DENDAM Seorang Anak

DENDAM Seorang Anak
Hanya alat mempertahankan


__ADS_3

"Sekalipun kamu membayarnya menggunakan nyawa mu, Dira tidak akan sudi menolong dirimu, Indra!"


Felly mengangguk. "Baik tuan, nanti saya akan bicarakan dengan kakak saya. Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Felly. Dia kembali ke dalam ruangannya untuk memberikan pesan singkat kepada Dira dan X.


Dia teringat akan ucapan Xavier yang akan bermain-main dengan saham perusahaan Indra Lesmana. Membayangkannya saja rasanya sudah cukup membuat Felly bahagia, apalagi jika itu menjadi kenyataan. Melihat kehancuran Indra Lesmana adalah keinginannya.


Felly teringat jika kemarin dia mengabari kepada Dira untuk berhati-hati dengan wanita-wanita yang berada di perushaan FH company. Mereka adalah orang-orang kepercayaan Indra yang akan kapan saja mengetahui identitas Dira jika dia menimbulkan kecurigaan.


Setelah mengirimkan pesan singkat kepada kedua sahabatnya. Felly terduduk kembali untuk memikirkan ucapan kakaknya dulu. Dulu mendiang kakaknya selalu mengatakan bahwa dirinya mempunyai sebuah rumah sakit yang besar, dan sekarang yang menjadi pertanyaan Felly, dimana rumah sakit yang kakaknya maksud itu.


Felly kembali teringat dengan status anak ke-dua Indra Lesmana yang berprofesi sebagai seorang dokter. Pikirannya langsung menerka jika anak ke-dua Indra telah mengambil alih rumah sakit mendiang kakaknya.


Terdengar helaan nafas dari Felly, dia memejamkan kedua matanya untuk sesaat. Semuanya nampak melelahkan, sendari kecil Felly selalu berusaha untuk sembuh dari trauma nya, tangisan, teriakan, kata tolong, ampun, semuanya menjadi trauma bagi Felly. Jika bukan karna keluarga Xavier yang menolongnya, mungkin sekarang Felly sudah tiada.


Mengingat bagaimana dulu senyuman manis keluarganya, selalu menjadi semangat Felly untuk merebut apa yang mereka rebut. Terkadang pikirannya selalu mengatakan, mengapa harus keluarganya yang hancur seperti ini? dia merindukan ayah, mamah, kakak, dan adiknya. Felly tidak mengetahui dimana pemakaman keluarganya, yang dia ketahui, semua keluarganya hangus terbakar menjadi abu.


"Mereka membuat keluargaku terbakar menjadi abu. Maka aku akan membuat mereka hidup menjadi abu, abu yang akan membuat mereka memohon kematian." ucap Felly kepada dirinya sendiri.


Tidak mau terlalu larut dalam pikirannya. Setelah jam menunjukkan waktu untuk pulang, dia terlebih dahulu memberikan beberapa berkas-berkas yang memerlukan tanda tangan dari Indra Lesmana.


Felly melihat sekertaris Win tidak berada di samping Indra. Maka saat inilah saat yang pas untuk mendapatkan tanda tangan Indra yang akan membuatnya mendapatkan kembali perusahaan milik ayah nya.


Dengan perlahan Felly mengetuk ruangan Indra Lesmana. "Permisi tuan, saya membawakan berkas-berkas yang memerlukan tanda tangan anda." ucap Felly di luar ruangan Indra Lesmana.


"Masuklah,"


Felly masuk ke dalam ruangan Indra Lesmana. Dia melihat bahwa pikiran Indra sedang kalang kabut, dia pasti tidak akan mengetahui tentang diantara berkas-berkas ini akan ada satu berkas yang membuatnya kehilangan perusahaan ini.

__ADS_1


"Ini tuan, silahkan anda tanda tangani." Felly meletakan berkas-berkas itu di meja Indra.


Indra yang kondisinya tengah tidak konsentrasi. Dia langsung menandatangani berkas-berkas yang diberikan Felly kepadanya.


Tentu hal itu membuat Felly tersenyum puas, dia benar-benar mudah untuk mengacaukan konsentrasi Indra Lesmana.


Setelah selesai di tandatangani, Felly kembali mengambil berkas-berkas itu dan lekas langsung pergi dari hadapan Indra Lesmana. Dia menatap berkas yang berisikan dengan pemindahan saham perusahaan atas namanya, Bintang Maharani. Seorang pemilik perusahaan yang sebenarnya.


Namun Felly rasa jika dirinya langsung menjatuhkan Indra. Itu sama saja dengan dirinya bunvh diri, karna dirinya belum mendapatkan orang-orang yang memihak kepadanya. Dan belum ada orang yang Indra sayangi telah hancur di tangannya.


Semua karyawan berhamburan untuk pulang. Termasuk degan Felly yang ikut keluar dari perusahaan. Dia tidak menunggu Dira yang menjemputnya seperti biasanya. Felly memilih menaiki bus untuk menuju ke suatu tempat.


Berbeda dengan Felly. Dira tidak diperbolehkan untuk pulang sore, dia mendapatkan benyak perkerjaan yang diberikan oleh Ruel, atasannya. Entah Ruel sengaja memberikannya perkerjaan untuk menemaninya malam-malam, atau apa. Namun yang jelas Dira ingin sekali menghaj4r sikap Ruel yang seenaknya kepadanya.


Ruel nampaknya keluar dari ruangannya. Dia berjalan menuju ruangan Dira yang berada tepat di sampingnya. Dira lagi-lagi harus menghela nafasnya, sebisa mungkin dirinya menahan diri untuk tidak menghaj4r anak Indra Lesmana itu.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dira dengan sopan sesaat melihat Ruel yang menghampirinya.


Rupanya benar dugaan Dira. Atasannya itu mencoba mendekati dirinya. Entah apa maksud yang akan diberikan oleh Ruel, yang jelas mungkin ini bisa menjadi alat untuk menggali beberapa informasi tentang keluarga Lesmana.


"Tentu saja boleh. Silahkan tuan duduk, saya akan mengerjakan berkas-berkas ini dengan cepat." jawab Dira, dia kembali mengerjakan perkerjaannya.


Ruel memandangi wajah Dira. Rasanya sangat tenang yang dia dapatkan dari Dira, rasa yang tidak dia dapatkan dari wanita-wanita nya. Namun justru dia mendapatkan rasa aneh sesaat melihat Dira.


"Ah iya. Kenapa kamu memutuskan untuk pindah ke negara ini?" tanya Ruel yang tiba-tiba menanyakan kenapa Dira memilih pindah ke negara nya.


Dira menghentikan jari-jari nya yang tengah berada di tas laptop, dia melirik Ruel. "Cukup simpel saja tuan, saya ingin menemani adik saya untuk menjalani tugasnya."

__ADS_1


"Tugas untuk menghancurkan keluargamu, bajing4n!"


"Tugas? tugas apa yang mau di kerjakan oleh adikmu? aku rasa umurnya tidak jauh beda denganmu, apa kalian kembar?"


Pertanyaan menjebak, itulah yang dirasakan oleh Dira. Ruel memberikan pertanyaan yang akan menjebak dirinya sendiri. Dengan sikap yang tenang, Dira menjawab pertanyaan tersebut.


"Mohon maaf tuan, tapi saya rasa itu privasi. Yang jelas saya dan adik saya pindah ke negara ini untuk mencari pengalaman saja." jawab Dira dengan tenang.


"Ah maaf."


Dira mengangguk.


"Tidak perlu formal seperti itu Dira, panggil saja namaku, kita tidak sedang ada di jam kerja."


Dira hanya menanggapinya dengan senyumannya. Rupanya Ruel benar-benar tertarik akan dirinya. "Baiklah tu-- ah maksudnya saya Ruel."


Ruel tertawa kecil, dia menghampiri Dira. "Tidak perlu kaku seperti itu, kamu sangat cantik." puji Ruel memandang wajah Dira yang sangat cantik.


"Bukankah semua wanita cantik? termasuk istri anda tuan."


Mendengar kata istri, Ruel tertawa. "Dia itu bukan istriku, dia hanya alat untuk mempertahankan semuanya."


"Alat untuk mempertahankan, maksudnya tuan?"


"Diva itu sebenarnya adalah alat untuk menutupi semua yang dilakukan oleh ayahku dulu, keluarganya adalah keluarga yang berpengaruh, dan maka dari itulah dia menikah denganku."


...----------------...

__ADS_1


Hallo teman-teman, terimakasih ya sudah mampir. Yuk baca cerita di bawah ini:



__ADS_2