Di Nodai Pria Autis

Di Nodai Pria Autis
William Hilang


__ADS_3

"Kyaaaaaa, nenek sihir" teriak William kala melihat oma Linda.


"Tenanglah dulu jangan takut" ucap oma Linda.


William pun keluar dari persembunyiannya.


"Kemari lah, nak" ucap oma Linda.


William berjalan menghampiri oma Linda dengan wajah takut-takut.


"Cucu oma, tampan sekali. Maaf ya oma sempat membuatmu takut" ucap oma Linda.


"Oma tidak jahat?" tanya William.


"Tidak dong sayang. Sini peluk oma!" oma Linda merentangkan tangannya.


William pun langsung memeluknya. Tercium aroma minyak telon pada tubuh William.


"Wangi sekali kamu" ucap oma Lidya.


"Istriku yang mengoleskan minyak telon setiap hari" jawab William.


"Ayo kita keluar dari sini. Oma ingin lihat bayimu" ajak oma Linda.


William hanya mengangguk.


Kini oma Linda menggendong bayi yang belum di beri nama itu. Ia heran kenapa sudah empat hari tetapi bayi ini masih belum jelas namanya.


"Siapa nama bayi ini?" tanya oma Linda yang seumur hidup baru dua kali memegang bayi. Yang pertama Else dulu, dan yang kedua bayi milik Fina.


"Belum di beri nama, oma" jawab Fina.


"Apa? Kenapa belum?" tanya oma Linda.


"Namanya Junior Alexander Tanoko" ucap William bangga.


"Bagus sekali namanya Will. Jadi resmi ya, namanya Junior Alexander Tanoko" ucap Fina bahagia.


Mendengar kata Tanoko, membuat hati oma Linda berdenyut nyeri.


"Apa si kepar@t itu masih hidup?" tanyanya dalam hati.


Di dalam kamar, William membuka kalender, menghitung setiap hari. Hal itu membuat Fina heran.


"Will, menghitung apa?" tanya Fina menghampiri.


"Willi sedang menghitung setiap hari sampai empat puluh hari nanti" jawabnya polos.


"Yaaampun Will" ucap Fina sembari tertawa.


"Apa kamu sudah tidak tahan?" tanya Fina.


Fina pun mengerti, meskipun William seperti anak kecil, namun kebutuhan biologisnya harus terpenuhi. Fina takut William nekat melakukan seperti di video biru yang pernah Fina lihat sewaktu SMA dulu dengan temannya.


Fina takut William membolongi sabun, atau menjadikan guling sebagai sarana fantasinya.


"Kepalaku pusing" jawab William.


"Pakai mulut dan tangan mau?" tanya Fina.


"Bagaimana caranya istrimu?" tanya William bingung.


"Ayo ikut aku ke toilet" ajak Fina.

__ADS_1


William ikut ajakan Fina menuju toilet.


Di dalam sana Fina segera beraksi memanjakan si bocah tua itu.


Dua puluh lima menit kemudian, mereka berdua keluar dari toilet. Fina memegangi rahangnya yang terasa kebas. Walau begitu, ia senang karena bisa membuat William keluar.


"Bagaimana rasanya?" tanya Fina.


"Enak, hehehe!" jawab William.


"Sudah tidak pusing lagi kepalanya?" tanya Fina.


"Tidak, istriku. Lega sekali rasanya. Terimakasih ya" William memeluk Fina.


"Benarkan lagi celananya, itu belum tertutup semua" perintah Fina.


William pun membenarkan celananya yang sedikit terlihat semak belukar yang maha rimbun itu.


"Will, ikut aku berjemur baby J di halaman depan yuk" ajak Fina.


"Ayo" William segera mengikuti Fina.


Di teras, Fina menjemur bayi lucu itu, Tiba-tiba terdengar tukang jualan tahu bulat.



"Tahu bulat, tahu bulat, di goreng dadakan lima ratusan" suara tahu bulat.


"Itu jualan apa ya? Willi mau belikan buat dedek Junior" William pun berjalan mendekati mobil penjual tahu bulat, tapi mobil itu malah melaju kencang.


"Tunggu!" teriak William.


Tetapi mobil itu tidak berhenti.


"Ini tempat apa?" William bertanya pada dirinya.


"Hikhikhik,, aku dimana? Istriku, mami, dady, aku dimana?" William menangis.


Sementara Fina sedang panik karena William menghilang.


"Gimana bisa hilang?" tanya Else yang sedang berada di sekolah Aliyya.


"Kami sedang menjemur bayi di halaman depan, mi. Tiba-tiba, William mengejar mobil pedagang tahu bulat, Aku tidak bisa mengejarnya karena masih sakit berlari. Mi, maafkan aku" Fina menangis.


"Sudah, kamu tenang dulu Mami akan segera pulang, biar Aliyya, mang Eko yang jemput" Else segera mematikan teleponnya.


Rumah itu menjadi keos, sang tuan muda menghilang dan entah dimana rimbanya.


"Ibu akan cari William ke arah barat" ucap Mila.


"Oma akan ci William ke arah timur laut" ucap oma Linda.


"Bik Wati akan cari tuan muda ke arah selatan" ucap Wati.


Mereka semua berpencar mencari William.


Else juga langsung mencari sang putra ke arah taman kota.


"Will, kenapa bisa sampai hilang begini sih? Kamu itu tidak tahu jalanan ibu kota" Else menangis, kemudian ia menghubungi sang suami.


"Dady, pulang dad" ucap Else dengan nada gusar.


"Mami kenapa panik begitu?" tanya Chandra.

__ADS_1


"William hilang, dad.. Hikhikhik" Else menangis.


"Dady pulang sekarang" Chandra segera meninggalkan kamar hotelnya, bergegas mencari keberadaan sang putra.


"Will, kenapa bisa hilang sih" ucap Chandra.


Kini oma Linda sedang menyusuri jalanan, dan menanyakan ke beberapa orang apakah ada yang melihat William, tetapi jawaban mereka semua sama tidak melihat William.


"Lama berjalan kaki, pegal juga dan aduhh,, pinggangku sakit" keluh om Linda.


Tak lama sebuah suara memanggilnya.


"Mami" teriak suara itu.


"Else! Mami sedang mencari William" ucapnya sembari mengelap keringat di dahinya.


"Masuk mobil mi. Kita cari William bersama" ucap Else di balik pintu kemudi.


oma Linda pun segera masuk kedalam mobil yang Else kemudikan.


Sementara Mila, mencarinya, ada yang melihat William berjalan kearah jalan tol.


"Ibu yakin ini orangnya?" tanya Mila sembari memperlihatkan poto William.


"Benar bu. Orangnya rada-rada kan ya. Dia tadi jalan ke arah tol sana. Mungkin saja sekarang sedang memasuki area tol" jawab wanita paruh baya yang membawa barang dagangan di tangannya.


"Terimakasih bu atas informasinya" ucap Mila.


Wanita itu hanya mengangguk, lalu berjalan kembali.


"Aku harus mencari William ke arah jalan tol" ucap Mila.


Kini William berjalan memasuki sebuah perkampungan kumuh di bawah jalan tol. Pemandangan yang membuat dirinya merasa takut karena seumur hidupnya baru tahu ada tempat ini.


"Apakah mereka semua zombie?" tanyanya karena melihat orang-orang berpakaian compang-camping dan berwajah kumal.


"Mau kemana mas?" tanya salah satu pria yang sedang mengumpulkan plastik bekas.


"Willi, mau cari suster Fina. Kamu tahu dimana suster Fina?" tanya William.


Orang itu langsung paham bahwa ada yang tidak beres pada diri William.


"Rada-rada ternyata. Apakah dia hilang? Dan di lihat dari tampilannya dia orang kaya" ucap pria itu.


"Istirahat dulu saja mas. Duduk dulu" ucap pria itu yang biasa disebut Parman


"Siapa dia, pak?" tanya seorang wanita pada Parman


"Entahlah bu, sepertinya dia orang hilang dan tidak normal" jawab Parman pada istrinya yang bernama Umi Kalsum.


"Kasihan sekali, pak" ucap Umi Kalsum.


Tak lama, Umi Kalsum membawa segelas air dan roti kering, lalu di berikan pada William.


"Namamu siapa? Ini minumlah" tanya Umi Kalsum sembari memberikan gelas itu.


"Namaku William" jawab William sembari menerima gelas itu lalu meminumnya hingga tandas.


"Wah namanya bukan kaleng-kaleng ,pak. Dimana keluarganya ya pak? Kasihan sekali" ucap Umi Kalsum.


"Entahlah bu, dia juga sepertinya tidak tahu arah jalan pulang" jawab Parman.


"Apa kita tampung saja disini, sebelum dia ketemu keluarganya, kasihan juga pak kalau dia berkeliaran di jalanan. Ibu takut ada yang memanfaatkannya" ucap Umi Kalsum.

__ADS_1


"Ya bu, dia bisa jadi teman Yayuk disini. Nanti kalau bapak mulung, bapak akan cari tahu rumahnya" jawab Parman.


__ADS_2