
Kini Mela sudah di perkenalkan dengan Aliyya dan baby Junior.
"Aliyya, ayo kita mandi dulu" ajak Mela.
Di kamar mandi. Aliyya di suruh mandi sendiri oleh Mela.
"Sus, tolong sabunin punggung Liyya" ucap Aliyya namun Mela malah melotot.
"Sabunin aja sendiri" ucapnya ketus.
"Loh kok suster begitu?" tanya Aliyya heran.
"Kamu itu harus belajar mandi sendiri, Aliyya. Jangan manja" ucap Mela.
"Kalau begitu, keluar saja sana dari sini" bocah itu kesal.
"Eh kau berani ya sama orang yang lebih tua" Mela rasanya ingin menjewer telinga Aliyya namun ia mengurungkan niatnya.
"Awas jangan ngadu!" ancam Mela.
"Dasar suster nenek sihir" ucap Aliyya dalam hatinya.
Aliyya dan Mela pun keluar dari kamar mandi. Mela pun berakting seakan dirinyalah yang memandikan Aliyya.
"Ayo di baju dulu" ucap Mela ramah di depan Fina.
Aliyya hanya cemberut saja, namun menuruti untuk memakai baju.
"Liyya kok seperti sedang kesal" gerutu Fina.
Malamnya, mereka semua sedang makan malam. Para pegawai rumah itu makannya di meja makan khusus pegawai di area dapur. Kini Wati merasa tidak suka kala melihat Mela memakai baju tidur tipis membuat dua asetnya terlihat. Wati merasa bahwa Mela sosok wanita nakal dan murahan.
"Mbak, apa kamu tidak dingin memakai banu tipis seperti itu?" tanya Wati.
"Tidak, bik. Sudah biasa kok" jawab Mela.
"Mela, tolong berpakaiannya jangan terlalu terbuka. Harus sopan santun jangan bikin pakde malu, nduk" ucap Yudho sembari mengunyah potongan sup ikan patin.
"Pakde tenang saja" balas Mela.
Telpon pantry berbunyi, Fina menelepon. Hal itu langsung di angkat oleh Wati.
"Hallo, nona" sapa Wati.
"Bik, tolong berikan telponnya pada suster Mela" perintah Fina.
"Baiklah. Mbak Mela, ini nona Fina ingin bicara" ucap Bik Wati.
Mela pun mengambil telepon itu.
"Hallo nyonya. Ini saya, Mela" ucap Mela.
"Kamu bisa ke atas bawakan botol susu yang sudah di bersihkan. Minta pada Bik Wati" ucap Fina.
"Baiklah nyonya. Saya kesana" ucap Mela.
Rasa ingin bersantai di kamar selepas makan malam pun harus tertunda karena Fina menyuruhnya untuk membawa botol susu ke kamar Fina.
__ADS_1
"Huuh dasar menyebalkan. Nyonya kok tampangnya seperti orang kere. Yang pantas menjadi nyonya rumah ini itu aku" gerutu Mela.
Mela pun mengetuk pintu kamar William.
William segera keluar, Melihat William hanya bertelanjang dada, membuat desiran hebat pada tubuh Mela. Intinya sampai tidak berhenti berdenyut.
"Badannya sangat kekar. Melihatnya saja apem ku langsung basah begini" ucap Mela dalam hatinya.
"Mana botol susunya?" tanya William.
"Ini, tuan" Mela memberikan botol susu itu.
"Terimakasih. Kamu boleh pergi" ucap William yang tak ingin berlama-lama dekat dengan Mela.
"Matanya seperti rubah kala melihatku bertelanjang dada begini" gumamnya.
Semua orang sudah masuk kamar masing-masing, Mela saat itu berjalan menuju kamarnya. Ia pun lewat tempat laundry. Terdapat baju-baju kotor di sana.
Fina yang tak membiarkan pakaian dalam dirinya dan William di cuci oleh Wati, kali ini ia lupa menaruh pakaian dalam sang suami di ruang laundry. Mela mendekat dan menemukan pakaian dalam bekas William.
Mela meraihnya lalu mencium ****** ***** itu. Ia hisap aromanya dengan perlahan.
"Semriwing sekali. Wangi buah Cherry. Aku candu dengan celana bekas tuan William. Aku sangat menyukai aromanya" gumam Mela.
Kebayang gak sih celana bekas pakai seharian, lalu di hisap begitu. Sensasinya bikin pedih dimata. Ditambah pinggirannya ada daki-daki manja yang berkerumun dengan rapihnya seakan menantang dunia.
"Mbak Mela ngapain?" tiba-tiba Wati berdiri di samping Mela.
Mela pun dengan spontan melemparkan ****** ***** William. Dengan wajah malu, Mela mencoba membuat alasan agar Wati tidak curiga bahwa dirinya sedang menghirup wangi buah cherry.
"Hmmm, anu bik, saya sedang mencari cincin saya yang hilang disini" jawabnya.
"Tidak, bik. Siapa juga yang cium bau sempax. Tadi saya kira cincin nya jatuh di atas sempax tuan muda. Tapi ini sudah ketemu" Mela pun segera meninggalkan Wati yang menatapnya dengan curiga.
"Benar-benar aneh. Aku tidak mungkin salah lihat kok, dia sedang menghisap dan sesekali menji lati ****** ***** tuan muda" gumam Wati.
Pagi harinya, Mela mengantar Aliyya ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, Aliyya pun masuk kedalam kelas.
Mela menunggunya dengan santai di ruang tunggu wali murid.
Ketika ia sedang bermain ponsel, Seseorang menepuk bahunya. Mela sangat syok kala debt colector tahu keberadannya.
"Ini dia! Bayar hutang loe, dasar lont€" Teriak debt colector itu membuat orang-orang yang sedang menunggu anaknya seketika melirik kearah Mela.
"Sialan kalian. Nagih lihat-lihat situasi dong sia*an. Nanti aku bayar kok. Pergi sana jangan bikin aku malu" ucap Mela.
"Enak saja loe bilang. Jauh-jauh kita susulin loe dari Tegal kemari, gua gak mau pulang dengan tangan hampa" ucap debt colector itu semakin keras.
"Hei kalian, berisik ******. Pergi dari ini. Suara kalian itu seperti knalpot traktor sawah" teriak seorang ibu-ibu.
"Jangan ikut campur loe tompel" balas dept colector itu pada ibu-ibu yang wajahnya ada sedikit tompel.
"Beraninya loe. Hei ibu-ibu, kita serang aja di botak itu" seru ibu-ibu pada sesama orang yang menunggu anaknya yang sedang belajar.
Ibu-ibu itupun menyerang debt colector itu dengan sandal dan memukulinya, mencubitnya bahkan menendang biji lato-latonya sampai debt colector itu kesakitan.
__ADS_1
"Awas ya loe pada. Dan loe Mela, kali ini loe selamat. Tapi jangan harap besok loe beruntung" teriak dept colector itu dengan wajah murka.
"Selamat-selamat" gumamnya.
"Terimakasih semuanya sudah membantu saya" ucap Mela.
"Kita gak bantu kamu. Cuma berisik saja, itu akan ganggu pelajaran anak kita" ucap ibu tadi.
Mela pun hanya mencebikan bibirnya.
Aliyya pun pulang, di lorong kelas, Ia berjalan beriringan dengan Mela.
"Liyya, berapa di kasih uang jajan oleh bunda?" tanya Mela.
"Dua ratus ribu, sus" jawab Aliyya.
"Besar sekali uang jajan Aliyya" gumamnya.
Ia tak tahu bahwa debt colector masih menunggunya di area sekolah.
Grepp!!!!! Tangan Mela langsung di tangkap oleh debt colector itu.
"Bayar hutang loe sekarang!" tegas dept colector itu.
"Gak ada!" jawab Mela.
"Gua gak mau tahu. Mana uangnya!" teriak dept colector lagi.
Aliyya melihat situasi ini sangat bingung.
Lalu Mela membisikan sesuatu pada dept colector itu.
"Bang, boleh ya bayarnya pakai ************ aja!" rayunya.
"Loe pikir, kita cowok apaan. Gue gak demen ************ burik loe. Bayar sekarang atau loe gue bawa ke markas" ancam debt colector lagi.
Mela pun sangat takut. Kemudian ia melirik Aliyya. Lalu Mela merogoh saku seragam Aliyya.
"Suster mau apa?" kini Aliyya merasa tak terima dengan apa yang dilakukan Mela.
"Suster pinjam dulu uang mu" ucapnya lalu memberikan uang itu pada dept colector itu.
"Jangan sus, itu uang jajan aku" ucap Aliyya tak suka.
Dept colector itu menghitung uang rampasan itu.
"Hah, dua ratus ribu cukup buat apa. Kurang!" bentaknya lagi.
Kemudian, Mela melirik ke jam tangan milik Aliyya. Jam tangan itu pemberian dari oma Linda yang dibeli dari inggris.
"Suster pinjam jam tangan kamu!" ucaonya sembari meraih tangan Aliyya.
"Gak boleh ini pemberian dari oma Linda" ucap Aliyya yang kini akan menangis.
"Pinjam sebentar atau suster Mela akan pukul Aliyya" ancamnya.
Mendengar kata seperti itu membuat Aliyya takut. Ia pun akhirnya pasrah saja ketika Mela mengambil paksa jam tangan miliknya.
__ADS_1
"Awas kalau kamu ngadu. Suster akan pukul kamu" ancam nya lagi.
Aliyya hanya menangis saja.