
Fina menangis rindu kala dirinya sedang berbicara dengan keluarga Andi di Surabaya.
"Dek, maaf ya Mbak belum sempat menengok bayi dan kamu. Mbak juga sangat bersyukur kamu selamat dari psikopat itu. Dek, Ibu sempat sakit ketika mendengar tentang penyekapan mu waktu itu" ucap Maya.
"Tidak apa-apa mbak. Mbak, sebentar lagi aku dan suami akan ke Surabaya lagi" ucap Fina.
"Alhamdulillah kalau begitu dek. Mbak tunggu kedatanganmu" ucap Maya.
...
Hari ini juga, oma Linda pamit untuk kembali ke Belanda karena dirinya akan mengadakan pameran berliannya. Chandra dan Else pun mengantarkannya ke bandara.
"Hati-hati ya mi" ucap keduanya.
Oma Linda hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Mami kapan ke Jakarta lagi?" tanya Else.
"Mami akan di sana selama tiga bulan. Kau tahu siapa yang menggambar rancangan berlian, mami?" tanya oma Linda.
"Tidak mi" jawab Else.
"Cucuku yang membuat gambar perhiasan yang akan di pamerkan nanti" jawab oma Linda dengan binar bahagia.
"William?" tanya Chandra.
"Iya!" jawab oma Linda.
Else dan Chandra pun langsung terharu.
"Else, Chandra, mami berangkat dulu" oma Linda pun mulai menggeret kopernya.
"Hati-hati mi. Nanti kami menyusul ke Amsterdam" ucap Chandra.
"Mami tunggu" ucap oma Linda.
..
Sementara William mulai bekerja. Ia melakukan zoom meeting bersama seluruh staf perusahaan. Mereka tak sedikit menanyakan kemana saja selama ini pemimpin mereka. William pun bingung harus jawab apa. Ia hanya tersenyum saja.
Setelah satu jam, meeting pun selesai. William menutup laptopnya. Ia tercengang karena Fina sudah duduk di hadapannya sembari membawa segelas hot cokelat dan rainbow cake di tangannya.
"Love, ini untukmu" ucap Fina.
"Terimakasih istriku. Sini duduklah" ucap William sembari menepuk pahanya.
Fina pun duduk di atas pangkuan William. William merasakan bahwa bobot Fina semakin ringan saja.
"Kamu pasti terlalu lelah sampai badanmu kurus, ya! Besok aku akan ke yayasan untuk meminta baby sitter agar kamu tidak terlalu lelah mengurusi Aliyya dan Junior" ucap William.
"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat seleksi nya harus ketat. Aku tidak mau kecolongan lagi" ucap Fina.
"Tidak akan untuk kali ini" ucap William.
Fina dan William pun beranjak keluar dari ruangan kerja itu.
Sayup-sayup mereka mendengar Yudho sedang bertelepon dengan seseorang.
"Bukannya kamu kerja di Bandung, Mela? Kenapa sekarang kau minta kerjaan pada pakde?" tanya Yudho.
"Aku di pecat pakde!" jawab Mela.
"Hah di pecat, kok bisa?" tanya Yudho.
"Aku ora betah" jawabnya.
__ADS_1
"Nanti deh pakde akan carikan kamu kerjaan, tunggu saja" ucapnya.
Sambungan telepon itu oun di tutup oleh Yudho. Fina dan William pun menghampiri dirinya.
"Mang, saya dengar ada yang sedang butuh pekerjaan?" tanya William.
"Benar tuan muda! Sepupu saya dari kampung sedang butuh pekerjaan" jawabnya.
"Apa dia biasa kerja?" tanya William kembali.
"Dia pernah kerja di Taiwan mengurus lansia, tuan" jawab Yudho.
William dan Fina saling pandang. Sesaat kemudian Mereka mengangguk.
"Mang, sebenarnya saya sedang butuh orang untuk menjadi babysitter Junior dan Aliyya. Jika ponakan mang Yudho mau, datang aja kemari" ucap William.
"Benarkah tuan?" Yudho memastikan.
"Benar mang. Untuk gaji, sementara saya akan berikan tujuh juta sebulan, tidak termasuk uang jajan, pulsa dan kebutuhan lainnya" ucap William.
"Baiklah jika begitu Saya akan langsung hubungi Mela sekarang.
William dan Fina pun beranjak dari tempat itu.
Di dalam kamar, William kini memegangi kepalanya. Rasanya pusing sekali.
" Sayang, kenapa?" tanya Fina.
"Kepalaku pusing" jawab William.
Aneh sekali menurut Fina. Tadi tidak kenapa-napa, tapi sekarang William tiba-tiba merasa pusing.
"Minum obat ya!" Fina ingin beranjak tetapi William menahannya.
"Sudah tak apa. Nanti juga sembuh, mendingan kita tudur saja" William oun merebahkan tubuhnya lalu ia langsung bergelung selimut.
William pun langsung menghadap pada sang istri.
"Ayo jujur kamu kenapa, hm?" tanya Fina.
"Maaf sayang. Sebenarnya aku ingin berhubungan, tapi aku takut kau masih trauma padaku. Sudahlah kita tidur saja" ucap William.
Namun Fina tiba-tiba menaiki tubuh William dan berkata.
"Aku sudah tidak trauma lagi. Kita bercinta malam ini" ucap Fina.
William pun segera bangkit lalu mengungkung Fina.
....
Keesokan paginya, Mela sudah sampai di terminal. Eko pun segera menjemput Mela atas suruhan Yudho.
"Mbak Mela?" tanya Eko.
Namun mata Eko terkejut kala Mela memakai baju seksi dan make up tebal.
"Ini mau jadi babysitter apa biduan?" gumamnya
"Benar om. Saya Mela" jawab Mela.
"Saya Eko. Kemari di suruh kang Yudho menjemputmu. Ayo kita langsung berangkat saja" ajak Eko lalu berjalan menuju mobilnya.
Belum sempat sampai, Mela sudah memanggilnya lagi.
"Om, koperku berat! Tolong bawakan" ucap Mela.
__ADS_1
Mau tidak mau Eko pun membawakan kopernya.
"Duh kang Yudho kok ngasih kerjaan sama model beginian. Duh gusti, mana biji semangkanya mentul-mentul begitu" ucap Eko sembari menelan salivanya.
Mela tiba-tiba duduk di samping Eko.
"Om Eko!" manjanya sembari mengusap
"Duh gusti, ini anak kenapa ya kok berani banget" gumam Eko mulai ilfiel.
"Mbak Mela, bisa kan duduknya di belakang saja. Saya kan supir" ucap Eko.
"Disini aja om. Enak lebih adem" jawabnya.
Kini mereka berdua pun sudah sampai di rumah megah milik Chandra.
"Ayo turun!" ucap Eko.
Mela pun turun dari mobil. Seketika ia melongo melihat betapa megahnya rumah Chandra.
"Ini rumah apa istana?" gumamnya.
Kini Yudho langsung menemui Mela.
"Mel, ayo kita langsung menemui tuan muda dan istrinya" ajak Yudho.
Tapi seketika Yudho langsung berhenti melangkah. Ia sangat terganggu kala melihat pakaian yang di kenakan Mela.
"Mel, kok pakai baju kurang bahan toh? Yang sopan toh. Yang punya rumah ini saja tidak ada yang pakai baju terbuka kaya kamu" ucap Yudho memandang tidak suka.
"Ini itu fashion toh pakde" balas Mela.
"Fashion gundulmu" ucap Yudho.
Mau tidak mau, Yudho pun mengantarkan Mela menemui William dan Fina.
Kini Mela sudah ada di depan William dan Fina. Mereka saling pandang kala melihat pakaian yang mela kenakan.
"Mataku sakit melihat wanita ini" ucap William dalam hati.
"Seksi begini, duh aku takut dia menjadi bibit pelakor nantinya. Apalagi wajahnya menor begitu seperti biduan saja" gumam Fina.
"Tuan muda, nona. Ini Mela keponakan saya. Mela kenalkan ini tuan muda William, dan ini istrinya, nona Fina" ucap Yudho.
Mela mengulurkan tangannya pada Fina.
"Saya Mela, nyonya" ucapnya.
Fina pun balas mengulurkan tangannya.
"Saya Fina! Semoga kamu bisa betah bekerja menjaga anak kami" ucap Fina.
Kemudian Mela Berdiri di hadapan William.
"Hai tuan. Nama saya Mela" Tak di sangka Mela langsung cipika cipiki pada William. Hal itu membuat Fina, Yudho dan William sendiri merasa terkejut.
"Ups, maaf tuan" ucapnya malu-malu.
"Apa-apaan ini. Sungguh lancang sekali" William menggerutu dalam hatinya. Apalagi ia melihat wajah Fina yang merah seperti kepiting rebus karena merasa marah.
"Mang Yudho, antarkan dia ke kamarnya. Jam satu Aliyya bangun tidur siangnya. Kamu persiapkan untuk memandikan Aliyya" ucap William berkata namun dirinya tak sudi melihat siapa yang ia perintah.
Di kamarnya, Fina marah-marah. Ia merasa tidak suka jika ada betina yang mencium pipi kiri dan kanan suaminya.
"Sayang, rasanya pengasuh baru itu lancang sekali" ucap Fina.
__ADS_1
"Aku juga terkejut. Aku sampai cuci muka loh. Mang Yudho kok ngasih kerjaan itu pada dia sih? Tapi kita lihat saja bagaimana kinerjanya. Jika sampai ada apa-apa, kita salahkan mang Yudho aja" ucap William.