
Maxim sudah tiba di rumah Chandra dengan membawa koper miliknya. Dari luar orang akan menyangka bahwa pria paruh baya itu sedang bertengkar dengan istrinya ataupun diusir dari rumah. Ironis memang, di usianya yang tidak lagi muda, dirinya belum merasakan nikmatnya mahligai seutuhnya dari sebuah keluarga.
"Selamat datang di rumah kami om" sapa Else sembari memeluk Maxim.
"Else, kamu memang tidak pernah berubah, selalu cantik dan menyenangkan dimata om" ucap Maxim.
"Ayo om aku antar ke kamar!" ajak Chandra.
Di ruang tamu, ia bertemu dengan William dan Fina.
"Om Maxim" William segera berdiri lalu menghampiri William.
"Bocah om. Si bedak tebal" Maxim langsung memeluk sang keponalan.
"Om senang kamu sudah sembuh Will. Jadi sekarang, kau tidak akan mengajak om main perosotan lagi" kelakar Maxim.
"Om sudah, aku malu. Oh ya kenalkan ini Fina istriku!" William menuntun Fina.
"Hai om. Fin, istri William" ucap Fina sembari mengulurkan tangannya pada Maxim.
"Wah, cantik sekali istrimu, Will. Maxim om nya William" balas Maxim.
"Om, mau menginap apa mau pindah, nih? Bawa koper segala." tanya William sembari tertawa.
"Pindah saja lah di sini. Lagipula rumah kau ini terlalu besar" jawabnya sembari tertawa.
"Jangan lupa bayar uang sewanya" timpal William sembari tertawa.
"Ishh kau ini ya. Will, boleh om bertemu cucu-cucu om?" Maxim ingin sekali bertemu kedua anak William.
"Boleh dong. Mereka sedang di taman belakang dengan ibunya Fina. Ayo ikut aku" ajak William.
Maxim dan William sudah berdiri di ambang pintu yang menuju tan belakang. Sayup-sayup terdengar suara tawa. Hal itu membuat Maxim ingat dengan suara Mila.
Maxin melihat Aliyya, tetapi Junior tidak begitu terlihat karena sedang di gendong oleh seorang wanita bergamis dan berkerudung.
"Dia siapa Will?" tanya Maxim.
"Oh itu ibunya Fina, om. Ia membantu merawat kedua anakku. Walau aku kasihan, tetapi ia kekeh menjaga cucunya. Rumahnya tak jauh dari sini kok" jawab William.
William dan Maxim pun semakin dekat menghampiri Mila yang sedang menimang dengan posisi memunggunginya.
"Ibu!" sapa William.
__ADS_1
Mila pun berbalik, hingga empat netra saling berhadapan.
"Dia! Dia yang aku cari. Dan astaga penampilannya menjadi tertutup begini. Ada apa ini?" Maxim terlihat gusar. Namun ada sudut kebahagiaan dalam hatinya.
Tak perlu susah mencari, ternyata yang di cari malah menampakan dirinya langsung. Oh ini sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada Maxim.
"Dia! Pria ini yang pernah menjadi tamuku. Ya Allah aku harus bagaimana? Kenapa di pertemukan dalam kondisi seperti ini. Aku malu!" Jantung Mila berdebar tak karuan.
Sesaat suasana menjadi hening. William tak tahu dan tak mengerti dengan situasi ini.
"Om, ini ibu Mila. Mertuaku" William mengenalkan Mila.
"Aku sudah tahu, bahkan aku sudah menu suknya dan rasanya masih terbayang nikmatnya luar biasa" ucapnya dalam hati.
Jujur saja, ia akan bicara empat mata pada Mila. Dalam hatinya seolah berkata enyahlah William sebentar saja dari sini aku ingin bicara pada mertuamu.
Tetapi tidak dengan Mila, ia ingin, pria yang pernah memakai dirinya itu lupa padanya. Ia hanya sebagai wanita camilan, barang tentu sudah terpuaskan akan di tinggal.
"Apa hubungannya keluarga pak Chandra dengan tuan ini" batin Mila bertanya-tanya.
"Hai.. Saya Maxim, om nya William" ucapnya untuk mencairkan suasana.
Mila hanya menunduk kelu. Tak mau menampakan wajahnya karena jujur saja ia sangat malu. Bagaimana jika Fina dan keluarga William sampai tahu bahwa ia dan Maxim pernah bercinta. Walau sejatinya William dan kedua orang tuanya tahu pekerjaan Mila dulu adalah wanita penghibur.
"Ini anak-anakmu Will, oh mereka sangat lucu" Maxim yang tak mendapat respon dari Mila segera mengalihkan pembicaraan.
Aliyya pun segera menyalami opa barunya.
"Hai opa!" sapa Aliyya.
"Hai sayang. Kenalkan opa Maxim" ucap Maxim sembari memangku Aliyya.
Jangan ditanya bagaimana rasanya menggendong anak kecil. Bahagia tidak terkira dalam hati Maxim.
"Opa Acim" ucap Aliyya karena masih sulit mengucap nama sang opa.
Maxim langsung tertawa. Tetapi sesaat Aliyya ingin di gendong oleh William.
"Ayah, kemarin ayah janji akan belikan ku ayam goreng madu" ucap Aliyya dengan nada manja.
"Ayo sekarang!" ucap William.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat saja. Dari tadi sudah memandikan Junior dan Aliyya lalu menjemur si gembul. Ibu istirahat saja ya. Sini Juniornya bu, sepertinya dia ingin menyusu" William lalu mengambil Junior dari pangkuan Mila.
__ADS_1
"Sama ayah dulu ya tampan. Nenek mau bereskan bekas main kakak Liyya dulu" ucap Mila.
"Aku ke depan ya bu. Ibu jangan capek-capek" ucap William sembari mengayunkan kakinya.
Mila pun langsung membereskan mainan Aliyya tanpa tahu bahwa Maxim masih berdiri di belakangnya.
Ketika selesai, Mila pun ingin cepat-cepat pergi dari sana karena hawanya membuat seluruh tubuhnya panas berkat keberadaan Maxim.
Ia lalu berdiri dan membalikan tubuhnya, tak disangka ia malah membentur dada bidang Maxim. Pria paruh aya itu masih tampan di usianya yang sudah kepala lima.
Mila terdiam dengan netra saling pandang. Tangannya tak sengaja menyentuh dada bidang nan keras itu.
"Maaf tuan, saya permisi" ucap Mila segera akan beranjak pergi.
Maxim buru-buru mencegah kepergian Mila dengan mencekal lengannya.
"Saya mencari mu!" kalimat pertama yang Maxim lontarkan dengan posisi berduaan.
"Maaf tuan, saya tidak mengenal anda. Permisi" Mila ingin melepaskan cekalan tangan itu, tetapi Maxim semakin erat.
"Memang kita tidak saling kenal. Tetapi kita sudah pernah bertukar peluh dan saya tak lupa rasanya" ucap Maxim.
"Kita hanya partner di atas ranjang saja, tidak lebih. Saya memberikan pada anda kepuasan, dan anda memberikan saya uang" ucap Mila kembali.
"Kamu bukan hanya memberikanku kepuasan, tetapi memberiku perhatian dan sudi merawat ku. Mila, apa kamu punya suami?" tanya Maxim.
Mila hanya tertawa miris.
"Tidak tuan! Pria waras mana yang mau punya istri sebagai piala bergilir" jawabnya dengan bibir bergetar.
"Aku masih waras untuk bilang jika aku mencintaimu dan ingin menikahi mu" ucap Maxim to the point.
Tak lucu rasanya bila pria matang seusia Maxim melakukan pendekatan ala ABG. Maxim sat-set karena ia tidak ingin kehilangan jejak Mila lagi.
"Tolong jangan bergurau, tuan. Ini masih pagi" Mila lalu masuk kedalam rumah. Ia akan pulang ke rumahnya untuk menghindari Maxim.
Mila membawa tas, ketika semuanya sedang mengobrol di ruang tamu. Fina mengernyit heran kala melihat sang ibu yang membawa tas yang berisi pakaiannya.
"Loh bu mau kemana?" tanya Fina.
"Hmm,, begini nak, ibu mau pulang dulu. Ibu ingat di rumah masih ada baju kotor yang belum ibu cuci" jawab Mila tanpa melirik Maxin yang menatapnya dengan lekat.
"Pasti dia menghindariku. Apa aku tadi bersikap terburu-buru sampai dia takut, ya?" batin Maxim bertanya-tanya.
__ADS_1
"Biar om yang antar ibumu" ucap Maxim membuat semuanya ternganga.
"Om mau beli sesuatu jadi sekalian saja bareng sama ibu Mila" ucap Maxim yang mendapat tatapan horor dari Mila.