Di Nodai Pria Autis

Di Nodai Pria Autis
Suami Siaga


__ADS_3

Fina sedikit kecewa karena ia pikir William akan normal kembali.


Hari ini Fina terlalu lelah, sehingga matanya sudah tak kuat menahan rasa kantuknya. Ia tertidur sangat pulas sampai bayi nya menangis, ia tidak mendengarnya.


William bangun dan langsung menaruh botol susu yang sedang ia minum.


"Anak ayah kok menangis?" tanyanya.


William pun meraba bedongan sang bayi yang ternyata basah.


"Anak ayah pipis ternyata" ucapnya.


William pun seketika membuka bedongan itu, ia lalu menggantinya dengan bedongan kering.


"Pakai minyak telon dulu ya perutnya. Kata bunda kalau minyak telon bisa mengobati perut kembung" William dengan telaten membersihkan bedongan basah itu lalu menaruhnya di tempat cucian kotor.


William dengan telaten momong sang bayi sampai ia tertidur pulas.


"Putraku sayang. Kamu belum ayah beri nama" ucapnya senang sembari mencuil pipi sang bayi.


William kemudian termenung. Ia heran pada dirinya sendiri.


"Aku kan masih kecil, kenapa sampai bisa punya anak dua, ya. Heheehe lucu sekali anak kecil bisa bikin anak kecil" ucap William sembari tekekeh.


Fina yang terbangun, menatap heran pada William yang sedang memangku sang bayi sembari tertawa.


"Will, sejak kapan kamu memangku bayi kita?" tanya Fina.


"Sejak tadi waktu istriku mulai bobo!" jawabnya polos.


"Berarti dari tadi kamu tidak tidur?" tanya Fina.


William hanya mengangguk.


Seketika Fina menitikkan air matanya. Ia tidak menyangka bahwa William bisa melakukan itu.


Fina lalu gantian memangku sang bayi, tapi anehnya tidak basah bedongan nya.


"Will, anak kita belum pipis, kah? Kok masih kering bedongan nya!" tanya Fina.


"Bayi udah pipis, Willi yang menggantinya" jawab William.


Dengar begitu, Fina semakin terharu.


"Suamiku, hebat" ucapnya.

__ADS_1


Fina segera meletakan bayi yang sedang tertidur pulas itu, Fina lalu memeluk dan menciumi wajah William.


"Kamu hebat sayang. Terimakasih ya, sudah mau menjaga anak kita. Aku sangat mencintaimu, walau kondisimu seperti ini" ucap Fina lalu memeluk William.


"Aku harus membantu menjaga anakku, istriku sayang. Willi juga sangat sayang pada suster Fina" ucapnya sembari membalas pelukan sang istri.


"Istriku, apa boleh Willi memasuki sister Fina? Sudah tiga hari Willi tidak keluar" ucapnya seraya menutup mulutnya karena malu.


"Belum boleh ya! Itunya masih sakit bekas melahirkan dedek bayi. Tunggu ya sampai empat puluh hari baru bisa. Kamu sabar ya" ucap Fina mencoba memberi pengertian pada si bocah tua itu.


"Pasti sakit ya punya istriku?" tanya William dengan nada polos.


"Sakit sekali. Willi mau lihat?" tanya Fina.


"Mau mau mau" jawab William.


Fina pun berbaring di ranjang lalu membuka pahanya. William kemudian melihat inti Fina. Seketika ia bergidik ketakutan.


"Robek ya. Terus banyak benangnya" ucap William kemudian langsung menutupi kaki Fina dengan selimut.


"Istriku tidur saja yuk" William kemudian memeluk Fina.


Pagi ini di gemparkan dengan berita bahwa orang tua Else yaitu oma Linda untuk pertama kalinya akan datang ke rumah Else setelah tiga puluh lima tahun tidak ingin komunikasi dengan Else karena pernikahannya dulu dengan Chandra tidak direstui.


"Mi gimana ini?" tanya Chandra dengan wajah pucat pasi.


"Ya tidak gimana-gimana dad! Hadapi saja toh, mami ku tidak akan menelan mu hidup-hidup!" jawab Else..


Chandra tak bisa membayangkan jika oma Linda tahu kondisi sang anak yang autis. Seumur hidup William tidak pernah tau rupa neneknya itu bagaimana, lantaran oma Linda tidak ingin mencari tahu apapun tentang keluarga Else.


Berbeda dengan Else, tidak ada ketakutan apapun di wajahnya karena ia sudah tidak mengingat masih adanya orang yang telah melahirkan dirinya atau sudah tiada. Banyak yang akan Else tanyakan pada oma Linda, kenapa dirinya sampai melupakan anaknya sekian puluh tahun hanya karena dirinya menikah dengan pria pilihan hatinya.


"Mami tidak tegang?" tanya Chandra.


"Kenapa harus tegang, dad? Mami rasa, mami tidak punya salah apapun pada mami Linda. Mami hanya memperjuangkan cinta dan kebahagiaan mami" jawab Else.


"Lalu bagaimana dengan William?" tanya Chandra lagi.


"Apa yang harus di takutkan sih dad, dari keadaan yang William alami. Memangnya itu mau kita kalau anak kita seorang anak autis? Itu semua takdir dad, takdir. William kita yang urus, kita yang rawat. Tidak ada yang direpotkan dengan autis nya anak kita. Dady dengar, tidak ada yang menginginkan anaknya tidak normal, tetapi ini takdir yang harus kita jalani" Else mencoba menenangkan sang suami.


"Mami benar juga" jawab Chandra.


Siang pun datang. Seorang wanita berambut putih tetapi masih terlihat angkuh keluar dari mobil yang di kendarai Eko.


"Kang, buka gerbangnya" teriak Eko pada Yudho.

__ADS_1


"Siap" ucap Yudho.


"Hei kamu supir, kamu keluar dari galaksi mana? Bicara kok teriak-teriak?" tanya oma Linda.


"Maaf oma, teman saya sedikit kurang mendengar" jawab Eko.


"Jangan di biasakan, ini bukan jungle" ucap oma Linda lagi.


"Besar juga rumah Else. Apa Kabar ya dia sekarang?" gumam oma Linda dalam hati.


Tidak di pungkiri rasa rindu pada sang putri semata wayang sangat lah besar. Tiga puluh lima tahun di diamkan tidak membuat Else menyerah dan meninggalkan Chandra. Ia kini meredam egonya yang sangat tinggi dan mau menemui sang putri.


"Silahkan masuk oma" ucap Yudho.


Oma Linda berjalan memasuki rumah Else. Ia pikir Else akan menyambut dirinya dengan berdiri di depan rumah seraya melambaikan tangannya. Tetapi tidak ada itu semua. Ia pikir juga hubungan dengan sang anak dan menantu terlalu dingin. Dan Else pun tidak pernah lagi menghubunginya nya bahkan menanyakan kabarnya semenjak drama pengusiran yang dirinya lakukan tiga puluh dua tahun yang lalu ketika Else sedang hamil. Else nekat menemui oma Linda berharap dengan hamil nya akan membuat oma Linda luluh, tetapi nyatanya tidak. Keras hatinya membuat ia kehilangan putri satu-satunya.


Oma Linda masuk kedalam rumah, dan mendapati Else, Chandra dan Mila sedang mengobrol membicarakan cucunya yang belum di beri nama.


"Else" ucap oma Linda tampa salam apapun.


"Mami" Else, Chandra, dan Mila berdiri. Lalu Mila ke belakanh.


"Mami datang menemui mu" ucapnya, namun butir air mata tak bisa oma Linda sembunyikan.


"Aku tidak menyangka ternyata mami sudi menemui anakmu yang hina dan pembangkang ini" ucap Else dengan nada getir.


"Bagaimana kabar mami?" tanya Else kembali.


"Aku baik" jawabnya datar.


Kemudian Chandra bergantian menyalimi sang mertua.


"Apa kabar mi?" tanya Chandra.


"Baik" jawab nya tak kalah datar.


Else memanggil Wati untuk menyimpan barang bawaan oma Linda ke kamar tamu.


"Silahkan jika mami ingin istirahat" ucap Else karena ia tahu perjalanan dari Belanda lumayan menguras tenanga.


"Dulu kau menemui ku sedang hamil. Mana cucuku" tanya oma Linda.


"Bik Wati, tolong panggilkan William kemari" perintah Else.


"Baik nyonya" balas Wati.

__ADS_1


__ADS_2