
Terimakasih untuk para readers yang sudah memberikan bintang penuh pada karya Author ini. Tolong jangan memberikan bintang jelek, karena jujur saja itu pengaruh pada pendapatan Author yang gak seberapa. Aku menulis novel ini murni ide, gagasan pemikiran sendiri. Tidak menjiplak karya manapun.
Jika ada yang bicara bahwa novelku sama kaya cerita di serial ikan terbang indosiram, aku tidak keberatan, tetapi tolong jangan memberikan bintang buruk. Menulis itu tidak mudah besti, apalagi mencari ide bab apa lagi yang harus di tulis.
Dan terimakasih banyak untuk para reader yang sudah like, komen, subscribe, dan memberiku hadiah, semoga kalian selalu bahagia dunia akhirat. Happy reading ya untuk kalian. Salam cinta dari Author Yulianti Oktana....😍😍😍
Malam ini, Mila sengaja menggelar kasur di depan tv karena ia ingin tidur ramai-ramai. Si bayi Junior sudah terlebih terlelap, sementara Aliyya sudah mulai memejamkan matanya.
Mila dan Fina menonton siaran sinema bertemakan penghianatan seorang suami pada istrinya.
"Mas, Burhan kenapa kau jahat sekali padaku, mas. Kurangnya apa aku selama ini?" ucap pelakon wanita sembari meronta.
"Karena diriku sudah tidak mencintai dirimu, Lilu. Anu mu sudah kendor, jauh lebih mengigit punya Salima. Aku tak mau hidup bersama wanita kendor" ucap pelakon pria dengan wajah garang.
"Bukan anuku yang kendor, tetapi burungmu sebesar jari kelingking" balas pelakon wanita.
Hal itu membuat Fina dan Mila tertawa terpingkal-pingkal dengan sinema yang ada di tv itu.
Seseorang mengetuk pintu dari luar, Hal ini membuat Mila akan beranjak membukanya. Tetapi dengan sigap Fina yang pergi.
"Biar aku saja yang bukakan pintunya bu" ucap Fina sembari melangkahkan kakinya ke depan.
Fina pun membuka pintu, saat melihat siapa yang datang, Fina pun terpaku.
"Will, sama siapa kemari?" tanya Fina.
"Sendiri aku kemari. Sayang ayo pulang, aku tak mau tidur sendiri" ucap suara bariton William.
"Will, kamu?" Fina menyadari bahwa William sudah normal kembali.
Fina pun menangis sembari memeluk William.
"Will, kamu sembuh. Hikhikhik.. Sayang, aku bahagia sekali" Fina langsung memeluk William.
William lalu mengangkat tubuh Fina seperti seekor koala menggendong anaknya.
"Sayang, kau sangat cantik sekali. Aku sangat merindukanmu" ucapnya.
Fina bergelayut manja pada leher kokoh William.
"Akun Juga sangat merindukanmu, suamimu" jawab Fina.
William pun langsung melum at bibir Fina, dan Fina pun membalasnya tak kalah rakus.
Sesudah pagutan itu terlepas, William segera menurunkan Fina.
"Ayo masuk!" ajak Fina bahagia.
Mereka berdua pun masuk kerumah, terlihat Mila sedang menepuk-nepuk punggung Aliyya.
__ADS_1
"Selamat malam bu" sapa William.
"Eh nak Willi. Sama siapa kemari nak?" tanya Mila.
"Aku kemari sendiri bu" jawab William.
"Fina?" Mila bertanya pada Fina.
"William sembuh bu!" jawab Fina bahagia.
"Benarkah itu?" tanya Mila sembari menutup mulutnya.
"Benar bu" jawab Fina.
"Alhamdulillah puji syukur, Ya Allah. Kau telah menyembuhkan menantuku" ucap Mila terharu.
"Bu, apa bisa aku membawa istri dan anakku pulang sekarang?" tanya William.
"Hmmmm, bagaimana jika nak Willi menginap saja malam ini di sini. Aliyya akan tidur bersama ibu. Junior akan ibu siapkan bok bayi. Lagipula ini sudah malam nak, besok saja pulangnya" Mila mencoba mengusulkan agar Fina tidak pulang. Jujur ia masih kasihan bila Fina harus tersiksa lagi oleh Willam.
"Ya sudah tak apa bu. Aku masukan dulu mobilki ke garasi" ucap William lalu melangkah menuju depan rumah untuk memarkirkan mobilnya di garasi rumah Mila.
.
Sementara di jalanan tempat Mila biasa mangkal sewaktu menjadi wanita malam, Seorang pria paruh baya bernama Maxin Widjaya berdiri menerawang tempat itu mencari Mila. Ia pun kemudian bertanya pada seorang wanita malam yang sedang mangkal di bawah pohon kersen.
"Maaf nona, saya ingin bertanya, pela cur yang suka mangkal di sini yang sudah agak berumur sekarang dimana?" tanya Maxin.
"Duh saya tak tahu namanya. Yang rambutnya sedikit ikal" ucap Maxin menjelaskan.
"Itu mbak Mila om. Pela cur senior disini. Tapi entah sudah satu bulan dia tidak kemari. Memangnya ada apa om?" tanya wanita itu.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin bertemu saja" jawab Maxin.
"Om kalau mau pake, pake saja saya om. Harga sama kok dan lebih memuaskan tentunya. Posisi bebas om asal bayar nya sesuai saja" ucap wanita itu.
"Tidak, tidak. Maaf sekali lagi" Maxin pun langsung berlari meninggalkan perempuan itu.
Maxim pun masuk kembali kedalam mobilnya. Semenjak pertemuan itu, ia langsung jatuh cinta pada Mila.
Flashback dua bulan yang lalu.
"Arghhhhh sia lan, ternyata mereka menjebak ku. Badanku serasa menggelitik dan panas sekali. Jika aku melampiaskan pada Nirmala istriku itu sangat tidak mungkin karena di stroke" ucap Maxin putus asa.
Maxin pun mengemudikan mobilnya melewati tempat lokalisasi.
"Apa aku pakai jasa wanita malam saja, ya?" tanyanya dalam hati.
Sesaat kemudian ia menggeleng karena ia tidak mau menyakiti hati sang istri, apalagi ia sedang sakit.
__ADS_1
Tetapi berontakan dalam dirinya yang ingin segera pelepasan membuat ia sudah tidak kuat lagi. Maxim pun menepikan mobilnya di samping Mila.
"Bisa layani aku?" tanya Maxim.
"Tuan mau pake saya?" tanya Mila ragu-ragu karena melihat Maxim memakai pakaian jas dan mobil mewah.
"Ya! Cepat ikut aku" ucapnya.
Maxim pun membawa Mila kesebuah hotel bintang lima.
"Seumur aku mela cur, baru kali ini aku di bawa ke hotel mewah.
Tibalah di kamar hotel pesanan Maxim.
Maxim langsung mencumbui Mila dengan rakusnya. Lalu penyatuan itu terjadi hingga setengah jam lamanya.
Maxim pun ambruk di samping tubuh Mila dengan terengah. Lalu tak lama Maxim bangkit mengambil segepok uang berwarna merah dan langsung di berikan pada Mila.
"Tubuhmu sangat nikmat. Ambilah ini sebagai bayaranmu" ucap Maxim lali kembali lagi berbaring dengan tubuh masih tidak berbusana.
Saat hendak pergi, Mila tak sengaja menyenggol tubuh Maxim. Ia merasakan Maxim sangat panas tubuhnya.
"Ya Ampun anda demam, tuan!" Mila segera membantu memakaikan bathrobes pada Maxim.
Dengan cekatan Mila mengompres kening pria paruh baya itu.
"Tuan sudah makan?" tanya Mila.
Niat hati ingin pulang, Mila malah mengurus Maxim yang sakit sehabis bercinta.
Mak
Maxim hanya menggelengkan kepalanya. Mila pun menghubungi petugas hotel untuk memesan makanan.
Lima belas menit kemudian, seorang housekeeping mengantarkan makanan untuk Mila dan Maxim.
"Tuan, makan dulu buburnya" Mila memberikan satu suapan bubur pada Maxim.
Sesudah habis satu mangkuk, Mila segera makan lalu meninggalkan hotel itu kala Maxim sedang tertidur......
....
Keesokan paginya, Fina pulang bersama William dan kedua anaknya.
"Sayang, Minggu depan kita ke berangkat ke Surabaya. Perusahaan sudah lama aki tinggalkan" ucap William dengan tangan mengemudi.
"Aku takut hal buruk akan terjadi lagi, sayang" Fina berkata dengan lirih.
Masih jelas di ingatan Fina bagaimana keberingasan Lidya yang berkamuflase menjadi asisten pribadi William.
__ADS_1
"Mudah-mudahan kita tidak akan mengalami hal itu lagi. Dady sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk membantuku di perusahaan Surabaya.
" Baiklah jika begitu. Lagipula aku sudah rindu dengan keluarga pak Andi" ucap Fina.