
Chandra sungguh tidak betah berada di rumah. Ia pun memutuskan untuk pergi ke Milan hari ini, walau pekerjaannya seminggu lagi. Oma Linda membuat ia pusing sendiri. Begitupun dengan Else. Rasa hati ingin bermanja-manja dengan sang ibu, pupus lah sudah mengingat bagaimana sifat wanita tua itu.
"Mi, dady berangkat ke Milan nya hari ini saja" ucapnya.
"Loh bukannya jadwal keberangkatan dady, minggu depan, kenapa berangkat sekarang?" tanya Else.
"You know lah, mi" ucapnya sendu.
"Ya dad, mami tahu. Apa sebenarnya maksud mami Linda tiba-tiba kemari? Aku pikir, dia akan bermurah hati pada kita. Tapi sepertinya harapan mami sia-sia saja. Mami Linda bahkan terang-terangan mencela keadaan William dan bicara seenaknya pada Fina" keluhnya.
"Ya sudah mi, dady berangkat dulu ya!" Chandra segera menggeret kopernya. Ketika melewati ruang keluarga, ia melihat oma Linda sedang duduk terdiam sendiri.
"Permisi mi" Chandra segera menyalimi ibu mertuanya.
"Mau kemana kamu, pagi-pagi buta begini, Chandra? Kau sengaja ingin menghindari ku?" tanya oma Rosa.
"Tidak mi. Saya ada pekerjaan" jawab Chandra.
"Bohong!" ucap oma Linda.
"Sungguh mi. Maaf saya harus pergi" ucap Chandra lalu bergegas pergi menggunakan mobilnya.
Di dalam mobil, Chandra bermonolog sendiri. Ia akhirnya bisa terbebas dari ibu mertuanya.
"Selamat, selamat" gumamnya.
Pagi ini, suasa rumah terasa sepi. Else tidak ingin keluar kamar karena masih enggan bertemu ibunya. Fina dan William pun dilarang Else untuk keluar kamar. Bahkan untuk menjemur bayi nya pun Else menyuruh Mila untuk menjemurnya di atas balkon kamar saja.
"Else kemana bik?" tanya oma Linda pada Wati.
"Sepertinya nyonya Else tidak keluar kamar" jawab Wati.
"Yang lainnya?" tanya oma Linda.
"Sama, oma" jawab Wati.
"Mereka tidak mau menemui ku" gumamnya.
Itu makanan untuk siapa?" tanya oma Linda.
"Nyonya Else yang meminta saya mengantarkan ke kamarnya" jawab Wati.
"Biarkan saja yang mengantar makanan ini ke kamarnya" ucap oma Linda.
Oma Linda berjalan menuju kamar Else sembari membawa nampan berisi sepiring makanan.
Oma Linda tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung masuk saja. Terlihat Else sedang menonton kartun.
__ADS_1
"Else" panggil oma Linda.
"Mami!" ucap Else dengan tangan langsung mematikan tv.
"Suamimu pergi, kau mengurung diri di kamar! Apa kau tidak senang, mami menemui mu?" tanya oma Linda.
Else hanya diam.
"Else, mami tahu kau tidak bisu dan tuli" ucap oma Linda lagi.
"Lantas jawaban apa yang mami mau dariku?" tanya Else.
Oma Linda menghirup nafas dalam. Wanita tua itu tahu bahwa Else cukup terluka dengan perkataan dirinya yang kemarin.
"Kau marah soal perkataan mami pada anakmu?" tanya oma Linda.
"Ibu mana yang sudi melihat orang lain mencela keadaan anaknya? Walaupun memang anakku tidak normal" Kini Else menangis.
"Kau anggap mami orang lain?" hati oma Linda lagi-lagi merasa tercubit.
Else yang notabene nya sosok yang pendiam, kini ia siap menumpahkan kekesalannya pada sang ibu yang telah ia pendam selama tiga puluh lima tahun..
"Kalau bukan orang lain, apa namanya? Orang tua? Tidak ada orang tua yang sanggup mengabaikan anaknya selama tiga puluh lima tahun. Dan itu hanya mami seorang. Aku tak tahu kesalahanku dan mas Chandra pada mami sebesar apa, sampai mami menghukum kami selama itu. Sekarang mami datang, begitu tahu anakku memiliki kekurangan, dengan mudahnya mami bilang itu kutukan? Mami bukan saja telah menyakitiku tetapi menyakiti cucu mami yang seumur hidup belum pernah mami lihat sebelumnya" ucap Else sembari terus menangis.
Oma Linda hanya diam saja. Tetapi percayalah dalam hatinya sangat hancur. Ia pun menyeka air matanya.
"Sebenarnya mau apa mami menemui ku? Apa yang mami mau? Apa masih ingin memaksaku bercerai dengan mas Chandra?" tanya Else kembali.
"Else, maafkan mami. Mami terlalu keras padamu tapi sungguh, mami sangat menyayangimu. Mami hanya bingung harus mulai dari mana untuk menemui. Mami menyerah Else, kau yang menang" ucap oma Linda masih tetap menangis dan memeluk Else.
Else hanya diam tak ingin bicara apapun.
"Selama ini mami menderita. Batin mami sakit, mami kesepian dan mami sendiri. Sebenarnya sudah jauh-jauh hari mami ingin menemui mu, tetapi mami tidak berani. Berapa kali, mami datang kemari, tetapi mami urungkan niat itu" ucap oma Linda.
"Lihat mami, Else. Mami ingin di pandang oleh anak mami satu-satunya" Else masih diam.
"Maaf, mami telah banyak sekali menyakitimu dan Chandra" Ucapnya kembali.
Oma Linda pun meraih wajah sang putri. Menghapus air matanya.
"Mungkin mami terlalu dalam melukaimu, Else. Sampai kau tak ingin melihat wajah mami" ucapnya kembali.
Else pun kemudian memandang wajah sang mami yang sudah tiga puluh tahun lebih tidak ia lihat.
"Kau masih sangat cantik seperti dulu" ucapnya sembari menyingkirkan anak rambut pada wajah Else.
Else hanya tersenyum kaku.
__ADS_1
"Apa kau masih butuh restu dariku?" tanya Else.
"Tidak mi. Tanpa restumu pun, pernikahanku dengan mas Chandra masih berjalan sampai sekarang. Maka sangat terlambat mami bicara seperti ini" jawab Else.
"Benar katamu" ucap oma Linda.
Oma Linda kemudian mengambil piring yang sudah terisi nasi dan lauk. Ia kemudian menyendok nasi itu lalu memberikannya pada Else.
"Ayo makan dulu. Mami tahu, kau lapar" ucap oma Linda..
Else langsung tertegun dengan oma Linda, tetapi ia tetap membuka mulutnya.
"Ini kedua kalinya seumur hidup ku menyuapimu, anakku" ucap oma Linda sembari menangis.
"Terimakasih" balas Else.
"Mami akan meminta maaf pada suamimu dan anakmu. Mami telah menyakiti mereka" ucap oma Linda.
Kini Fina berjalan sembari memangku bayinya. Di dapur, ia berpapasan dengan oma Linda. Jujur saja Fina merasa ketakutan pada wanita itu. Oma Linda pun memandang Fina dengan tatapan dalam.
Fina langsung menunduk dan seketika ingin melarikan diri dari wanita yang sudah melukai hatinya.
"Harusnya kau diam jangan banyak bergerak pasca melahirkan" ucap oma Linda.
Fina pun menghentikan langkahnya, diam mematung .
Oma Linda berjalan menghampiri Fina.
"Maafkan perkataanku yang kemarin, ya cucuku. Aku memang keras kalau bicara dan itu semua membuatmu takut padaku" ucapnya kembali.
Hanya hanya mengangguk. Dalam jatinya kenapa wanita tua galak ini tiba-tiba minta maaf padanya.
"Bagaimana, apa.kau mau memaafkanku?" tanya oma Linda.
"Ya oma. Maafkan aku juga sudah berani membentak oma" ucap Fina.
"Itu tidak masalah. Ayo bantu aku bertemu dengan William" ajak Oma Linda.
Fina pun mengajak oma Linda menuju kamarnya.
"Dimana William?" tanya oma Linda.
"Dia sedang berada di galeri lukis dan robot. Masuk saja oma" ucap Fina sembari membuka pintu galeri itu.
Oma Linda pun pergi ke galeri Wilkiam. Di Sana William tampak sedang melukis.
"Bagus juga hasil lukisannya" gumam oma Linda.
__ADS_1
"William" sapa oma Linda.
Mendengar suara oma Linda, William langsung ketakutan. Ia gemetar karena takut jika wanita tua ini akan memarahinya.