
Didalam mobil hanya kebisuan. Dan Maxim tak sanggup untuk tidak memulai sebuah obrolan.
Dua insan yang sudah tidak muda lagi itu, hatinya sedang di hinggapi beribu pertanyaan.
"Dimana rumahmu?" tanya Maxim.
"Saya turun di depan gang saja, tuan!" balas Mila yang sejatinya tak ingin Maxim tau tempat tinggalnya.
"Tidak elok mengantarkan calon istri hanya di depan gang saja" ucap Maxim tersenyum syahdu.
Jangan tanya kan hati Mila ya gaes ya. Ia merasa lebur dengan tingkah konyol pria di sampingnya.
"Tuan, tolong bicara yang benar. Siapa calon istri anda?" Mila semakin takut.
"Siapa lagi kalau bukan dirimu ini!" tunjuk Maxim.
"Tidak, tuan. Jangan saya, saya ini wanita kotor. Silahkan cari wanita yang baik-baik" Mila tak ingin berurusan lagi dengan para lelaki.
"Semua orang pernah kotor pada masanya. Semua orang juga punya masa lalu. Mila, aku sungguh mencintaimu. Aku mencari mu, love. Tapi Tuhan maha baik padaku, tak ku sangka kamu besan dengan keponakanku. Mau ya buka hati untuk pria kesepian seperti diriku ini?" Maxim terus saja menyakinkan Mila.
"Tuan, jangan saya" kini Mila tak kuasa menahan tangisnya. Pria di hadapannya terus saja memaksa.
Greppp!!! Tanpa babibu, Maxim memeluk Mila yang menangis.
"Tetapi gimana dong, saya maunya kamu!" balas Maxim.
Ia meraih wajah Mila, lalu mengusap air matanya.
"Kamu tambah cantik kalau pakai kerudung. Saya semakin sayang padamu" ucapnya lagi.
Menyesal rasanya ia mau di antarkan oleh Maxim. Maxim terus saja membombardir dengan beribu pujian.
"Tuan, kok memaksa?" tanya Mila.
"Saya suka memaksa!" jawab Maxim enteng.
"Dasar aki-aki.. Hihihi.. Tampan sih, tapi dia terlalu memaksa" ucap Mila sembari tertawa dalam hatinya.
Tak terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Mila.
"Ini rumahmu?" tanya Maxim.
"Bukan, tuan. Ini rumah pemberian dari pak Chandra" jawab Mila.
Mila pun hendak keluar dari mobil Maxim.
"Terimakasih tuan telah mengantar saya. Saya pamit!" ucap Mila sembari meraih pintu mobil.
"Eitt, saya ikut masuk kedalam rumahmu" Maxim pun turut keluar dan melenggang mendahului Mila.
"Ya Allah apalagi ini. Ku kira dia akan segera pergi" batin Mila.
"Tuan mau apa?" tanya Mila.
"Mau masuk lah! Mau apalagi?" jawab Maxim dengan percaya dirinya.
"Jangan, tuan. Sebaiknya anda pulang saja" tolak Mila halus.
"Kamu mengusirku, love?" tanya Maxim dengan wajah sedih.
"Duh gimana sih ngusir orang ini. Kepala batu sekali" ucap Mila dalam hati.
__ADS_1
"Orang saya mau masuk kok" ucap Maxim.
"Terserah tuan saja" Mila pun pasrah lalu membuka pintunya.
Maxim pun ikut masuk lalu duduk di kursi ruang tamu.
"Nyaman juga rumahnya. Minimalis sekali" ucapnya.
Rumah berlantai dua itu, bergaya minimalis. Chandra dan Else sengaja membelikan rumah itu agar Mila yang tinggal sendiri merasa nyaman, plus toko yang ada di depannya agar Mila tetap mempunyai penghasilan. Baik sekali bukan besannya itu.
Mila terus saja menyibukan dirinya di dapur walau pekerjaannya sudah beres.
"Mila, saya lapar" ucap Maxim.
"Tuan bisa makan di resto ujung sana" jawab Mila.
"Big no. Saya ingin masakan kamu" ucap Maxim.
"Saya tidak pandai masak, tuan" ucap Mila.
"Apa aja yang kamu masak, saya akan makan!" ucap Maxim.
Mila pun sedikit kesal, tetapi ia akhirnya memasak nasi, membuat sayur capcay dan ayam goreng lengkuas.
Aktifitas Mila, tak lepas dari pantauan Maxim. Maxim, sangat menyukai ping gul Mila ketika ia berjalan.
"Kok jadi keras! Padahal cuma lihat dia berjalan" gumam Maxim sembari memegangi selah pahanya.
"Tuan, ayo silahkan makan" Mila sudah menata nasi beserta lauknya.
Maxim pun langsung berjalan menuju meja makan. Matanya langsung berbinar melihat makanan di hadapannya.
Mila mengambilkan nasi dan lauknya di atas piring untuk di berikan pada Maxim.
"Ini, tuan. Maaf saya masak seadanya yang ada di dalam kulkas saya" ucap Mila.
"Sini duduk!" Makin menyuruh Mila duduk.
"Saya masih ada pekerjaan" tolak Mila.
"Saya tak suka di bantah!" Maxim mulai mendominasi.
Mila pun diam akhirnya. Percuma menolak juga, aki-aki ini akan tetap memaksa.
"Buka mulutmu" Maxim mengambil satu suap.
"Tapi tuan!" Mila tak enak hati.
"Ayo buka!" ucap Maxim.
Mila pun terpaksa membuka mulutnya, lalu Maxim menyuapi dirinya. Tak lama Maxim pun menyuapi dirinya sendiri.
"Tuan itu sendok bekas saya" Mila merasa Maxim lupa bahwa sendok itu bekas dirinya.
"Aku tidak jijik kok. Kita juga pernah bertukar saliva" jawab Maxim enteng.
Seketika wajah Mila berubah menjadi merah bak kepiting rebus. Ia ingat bahwa sewaktu di dalam hotel, Maxim mencumbunya dengan sangat beringas.
Makan pun akhirnya selesai.
"Terimakasih, masakanmu sangat enak. Kamu mau ikut aku pulang ke rumah Chandra, atau di sini dulu?" tanya Maxim.
__ADS_1
"Saya disini dulu, tuan" jawab Mila.
"Yasudah aku pamit pulang dulu ya. Nanti aku kemari lagi menjemputmu!" ucapnya.
"Ekh kok jadi keterusan begini sih!" ucap Mila dalam hatinya.
Maxim pun pamit pulang ke rumah Chandra.
"Sepertinya aku harus menambah hari tinggal ku di rumah Chandra agar lebih mudah mengawasi dia" gumam Maxim.
Malam harinya, Maxim ingin bicara dengan Chandra dan Else. Kebetulan saat ini William dan Fina sudah beristirahat.
"Apa yang ingin om katakan pada ku dan Else?" tanya Chandra.
"Begini, Chand. Bantu om untuk melamar seseorang!" ucap Maxim.
"Apa? Om sudah menemukan wanita pujaan om?" tanya Chandra.
"Ya! Bantu aku ya" ucap Maxim lagi.
"Yasudah kita bantu om. Dimana tempat tinggalnya wanita itu?" tanya Chandra semakin penasaran.
"Disini" jawab Maxim.
"Disini? Maksud om apa?" kini Else yang bertanya.
"Jangan bilang om mau lamar Bik Wati?" tanya Chandra mulai menduga-duga.
"Enak saja. Bukan lah" ucap Maxim.
"Lantas siapa om? Masa aku atau Fina sih yang mau om lamar?" tanya Else mulai tak sabar.
"Ngaco kamu. Bukanlah. Om mau lamar bu Mila. Om sudah jatuh cinta padanya. Selama ini om mencari-cari terus tapi tidak ketemu. Om tak menyangka bahwa dia besan kalian" Maxim menjawab panjang lebar.
"Hah, bu Mila? Om dia itu bekas wanita..." Chandra tidak mampu melanjutkan bicaranya.
"Ya om tahu" ucap Maxim.
"Jangan bilang om pernah..." Else langsung menutup mulutnya tak mampu melanjutkan lagi bicaranya.
"Ya! Om pernah one stand night sama dia" Maxim pun jujur bahwa dia pernah bercinta dengan Mila.
"Ya ampun om. Aku tidak menyangka om suka jajan di luaran. Apa om melakukan itu pasa tante Mala masih hidup?" tanya Chandra memandang kecewa pada Maxim.
Maxim pun menganggukkan kepalanya.
"Om benar-benar jahat pada tante Mala. Om, aku tidak menyangka loh. Pantes waktu om bertemu ibu Mila, dia seperti ketakutan. Ternyata kalian pernah jadi partner di atas ranjang" Else berkata dengan kecewa.
"Om tak sengaja, sungguh! Malam itu ketika om menghadiri acara bersama kolega bisnis om, ada yang ingin menjebak om dengan memasukan obat perang sang di minuman yang om minum. Obat itu pun berpengaruh pada diri om. Om pun tak tega harus melampiaskan pada Nirmala. Untuk itu om tak sengaja bertemu ibu Mila yang sedang menunggu pelanggan. Om ajaklah ke hotel dan kita main di sana. Pad kita sudah selesai main, om demam tinggi. Ibu Mila yang seharusnya pergi, ia malah merawat om dan menyuapi om makan. Disitulah om mulai jatuh cinta pada dia. Percayalah pada om, om tidak pernah tidur dengan wanita manapun di luar pernikahan kecuali dengan ibu Mila. Itu juga terpaksa" Maxim menjelaskan permasalahannya agar kedua keponakannya mengerti.
"Tapi bagaimana apakah ibu Mila mau pada om?" tanya Else.
"Entahlah, sepertinya dia ragu padaku. Tapi aku akan terus mengejarnya kalau bisa memaksanya dan menyeretnya ke kantor KUA" jawab Maxim.
"Dasar tua-tua pemaksa" ucap chandra.
"Bagaimana dengan Fina? Apa dia mau terima om sebagai ayah tirinya?" tanya Else.
"Bantu bujuk Fina ya Else. Demi om Kalian tidak mau kan melihat ku kesepian sampai tua?" ucap Maxim.
"Ya nanti kita coba bicara pada Fina" balas Chandra.
__ADS_1