
Tubuh Mila terasa remuk karena Maxim lagi dan lagi menghujam dirinya. Seakan tidak pernah puas walau Mila sudah mengatakan jika dirinya lelah. Ia tidak menyangka di usia kepala lima, stamina bercinta Maxim sangat luar biasa.
"Mas, aku lelah!" rengek Mila.
"Maaf ya sayang. Aku terus meminta lagi dan lagi. Entah kenapa aku juga tidak bisa berhenti. Kamu terlalu enak untuk di lewatkan" balas Maxim sembari mendekap tubuh polos sang istri.
"Mas, kita tuh sudah tua. Malu" Mila berkata sembari tersenyum.
"Tua itu masalah angka. Lagipula siapa yang akan melarang kita begituan setiap hari? Gak akan sayang" ucap Maxim dengan tangan sudah mengelus kulit punggung Mila.
"Hei tuan, kondisikan tangan nakal anda!" Mila merasakan ada sinyal bahaya lagi.
Maxim langsung tertawa. Ia pun akhirnya membawa Mila ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat ini Maxim telah membawa Mila ke rumah utamanya. Pagi ini Maxim berangkat bekerja, Mila membantu para ART bekerja, walau mereka sudah melarangnya, tetapi Mila tetap kekeh membantu.
Kini Mila sudah berada di kamar Maxim dan Nirmala. Maxim sengaja memilih kamar yang satunya untuk tidur dengan Mila.
Rasa dingin seketika menyeruak kala ia berdiri di ambang pintu.
"Assalamualaikum, nyonya. Saya istrinya mas Maxim. Izinkan saya membersihkan kamar anda" walau tanpa adanya sahutan, tetapi Mila tetap meminta izin pada sang nyonya utama.
Di lapnya meja dan menyapunya. Tak lupa seprai nya di ganti. Mila menatap album poto dan buku diari milik mendiang Nirmala. Ia membuka album poto itu, lalu melihat betapa cantiknya Nirmala sewaktu muda ketika ia berkuliah di harvard. Lalu Mila juga melihat poto Maxim dan Nirmala sewaktu menikah, Mila juga membuka poto ketika Maxim dan Nirmala tengah berlibur di korea, tepatnya di pulau Nami, lokasi syuting drama Korea yang berjudul Winter Sonata.
Ayo Readers ada yang tahu gak judul drakor ini? Kalau ada yang tahu, berarti kita seumuran.....🤣🤣🤣🤣
"Mereka tampak sangat serasi" ucap Mila lalu menutup album poto itu.
Malamnya, Mila sudah menyiapkan makan malam untuk sang suami.
"Silahkan makan baginda.." ucap Mila pada Maxim.
"Ayo makan di pangkuanku"balas Maxim.
Mereka pun makan, Selesai makan, Maxim izin ke kamar Nirmala, karena dirinya sudah satu bulan tidak mengunjungi kamar itu.
" Sayang, aku mau ke kamar Mala dulu, bolehkan?" tanya Maxim meminta izin takut Mila ada rasa tak enak hati.
"Loh mas, kenapa harus izin segala. Silahkan mas" ucap Mila.
Maxim kini sudah berada di dalam kamar mendiang sang istri. Ia terkejut karena kamar itu tampak bersih dan sprei nya sudah di ganti.
__ADS_1
"Siapa yang bersihkan kamar ini?" tanya Maxim dalam hatinya.
"Mala, tak apa kan jika aku sudah menikah dan bahagia bersama istriku yang baru? Mala, aku selalu mendoakan mu agar kau tenang di sisinya. Kamu wanita yang baik dan tak pernah membuat aku kesal. Kamu juga sangat pengertian selama hidupmu. Mala, aku akan segera menunaikan wasiat mu untuk menyumbangkan tabunganmu pada yayasan dan panti asuhan. Semoga harta yang kamu keluarkan menjadi amal dan kebaikan untukmu di sana" Maxim mencium album poto pernikahan itu.
Bohong jika ia tidak menangis. Kenangan selama tiga puluh tahun berumah tangga, sangat membekas di hatinya. Tapi Maxim sadar, hidup harus terus berjalan.
Ia ingat saat Nirmala ikut membantu mengasuh William sewaktu kecil dan Nirmala lah yang sudah menyadarkan Else untuk terus menerima kondisi William kecil yang autis.
Flashback ketika William kecil.
Else menangis tak bisa menerima keadaan William yang tidak normal. Down sekali rasanya putra satu-satunya pewaris tunggal menjadi seperti ini.
Else sempat sakit tetapi Nirmala yang sejatinya seorang dokter anak selalu merawat William.
"Else, tante tahu kamu sedih dan hancur, tapi tolong jangan begini pada Willi" ucap Nirmala.
"Aku tidak mau punya anak autis, tan. Aku malu" ucap Else dengan nada terisak.
"Lantas mau bagaimana lagi, Else. Sabar sayang, kita jangan putus berdoa semoga William kembali normal" Nirmala terus membujuk Else supaya tetap bersabar.
Kemudian suster memberikan William kecil pada Else.
"Nyonya, Anak anda sudah boleh di bawa pulang" ucap sang suster.
"Tidak! Jauhkan anak ini dari saya sus. Dia bukan anak saya, saya tidak punya anak autis" pekik Else sembari menangis.
Nirmala pun menggendong William dengan sayang.
"Jauhkan anak pembawa si*l itu, tante!" ucap Else.
"Kamu tidak menerima Willi, begitu?" Nirmala akhirnya merasa kesal dengan keponakannya.
"Ya! Aku tak sudi punya anak seperti dia. Aku malu" balas Else dengan nada penuh kebencian.
"Baiklah jika begitu. Tante yang akan merawat William. Tante akan adopsi dia. Jangan sampai kamu menyesal, Else" Nirmala emosi.
"Suster Lian, saya akan mengajukan cuti" Nirmala pun pergi membawa William kecil.
Chandra sudah lelah menasihati Else untuk menjemput William dari rumah Maxim, tetapi Else bilang ia tidak peduli.
"Bebal sekali kamu. Dia anak kita satu-satunya Else!" ucap Chandra dengan nada kesal sekali.
"Aku tidak peduli" ucap Else.
__ADS_1
Chandra pun berlalu sembari mengambil kunci mobilnya. Ia ingin menengok William di rumah Maxim.
Sementara di rumah Maxim, William tengah di mandikan dengan penuh cinta oleh Nirmala. Ia yang ingin sekali mempunyai anak, sangat menyayangi William.
"Mas, apa kita adopsi saja Willi. Else kan sudah tak ingin mengakuinya, buktinya sudah dua bulan Willi disini, Else tidak kunjung mengambilnya" ucap Nirmala.
"Jangan gegabah kamu. Aku yakin kalau Else akan menjemput lagi William. Ia hanya syok saja dengan keadaan William. Ia belum bisa menerima ini semua, tapi aku yakin naluri seorang ibu tidak mungkin tega" balas Maxim sembari memberikan handuk pada Nirmala untuk William.
Hingga lima bulan lamanya William berada dalam pengasuhan Nirmala, Else datang menangis dan ingin menjemput lagi William. Ia selama ini merenung, dan ia sadar bahwa perbuatannya menyakiti sang putra.
Walau sedih William harus pulang lagi, tetapi Nirmala ikhlas....
Dua puluh tahun sudah kebahagiaan rumah tangga di renggut kala Nirmala sakit, Ia sudah sering meminta Maxim untuk menikah lagi tetapi Maxim selalu menolak. Nirmala paham bahwa pria punya kebutuhan biologis yang tidak bisa di cegah, Nirmala paham itu. Ia sudah tidak bisa memberikan itu semua pada Maxim. Jika pun Maxim mau, Nirmala masih bisa tetapi Maxim tidak tega melakukannya.
"Mas, menikah lah kembali. Cari wanita yang tulus menyayangimu. Demi Tuhan aku ikhlas" ucap Nirmala sembari menitikkan air mata.
Walau semua wanita sejatinya tidak ingin ada tahta baru di hati suaminya, tetapi Nirmala sadar diri akan kondisinya yang tak mungkin bisa melayani Maxim di atas ranjang dengan sempurna.
"Jangan meminta sesuatu yang tak mungkin aku kabulkan, Mala. Cukup kamu saja dan tak ingin wanita manapun hadir dalam rumah ini" ucap Maxim.
"Aku hanya ingin kamu bahagia mas dan batinmu terpenuhi. Maafkan aku selalu merepotkan mu" Nirmala berkata sembari menangis.
"Aku sudah bahagia denganmu. Sudah dari pada kamu terus menyuruhku untuk menikah, lebih baik kita beristirahat saja" ucap Maxim sembari mendorong kursi roda yang Nirmala duduki.
Hingga detik-detik kematian Nirmala, Maxim selalu menunggunya.
Dengan suara terbata, Nirmala mengatakan sesuatu yang menyayat hati Maxim.
"Mas, Aku sebentar lagi akan menghadap sang pencipta. Aku sudah tak kuat hidup mas. Tugas ku sebagai seorang istri sebentar lagi berakhir. Maafkan aku mas, maafkan segala dosaku mas. Aku selama ini sudah menyusahkan mu selalu. Berbahagialah, Cari lah wanita yang solehah untuk menjadi pendampingmu. Tak ada kata terlambat untuk bersuka cita" ucap Nirmala.
"Sudah jangan bicara ngelantur ya. Kamu akan sembuh" William berkata sembari terus menggenggam tangan Nirmala.
"Tidak mas! Nyatanya malaikat maut sebentar lagi akan menjemput nyawaku. Sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup mas. Aku sudah ikhlas" ucap Nirmala.
Tak lama, nafas Nirmala pun terasa melambat. Ia langsung mengucap syahadat dan meninggal dengan bibir tersenyum.
Flashback off.
..Maxim menghembuskan nafas kasarnya ke udara kala ingatan pada Nirmala hadir kembali. Maxim pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Ia menemui Mila di kamarnya, Mencium keningnya lalu memeluknya.
"Maaf aku lama di sana" ucap Maxim dengan nada lembut.
__ADS_1
"Tak apa mas, aku bisa memahaminya kok. Yasudah kita istirahat saja ya. Selamat malam mas" ucap Mila sembari mematikan lampu tidur kamar itu.
"Selamat malam" Maxim pun tidur sembari memeluk Mila.