Di Nodai Pria Autis

Di Nodai Pria Autis
Berziarah Ke Makan Ayah.


__ADS_3

Malam ini Maxim sengaja mengajak Fina untuk bicara dari hati ke hati. Ia ingin meminta izin pada Fina untuk melamar Mila.


"Ada yang ingin om bicarakan?" Fina duduk di depan Maxim.


"Fina, om ingin bicara jujur padamu kalau om mencintai ibu Mila. Apa kamu tidak keberatan jika om ingin menikahi ibumu?" Maxim sangat ingin mendengar Fina membolehkannya berhubungan dengan Mila.


"Apa? Om tidak bercanda? Mana bisa om, sementara om baru kenal dengan ibu?" tanya Fina heran.


"Om mengenal ibumu tiga bulan yang lalu saat ibu mu jadi..." Maxim tak melanjutkan bicaranya.


"Pela cur, maksud om? Bagaimana om tahu?" tanya Fina semakin penasaran.


"Karena om pernah memakai ibumu" Maxim pun jujur pada Fina.


Seketika Fina terkejut, ia tidak menyangka bahwa pria terhormat seperti Maxim suka jajan wanita di pinggir jalan.


"Aku tak menyangka kalau om seorang pria nakal" ada nada kesal dan kecewa di sana.


"Tidak seperti itu yang di bayangkan. Izinkan om menjelaskannya" Maxim pun akhirnya menjelaskan semuanya mengenai asal mula pertemuannya dengan Mila hingga dia bertekad ingin menikahinya.


"Silahkan om jika ingin menikahi ibu. Aku tidak akan melarang asal ibu bahagia. Tapi aku minta satu hal pada om, tolong jika suatu saat kalian bertengkar atau ibu membuat salah, tolong jangan pernah ungkit masa lalunya. Om bisa janji itu?" tanya Fina sembari memandang Maxim dengan tatapan intens.


"Terimakasih nak sudah mau menerima om. Om janji tidak akan pernah mengungkit masa lalu ibumu" janji Maxim.


William hanya diam mendengarkan percakapan antara Fina dan Maxim.


William tak menyangka Fina sangat ikhlas apapun demi kebahagiaan sang ibu. Tanpa William tahu bahwa di lubuh hati Fina yang paling dalam ia menyimpan kehancuran yang luar biasa.


Pagi itu Fina terdiam sendiri di depan kolam renang. Seakan tak ingin ada satu orang pun yang mengganggu. William menghampiri sembari memeluknya.


"Kenapa disini?" tanya William.


Fina pun menoleh sembari mengusap air matanya yang mengembun.


"Bicaralah apa yang sebenarnya terjadi?" tanya William.


Fina menggelengkan kepalanya.


"Apa ini ada hubungannya dengan rencana om Maxim menikahi ibu?" tanya William.


Fina menggeleng.


"Bicaralah agar aku paham apa yang kamu rasakan" William berkata sembari mengusap kepala Fina dengan lembut.

__ADS_1


"Aku tidak peduli ibu akan menikah dengan siapapun asal dia bahagia. Karena kami dulu tidak sedekat ini. Will, kamu tahu, ibu memberikanku sejuta luka terutama di masa kecilku. Aku terbiasa hidup tanpa ibu jadi dia menikah juga aku tidak peduli. Aku hanya sedang ingat pada ayah saja. Sudah lama akun tidak ke makamnya" ucap Fina.


"Sudah jangan sedih lagi. Besok kita ziarah ke makam ayah mertua" ucap William.


Tak di sangka, Mila mendengar apa yang di utarakan Fina pada William. Rasa bersalah kini hinggap kembali dalam hatinya. Ia sangat menyesal kenapa ia bisa terperdaya oleh bujuk rayu juragan Tarmidji yang mengiming-imingi harta dunia hingga ia dengan sadarnya pergi meninggalkan Mahdi sang suami dan Fina.


Nyatanya dari pernikahannya dengan juragan itu, tidak membawanya hidup bahagia dan bergelimang harta, ia malah terjerumus kedalam jurang hitam, dan Fina lah yang menyelamatkannya.


"Nak!" ucap Mila dengan suara lirih.


"Ibu? Kapan ibu tiba?" tanya Fina berusaha terlihat biasa-biasa saja.


"Baru saja ibu sampai, tuan Maxim menjemput ibu" ucap Mila.


"Bu, sebaiknya terima saja om Maxim. Fina bisa yakin kalau om Maxim itu memang tulus mencintai ibu. Kami sudah bicara dan aku setuju saja jika itu menyangkut kebahagiaan ibu. Lagipula ibu masih muda juga kan" Fina ingin Mila ada yang menjaga dan tidak sendiri lagi.


"Ibu boleh memikirkannya, karena ibu yang akan menikah bukan aku. Semoga ibu selalu bahagia dengan pilihan ibu" Fina lagi-lagi menitikkan air matanya.


Mila tak berkata apapun, ia langsung memeluk Fina, mereka berdua menangis berdua.


"Kamu selalu baik pada ibu, nak. Walau ibu sudah banyak menorehkan luka padamu di masa lalu" ucap Mila sesegukan.


"Seribu kali ibu melakukan kesalahan maka aku akan selalu memaafkan ibu" balas Fina.


...


Ia kemudian sampailah di depan makan bernisan batu yang sangat sederhana. Bukan Fina tak mampu membenahi makan sang ayah dengan keramik atau marmer sekalian, tetapi Fina ingat bahwa Mahdi pernah berwasiat jika ia meninggal, maka makannya tak boleh di tembok.


"Nak, jika ayah meninggal, makam ayah jangan di bagus kan. Cukup batu sebagai pertanda jika jasad ayah ada di bawahnya. bisa jadi berapa belas tahun lagi ada penghuni baru yang akan di makamkan di sini" ucap Mahdi terbata di tengah sakitnya.


Fina mengelap air matanya kala kenangan indah bersama Mahdi sang ayah tersingkap lagi.


"Ayah.. Hikhikhik" Fina akhirnya menangis di pusara sang ayah.


"Maaf yah, Fina baru mengunjungi ayah sekarang. Ayah, Fina tunaikan permintaan ayah untuk memaafkan ibu. Fina rindu ayah" Fina memeluk batu nisan itu.


Di sela-sela tangisnya, Fina bahkan sempat ingat sisa-sisa puzzle tentang bagaimana Mahdi merawatnya seorang diri dalam suasana hati yang remuk redam pasca Mila pergi dan menikah dengan juragan Tarmidzi itu. Saat itu Fina sakit karena terlalu banyak menangis. Ia demam. Mahdi dengan rasa amat khawatir langsung membuatkan bubur untuk Fina tetapi bubur itu gosong dan terasa pahit. Mahdi juga menggendong Fina ke klinik ...


"Ayah.. Hikhikhk' Fina masih menangis di makam Mahdi.


Sebuah rangkulan menghenyakannya.


" Fina, ayahmu pasti bangga punya anak sehebat kamu, nak" ucap Mila.

__ADS_1


"Ibu!" lirihnya.


"mas, lihatlah anak kita sekarang menjadi wanita tangguh. Dia sudah memaafkan ku. Mas, beribu dosa dan kesalahan ku padamu, mas. Maafkan aku" kini Mila yang giliran menangis sembari mencabuti rumput liar di atas pusara sang mantan suami.


"Kamu hebat mas, berhasil mendidik anak kita menjadi sehebat ini. Terimakasih semoga pahala selalu mengalir padamu. Semoga kau di tempatkan di sisi Allah, mas" ucap Mila lirih.


Dadanya terasa sesak, sejak kematian Mahdi, dirinya sudah dua kali mengunjungi makamnya, ini yang ketiga kalinya karena ia yakin Fina membawa kesedihannya ke makam sang ayah.


Hari pun sudah senja, Ketika mereka berdua keluar dari area pemakanan, Fina melihat dua orang yang sudah tua, mereka suami istri yang biasa membersihkan makan.


"Maaf, kakek dan nenek ini penjaga makam disini?" tanya Fina.


"Iya neng! Ada apa ya?" tanya kakek itu.


"Kek, tolong titip makam ayah saya ya. Tolong bersihkan makam yang tanpa tembok itu" tunjuknya pada makam Mahdi.


"Oh yang di dekat pohon kamboja itu?" tunjuk si nenek.


"Benar, nek"


"Kami selalu membersihkan semua makan itu neng tanpa terkecuali. Kami senang melakukan itu" ucap sang nenek.


Fina pun kemudian merogoh uang dari tasnya. Ia memberikan sepuluh lembar uang seratus ribuan pada pasangan itu.


"Ini buat kakek dan nenek. Terima ya sebagai rasa terimakasih saya karena nenek dan kakek sudah merawat makan ayah saya" ucap Fina.


Sang kakek dengan gemetar menerima uang pemberian dari Fina.


"Terimakasih neng, semoga rejeki nya tambah banyak. Kami bisa membeli beras hari ini dan ngasih makan ke dua puluh kucing milik kami" ucap sang kakek.


"Banyak sekali kucingnya kek?" Fina heran apa kakek itu berternak kucing.


"Mereka kucing jalanan, kami pungut karena kami suka binatang itu" sang nenek yang menjawab.


"Dimana rumah kakek dan nenek?" tanya Fina.


"Di gang hompimpa, sebelah gang senggol bacok, neng" jawab sang kakek.


Sudah cukup berbincang, kini Fina dan Mila pun pergi. Di sana sudah ada Maxim yang menjemputnya.


"Lah om tahu dari mana kami di area makam?" tanya Fina heran.


"Tahu dong, kan om ngikutin calon istri dari tadi" jawab Maxim sembari melirik genit pada Mila.

__ADS_1


Mila merasa malu, ia hanya menundukkan wajahnya.


"Ish dasar bucin alias budak cinta" cebik Fina pada Maxim.


__ADS_2