
Kini Chandra, Else, dan Fina telah sampai di kediaman Parman. Hati Fina merasa memanas kala melihat Yayuk dengan mesranya memeluk William yang sedang tertidur.
"Will" ucap Else lembut membangunkan William.
William pun menggeliat kala kepalanya ada yang mengusap.
"Mami" ucapnya senang.
"Iya nak, ini mami, dady dan istrimu datang menjemputmu. Dan gadis ini siapa?" tanya Else.
William segera melepaskan pelukan Yayuk. Ia segera menghampiri Fina yang kini menangis cemburu.
"Istriku, Willi gak nakal kok. Dia yang meluk-meluk Willi" ucapnya agar sang istri tidak marah.
"Dek, maaf sebelumnya, anak saya bernama Yayuk, dia depresi. Sejak pertama bertemu William, entah kenapa Yayuk jadi nempel terus. Maaf ya" Parman menjelaskan kondisi Yayuk, agar Fina tidak salah paham.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud" ucap Fina memaklumi.
Terlihat Yayuk masih tidur nyeyak.
"Pak, saya atas nama keluarga sangat amat berterimakasih karena telah menolong anak kami, William" ucap Chandra.
"Sama-sama tuan. Saya hanya iba pada William yang linglung. Sesama manusia kan harus saling tolong menolong" jawab Parman.
"Bapak benar sekali. Sejak kapan bapak tinggal di daerah kolong tol ini?" tanya Chandra.
"Sejak dua tahun, tuan. Semenjak saya di PHK"
" PHK? Memangnya dulu pekerjaan bapak apa?" tanya Chandra.
"Saya seorang chef, tuan. Senior Chef di Alexander hotel and resort yang ada di Bali" jawab Parman.
"Apa? Asal bapak tahu, itu hotel milik saya" ucap Chandra merasa terkejut.
"Ya Ampun sungguh kebetulan sekali, tuan. Tetapi saya selama bekerja di sana belum pernah melihat tuan!" ucap Parman.
"Karena saya jarang ke hotel itu. Keponakan saya yang pegang" jawab Chandra.
"Lalu, kenapa bisa seperti ini, pak?" tanya Chandra lagi.
"Waktu sebulan saya di PHK, saya kembali ke Jakarta, istri saya dulu membuka toko kue, tetapi naas malam itu tepat tahun baru, rumah kami terbakar, tak ada yang tersisa. Uang dan semua tabungan kami ludes tak terisa, hanya pakaian yang melekat di badan yang kami punya" Tutur parman dengan wajah sendu.
"Saya tidak menyangka, bapak akan mengalami kejadian luar biasa di hidupnya. Saya turut prihatin" ucap Chandra.
"Tak mengapa, tuan. Hidup ini dengan lapang dada. Apa yang saya alami, tidak sebanding dengan nikmat yang telah Gusti Allah berikan pada keluarga kami. Manusia hanya membutuhkan sepiring nasi agar perut merasa kenyang, selebihnya hanya hawa nafsu lah yang menginginkannya" ucap Parman seakan menampar wajah Else dan Chandra yang masih getol mencari dunia tanpa memperdulikan kebutuhan rohaninya.
"Lalu, bapak bilang bahwa putri bapa pernah kuliah? Maaf, apa yang terjadi sampai ia begini?" tanya Chandra.
__ADS_1
"Selangkah lagi, Yayuk lulus kuliah kedokteran, tetapi seminggu sebelum rumah kami terbakar, Yayuk di perko sa oleh pacarnya sendiri. Awalnya tidak begitu parah dampaknya, Yayuk hanya banyak mengurung diri di dalam kamar, tetapi saat melihat rumah kami terbakar, Yayuk jadi semakin depresi dan sekarang seperti ini
"Bapak, mau Yayuk sembuh?" tanya Chandra.
"Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya normal, tuan. Tapi kondisi kami seperti ini, boro-boro mau berobat, makan pun susah" jawab Parman.
"Kalau saya mau bantu pengobatan Yayuk, apa bapak berkenan? Maksud saya begini, bapak kan mantan pegawai saya, anggaplah ini sebagai hadiah dari perusahaan karena bapak telah mengabdi untuk saya. Berapa tahun bapak bekerja di hotel saya?" tanya Chandra.
"Lima Belas tahun saya menjadi kepala chef di hotel itu" jawab Parman.
"Itu waktu yang cukup untuk memberikan hadiah yang lebih untuk bapak" jawab Chandra.
Obrolan pun berlanjut dengan Chandra memberikan rumah dan tempat makan sebagai hadiah untuk Parman, dan satu lagi akan membiayai pengobatan untuk Yayuk.
Parman dan Umi Kalsum sangat berterimakasih. Ternyata menolong orang lain, Tuhan pun membalasnya dengan nikmat yang jauh lebih besar.
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya pak! Rumah itu besok sudah bisa di tempati dan Yayuk akan di bawa oleh pihak rumah sakit nantinya" ucap Else..
"Baiklah bu, jika begitu" jawab Parman..
Ketika William sudah melangkah di papah oleh Fina, Yayuk bangun dan mengejar William.
"Mas Jangan pergi. Temani Yayuk disini" Yayuk memeluk William dari belakang.
Fina yang cemburu segera menarik William agar menjauhi Yayuk. Tapi Yayuk malah semakin erat memeluk William.
"Ini calon suamiku, mas William alias Aldebaran. Mas Yayuk sayang sama mas" ucap Yayuk merajuk.
"Lepas, Suster Fina istriku" William berusaha melepaskan diri dari Yayuk.
"Dengarkan, dia suamiku. Lepas" Fina sudah emosi.
"Gak mau. Mas Willi akan disini sama Yayuk" ucap Yayuk.
Mereka pun main drama tarik-tarikan memperebutkan William. Lalu Parman menghampiri Yayuk.
"Maaf ya dek! Sebelumnya Yayuk tidak pernah begini. Maaf sekali lagi" Parman tak enak hati dengan Fina.
"Pak, apa bisa bapak bujuk Yayuk untuk melepaskan suami saya?" tanya Fina.
Parman pun mengangguk. Di raihlah tangan Yayuk, Parman membujuknya agar Yayuk melepaskan William.
"Nduk, lepaskan nak Willi. Kasihan istrinya. Jangan buat nak Willi takut. Lepaskan ya nduk" bujuk Parman.
"Yayuk sama ibu aja, ya!" bujuk Umi Kalsum.
"Tidak mau! Yayuk maunya sama mas Willi. Dia calon suamiku" ucapnya.
__ADS_1
"Yayuk mau menikah dengan nak Willi?" tanya Parman.
Yayuk hanya mengangguk senang.
"Lepaskan dulu ya . Pengantin kan harus di dandani" bujuk Parman.
Yayuk pun melepaskan tangannya dari William.
"Nak Willi nya mau di dandani dulu ya" ucap Umi Kalsum.
"Iya!" Yayuk pun membiarkan William pergi.
"Kami pamit ya, bu/pak" Fina pun pergi membawa William.
Kini William sudah tiba di rumahnya. Aliyya langsung menangisi sang ayah.
"Hikhikhik.. Ayah kemana saja? Liyya khawatir" ucap bocah itu.
"Ayah tak tahu jalan pulang, sayang" ucap William.
"Lain kali, ayah jangan nakal lagi, ya. Jangan buat bunda nangis lagi" ucap bocah itu seperti memberi peringatan.
"Iya, ayah janji tidak nakal lagi" ucap William.
"Jangan pergi-pergi lagi, ya. Jangan ikutin apapun. Jangan buat mami cemas. Untung saja ada orang baik yang menolongmu, Will" ucap Else.
"Maafin Willi, ya Mami, dady, dan istriku" William pun memeluk ketiganya.
Chandra tidak melihat keberadaan oma Linda. Hatinya pun lega.
"Mi, dimana mami Linda?" tanya Chandra.
"Di kamarnya. Ia kecapean sewaktu mencari William. Pinggangnya sakit, mami suruh istirahat saja" jawab Else.
"Mi, dady pergi lagi ya. Dady gak mau nanti mami Linda bilang yang lain-lain. Dady belum siap" ucap Chandra.
"Dady memangnya tinggal dimana selama ini?" tanya Else.
"Di hotel kita mi" jawab Chandra.
"Dady, tidak coba komunikasi dengan mami Linda?" tanya Else.
"Dady belum siap dimaki-maki, mi. Kalau mami mau, susul aja dady ke hotel kita, dady tunggu" ucap Chandra.
Ia segera mengambil kunci mobilnya.
"Will, Fina, dady pergi dulu ya. Ingat, jangan keluar sembarang kamu, ya. Bikin semua orang khawatir saja" ucap Chandra lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Mau kemana lagi kamu, Chandra? Mau menghindari ku terus?" ucap suara yang paling Chandra takuti.