
"Kita akan menginap disini?"Tanya Almora seraya menatap seluruh bangunan penginapan itu.
"hm"
Keduanya berjalan masuk ke salah satu ruangan yang sudah William siapkan.Ia membuka pintu ruangannya lalu melangkah masuk dengan Almora yang mengekor di belakangnya.
"Ini,apa kau yang menyiapkannya?"
"hm"
Almora berdecak,ia lalu memilih untuk melihat-lihat keadaan penginapan ini. Sederhana namun elegan,itu yang Almora tangkap dalam netra penglihatannya kala matanya menatap seluruh ruangan ini.
Penginapan yang William pesan ini adalah salah satu penginapan terkenal di ibukota luxury ini.Dengan banyaknya properti layak nya tempat tinggal pada umumnya.
"Sekarang bereskanlah pakaianmu sana!"
Ujar William.
Fyi:Tas yang berisi pakaian memang sudah di simpan terdahulu oleh pihak kerajaan Frastivoz,jadi keduanya tak harus lelah lelah membawanya.
Almora segera melakukan perintah sang suami dengan decakan yang keluar dari bibir ranumnya.Ia membuka tas yang berisi pakaiannya,namun di detik yang sama Almora membulatkan matanya terkejut kala matanya melihat barang privasi lelaki di tas yang telah ia buka.
Almora melihat nama tas dengan seksama,
Lalu melirik ke sebelah yang dimana William akan membuka tasnya yang lain.
"William jangan!!"Ucapnya keras.Namun, terlambat,di sebelahnya William sudah membuka tas miliknya dan hal itu berhasil membuat William mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Aku tak melihat apapun!"Ujar William yang masih memalingkan wajahnya yang memerah.
"****"Umpatnya.
Almora dengan cepat menukar tas pakaian keduanya.Ia kemudian meringis kala mendapati tas miliknya telah terbuka sempurna yang dimana pakaian dalamnya sudah terpampang jelas ketika matanya melihat isi dari tas miliknya yang tadi tertukar dengan William.
Mata Almora memejam dengan dalih meredakan rasa malu yang menggerogoti dirinya saat ini.Ia dengan cepat menyelesaikan sesi merapikan pakaiannya dan memasukannya ke dalam lemari yang tersedia.
Karena mereka akan berlibur selama empat hari,alhasil pakaian yang mereka bawa lumayan banyak.
"Ak...aku akan pergi ke kamar mandi!"Izin Almora seraya berlari ke arah dimana kamar mandi berada.
William menghembuskan nafasnya pelan.
"oh ayolah,satu Minggu itu tak secepat yang dipikirkan"
๐น๐น๐น
"William apa kau tak berniat membeli makanan?"Ujar Almora seraya mengelus perutnya yang sedari tadi berbunyi meminta di isi.
William menghela napas"Baiklah,kau tunggu disini!"Seraya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Kini sepi menghinggapi ruangan yang Almora tempati.Hari pertama di ibukota luxury ini tak ada yang spesial.Almora kemudian memilih untuk menghabiskan waktunya untuk tidur sebentar selagi menunggu William membelikan makanannya.
Setelah beberapa menit lamanya,akhirnya William sudah kembali dari pasar.Ia membuka pintu mendapati sang istri yang tengah terbaring di sofa.
Melihat Almora yang terlelap membuatnya tak tega untuk sekedar membangunkannya.Ia kemudian menyimpan bingkisan yang berisi makanan ke rak dapur.Setelah itu,William mendaratkan bokongnya di kursi yang bersebrangan dengan Almora.
William memperhatikan Almora yang tengah tertidur pulas.Netranya terhenti pada sebuah kalung liontin yang istrinya pakai itu.Ia memperhatikan dengan seksama kalung itu.
kalung liontin permata? sejak kapan Almora memakai kalung permata?dan darimana dia mendapatkan itu? Sekumpulan pertanyaan hinggap di kepalanya.
William menghendikan bahunya tak peduli.Ia lebih memilih membaca buku politik untuk mengisi waktu luangnya.
Mendengar ada pergerakan di depannya, Almora membuka matanya perlahan.Netranya mengerjap beberapa kali dengan dalih supaya menyesuaikan cahaya.
"Kau sudah kembali?"Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
William menjawabnya hanya dengan deheman kecil.
Almora teringat akan perutnya yang meminta diisi "Mana makanannya,Liam?"
William menoleh sebentar lalu menjawabnya
"ada di rak"
Dengan segera Almora bangkit dari posisinya dan bergerak untuk mengambil sumber tenaganya.Ia kemudian membuka pintu rak nya pelan dan mengambil bingkis makanan itu lalu menutupnya kembali.
William menggeleng "aku sudah makan"
Almora mengangguk paham lalu mulai menyantap makanan yang tadi William belikan untuknya.
William kemudian menyimpan buku politiknya di meja,Ia berdeham pelan "ah iya,sejak kapan kau mengenakan kalung permata itu?"
Almora yang sedang mengunyah makanan nya pun menoleh.Lalu tangannya memegang liontin permata itu "Ini...pemberian dari nenek yang telah aku tolong tadi"
"Boleh aku lihat?"
Almora mengangguk kemudian kedua tangannya mulai melepas kalungnya dan memberikannya pada William."nah!"
William menerima kalung itu dan mulai memperhatikannya secara seksama.Ia membalik bandul permata ungu itu dan... ya dia menemukan sebuah ikon bersimbol bunga wisteria yang tertera tepat di belakang bandul permata itu.
"simbol bunga wisteria?"gumamnya.
"hah? apa kau berucap sesuatu?"tanya Almora.
William menggeleng lalu memberikan kembali kalung itu pada pemiliknya.
"Bisakah kau memasangkannya?"Tukas Almora yang tengah sibuk menyantap hidangan makanan.
Helaan napas terdengar dari mulut William, ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang tubuh Almora untuk memasangkan kalung itu kembali.
__ADS_1
William menyingkap helaian rambut almora ke samping,dapat dilihat leher Almora yang sangat putih dan bersih.William meneguk ludahnya kasar karena salah fokus pada leher wanita di depannya itu.Dengan susah payah William mulai memasangkan kalung itu ke leher Almora.
"Mora,apa aku boleh menghirup lehermu?"
uhuk
๐น๐น๐น
Di sebuah istana langit yang megah terdapat sesosok Dewi yang cantik dan menawan.
Dengan simbol bunga wisteria yang berada di keningnya,menambah kesan elegannya.
"wahai Dewi,aku sudah melaksanakan perintah mu"Ucap seorang dayang berwajah rupawan.
Dewi itu tersenyum hangat "apa ada halangan dalam pencapaianmu untuk menemui keturunanku,Almora?"
"tidak Dewi, hanya saja aku sedikit gugup saat harus menyamar sebagai seorang wanita tua"
Sarkas dayang seraya tersenyum.
"Baiklah,terima kasih atas bantuanmu.Kau bisa pergi sekarang!"Ujar Dewi itu sambil mempersilahkan dayangnya untuk pergi.
Dewi itu tersenyum simpul mendengar bahwa dayangnya sudah memberikan liontin permatanya kepada keturunannya.Dewi ini ialah tak lain dan tak bukan Dewi wysteria alias Dewi keabadian.
๐น๐น๐น
Plak
Si jubah hitam merah dengan lancangnya menampar pipi alfonsa kencang.Membuat wajah alfonsa menoleh ke samping.
"Kau hanya perlu beritahu aku Dimana botol erebos itu berada"Teriaknya keras.
Rasa perih menghampiri bibir alfonsa tatkala darah keluar dari sudut bibirnya.Alfonsa menatap wanita berjubah di hadapannya dengan tatapan murka.Wanita itu sudah melewati batas dengan terus menyiksanya kasar.
Alfonsa tetap membungkam mulutnya tak ingin memberitahu.Hal itu membuat wanita berjubah itu semakin marah.Alfonsa kemudian memberanikan diri untuk menatap mata wanita jubah itu.
"Kalau kau bukan pengecut,tunjukan wajah aslimu!"Ujar alfonsa dengan mata menatap tajam.
"Oh kau mulai berani denganku huh!"Sentak nya sambil mencengkeram dagu alfonsa kuat.
Alfonsa memejamkan matanya sejenak
dan membukanya kembali "Tunjukan wajah aslimu!"
Wanita licik itu tertawa jahat "hoho baiklah, karena kau sangat ingin tahu bagaimana wajahku aku akan menunjukannya"
Bersambung.....
Hargai penulis dengan menekan tombol like nya okyy๐ฅ
__ADS_1