
Di sebuah ruangan pengap lebih pantas di sebut penjara bawah tanah bagi yang berada didalamnya.Alfonsa yang saat ini dalam keadaan tangan terikat di kursi,menolehkan kepalanya kepada seorang prajurit botak dan memanggilnya.
"Hei kau!"Panggilnya.
Merasa dipanggil,prajurit botak itu segera menghampiri alfonsa dengan wajah sangar nya."Apa?!"Ketus orang itu.
"Boleh kau tolong aku,aku merasa lapar"
Ucap alfonsa dengan ekspresi penuh harap.
"Siapa kau berani beraninya menyuruhku?!"
"Oh berbaik hati sedikitlah,kau tak lihat tangan ku terikat,mana bisa aku mengambil makanan nya"
"Menyusahkan"sindir orang itu lalu pergi entah kemana.
Jangan kalian pikir hanya ada satu penjaga di sini.Bukan hanya satu tapi ada tujuh prajurit yang mengawasi segala apa yang ku lakukan.
Tak selang lama,prajurit botak tadi datang kembali dengan membawakan sepiring makanan."Ini makanlah!"Ujarnya tak santai.
Alfonsa hanya membalasnya dengan senyuman "terima kasih"
Baru satu suapan,tiba tiba pintu terbuka menampilkan Si jubah hitam merah beserta asistennya,mereka menghampiri alfonsa.
Alfonsa yang tengah asik makan berdecak kesal. "Dasar pengganggu!"Gerutunya kesal.
"Aku ingin memberimu tawaran"Ucap si jubah hitam merah.
"Kau memberikanku botol itu,dan aku bisa mengabulkan apa yang kau minta!"
"cih,aku lebih memilih berdiam disini daripada harus memberikan botol itu kepadamu,licik"
Tukas alfonsa dengan nada menantang.
Hal itu membuat seseorang dibalik jubah hitam itu menggeram marah. "Kau berani menantang ku?!!!"Teriaknya keras.
BRUK
Si jubah hitam merah menendang bangku yang berada di sampingnya. "Dasar sialan!"
Perempuan licik itu menarik rambut alfonsa dengan keras "arghh"Ringisnya.
"Lepaskan aku sialan!"
"Kau berani menantangku maka rasakan akibatnya!"ucap perempuan itu lantang.Dia malah menambah tarikan rambut alfonsa.
Maka dipastikan setelah ini rambutnya pasti rontok.
Dengan rasa kesal yang menumpuk alfonsa reflek meludahi pakaian wanita licik itu.
"Sialan"Umpatnya lalu dengan tak punya hati dia mendorong kursi alfonsa hingga dahi dan dagunya terbentur lantai besi.
"Jangan ada yang menolong dia!"Ujar wanita jubah itu kepada para prajuritnya lalu pergi meninggalkan ruangan pengap ini.
__ADS_1
Alfonsa menahan tangisnya,dia merasakan pusing yang terlampau sangat.
Tess
Alfonsa melihat apa yang menetes ke lantai. "Darah" Dengan semua kekuatannya,Alfonsa berhasil mengembalikan posisinya.Luka di dagu yang sepertinya parah pun hilang seketika.
"Kau salah mencari lawan,licik!"Dengan senyuman smirk.
🌹🌹🌹
Hari ini adalah hari istimewa bagi sepasang insan ini.Berbeda dengan suasana hati semua orang yang senang,kedua insan berbeda jenis kelamin ini berusaha mati Matian menahan rasa kesalnya.
Hari ini Almora dan William akan resmi menjadi pasangan suami istri.Kemudian, nanti setelah beberapa bulan pernikahan William akan di nobatkan sebagai Raja utama di Frastivoz.
Almora sekarang tampak lebih bersinar dengan gaun pernikahan yang simpel dan make up yang tipis namun terkesan elegan.
Setelah count Smith mengumumkan bahwa pengantin wanita akan segera masuk aula pernikahan,maka Almora dengan jantung yang Berdetak kencang mulai melangkahkan kakinya dengan anggun untuk menyusul William yang sudah berdiri di depan sana dengan penampilan yang mampu membuat jantung Almora berdetak kencang.
Melihat Almora yang berjalan mulai mendekat,William yang di beri kode oleh sang ayah pun langsung menjemput sang mempelai pengantin wanita.
William mengulurkan tangannya ke arah Almora dan kemudian wanita itu menerima uluran tangan itu dengan perasaan campur aduk.Mereka berdua berjalan ke altar pernikahan untuk melakukan hal inti dari acara ini.
"Baiklah,acara inti dari pernikahan ini akan segera dimulai."Ucap sang pendeta.
"Untuk mempelai pria dan mempelai wanita di persilahkan untuk berdiri berhadapan dan memegang tangan satu sama lain"
Sesuai Interuksi sang pendeta,Almora dan William mulai melakukan hal yang di perintahkan itu.Mereka mulai saling berpegangan tangan dengan mata saling menatap.
"*Jantungku berdebar keras,oh ayolah jangan sampai William mendengar detak jantungku!"
"****,jantungku berdegup kencang,jangan sampai Almora mendengarnya*!"
Batin keduanya saling berteriak,sibuk mempermasalahkan detak jantung yang berdebar kencang.Entah itu karena perasaan gugup atau ada perasaan yang lain.
Saking sibuknya semua orang yang memperhatikan acara ini dengan baik hingga tak menyadari ada seseorang di dekat pintu masuk yang memperhatikan kedua mempelai dengan sorot tatapan penuh amarah.
Orang itu tampak tersenyum miring
"Tunggulah hari itu tiba,Almora kau akan mati, dan tak akan ada lagi yang bisa menghalangi ku untuk hidup bersama William!" Lalu pergi meninggalkan aula pernikahan.
Kembali lagi kepada mempelai:
"Pangeran mahkota William Felcio de Frastivoz"Ucap pendeta.
"Apakah kau menerima Almora Alastrine de Vanarez,sebagai istrimu?"
William menghembuskan napasnya "Ya,aku menerimanya"
"Putri Almora Alastrine De Vanarez,apakah kau menerima William sebagai suamimu?"
Dengan gugup Almora menjawab
"Ya,aku menerimanya"
__ADS_1
Sang pendeta mengangguk "Baiklah,dengan ini saya mengumumkan,mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri di hadapan Dewi.
Prok prok
Riuh tepuk tangan menggema di seluruh penjuru aula.Semua tamu undangan mulai menikmati hidangan yang telah di sajikan dengan mewahnya.
"Lagu yang pertama dari resepsi ini akan di tarikan oleh Pangeran mahkota dan tuan putri" Ucap Angelo keras sambil mengangkat gelas yang berisi minuman.
"Adik laknat" Umpat William.
Dia lalu mengajak Almora untuk berdansa berdua di tengah aula disaksikan semua orang.
"Maukah kau berdansa bersamaku, Ratuku"
Ujar William dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Kau ini...!"Almora tampak terkejut dengan ajakan William.Dia tak mau melakukan dansa lagi bersama pria menyebalkan itu.Bukan tanpa alasan Almora tidak mau menari dengan William,itu karena dia takut kejadian kakinya yang keseleo waktu acara pengenalan dulu terulang kembali.
William lalu menarik tangan Almora dengan sedikit paksaan agar bisa memulai dansa nya.
"Apa kau tak bisa santai,huh!"Protes Almora pelan.
"Sudahlah,mulailah berdansa jangan banyak bicara"Ucap William.
"Aku akan menahanmu jika kau ingin terjatuh"
Sambungnya seakan tahu apa yang Almora khawatirkan.
Almora mengangguk,Keduanya mulai berdansa dengan lincahnya.Saat ini, pasangan suami istri baru ini menjadi pusat perhatian semua orang.
Ada yang makan sambil melihat keduanya berdansa,ada juga yang mengikuti mereka menari dengan pasangan masing-masing.
"*Mereka terlihat serasi ya"
"Keduanya memang cocok"
"anggun dan rupawan sekali,tuan putri"
"Akhirnya pangeran telah menemukan wanitanya"
"Astaga,aku masih belum terima semua ini, huhu"
"Oh iya dengar dengar setelah pangeran menikah beliau akan segera dinobatkan sebagai raja utama ya?"
"Ya aku dengar juga begitu*"
Begitu banyak yang memuji kedua insan ini.
Pernikahan memang bagi sebagian orang adalah kesaksian satu kali seumur hidup dan itulah yang Almora dan William rasakan ketika mereka berserah terima tadi.
Bersambung.....
Hargai penulis dengan menekan tombol like dan subscribe nya ok🥰
__ADS_1