
Dengan bati dongkol, Yudho menghubungi keluarganya di kampung. Ia menelepon Marwan, adiknya Mela.
"Hallo, pakde. Ada apa?" tanya Marwan.
"Gini, Wan. Pakde boleh tanya sesuatu tentang mbak mu Mela?" tanya Yudho.
"Ya pakde!" jawab Marwan.
"Ceritakan pada pakde waktu Mela pergi ke Taiwan kenapa satu tahun pulang lagi? Kontrak kerjanya kan dua tahun?" tanya Yudho.
"Ceritanya panjang pakde. Intinya Mbak Mela di deportasi dari sana karena kelakuannya" jawab Marwan.
"Kelakuannya bagaimana toh Wan?" Yudho semakin kepo.
"Jadi begini pakde, mbak Mela itu di pecat dan di pulangkan karena ia ketahuan sedang bercinta dengan akongnya, bahkan mbak Mela sampai hamil tetapi pas pulang keguguran. Selang berapa bulan, mbak Mela kerja lagi di bandung mengurus seorang pria yang lumpuh, alih-alih mengurusnya, mbak Mela malah melecehkan pria itu dan ketahuan oleh keluarganya, di usir lah dia lalu pulang. Dan terakhir kerja sama pakde" jawab Marwan.
"Wan, asal kau tahu, disini juga dia bikin gara-gara. Pakde malu wan, pakde malu" ucap Yudho dengan nada yang memburu emosi.
Kemudian Yudho menceritakan apa yang telah di lakukan Mela pada Marwan sang adik.
"Astagfirullah. Mbak Mela kapan kamu berubah baik sih. Pakde, suruh saja dia pulang" ucap Marwan.
"Besok, pakde akan suruh dia pulang saja. Pakde gak mau dia ngelakuin hal di luar batas. Kamu tahu kan Wan, Jika sampai tuan besar tahu, aku akan kena juga getahnya" ucap Yudho.
Panggilan itu pun di akhiri.
Sementara Wati kini sedang berbicara dengan William.
"Apa? Ini tidak nisa di biarkan. Besok aku pastikan jika dia sudah tidak ada di rumah lagi" ucap William murka mengetahui sifat asli Mela.
"Tuan, anak-anak saya ungsikan ke rumah bu Mila" ucap Wati.
"Bagus bik. Besok begitu saya pulang, saya yang akan langsung memecat dia dan saya juga akan mengintrogasi mang Yudho, karena dia lah yang membawa wanita itu ke rumah kami" ucap William berapi-api.
"Baiklah tuan muda" ucap Wati.
Panggilan itu pun di sudahi.
Kini William yang sedang berada di Malaysia merasa gusar.
"Kenapa sayang? Aku lihat wajahmu suram selepas Bik Wati menghubungimu." tanya Fina.
"Subuh kita harus pulang. Aku akan menghubungi Mr Jonas, pilot jet pribadi kita untuk mengantar kita pulang jam empat pagi. Di rumah sedang tidak kondusif. Kamu tahu, babysitter itu ternyata jahat. Dia yang sebenarnya mengambil jam tangan Aliyya dan uang jajannya untuk membayar dept colector. Dan dia juga sudah mencubit Junior sampai lebam" ucap William.
Sontak hal itu membuat Fina ingin segera kembali.
"Aku ingin pulang sekarang. Aku khawatir dengan anak-anak kita. Pantas saja dari kemarin wajah Aliyya di tekuk, ternyata dialah penyebabnya" Fina amatlah geram.
"Tenang, anak kita sudah di bawa ke rumah ibu. Tenang ya. Kita pulang sebentar lagi" William menenangkan Fina.
....
Dengan percaya dirinya, Mela masuk kedalam kamar Fina, Ia melihat kamar yang mewah dan luas. Ia juga membuka kemari baju Fina. Matanya sampai melotot kala melihat koleksi lingerie milik Fina yang biasa dipakai dinas untuk menyenangkan hati William.
"Huuhh bagus-bangus buanget. Aku pakai ini ya cocok banget. Nyonya Fina itu lebih pantasnya pakai daster lusuh' ucapnya.
Mela pun mengambil lingerie warna merah cerah, lalu memakainya.
__ADS_1
Sementara di ruangan laundry, Wati dan Eko sudah memasang kamera kecil yang di taruh di balik vas bunga. Kemudian Eko mengambil ****** ******** yang seharian ia pakai.
"Ih jijik banget sih kang. Bau pesing juga. Kang, kamu pip*s di celana ya?" Wati menahan mual.
"Sengaja sih biar tambah wooooowww begitu. Sudah bik, aku taruh celana ku disini. Ayo kita lihat di rooftop aja" Eko dan Wati lalu meninggalkan ruang laundry.
Wati dan Eko kini mengamati ruang laundry menggunakan kamera yang sudah di simpan tersembunyi.
Waktu yang bersamaan, Mela berjalan menuju ruang laundry ingin menghisap aroma terapi.
"Itu ada ****** ***** tuan William lagi. Hmmmmzzz aroma terapi" ucap Mela berbinar senang, lalu mengambil celana itu.
Mela langsung menciumi dan menghi sap nya dengan sepenuh hati, tetapi ia tiba-tiba merasa mual kala mencium ****** ***** yang sangat bau milik Eko.
"Hueeekkkkkk... Bau banget. Asem a su.. Celana milik siapa ini" Mela langsung melemparkan celana itu dengan kesal.
"Baunya bikin aku tak nafsu makan" gerutunya.
Di rooftop, Eko dan Wati tertawa terpingkal-pingkal melihat Mela yang kesal. Bahkan Wati sampai pip*s di celana.
"Yah kang, Bik Wati pipis" ucapnya.
"Huuh dasar nenek-nenek. Tertawa segitu saja sudah rembes. Remnya sudah blong" ucap Eko sembari tertawa.
"Bagaimana tidak blong. Anak saja sudah tiga" balas Wati.
Mereka pun turun dari rooftop.
Sementara Mela kini sudah masuk kedalam kamar William, ia sengaja ingin tidur di kamar majikannya. Ingin merasakan nyamannya tidur di atas ranjang king size yang empuk.
"Harusnya aku yang tidur di kamar ini dibawah dekapan hangat tangan kekar tuan muda" ucapnya senang.
"Morning love" suara berat William menyapa Mela di pagi hari.
"Morning byy. Akh aku kesiangan, maaf karena aku terlalu lelah di bombardir olehmu semalam byy" balas Mela dengan badan bergelung selimut seperti kepompong.
"Tubuhmu sangat candu, love" balas William.
"Byy, aku ingin tas birkin dan versace koleksi musim semi. Siang ini kamu harus menemaniku shoping" ucap Mela.
"Apapun yang my Queen inginkan, hamba akan lakukan" ucap William.
Fina yang mendengar itu di balik tembok, hanya bisa menangisi nasibnya. Ia tak menyangka Mela akan menggantikan posisinya sebagai nyonya William.
"Byy,, aku takut wanita itu menyerang ku seperti kemarin karena dia cemburu melihatku di belikan mobil Mercedes keluaran terbaru olehmu" Mela mulai mempengaruhi William.
"Jika cicak itu mengganggumu lagi, maka aku akan menghajarnya habis-habisan. Kamu jangan pernah takut ya love. Kamu itu sekarang menjadi my world and my life." ucap William.
Lamunan itu Mela sudahi. Ia sampai senyam-senyum sendiri membayangkannya.
"Enak juga jadi istri tuan muda. Tinggal kasih selang kangan, semua yang ku mau di turuti" ucapnya berbunga-bunga.
Mela pun akhirnya tertidur di ranjang empuk itu.
Pagi menyingsing, semburat sinar mentari menembus tirai-tirai kamar. Mela masih bergelung dengan selimutnya tanpa tahu jam berapa saat ini.
William dan Fina sudah datang, di susul oleh Else dan Chandra. Sebelumnya William sudah memberi tahukan semua kejahatan Mela. Chandra dan Else pun geram dan mereka pun pulang karena ingin mengusir Mela.
__ADS_1
"Dimana dia?" tanya Chandra dengan suara menggema.
"Di kamarnya tidak ada, tuan!" jawab Wati.
"Cari sampai dapat!" ucap Chandra.
Semua kamar sudah di cek, Mela oun tak di temukan. Hanya kamar William yang belum.
"Ayo kita cek di kamarku saja" ucap William.
Yudho saat itu sudah merasa malu. Wajahnya merah padam menahan amarah pada sang keponakan.
"Rasanya aku seperti di telanjang. Duh gusti, aku malu sekali pada majikanku" ucap Yudho.
William membuka kamarnya, dan benar, Mela saat ini tengah tertidur pulas dengan memakai lingerie milik Fina.
"Baju dinasku dipakai" geram Fina.
William berjalan menghampiri Mela.
"BANGUN KAU" teriak William.
Mela pun seketika langsung bangun karena suara geram William.
"Tuan muda!" ucapnya lirih.
"Kenapa kau lancang tidur di kamarku dan memakai baju istriku?" tanya William dengan kilatan amarah.
"Maaf tuan, aku tidak sadar telah tidur dan memakai pakaian nyonya Fina. Sungguh aku tak sadar tuan" ucap Mela bernada manja.
"Lantas kau di giring setan ke kamarku dan setan juga yang memakaikan baju istriku? Dasar wanita tak berakhlak. Keluar sekarang dari kamarku. Bereskan bajumu, dan keluar dari sini. Kau juga sudah mencuri jam tangan dan uang anakku. Pencuri kau" bentak William.
"Tuan, kau jangan galak-galak padaku" Mela langsung memeluk tangan William dan menggesekkan gunung kembarnya pada William.
"Singkirkan tangan kotor mu dari suamiku" bentak Fina
"Pergi dari sini sekarang kau di pecat" bentak Chandra.
"Maafkan saya tuan. Saya akan berubah lebih baik. Berilah kesempatan tuan" Mela memelas.
"Tidak. Pergi sekarang, atau kau akan ku masukan ke penjara" ancam Chandra.
Yudho pun langsung menghampiri Mela.
"Pulanglah Mela. Kamu sudah membuat pakde malu" ucap Yudho.
"Jadi ini keponakanmu, mang? Kamu yang bawa dia kemari? Apa kamu tidak tahu bagaimana kelakuannya dikampung? Mang, kamu sungguh ceroboh. Apa perlu saya memecat mu juga?" tanya Chandra.
Seketika Yudho memucat.
"Jangan tuan. Saya sudah belasan tahun kerja disini. Saya sudah nyaman dengan keluarga tuan. Tuan sudah begitu baik pada saya. Tuan sudah menguliahkan anak-anak saya sehingga mereka sudah punya pekerjaan yang mapan. Tolong tuan ini di luar kendali saya. Saya juga tak tahu jika Mela punya sifat seperti itu" Yudho memohon.
"Baiklah mang, saya tidak akan memecat mu, tapi bawa dia keluar dari rumah ini" ucap Chandra.
Mela pun akhirnya keluar dari rumah itu.
"Ayo kita jemput Aliyya dan Junior" ajak William pada Fina.
__ADS_1
Fina pun hanya menurut saja.