DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Bertemu lagi


__ADS_3

Bryan menatap diam dengan seorang wanita cantik yang bernama Felly. Pikirannya langsung berputar dengan tanggapan Felly adalah orang Kerpecayaan papahnya, karna yang dia tau papahnya tidak pernah sedekat itu dengan rekan-rekannya. Bryan semakin kagum dengan sikap Felly.


"Siapapun kamu, aku akan membuatmu menjadi milikku."


Felly sebenarnya tidak memperdulikan tatapan dokter yang tadi menabraknya. Dia memilih untuk menghampiri Indra Lesmana yang sudah menunggunya.


"Tuan, apa ada yang terjadi dengan Cila?" Tanya Felly yang tengah berhadapan langsung dengan Indra.


"Tidak. Bukan Cila, tapi putra bungsu ku." Jawab Indra.


Felly mengerutkan keningnya. "Putra bungsu anda? Apa ada yang terjadi, tuan?" Tanya nya lagi.


Indra mengangguk, dia menjawab setiap pertanyaan Felly yang sudah dia anggap sebagai orang kepercayaannya. Indra menjelaskan setiap diteal dengan apa yang menimpa putra bungsu nya.


Felly yang mendengarkan ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Indra. Dia semakin yakin jika semakin banyak obat yang dia berikan kepada Hias, semakin besar peluang kehancuran keluarga Lesmana.


"Saya ikut prihatin dengan apa yang menimpa Hais, tuan." Ucap Felly yang berpura-pura prihatin, walau di dalam hatinya dia benar-benar puas bisa membuat keluarga Lesmana semakin hancur.


Setelah berbincang-bincang, Felly berpamitan untuk kembali ke perusahaan. Momen yang di nanti-nanti olehnya adalah dengan ketidak hadiran Indra dan sekertaris Win. Felly bisa leluasa untuk mendapatkan hak-hak miliknya.


Felly mengirimkan pesan kepada Xavier tentang tugas yang akan dia berikan kepada sahabatnya itu. "Aku ingin semua saham kembali atas nama ku, X." Ucap Felly di sela-sela panggilannya.


Xavier mengangguk, dia pastinya akan menyetujui permintaan dari Felly. Namun, dia menentang jika Felly menginginkan semuanya sekarang. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk merebut semua hak milik sahabatnya itu.


Sesampainya di perusahaan. Felly kembali ke dalam ruangannya, dia meng nonaktifkan CCTV yang berada di ruangan Indra Lesmana. Setelah cctv berhasil dia amankan, Felly melihat sekeliling memastikan orang-orang tengah beristirahat.


Dengan pelahan, Felly mulai masuk ke dalam ruangan mendiang ayahnya yang saat ini telah di rebut oleh Indra Lesmana. Seorang laki-laki yang ingin Felly buat hancur hidupnya.


Tidak lupa Felly mengunci pintu tersebut. Dia memastikan semuanya aman, Felly mendekat ke arah dinding yang seakan terlihat tidak ada apapun. Namun di balik itu, sebuah ruangan terbuka sesaat Felly menekan sebuah tombol kecil yang berada di tumpukan buku-buku.

__ADS_1


Felly perlahan mulai masuk ke dalam ruangan mendiang ayah nya. Langkah demi langkah dia masuk ke dalam ruangan tersebut, terlihat masih banyak barang-barang peninggalan ayah nya. Banyak debu yang menutupi barang-barang peninggalan ayah nya itu.


Tatapan Felly tertuju dengan sebuah lukisan cantik yang menggambarkan keluarga bahagia. Felly mengambil lukisan tersebut. Lukisan yang sudah pudar tapi masih terlihat sangat indah.


Tidak mau memakan waktu yang lama. Felly bergegas mencari barang-barang yang dia butuhkan. Dia mencari dengan cepat sebuah berkas-berkas yang ayah nya sembunyikan.


Semua ruangan di geledah olehnya. Wajah Felly berbinar sesaat melihat sebuah map hitam yang berada di atas lemari. Dia dengan hati-hati mengambil map tersebut.


Air matanya tidak berhenti menetes sesaat melihat tulisan mediang ayah nya. "Aku merindukanmu, ayah."


Setelah mendapatkan barang-barang yang dia cari. Felly bergegas untuk keluar dari ruangan tersebut, dia kembali menutup ruangan itu. Felly keluar dari ruangan Indra dengan map yang berada di tangannya.


Dia sebenarnya tidak menutup CCTV yang berada di ruangan Indra. Namun, Felly menggeser posisi CCTV yang membuat CCTV mengarah dengan luar.


Felly kembali ke ruangannya dengan perasaan tidak menentu. Dia kembali menangis mengingat bagaimana ayah nya sangat mencintainya, cinta yang tidak pernah habis untuknya.


Dia dengan perlahan membuka map tersebut. Sebuah map yang sudah usang karna di simpan sangat lama. Mendapatkan kembali kenangan bersama ayah nya, membuat dirinya tidak kuasa menahan setiap tetes air matanya.


"Ayah, terimakasih telah memberikanku semua ini. Tapi semua ini apa artinya jika tidak dengan keberadaanmu? Aku merindukanmu, Ayah."


Felly mengabari kedua sahabatnya itu bahwa dirinya telah mendapatkan map yang dia cari. Felly memberikan tugas untuk mengubah semuanya kepada Xavier. Dia juga meminta kepada Dira untuk mengumpulkan bukti-bukti dari Ruel, anak pertama Indra Lesmana.


Setelah semuanya berjalan dengan keinginannya. Felly keluar dari ruangannya untuk pulang, dia mengirimkan pesan singkat kepada sekertaris Win jika dirinya tidak enak badan.


Felly mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menggenggam erat kalung pemberian dari mendiang kakaknya. Kalung yang sangat cantik, dan sangat berharga lebih dari apapun itu.


Dia tidak langsung pulang. Felly justru mengunjungi danau yang dulu sering dia kunjungi bersama kakaknya. Felly membeli bunga kesukaan mamahnya, dia menaburkannya di danau.


Felly memejamkan kedua matanya. "Ayah, Mamah, Kakak, Adek, kak Gita. Kalian yang tenang ya disana, aku sudah membalas orang-orang yang telah membuat kalian menderita. Tinggal menghitung mundur untuk kehancuran Indra Lesmana."

__ADS_1


"Kamu terlihat sangat sedih, apa ada yang terjadi?"


Deg.


Suara itu seperti yang tadi pagi Felly dengar. Felly membuka kedua matanya menatap seseorang yang berada di sampingnya. Seorang laki-laki tampan yang tengah tersenyum manis ke arahnya.


Laki-laki tersebut memberikan eskrim kepadanya. Tentu Felly menolaknya. "Saya bukan anak kecil, pergi!"


"Hey... tenang dulu, aku hanya ingin membuat hatimu tenang saja." Ucap laki-laki itu. Dia membuka eskrim dan memberikannya kepada Felly. "Makanlah, aku yakin perasaanmu akan tenang." lanjutnya.


Felly merasa hal ini asing kepadanya. Sudah sangat lama Felly tidak memakan eskrim, selain sesaat kecil dulu.


Dengan terpaksa dan tidak enak karna orang-orang menatap ke arah mereka, Felly menerima eskrim tersebut. "Terimakasih."


Rasa yang sudah lama tidak pernah Felly rasakan. Tanpa sadar kedua bola matanya kembali meneteskan air matanya.


"Menangislah, luapkan semua hal yang kamu pendam." Laki-laki itu mengusap air mata Felly. "Kamu sangat cantik, rasanya tidak sanggup melihat air mata yang keluar dari mata indah mu ini."


Felly menepis tangan laki-laki yang mengusap air matanya. "Kita tidak sedekat itu, menjauhlah!"


"Aku hanya ingin menjadi temanmu, aku baru saja pulang ke negara ini. Bolehkan aku menjadi temanmu?"


Felly mengingat laki-laki yang berada di hadapannya adalah seorang dokter yang menabraknya saat tadi pagi.


"Kamu pasti mengingatnya. Aku adalah orang yang tadi pagi menabrakmu. Aku baru selesai memeriksa kondisi pasien, dan tidak fokus sehingga menabrakmu. Tapi beruntunglah kita bertemu lagi."


"Menjadi teman? Rasanya anda terlalu berani." jawab Felly yang langsung berdiri meninggalkan Bryan.


...---------------...

__ADS_1


Hallo, terimakasih telah membaca cerita ini. Yuk mampir ke cerita di bawah ini.



__ADS_2