
William heran melihat Fina membeli beberapa karung beras, Minyak dkk nya. Fina juga membeli makanan kucing yang sangat banyak mulai dari kalengan dan sereal.
"Sayang, itu semua untuk siapa? Kita tidak memelihara kucing kan di rumah?" tanya William.
"Ini untuk penjaga makam ayah, kemarin aku sempat berbincang, aku ingin memberikan semua ini untuk kakek dan nenek itu. Sayang, nenek dan kakek itu selalu merawat makam ayah hingga bersih, aku ingin sedikit balas budi pada mereka. Dan mereka bilang di rumahnya punya dua puluh ekor kucing. Jangan marah ya!" Fina berkata dengan takut-takut.
William dengan gemas mengusap rambut sang istri.
"Ternyata selain cantik, istriku itu peduli pada sesama. Sayang, aku bahagia akan tindakanmu. Aku mendukungmu berbagi. Ayo kita bayar dulu belanjaannya" William pun mendorong belanjaannya ke meja kasir.
Sementara Maxim sedang berada di rumah Mila membantu mengasuh Aliyya dan Junior.
"Mila, sayang pujaanku" Maxim tampak ingin selalu dekat dengan Mila.
"Tuan jangan seperti ini, saya malu. Bisa kan duduknya geser?" tanya Mila kesal pada aki-aki centil ini.
"Duh sepertinya gak bisa tuh. Besok kita nikah ya? Mau mas kawinnya apa?" tanya Maxim.
"Ish tuan ini. Saya kan belum terima cintanya tuan, kok maksa" Mila semakin kesal.
"Terima ya sekarang. Apa kamu tidak kasihan pria kesepian ini? Jangan tolak ya baby" rayu Maxim
Tak di sangka, Else dan Chandra mengintip aksi rayuan maut yang Maxim lakukan.
"Hahahahahaha.. Dasar pujangga tua" Chandra tertawa melihat tingkat Maxim yang bucin parah.
"Bucin parah dia!" balas Else.
"Biarkan mereka pendekatan, mi. Om Maxim kalau sedang jatuh cinta kaya ABG!" ucap Chandra sembari tertawa.
Maxim terus saja merapat pada Mila. Ia seakan tidak ingin satu jengkal pun menjauh. Istilah kata, orang jatuh cinta itu, ta* kucing pun rasa cokelat.
"Tuan, jangan begini. Kita sudah tua" Mila mendorong bahu Maxim.
"Tua itu hanya angka, baby. Ayo lah kita menikah lagi, aku sudah tak sabar ingin merasakan apem legit mu" ucap Maxim setengah berbisik agar tak di dengar Aliyya.
Wajah Mila langsung memerah. Selain pemaksa, Maxim juga mesum sekali.
"Ikhhhhh sakit!" Maxim meringis kala mendapat cubitan maut di perutnya.
"Dasar genit dan mesum. Ayo Aliyya kita bawa dedek Junior ke kamar nenek. Jangan lama-lama disini ada orang genit" Mila langsung membawa kedua cucunya masuk kedalam kamarnya.
Maxim pun hanya tersenyum gemas saja.
"Ukh makin sayang diriku pada dirimu, baby Mila" gumamnya.
"Om, sebaiknya jangan terlalu agresif begitu, nanti bu Mila bisa takut!" ucap Chandra yang datang menghampiri Maxim.
__ADS_1
"Iya om, jangan tergesa-gesa. Wanita itu sukanya tarik ulur bukan sikap spontanitas begitu. Om nih gak bisa sedikit sabar" ledek Else.
"Ya gimana lagi dong, habisnya om gak bisa nahan diri untuk tidak berdekatan dengan besanmu. Mila itu beuhh cantik sekali, walau umurnya tidak muda lagi" Maxim terus memuji Mila.
"Ya lihat saja anaknya, sudah buat William tergila-gila begitu" balas Chandra.
Malam harinya, Mereka makan bersama, tak ada suara hanya denting garpu dan sendok yang beradu dengan piring. Di keluarga konglomerat pada umumnya, haram hukumnya jika makan berisik oleh suara obrolan. Kaum mereka sangat menjunjung tinggi apa itu table manner, tak seperti kita atau Author yang kaum mendang-mending, makan juga kadang sembari ghibahin orang, atau kadang sembari main ponsel.
Akh pokonya tidak ada ciri-ciri kaum konglomerat yang melekat pada diri ini....🤣
Mau konglomerat gimana, makan juga beras bansos....,🤣🤣🤣
Selesai makan, mereka pindah ke ruang tamu. Chandra ingin tahu bagaimana keputusan Mila akan lamaran dari Maxim.
"Bu Mila, bagaimana sudah punya keputusan untuk om Maxim? Jujur saja, om Maxim seperti cacing kepanasan ingin sekali tahu jawaban ibu" tanya Chandra.
Mila diam, ia berpikir lalu menengok pada Fina. Fina lalu tersenyum dan mengangguk.
"Bismillah, saya terima lamaran tuan Maxim" jawab Mila dengan hati yang mantap.
"Benarkah?" Maxim bertanya sekali lagi.
Mila hanya menganggukkan kepalanya.
Maxim langsung bersujud. Ia tidak sia-sia selalu memepet Mila dari sisi kanan, kiri, depan, belakang. Maxim pum spontan akan memeluk Mila namun berhasil di tahan oleh Chandra dan William.
Fina dan Else langsung tertawa sementara Mila sangat malu.
"Iya nikh, nyosor aja kaya soang" sambung Chandra.
"Maaf, maaf, om bahagia sekali makannya om lepas kontrol" ucap Maxim.
"Mau nikah, olahraga lagi yang benar om. Nanti aku hubungi Vincen untuk melatih om di tempat gym nya" ucap Chandra.
Satu minggu dari malam itu, Maxim langsung menikahi Mila, walau Mila inginnya satu bulan lagi, tapi Maxim ngebet sekali.
"Selamat ya bu, semoga langgeng" Fina dengan terharu memeluk Mila.
"Selamat ya om. Jaga selalu ibu, karena itu sudah menjadi tanggungjawab om sekarang" ucap Fina.
"Pasti dong anakku. Jangan panggil om lagi. Panggil papi saja" perintah Maxim.
"Siap bos!" balas Fina.
"Selamat ya nenek dan opa Acim. Buat dedek bayi yang banyak" celetuk Aliyya.
"Nenek sudah tua, sayang" ucap Mila sembari mencuil pipi gembul sang cucu.
__ADS_1
Malam harinya, Maxim dan Mila duduk di bibir ranjang. Mila memakai baju tidur khusus yang Else berikan padanya.
"Bu, pakai baju tidur ini ya nanti malam. Om Maxim pasti suka!" ucap Else tadi pagi.
"Bagus sekali bu baju tidurnya. Tapi apa ini tidak terlalu seksi? Duh saya malu sudah tua pakai baju tipis!" Mila memandang baju tidur satin warna merah itu.
"Tidak apa-apa bu. Body ibu Mila kan masih bagus dan kencang. Saya juga suka pakai baju itu di hadapan suami. Suka langsung bangun bu. Yasudah simpan baju ini untuk nanti malam ya!" Else lalu menyimpan baju itu di lemari Mila.
Maxim mendekat, hanya mengunakan handuk yang di lilitkan ke pinggangnya. Rambut dan jambang yang sedikit memutih menambah aura seksi dan gahar. Ditambah rambut yang basah membuat tetasan air mengalir dari leher ke dadanya.
"Istriku, apa kamu masih haid?" tanya Maxim.
Mila sedikit malu, lalu mengangguk.
"Masih mas, aku belum menopause.
" Syukurlah jika begitu" ucapnya.
Malam ini entah membuat pengantin baru ini di selimuti rasa grogi. Walau sebelumnya mereka sudah melakukan itu, tetapi rasanya malam ini begitu mendebarkan.
Malam ini, kedua insan itu melakukan penyatuan kembali. Sudah halal tidak akan dosa.
Pagi harinya, Mila belum bangun karena kelelahan di gempur oleh Maxim.
Maxim yang sudah keluar kamar pun langsung mendapat godaan dari Else dan Chandra.
"Rambut basah tuh" celetuk Chandra.
"Bibir kok bengkak? Di gigit tawon kali" balas Else.
"Leher kok merah?" celetuk Chandra lagi.
"Ada drakula kali" balas Else lagi.
"Berapa ronde tuh?" Chandra tidak berhenti menggoda Maxim.
"Berkali-kali dong dad, maklum lama gak keluar!" sahut Else.
"Aishhh, kalian menggoda om saja. Apa kalian juga tidak pernah merasakan hawa pengantin baru apa? Huuh menyebalkan" Maxim segera berlalu mengambil sarapan dan tidak ingin mendengar ledekan dari keponakannya itu.
Else dan Chandra pun langsung tertawa terbahak-bahak.
Aliyya yang sudah rapi ingin berangkat sekolah, mencari Mila.
"Nenek kemana, oma?" tanya Mila.
"Nenek Mila masih istirahat. Liyya oergi sekolahnya sama oma dan opa saja nya, sayang!" ucap Else.
__ADS_1
"Iya oma, ayo kita berangkat" Aliyya pun berangkat sekolah bersama Chandra dan Else.