
Nunggu reward kontrak lama pisan euy cairnya. Author lelah menunggu.
Doa kan ya para readres, semoga reward untuk Author segera cair.
.....
Bagi yang menanyakan, kenapa sih gak di pecat saja Mela dari kerjaannya, Atau kenapa harus ada bibit pelakor? Jawaban nya karena harus ada drama saja biar bab novel ini panjang.
....
Aliyya terus saja menyembunyukan tangannya kebelakang. Ia takut bahwa hilangnya jam tangan akan di ketahui oleh kedua orang tuanya.
"Liyya, kenapa dengan tanganmu" William seketika meraih tangan mungil sang anak.
"Maafin Liyya, ayah. Jam tangannya..." Aliyya tak berni melanjutkan bicaranya.
"Kemana jam tangan Liyya?" tanya Fina.
"Hmmm, hilang bun" jawab bocah kecil itu dengan suara pelan.
"Kok bisa hilang, nak? Jam tangan itu ada pengamannya loh. Tak bisa lepas sembarangan kecuali di lepaskan" ucap William heran.
"Sudahlah tak apa. Nanti kita minta lagi sama oma. Liyya gak usah sedih" ucap Fina menenangkan.
"Aneh benar!" gumam William.
"Sudah yuk, jangan di tanya lagi nanti Aliyya tambah sedih" ucap Fina pada William.
William hanya menganggukkan kepalanya.
Saat dalam pantry, Wati dan Eko bergosip tentang Mela.
"kang, semalem saya lihat makhluk penghisap ****** *****" ucap Wati sembari menahan tawanya.
"Maksud Bibik apa sih?" tanya Eko belum paham.
"Semalam aku lihat mbak Mela lagi menghisap ****** ***** tuan muda dan menjila*i nya. Iughhhh jijik banget aku lihatnya" ucap Wati.
"Yang benar mbak? Jangan halu deh, masa soh mbak Mela kaya gitu?" tanya Eko.
"Benar kang. Aku juga sampai tercengang. Apa dia punya kelainan ya. Tingkahnya juga aneh begitu, apalagi pakaiannya seksi begitu" ucap Wati.
"Mbak, gimana kalau kita kerjain saja dia malam ini" ucap Eko.
"Kerjain gimana kang?" tanya Wati.
Eko pun membisikan sesuatu pada Wati. Sontak Wati pun langsung tertawa.
"Gak bahaya tah, kang?" tanya Wati.
"Gak lah" jawabnya.
Saat ini Mela sedang mengganti popok Junior karena BAB. Mela tak henti-hentinya merasa mual dan terus menggerutu kesal.
"Dasar bayi lemah, ganti dong popok mu sendiri. Bau banget kau makan bangkai ya" Mela pun mencubit paha Junior sampai anak itu menangis.
Saat itu Fina dan William sedang ada kepentingan. Junior sang bayi tidak di bawa dan hanya di titipkan pada Mela.
Bik Wati yang lewat pun langsung menghampiri Junior dan tahu apa yang di lakukan Mela.
"Kamu kok kasar banget" bentak Wati yang langsung merebut Junior dari wati.
__ADS_1
"Dia berak. Bau banget" jawab Mela.
"Namanya juga berak ya pasti bau" sentak Wati.
"Awas ya kamu bik kalau ngadu. Tahu akibatnya" sentak Mela yang sudah menunjukan taringnya.
"Aku tidak takut padamu. Dasar orang tidak tahu di untung. Di kasih kerjaan malah ngelunjak" Wati pun pergi sembari menggendong Junior.
Mela pun kesal pada Wati. Ia takut Wati akan memberitahukan perilakunya pada William dan Chandra.
Wati pun memanggil Aliyya yang sedang bermain boneka barbie di ruang tamu sendirian.
"Cantik. Ikut bibik ya sayang!" ajak Wati.
"Kemana bik?" tanya Aliyya.
"Yo ikut saja" Wati segera menggiring Aliyya ke kamar Wati. Lalu ia menguncinya.
"Bik kok pintunya di kunci?" tanya Aliyya.
"Non Liyya harus jujur sama bibik, ya. Apa non Liyya pernah melihat suster Mela melakukan hal yang aneh-aneh?" tanya Wati.
Aliyya pun diam. Ia bingung harus mengatakan apa. Ia ingin jujur tapi ia takut.
"Non cantik, ayo bicara sayang. Jangan takut. Cerita sama bibik ya" bujuk Wati.
"Bik, sebenarnya suster Mela itu jahat Bik. Dia sering bentak Liyya. Kemarin saja suster Mela mengambil uang dan jam tangan milik Liyya dan mengancam akan memukul Liyya kalau sampai ngadu ke ayah dan bunda" akhirnya Aliyya jujur sama Wati.
Seketika Wati menggeram marah dan hatinya sangat dongkol. Wati sangat tahu jika Mela akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.
"Dasar syetan. Yudho kok bisa menyuruh dia kerja disini. Aku harus segera lapor pada tuan muda" ucapnya.
"Sayang, mau kan malam ini kamu menginap di rumah nenek Mila? Kita akan bongkar kejahatan suster Mela besok pagi. Bibik tidak mau jika dia jahat lagi sama non Liyya dan dedek Junior. Nurut ya sama bibik, malam ini harus pergi menginap ke rumah nenek dulu" ucap Wati.
"Bilang saja Liyya kangen sama nenek Mila. Dan bilang saja karena Liyya gak mau lihat suster Mela kelelahan" jawab Wati.
"Siap bik" ucap Aliyya.
Malam itu Aliyya dan Junior di bawa pergi Eko ke rumah Mila. Mila pun heran karena Aliyya dan Jumior sudah ada baby sitter.
"Ada apa sebenarnya mang? Bukannya sekarang mereka sudah ada babysitter?" tanya Mila.
"Gak benar orang itu, bu. Dia tidak sayang pada anak-anak. Dia sudah mencubit dedek Junior dan lebih parahnya dia sudah mengambil uang jajan non Aliyya dan mengambil jam tangannya yang di berikan oleh oma Linda" ucap Eko.
"Astagfirullah, baru juga kerja dua hari sudah begitu. Rasanya saya tidak tega membiarkan ini lama-lama. Kedua cucu saya akan saya rawat saja" ucap Mila menahan amarah.
"Lihatlah bu, paha dedek Junior lebam karena di cubit oleh suster Mela" ucap Eko.
Mila segera menyingkap celana Junior, dan benar saja pahanya lebam.
"Ya ampun, Junior. Nenek obatin" Mila langsung membawa Junior dan Aliyya kedalam rumah. Eko juga langsung pulang karena malam ini akan mengerjai Mela.
...
Dengan senang hati, Mela bisa beristirahat dengan tenang. Ia pun diam di depan rumah. Tetapi tiba-tiba dept colector menggedor pagar rumah itu.
Yudho segera menemui kedua orang itu.
"Kenapa kalian menggedor-gedor pagar segala? Ada apa ini?" tanya Yudho.
"Kami cari Mela!" jawabnya to the point.
__ADS_1
"Kalian siapa cari ponakanku?" tanya Yudho lagi.
"Kami dept colector. Kami kemari ingin menagih hutan saudari Mela yang sudah lama menunggak" jawab pria berkepala botak.
"Hutang apa dia? Berapa hutangnya?" tanya Yudho.
"Dia itu hutang di aplikasi Akutaklaku. Sudah setahun tidak di bayar" jawab pria berkumis tebal.
"Duh gusti, Mela kau ini" ucap Yudho kesal.
"Tolong panggil orangnya pak. Hutang dia sebesar lima puluh juta. Kemarin dia sudah memberi kami uang dua ratus ribu dan jam tangan yang sudah kami jual dan itu lumayan mahal. Sisa hutangnya sebesar lima belas juta lagi" tutur pria yang berkepala botak itu.
"Kalian tunggu disini. Saya panggil orangnya" ucap Yudho.
Yudho pun langsung mencari Mela.
"Mela, ikut pakde" ucap Yudho.
"Ada apa sih pakde?" tanya Mela kesal karena waktu bersantainya terganggu.
"Ikut jangan banyak tanya" Yudho menggeret tangan Mela.
"Sakit pakde!" ringisnya.
Kini Mela sudah ada di hadapan para dept colector. Mela ketakutan.
"Bayar hutang loe sekarang!" bentak pria berkepala botak.
"Kemarin kan sudah. Pergi sana" ucap Mela ketus.
"Kurang!" bentak pria itu lagi.
"Mela, jawab jujur sama pakde, kamu bayar hutang pakai jam tangan siapa?" tanya Yudho yang kini sudah terlihat murka.
"Anu pakde, hhmmm anu, pakai jam tanganku lah" jawab Mela gugup.
"Bohong. Kemarin dia rampas jam tangan milik anak asuhnya dan dia juga ambil uang sakunya" ucap pria yang berkumis tebal.
"Jadi kamu ambil barang dan uang punya non Liyya? Jawab jujur?" bentak Yudho kini emosinya sudah di ubun-ubun.
"Mela terpaksa pakde" ucap Mela.
"Dasar kau ya. Kau sudah membuatku malu Mela. Ku kira kelakuanmu sudah lebih baik ternyata sama saja" ucap Yudho tak habis pikir.
"Tolong pakde jangan bilang pada tuan dan nyonya" kini Mela memelas.
"Aku tidak mau mengkhianati majikan yang sudah banyak membantuku. Di rumah ini lah pakdemu ini mencari nafkah sampai bisa menguliahkan anak pakde. Ingat Mela, kau harus tanggung jawab akan hal ini" bentak Yudho.
"Kalau begitu, pinjamin aku uang pakde. Aku ingin melunasi hutang" ucap Mela tidak tahu malu.
"Enak saja. Uangku hanya untuk istriku di kampung, bude Marni" balas Yudho.
"Aku mohon pakde" ucap Mela.
"Memang hutang kau dimana saja Mela?" tanya Yudho.
"Di pinjol Akutaklaku. Lazycases , Adakita, Mekarsari, Sopay, Dupay, Toktok dan rentenir lainnya pakde" ucap Mela.
"Bocah semprul. Bayar sendiri" ucap Yudho.
"Bayar sekarang!" gertak pria berkumis tebal itu.
__ADS_1
"Besok aku bayar. Sana kalian pulang dulu" bentak Mela.
Keduanya pun akhirnya pulang.