
"Mau kemana lagi kamu, Chandra? Mau menghindari ku terus?" ucap suara yang paling Chandra takuti.
Oma Linda berjalan menghampiri Chandra.
"Tidak mi" jawab Chandra.
"Kau yang punya rumah ini, kenapa kau yang pergi? Aku tahu kau menghindari ku. Chandra, mami tahu, kau masih sangat kecewa pada mami. Tapi tidak kah kau tak ingin membuka hubungan baik dengan wanita tua sepertiku?" tanya oma Linda.
"Aku hanya tak siap jika mami terus menyalahkan ku dengan semua ini. Aku tidak ingin berdebat. Lagi pula dari dulu, mami tak ingin mengenalku, bukan?" ucap Chandra yang penuh dengan rasa kecewa.
Chandra bahkan belum lupa bahwa dirinya pernah di seret ke pengadilan oleh Linda karena di anggap membawa lari sang putri sampai di penjara satu tahun.
"Aku masih merasakan dinginnya satu tahun dibalik penjara akibat laporan yang mami berikan" ucap Chandra kembali.
"Mami akui mami saat itu benar-benar kejam. Mami sadar itu. Mami mohon maafkan mami, Chandra" oma Linda kemudian berlutut di kaki Chandra.
"Mami, jangan seperti ini. Mami tidak pantas melakukan ini. Bangun mi" Chandra merengkuh sang mertua.
"Maafkan dosa-dosa mami, padamu" oma Linda menangis.
"Jika memaafkan membuat semuanya rukun, maka aku akan memaafkan mami. Maafkan juga diriku, mi. Aku belum bisa menjadi menantu yang mami harapkan selama ini" balas Chandra sembari menangis.
Oma Linda langsung memeluk sang menantu.
"Kau sudah bisa membahagiakan anakku sekarang. Terimakasih sudah menjaga anaku selama tiga puluh lima tahun" ucapnya sembari terisak.
Keduanya pun kini berdamai, dan tak ingin membahas masalalu kembali.
Empat puluh hari berlalu. William sudah berdiri di hadapan Fina dengan memakai bathrobes.
"Will, sudah mandi?" tanya Fina.
"Sudah" jawab William.
William semakin tampan kala rambutnya terlihat klimis. Air di kepalanya mengalir ke rahang, lalu turun ke dada dan terus mengalir ke perutnya yang kotak-kotak.
__ADS_1
"Seksinya suamiku" Fina mendekap tubuh William, lalu menciumi dada yang sedikit berbulu itu.
"Ayo pake baju sekarang!" perintah Fina.
"Istriku sudah mandi?" tanya William.
"Sudah dong, kan sebelum kamu, aku dulu yang mandi" jawab Fina.
"Hari ini tepat sudah empat puluh hari. Willi tak sabar menunggu saat ini. Ayo layani Willi malam ini" ucap si bocah tua itu.
Fina baru ingat jika ia sudah empat puluh hari dan dirinya pun sudah keramas. Sebenarnya Fina masih takut untuk memberikan haknya pada William. Ia rasa masih terasa linu pada intinya.
"William sepertinya akan meminta haknya malam ini. Tapi aku masih takut. Apa aku tolak saja" gumam Fina dalam hatinya.
"Willi, apa boleh besok saja?" tanya Fina.
Seketika William mencebik. Ia sepertinya marah dan kecewa pada Fina.
"Willi kan suami suster Fina! Kenapa menolak.. Hikhikhikhik" William berkata sembari menangis.
"Hei, kok menangis? Sini Will, duduk di sampingku" Fina menepuk ranjang agar William duduk di sebelahnya.
"Willi sudah tidak tahan ingin keluar. Istriku, kepalaku sakit, badanku lemas dan penglihatan ku serasa berkunang-kunang. Rasanya di otakku hanya ada bayangan ketika kita sedang bermain kuda-kudaan" keluh William sedih.
"Willi sejujurnya aku masih takut, sayang untuk melakukannya malam ini" Fina mencoba memberi pengertian.
"Willi akan melakukannya pelan-pelan. Willi janji. Please ya istriku, aku sudah tidak bisa menahannya" desak William.
Fina pun mengangguk pasrah. Dan benar saja William memasukan itu secara pelan-pelan.
"Willll, sakitt ahhh" Fina menangis kala benda tumpul itu pelan-pelan memasuki intinya.
William bergerak mengayun seakan mengikuti ritme nafasnya. Tapi lama-kelamaan ayunan itu berubah jadi hentakan.
Satu jam sudah, mereka mengarungi sirkuit asmara yang menggelora. Peluh dan cair@n cinta seakan membaluri tubuh polos William dan Fina. William pin ambruk di atas tubuh Fina.
__ADS_1
"Terimakasih istriku, ini sangat nikmat" ucap William.
"Aku senang membuat kau melambung nikmat, Will" jawab Fina.
Malam itu, Junior si bayi sudah terlelap karena sudah kenyang meminum ASI dari pabriknya langsung. Fina dan William juga sudah mandi. Kini mereka duduk di tepi balkon menikmati semilir angin malam dan kelip lampu kendaraan di jalan sana.
"Will, aku sangat ingin kamu sembuh" ucap Fina.
"Memangnya Willi, kenapa, istriku? Apa Willi sakit?" tanya William dengan polosnya.
"Ya, Willi sedang sakit, sayang. Willi itu pria dewasa sebenarnya, makannya Willi sudah punya anak dua, dan Willi pun selalu ingin melakukan kenikmatan seperti tadi kan! Will, kebahagiaanku hanyalah bisa melihatmu normal kembali" Fina berkata sembari menahan tangis.
"Willi pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri Willi. Willi merasa memang Willi ini anak kecil, tetapi tubuh Willi tidak seperti anak kecil dan Willi selalu ingin melakukan hal yang tadi padamu, istriku" balas William dengan wajah sedih.
"Semoga, kamu cepat sembuh ya, sayang. Aku kerepotan mengurus kedua anak kita dan tentunya bayi besar seperti Willi" ucap Fina sembari menyandarkan bahunya pada dada kokoh sang suami.
"Aku ingin sembuh, aku ingin menjadi orang dewasa. Tapi percayalah, apapun keadaan Willi saat ini, Willi akan selalu menyayangi suster Fina, Aliyya dan Junior. Jangan pernah pergi dari Willi, ya sayang. Willi butuh suster Fina" ucapnya sembari memeluk Fina.
"Tidak akan sayang. Aku akan selalu mendampingi mu apapun keadaannya. Kamu itu pria yang sempurna, hanya saja Allah sedang menguji mu dengan mentalmu. Cepat kembali ya, dan kita urus kedua anak kita. Apalagi perusahaanmu yang di Surabaya sangat membutuhkanmu" ucap Fina sembari mengelus dada sang suami.
William pun merengkuh tubuh Fina dan mendudukkan di pangkuannya.
"Willi sayang suster Fina" ucap nya.
"Aku Juga sayang suamiku" balas Fina.
William pun meraih wajah sang istri dengan kedua tangannya. Kemudian ia pandangi dengan seksama. William tahu bahwa ada gurat kelelahan di wajah Fina. Bahkan terdapat lingkaran hitam di matanya.
Bagaimana seorang Fina tidak kelelahan, setiap hari mengurus bayi dan Aliyya, belum lagi mengurus bocah tua yang selalu meminta haknya sebagai suami tidak peduli itu siang ataupun malam.
"Will, boleh aku ke rumah ibu bersama Aliyya dan Junior?" tanya Fina.
Ia ingin sejenak istirahat dan belum mau melayani si bocah tua itu. Lelah rasanya karena William selalu menggempur dirinya beberapa ronde sampai rasanya tulang-tulang dari tubuh Fina rontok.
"Aku ikut!" ucap William.
__ADS_1
"Willi disini saja, ya! Aku mau ke rumah ibu, tidak lama kok hanya sehari saja. Please ya, sayang" Fina meminta pengertian pada William.
William pun akhirnya membolehkan Fina untuk ke rumah Mila hari ini.