Di Nodai Pria Autis

Di Nodai Pria Autis
Drama Oma Linda


__ADS_3


Visual Oma Linda.......


Oma Linda melotot kala melihat sosok sang cucu yang berjalan memakai celana doraemon dengan bedak tebal pada wajahnya.


"Ini cucuku?" tanya memandang seolah tidak mungkin ia mempunyai keturunan yang tidak normal.


"Iya, mi. Ini William anak kami, dan itu istrinya dan anaknya" jawab Chandra.


"Else, coba kau berkaca diri. Mami yakin ketidak normal an anakmu adalah buah dari sikap membangkang mu. Jika saja kau tidak menikah dengan dia, pasti kau sudah menikah dengan raja Charles" ucapnya seolah tampa beban.


Seketika hati Else bergejolak murka kala sang anak yang selalu dia manja-manja dan kasihi, di cemooh oleh sang ibu yang notabene nya orang baru.


"Chandra, apa gen leluhur mu ada yang autis, karena jujurly semua keturunanku tidak ada yang begini" ucap oma Linda lagi.


Panas sekali rasanya hati Chandra di fitnah seperti itu oleh mertuanya.


"Dia anakku. Apapun keadaannya tetap akan jadi anakku. Aku tanya padamu, untuk apa mami kemari, setelah puluhan tahun tak menganggap aku anak? Apa ini tujuan mami kemari? Asal mami tahu, William tidak terlahir autis. Dia lahir normal, kecelakaan yang membuat dia seperti ini" Kini Else menangis. Pertahannya runtuh kala sang putra yang di lukai.


"Kau tidak senang mami kemari?" tanya oma Linda.


Else tidak menjawab. Ia malah merangkul William.


"Anak autis ini sumber kekuatanku dengan suamiku kala dunia menjauhi kami, kala seorang ibu tega mengusir anaknya ketika anak satu-satunya sedang hamil besar hanya karena tidak memberi restu hidup bersama pria yang di cintainya. ini yang menjadi ladang rejeki dan pahala untuk kami sampai kami punya segalanya" ucap Else lagi sembari menangis.


Fina dan Mila melihat itu hanya bisa menitikkan air mata.


Oma Linda terdiam, ia seakan tertampar oleh ucapan Else.


"Aku pikir, mami kemari untuk memperbaiki hubungan kita yang sempat terputus, ternyata mami datang hanya untuk memantik kembali api pertengkaran. Mami lihat, hidupku dan mas Chandra tidak sama sekali kekurangan? Lantas apa yang mami takutkan?" tanya Else kembali.


"Else, dengar. Mami hanya ingin yang terbaik untukmu" jawab oma Linda.


"Yang terbaik seperti apa yang mami inginkan? Selama aku menikah dengan mas Chandra tak sekalipun ia memarahiku apalagi KDRT padaku, bahkan membentak pun tidak pernah" ucap Else.


"Will, ini oma Linda. Nenekmu. Ayo salim" kini Else berkata lembut pada William.

__ADS_1


William mengulurkan tangannya dan oma Linda pun ragu-ragu menyambutnya.


"Willi tidak akan memakan mu, mi. Jika tidak mau jangan paksakan tanganmu menyentuh anakku" Kini Chandra yang bicara dengan nada kesal.


Oma Linda pun mengulurkan tangannya untuk membalas salam William.


"William" ucapnya.


Halus dan lembut tentu juga hangat, kala oma Linda bersalaman dengan William. Hatinya tersentuh tetapi lagi-lagi egonya yang maha tinggi mengalahkan nuraninya.


"Dan ini istrinya bernama Fina, itu anaknya yang bernama Aliyya, bayi itu anak kedua William yang baru lahir tiga hari belum kami beri nama. Dan itu ibu Mila, besan kami" ucap Chandra memperkenalkan satu persatu.


"Istri? Anak?" tanyanya dalam hati.


Fina dan Aliyya berjalan ke arah oma Linda. Fina hendak menyalami oma Linda tetapi sepertinya wanita tua enggan menerima uluran dari tangan Fina.


"Gadis milenial, demi hidup mewah kau mau menikah dengan pria autis" ucapnya keras tepat di hadapan wajah Fina sampai Fina rasanya seakan di tampar.


"Hallo oma. Saya Fina, istri William. Sepertinya oma tidak akan tahu cerita kehidupan seseorang seperti apa, tetapi oma dengan mudahnya bicara seperti itu. Lidah memang tidak bertulang, tapi setidaknya punya filter" ucap Fina yang membuat semua orang tercengang.


"Berani sekali kamu" ucap oma Linda.


"Manusia harus punya keberanian oma" balas Fina.


William kemudian menghampiri Fina, ia tahu Fina tengah kesakitan akibat lama berdiri.


"Istriku, ayo kita istirahat. Aku tahu pasti sakit sekali kan berdiri? Ayo kita tinggalkan nenek ini" ucap William lalu memapah Fina.


Aliyya secara spontan menghampiri oma Linda, lalu bocah kecil ini memberikan segelas air putih.


"Oma, minumlah, pasti oma haus kan?" tanya gadis kecil itu sembari memberikan segelas air putih.


"Terimakasih" ucapnya lalu meminum air itu hingga tandas.


"Sebaiknya mami istirahat dahulu. Makan siang biar Bik Wati yang mengantarkan ke kamar. Maaf kami tidak menyambut mu dengan baik" ucap Chandra.


Oma Linda pun berlalu menuju kamar yang telah di persiapkan untuknya.

__ADS_1


Di dalam kamar ia memikirkan lagi apa yang barusan terjadi.


"Bukan ini yang aku harapkan ketika datang kemari" keluhnya.


"Else, mami hanya terkejut saja dengan semua ini. Mami tidak bermaksud menyakitimu" ucapnya dalam hati.


Sementara Fina, kini dirinya sedang menangis. Ia tidak habis pikir kenapa seseorang yang tidak dirinya kenal bisa berbicara searogan itu.


"Sudah nak, jangan di masukan kedalam hati omongan oma Linda itu. Dia tidak tahu kepahitan apa yang di alami mu selama mengenal William. Dengarkanlah mami, dady, ibu dan suamimu saja" ucap Mila sembari memeluk Fina.


"Aku hanya sedih saja bu dengan perkataan dia. Asal ibu tahu, semenjak aku menikah dengan William, aku tidak pernah sekalipun meminta uang atau barang-barang berharga padanya. Aku hanya ingin melihat Aliyya bahagia saja dan memiliki sosok ayah. Itu saja" ucap Fina lagi.


Tak disangka perkataan Fina di dengar oleh oma Linda yang sengaja keluar kamar untuk melihat sekeliling rumah Else.


"Sudah jangan di dengarkan. Fokus saja untuk kesembuhan dan bayimu. Kamu baru tiga hari melahirkan, jahitan masih basah. Jika banyak pikiran, ibu takut akan berdampak pada kesembuhanmu. Dan ingat ibu menyusui jangan sampai banyak pikiran juga, nanti berdampak pada keluarnya ASI" ucap Mila menenangkan.


"Yasudah bu jika begitu" balas Fina.


Di dapur, oma Linda membuat semacam ramuan untuk wanita pasca melahirkan. Ia meracik jahe, kunyit dan akar alang-alang agar Fina merasa segar.


"Bik, berikan minuman ini untuk istri William" perintah oma Linda.


Seketika Wati merasakan khawatir akan minuman ini, dan hal itu terbaca oleh oma Linda.


"Jangan khawatir itu tidak beracun. Aku bukan pembunuh" ucap wanita tua itu.


Wati pun segera menuju ke kamar Fina.


Sesampainya ia langsung memberikan segelas ramuan semacam jamu itu kepada Fina.


"Ini minuman apa, bik?" tanya Fina.


"Entahlah sus. Bik Wati juga tidak tahu" jawab Wati.


"Ya Sudahlah bik, aku minum saja. Aku percaya kok, oma Linda tak akan membunuhku" ucap Fina sembari menenggak segelas minuman itu.


Oma Linda yang mendengar di balik tembok, dirinya hanya tersenyum sekilas

__ADS_1


__ADS_2