari Dira. "Tidak perlu berterimakasih seperti itu, justru saya senang jika menunggu Felly. Seharian saya yang berterimakasih karna Felly telah menolong anak saya." jawab Diva dengan lantang.

__ADS_1


Setelah cukup berbasa-basi. Felly diperbolehkan untuk pulang bersamaan dengan Cila, cucu kesayangan Indra yang diperbolehkan juga untuk pulang.


Sesuai dengan ucapan Nyonya Indra tadi. Felly dan Dira ikut ke kediaman Lesmana. Mereka di sambut hangat oleh keluarga Lesmana. Saat sampai di halaman luar, sebuah rumah besar yang lebih tepatnya sebuah mansion. Felly kembali teringat sesaat melihat disain mansion tersebut sama seperti disain yang pernah ayahnya ucapkan kepadanya.


"Nanti ayah akan membangun sebuah mansion dengan disain klasik, akan ada banyak warna biru, kesukaan bintang."


"Ayah, gambar mansion ini sangat bagus, Bintang sangat menyukainya."


Melihat sahabatnya melamun sambil menatap mansion dihadapannya. Membuat Dira langsung menepuk pundak Felly. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengode Felly agar dia menahan dirinya. "Jangan menimbulkan kecurigaan dengan tindakanmu tadi, Felly." lirih Dira yang masih terdengar jelas oleh Felly.


Felly menyadarinya, dia langsung menganggukan kepalanya dan mulai ikut masuk ke dalam mansion keluarga Lesmana.


"Selamat datang Felly. Silahkan masuk." sambut Nyonya Lesmana yang menyambut Felly dan Dira.


"Terimakasih Nyonya, maaf jadi merepotkan."


Diva tersenyum. "Tentu saja tidak, Felly. Ayo masuk, makanannya sudah siap."


Namun yang jelas, Indra sangat licik, dia merebut semuanya dari ayahnya. Tahta, cinta, keluarga, dan harta. Jika nanti waktunya telah tiba, Felly akan membuat Indra menyesali perbuatannya yang telah menghancurkan keluarganya.


"Suatu saat kamu akan menyesali perbuatan mu dulu, Indra. Kamu sendiri yang akan meminta dirimu mat1 di tanganku." gumam Felly menatap Indra yang tengah bermain bersama cucunya.


Felly duduk tepat di hadapannya banyak sekali makanan yang tersaji. Tidak hanya makanan, namun buah-buahan terlihat sangat banyak yang tertata dii meja makan.


"Saya tidak tahu makanan kesukaanmu apa, tapi jika ada makanan yang tidak kamu sukai, kamu bisa memintanya kepada koki."


Mendengar ucapan Indra, Felly langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, tuan. Ini sudah lebih dari cukup. Saya menyukainya."


"Baguslah, jadi kalau begitu silahkan kamu makan."


Saat hendak memakan makanannya. Pandangan Felly teralihkan dengan seorang laki-laki yang nampak tengah memperhatikan ke arahnya. Felly melihat perawakan yang dimiliki oleh laki-laki itu, dia langsung mengingat dengan anak ketiga Indra Lesmana, Heis.


"Tuan, apa dia anak anda?" tanya Felly sambil menunjukan ke arah seorang laki-laki.

__ADS_1


Diva mengikuti arah pandang Felly. "Ouh dia, dia adik iparku. Anak ke-tiga papah mertua. Ya, dia sedikit berbeda dengan kami. Dia lebih banyak membuat keributan."


"Diva!" Indra melirik tajam ke arah Diva.


Tidak mau bertanya lagi. Felly dan Dira langsung bergegas menghabiskan makanannya. Mereka makan dengan kesunyian, hanya terdengar suara sendok dan garpu saja.


Setelah selesai makan bersama. Indra meminta Felly untuk mengikutinya ke ruangannya. Berbeda dengan Felly, Dira justru bertemu dengan atasannya yang bernamaa Ruel.


"Tuan Ruel?" panggil Dira dengan hormat.


Diva melirik Dira. "Kamu mengenal suamiku?" tanya Diva.


"Iya Nyonya. Tuan Ruel atasan saya di kantor."


Ruel nampak senang sesaat melihat Dira. Dia memperkenalkan Dira kepada istrinya, Diva. "Sayang, Dira ini adalah sekertaris baru ku. Dia kemarin melamar di perushaanku."


"Astaga, maafkan saya Dira. "


"Tidak apa-apa nona."


Diva menjelaskan tentang bagaimana peristiwa yang menimpa kepada anaknya. Dia juga menceritakan tentang adiknya Dira yang telah menyelamatkan anaknya.


"Jadi bagaimana sekarang kondisi Cila?"


"Dia sudah baik-baik saja, sayang. Hanya saja sepertinya Cila trauma. Dia tidak seceria kemarin, Cila tidak mau bertemu dengan orang-orang. Termasuk denganku."


"Itu sudah hal yang wajar, nona. Di seusianya yang masih kecil mendapatkan perlakuan seperti itu, dia pasti akan trauma. Namun perlahan-lahan saja untuk meredakan trauma nya." Dira ikut menyahut.


...----------------...


Hallo terimakasih telah membaca cerita ini. Yuk berikan dukungan kalian dengan cara Like, komen, vote, and share ya. Sambil nunggu update, yuk mampir ke sini:


__ADS_1


__ADS_2