DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Aku ingin kehancuran kalian


__ADS_3

Felly langsung menyerang orang-orang Xavier. Mereka benar-benar membuat drama seolah-olah Felly datang menyelamatkan anak kecil kesayangan Indra. Kontak mata di antara mereka terus terkunci. Felly mengangkat halis nya untuk memberikan kode kepada orang-orang Xavier untuk menjatuhkannya.


Dorongan yang cukup keras membuat Felly terjatuh tepat di samping anak kecil itu. Orang-orang Xavier langsung bergegas untuk pergi sesaat Indra Lesmana berlari menuju ke arah mereka.


"Hiks... sakit..." ringisan anak kecil itu terus terdengar. Felly yang berpura-pura kesakitan, dia meraih tangan kecil gadis itu dan menekannya.


"Aghh!! sakit!! Papa!!!" anak itu menjerit keras sesaat luka di tangannya kembali ditekan dengan kencang.


Saat posisi Indra mulai dekat dengannya. Felly bergegas untuk berpura-pura kesakitan dan memangku anak kecil itu. "Sebentar ya sayang, jangan menangis lagi." ucap Felly mencoba menghentikan tangisan anak kecil itu.


Melihat luka yang ada di tangan cucunya cukup besar, Indra tentu marah. "Cari mereka sampai dapat, Win! berani-beraninya mereka!" teriak Indra Lesmana, dia menghampiri cucu kesayangannya.


"Sakit..." ringis anak kecil itu. Indra langsung menggendongnya dan berlari membawanya ke rumah sakit.


Sedangkan Felly dibantu oleh sekertaris Win untuk berdiri. Sambil berpura-pura kesakitan karna terjatuh tadi, Felly berterimakasih kepada Win yang membantunya berdiri.


Win melihat Felly juga ikut terluka. "Felly, tanganmu terluka. Sebaiknya kamu ikut pergi ke rumah sakit." ucap Win memperhatikan luka di tangan Felly.


"Tidak apa-apa Sekertaris Win, ini hanya luka kecil saja." Jawab Felly dengan mengusap tangannya. "Karna luka yang besar, ada di dalam hatiku." batin Felly melanjutkan ucapannya.


Namun dar4h yang menetes membuat Win bersikeras untuk membawa Felly ke rumah sakit. Dan tentu hal itu yang ditunggu-tunggu oleh Felly. Dia dengan senang hati menerima tawaran dari mangsanya.


Xavier yang melihat semuanya. Bibirnya terangkat menciptakan sebuah senyuman tipis. Felly benar-benar membuatnya kagum atas aksinya yang cukup perfect. "Baiklah, tugasku sudah selesai."


"Yogo, lakukan semuanya seperti yang aku inginkan." perintah Xavier. Dia meminta Yogo, sekertaris nya untuk melakukan hal yang sebelumnya sudah di bahas oleh mereka berdua.


Dengan rasa hormat, Yogo mengangguk. "Baik tuan, saya akan mengerjakannya sesuai keinginan anda." sahutnya langsung mengerjakan beberapa perintah dari Xavier.


"Satu-persatu, keluargamu akan mengalami kesakitan, Indra." gumam Xavier.


---

__ADS_1


Di rumah sakit, Indra terus berteriak memanggil dokter untuk menangani cucu kesayangannya. Hanya dengan luka sayatan, Indra meminta dokter khusus untuk menangani cucunya.


"Selamatkan cucu saya!" pinta Indra dengan wajah cemasnya.


"Kami akan menanganinya, tuan. Silhkan anda tenang dulu." jawab Dokter.


Berita tentang penyerangan kepada cucu kesayangan keluarga Lesmana. Membuat media heboh dengan berita tersebut. Mereka berbondong-bondong menuju lokasi kejadian dan rumah sakit untuk meliput keluarga Lesmana.


Berkat kekuasaan dan kepintaran dimiliki oleh Xavier. Orang-orang tidak bisa melacak pelaku yang merupakan orang-orang Xavier.


Keluarga Lesmana jelas tidak ingin orang-orang meliput nya dengan berita-berita tentang pembalasan karna merebut perusahaan mendiang Tian Ilyas.


"Pah, kenapa Cila bisa seperti ini?" tanya nyonya Indra dengan wajah cemas menunggu cucu kesayangannya.


Indra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu siapa yang berani menyerang Cila, mah. Sepertinya mereka orang-orang yang berbahaya. Aku sudah meminta orang-orangku untuk mencari mereka."


"Papah mertua harus mendapatkan orang itu. Aku tidak mau Cila dalam bahaya. Hiks... Cila..." Sahut Diva, ibu kandung Cila Amelia.


Berbeda dengan orang-orang yang diluar tengah menangis sedih. Felly justru tertawa di ruangannya. Dia menatap sinis dengan keluarga Lesmana yang baru mendapatkan kesakitan kecil seperti itu, mereka langsung menangis histeris. "Cih, orang-orang kesayangan kalian baru mendapatkan luka kecil. Tidak sebanding dengan apa yang dulu diperbuat oleh Indra kepda orang-orang kesayanganku. Lihatlah beberapa hari nanti, satu-persatu orang-orang kesayangan kalian akan hancur di tanganku. Akan aku pastikan itu!" gumam Felly.


Memperhatikan keluarganya yang menangis sambil memeluk Cila. Indra teringat akan kejadian dulu yang sama persis seperti di hadapannya saat ini. Seorang ibu yang menangis sambil memeluk anaknya yang terluka. Kenangan buruk itu langsung disingkirkan oleh Indra. Dia ikut menghampiri cucu kesayangannya.


"Siapapun mereka yang berani melukai cucuku. Akan aku pastikan mereka hancur saat itu juga." ucap Indra dengan suara lantangnya.


Tatapan Indra teralihkan dengan luka yang ada di tangan Cucunya. Dia teringat dengan seseorang yang menyelamatkan cucunya, Felly. Sekertaris keduanya yang menolong Cila.


"Dimana Felly, Win?" tanya Indra kepada Win yang berada belakangnya.


"Felly ada di ruangannya, tuan. Dia sedang dalam pengobatan karna tangannya ikut terluka." jawab Win.


"Felly?" Diva, dan nyonya Indra saling bertanya tentang siapa Felly.

__ADS_1


"Siapa Felly? apa dia yang sudah melukai anakku?" tanya Diva dengan tegas.


Indra melayangkan tatapan tajam nya. "Rendahkan suaramu, Diva. Cila akan bangun mendengarnya!"


Diva menunduk. "Maaf pah."


"Felly adalah sekertaris kedua tuan Indra. Dialah yang menolong nona Cila, nyonya." jelas Win yang menjelaskan tentang siapa Felly.


"Bawa aku ke kamar Felly, Win. Aku ingin berterimakasih kepadanya." Nyonya Indra dengan cepat ingin berterimakasih kepada wanita yang telah menyelamatkan cucunya. Dia meminta kepada Win untuk mengantarkannya ke ruangan Felly.


"Baik nyonya, mari saya antarkan." ucap Win.


Diva, dan nyonya Indra. Keduanya keluar dari ruangan Cila. Mereka menuju ke arah kamar Felly yang letaknya tidak jauh dari kamar Cila.


"Permisi Felly, nyonya Indra ingin bertemu dengan anda."


Mendengarnya, Felly tersenyum sinis. Dia langsung mengubah ekspresi wajahnya dan mempersilahkan keluarga Indra untuk menemuinya.


Tatapan pertama yang Felly tangkap tentang kedua wanita yang mulai mendekat ke arahnya. Dia melihat tas, kalung, cincin, semua yang dipakai oleh mereka adalah milik mamahnya, Vina.


"Kalung itu..." lirih Felly menatap kalung yang dipakai oleh menantu keluarga Lesmana. Kalung yang sama persis pernah dipakai oleh calon kakak iparnya.


"Terimakasih karna kamu sudah menyelamatkan cucu saya." Tanpa berbasa-basi, nyonya Indra langsung mengucapkan termakan kepada Felly yang telah menyelamatkan cucunya.


Felly tersenyum. "Tidak perlu berterimakasih seperti itu, nyonya. Saya tadi hanya kebetulan lewat saja, melihat anak kecil yang menangis membuat saya langsung bergegas menolongnya."


Diva mengusap tangan Felly. "Apapun itu, kamu telah menyelamatkan anakku. Sebagai bentuk terimakasih, kamu menginginkan apa?" tanya Diva menatap Felly.


"Aku ingin kehancuran kalian." batin Felly menjawab.


...----------------...

__ADS_1


Hallo, terimakasih telah membaca cerita ini. Berikan dukungan kalian dengan cara Like, komen, share dan vote ya. Sambil nunggu up, yuk mampir ke cerita di bawah ini:



__ADS_2