
William selalu tidak beruntung kala mendapat orang yang bekerja padanya. Chandra Pun melarang William untuk langsung menyeleksi sendiri.
"Kamu belum.berpengalaman, son!" ucap Chandra.
"Ya, dady benar" jawab William lesu.
Sementara, Maxim semakin larut dalam pencarian Mila. Para detektif bayarannya pun belum ada yang menemukannya.
"Kerja apa saja kalian, hah? Sudah satu minggu tapi kalian belum juga menemukan keberadaan wanita itu" gertak Maxim sembari menyesap kopi pekatnya.
"Maaf tuan, saya akan bekerja lebih extra lagi" jawab salah seorang detektif.
"Lakukanlah jangan hanya alasan. Kalian ini bikin mood ku memburuk" ucap Maxim.
Para bodyguard itu pun satu-persatu membubarkan diri.
"Dimana dia sekarang? Apa dia sakit ya tidak mangkal lagi? Hmmmz seharusnya aku tidak menyukai wanita malam itu. Tetapi hati ini sudah terlanjur jatuh padanya. Apalagi dia menyervis ku dengan sangat baik luar maupun dalam. Jikalau mau, aku bisa pakai jasa wanita yang lebih muda, tetapi mereka hanya akan pergi jika sudah aku bayar" ucap Maxim bermonolog.
Sementara kini Mila tinggal di rumah Chandra lagi untuk membantu mengasuh Aliyya dan Junior. Mila merasa khawatir jika kedua cucunya akan di asuh oleh orang lain. Mila pun akan menutup tokonya sementara waktu sampai Fina menemukan sosok babysitter yang cocok nantinya.
"Bu, apa tidak ada keinginan untuk menikah lagi? Ibu kan masih muda?" tanya Fina.
"Ibu lebih senang begini saja. Lagipula, siapa yang mau pada wanita bekas pela cur, sih nak. Jijik laki-laki melihatnya" jawab Mila sedih.
"Ibu, itu sudah jadi masa lalu. Semua orang punya aib, asal kita benar-benar sudah bertaubat bu" ucap Fina.
"Gimana nanti saja masalah jodoh. Sekarang, ibu mau fokus saja rawat cucu-cucu ibu" ucap Mila.
Tak ada perasaan apapun tentang jodoh atau cinta satu malamnya bersama para pria hidung belang. Mila yakin bahwa para pria itu menyewanya hanya untuk crut saja, tidak lebih. Lagipula pria mana sih yang mau pada wanita yang banyak di masuki sembarang pria, kata Mila membatin.
Tanpa tahu di luar sana seorang pria kaya sedang pusing bukan kepalang mencarinya.
Di rumahnya Maxim sangat kesepian. Tidak ada anak, istri pun sudah meninggal. Meski di rumahnya banyak ART, tetapi ia tetap merasa dirinya kosong. Ia pun sebenarnya masih ada keluarga yaitu Chandra.
Ya Maxim adalah paman Chandra. Maxim Alexander Tanoko nama lengkapnya.
__ADS_1
"Apa aku ke rumah Chandra saja ya. Aku kangen sama William. Dia selalu mengajakku main perosotan. Memang anak itu tidak tahu umur" ucapnya sembari tertawa.
Di tengah lamunannya, seorang ART memanggilnya.
"Hidangan makan malam sudah siap, tuan" ucap wanita paruh baya bernama Asih.
"Baiklah bik, saya turun sebentar lagi" balas Maxim.
Di meja makan, terhidang berbagai masakan. Maxim makan sendiri dan rasanya itu tidak enak.
"Bik, lain kali jangan masak sebanyak ini mubazir" ucapnya.
"Baiklah tuan. Saya akan mengurangi masakannya nanti" sahut Bik Asih.
"Bibik bisa makan masakan ini. Habiskan semuanya oleh pegawai disini. Saya sepertinya beberapa hari akan menginap di rumah keponakan saya" ucap Maxim.
"Baiklah tuan" balas Bik Asih.
Maxim duduk di balkon kamarnya. Memandang gemerlapnya lampu kota Jakarta. Hatinya mengawang kala mengingat istrinya yang sudah berpulang. Sakit stroke sejak dua puluh tahun lalu akibat terjatuh dari kamar mandi, membuat Nirmala menjadi down. Tetapi Maxim tetap merawatnya, dan selalu setia pada Nirmala. Walaupun ia sebagai pengusaha tambang yang sangat sibuk, tetapi ia selalu menyempatkan untuk merawat sang istri.
"Mala, bolehkah aku menikah lagi? Jujur saja aku kesepian sendiri!" lirihnya.
Kemudian Maxim menghubungi sang keponakan untuk izin ingin menginap semalam dua malam di rumah ya.
"Hallo, om" sapa Chandra.
"Chand, gimana kabarmu?" tanya Maxim.
"Puji syukur baik om..Om sendiri sehat?" tanya Chandra.
"Om begini saja Chand. Di rumah kesepain sejak tante Mala meninggal. Begini nih kalau tidak punya anak, tidak ada tempat cerita" keluhnya.
"Om, kau masih ada aku. Om bisa cerita apa saja denganku. Atau kau bisa mencari istri lagi. Aku yakin tante Mala akan senang melihat om bahagia" balas Chandra.
"Aku perlu bicara banyak.padamu, Chand. Boleh om menginap di rumahmu semalam atau dua malam lah, om butuh teman bercerita" ucap Maxim.
__ADS_1
"Tentu boleh om. Kau juga dulu sering menginap di rumahku bersama tante Mala. Bahkan om sering membuat William nangis karena di isengi" balas Chandra.
"Dan satu lagi, aku bawa kabar baik tentang William" ucap Chandra sekali lagi.
"Kabar apa tentang dia?" Maxim penasaran.
"William sudah normal kembali. Bahkan dia sudah menikah dan punya dua anak" ucap Chandra dengan nada senang.
"Syukurlah jika begitu. Om sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan si bedak tebal (yang di maksud bedak tebal adalah William. Karena sewaktu autis, ia sering memakai bedak bayi di wajahnya dengan tebal)" ucap Maxim sembari tertawa.
"Kapan om mau ke rumahku?" tanya Chandra.
"Besok siang" jawabnya.
Besoknya, Fina dibantu oleh Mila memandikan Junior. Bayi tampan itu tidak rewel. Ia sangat menikmati sapuan busa sabun pada kulitnya.
"Bu, maaf ya aku jadi merepotkan ibu" lirih Fina.
"Loh kok ngomong begitu? Ibu senang mengurus cucu ibu. Ibu malah tidak percaya lagi pada babysitter. Ibu masih trauma dengan Mela itu" balas Mila.
Junior pun selesai mandi. Ia di baluti handuk lalu di jemur oleh Mila.
"Cucu nenek, harus sering-sering di jemur biar tambah besar dan kuat" ucap Mila sembari menepuk-nepuk pan tat Junior yang gembil.
Dari dalam Aliyya muncul. Ia cemburu melihat Junior lebih di perhatikan ketimbang dirinya.
"Bunda dan nenek kok lebih sayang sama dedek ketimbang aku" ucapnya dengan nada seakan ingin menangis.
Fina pun segera menghampiri sang putri.
"Sayang kok bicara begitu? Bunda dan nenek sayang banget sama Liyya. Kalian berdua tidak ada yang bunda bedakan" Fina mencoba memberi penjelasan.
"Buktinya dedek selalu bunda mandikan dan selalu bunda timang-timang. Aku tidak" ucap Aliyya dengan bibir manyun.
"Kata siapa tidak. Waktu Liyya bayi juga sama begitu. Bunda, eyang Andi, eyang Siti, mama Maya, mas Ahmal dan bapak Firman semua memanjakan Liyya, menimang Liyya dan memandikan Liyya. Nanti juga kalau dedek sudah besar kaya Liyya, dedek juga makan sendiri" Fina berkata sembari mengelus kepala Aliyya.
__ADS_1
"Oh begitu ya, bu da. Hmmmm, Liyya jadi rindu mama Maya dan semuanya yang ada di Surabaya. Kapan bun kita kesana lagi?" tanya Aliyya.
"Tunggu dedek aga besaran ya, sayang. Kita pindah lagi ke Surabaya" jawab Fina.