
Malam ini, Fina dan William menghadiri acara anniversary pernikahan rekan bisnis Chandra. Chandra sengaja menyuruh William menghadiri supaya William di kenal oleh rekan bisnis Chandra.
"Benar-benar pasangan yang serasi" puji Else kala melihat William dan Fina.
"Yasudah dad, aku berangkat dulu" mereka berdua pun berangkat.
The Dandelion Hotel And Resto.
William datang dengan menggandeng tangan sang istri memasuki kawasan yang sudah di penuhi orang-orang kelas atas. Tak ada gelas yang terisi sirup marjan atau marimas sachet melainkan berjajar rapi wine-wine dengan harga fantastis.
"Welcome to the dandelion hotel and resto! Sapaan dari para pegawai yang berjaga di sana.
William hanya menganggukkan kepala saja.
Ia dan Fina segera memasuki area itu. William melangkah menuju yang punya party malam ini.
" Selamat tuan. Semoga pernikahan anda dan nyonya selalu di diliputi kebahagiaan!" ucap William ramah.
"Terimakasih. Oh ya, aku baru pertama melihatmu!" ucap sang pria bernama Loise Marta itu. Ia di kenal sebagai naga dalam dunia bisnis.
"Saya mewakili orang tua saya, Chandra Alexander Tanoko. Beliau tidak bisa hadir" jawab William santai.
"Ya ampun, jadi kamu putranya. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya" ucap Loise.
"Karena saya menetap di luar negeri" jawab William.
William dan Fina pun memberi salam ucapan. Tetapi langkah Fina di hentikan oleh istri dan Loise yang bernama Imelda.
"Tunggu!" ucap Imelda.
"Ya, nyonya!" ucap Fina.
"Bisakah aku meminta kontakmu? Aku ingin memasukkan ke grup istri-istri konglomerat" ucap wanita itu.
William pun sedikit mendelik tidak suka, tetapi untuk menjaga wibawa, William mengizinkan Fina memberikan no nya pada Imelda.
Imelda mencatat no Fina, lalu langsung memasukannya ke grup para istri konglomerat.
"Ini grup rahasia kita ya! Para wanita elegan seperti kita harus banyak bertukar informasi mengenai dunia fashion, kuliner dan tempat wisata" ucap Imelda lagi.
Dina hanya tersenyum saja. Ia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
William dan Fina pun untuk pertama kalinya berbaur dengan semua pengusaha. Fina melihat hidangan yang berjejer rapi dan asing dengan makanan itu.
"Makanan apa ini? Apa memang orang kaya seperti ini makannya?" Fina bertanya-tanya salam hati.
Fina tidak tahu bahwa ada beberapa orang yang memandanginya dengan tatapan remeh. Para istri-istri pengusaha dan bangsawan itu sepertinya bisa membaca sorot mata Fina yang menyiratkan kebingungan.
"Lihatlah wanita yang bersama pria tampan itu? Aku tidak melihat bahwa dia wanita yang terlahir dari kaum berada seperti kita" ucap wanita bernama Eliza, istri dari pengusaha berlian.
"Benar! Sorot matanya memancarkan kebingungan dengan kemewahan ini" balas wanita yang bernama Scarlet istri dari pengusaha otomotif.
"Mungkin dia di ambil dari tempat rendah! Dia cantik namun tidak punya value" cibir wanita yang bernama Diona istri dari pengusaha batu bara.
Fina mengerti dengan tatapan remeh ketiga wanita yang menenteng tas hermes ratusan jetong itu, tapi ia tidak mau berburuk sangka.
William pamit ingin ke toilet, tinggallah Fina seorang diri di sana. Ketiga perempuan itu langsung menghampiri Fina.
"Nyonya, apa anda tahu caranya makan hati angsa itu?" tanya Diona.
"Maksud anda?" Fina balik bertanya, sungguh tak mengerti dengan pertanyaan wanita bergaun seksi di hadapannya.
"Makanan orang borjuis harus di makan dengan etika kelas atas" jawab Diona.
"Saya pikir, makanan hanya di kunyah lalu masuk mulut dan berakhir menjadi kotoran. Maaf nyonya, saya tidak memikirkan itu!" Akhirnya Fina tahu arah pembicaraan wanita di hadapannya.
Lalu Scarlet memandang kalung berlian yang Fina kenakan.
"Dia punya kalung edisi terbatas, aku pernah menjumpainya saat ada pameran di Amsterdam" gumamnya.
"Nyonya, sepertinya berlian itu salah di tempatkan di leher anda. Saya takut kulit anda tidak welcome dengan keindahan dari pahatan berharga itu" cibir Scarlet.
"Oh benda ini. Oma saya yang memberikan ini pada saya. Sebenarnya saya tidak butuh-butuh amat, karena manusia bersinar bukan dari seberapa mahal apa yang mereka kenakan, tetapi seberapa baik dan tulusnya ia memiliki hati" balas Fina dengan nada sedikit kesal.
William yang sudah berdiri di belakan Fina, sementara diam, ia ingin tahu reaksi Fina kala di rendahkan orang. William ingin tahu apakah Fina akan melawan atau diam saja. Tetapi di luar dugaan, Fina dengan berani melawan ketiga wanita itu.
"Simpan kata-kata bijak anda! Disini harus pandai menempatkan diri. Saya curiga apakah Cinderella terjadi di dunia nyata, hahaha, dimana pangeran menikahi orang rendahan" kali ini Eliza yang paling bermulut pedas.
"Apakah kalian datang kemari hanya untuk mentertawakan orang lain? Dimana suami-suami kalian? Istri saya adalah wanita yang paling baik, tulus dan tidak pernah memandang jelek orang lain. Kita bahkan tidak kenal, kenapa kalian menempatkan istri saya serendah itu?" William berkata dengan nada murka.
Melihat ada sedikit ketegangan, ketika suami wanita itu menghampirinya.
"Ada apa itu? Kenapa anda menatap istri saya dengan tatapan begitu?" tanya suami Diona.
__ADS_1
"Oh jadi anda suami wanita ini? Kenapa anda sebagai orang terhormat tidak bisa mendidik istri anda dengan baik, sehingga berani mengatai orang lain serendah itu?" tanya William.
"Benar itu?" tanya nya pada Diona.
"Tidak dad, aku tidak bilang apapun" ucap Diona so manja.
"Ckk, wanita rubah!" geram William.
"Dan untuk kedua wanita ini? Apakah anda suaminya?" tanya William pada suami Eliza dan Scarlet.
"Benar!" jawaban keduanya kompak.
"Pria berwibawa seperti anda, tidak cocok menikah dengan orang primitif" ucap William lalu membawa pergi Fina keluar dari gedung itu.
Fina tidak bicara apapun. Jujur ia sedih mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti ini. William pun menyadarinya.
"Baby, kamu baik-baik saja?" tanya William.
Fina hanya mengangguk lemah.
"Sudah jang di pikirkan. Mereka itu lalat hijau" William berkata sembari mengelus kepala Fina.
"Will, aku benar-benar minder. Maafkan aku sudah membuatmu malu" kini Fina menangis.
"Hei, kok jadi menangis? Air matamu mahal. Dengar, aku tak peduli omongan mereka. Aku lebih mengenalmu dari siapapun. Aku bangga padamu sayang" William berkata sembari memandang lembut dan mengusap air mata Fina.
"Terimakasih sayang, sudah menenangkan ku. Will, aku sangat mencintaimu" Fina langsung memeluk William.
"Me to Baby. Kamu lah satu-satunya wanitaku" William lalu meraih wajah Fina lalu mencium bibirnya.
Tak tinggal diam, Fina pun membalas luma tan itu.
Nafas meraka sama-sama memburu. Tak kuasa menahan gairah.
William langsung melepas ciuman itu, lalu ia menyalakan mobilnya menuju ke suatu tempat.
"Sayang, itu bukan arah menuju rumah kita!" ucap Fina heran.
"Memang bukan" jawab William tenang.
"Loh kita mau kemana?" tanya Fina.
__ADS_1
"Hotel! Kita akan bercinta sampai pagi di sana agar tidak ada yang mengganggu" jawab William.