DIA HANTU

DIA HANTU
MANTAN


__ADS_3

***Devano***



Perlahan aku membuka mataku. Aku merasa ada beban diatas tubuhku. Kulihat bidadariku terlelap diatas tubuhku dengan tubuh tanpa busana.



Aku pun tersenyum kemudian membelai kepalanya. Dia terlihat polos dengan mata terpejam. Aku merasa payudaranya yang kenyal itu menindih dadaku. Membuat kejantananku berontak ingin dipuaskan lagi.



Aku pun tidak bisa menahan hasrat ini. Aku meremas payudaranya. Kurasakan Narura terhenyak bangun dan menatapku dengan kesal.



"Morning kiss, sweet heart " kataku.



Dia menciumku sesaat, tapi aku tidak puas dan mendorong tengkuknya agar kami semakin dalam berciuman.



"Hhhmmmpp" kami mendesah disela ciuman panas kami.



Narura melepaskan ciumannya dan menatapku. "Kau tidak bekerja? "



"Aku akan bekerja sebelumnya akan mengantarkanmu dulu ke Kampus"



"Hmm, baiklah, aku bersiap-siap dulu" Narura akan beranjak dari tubuhku. Tapi aku memeluknya agar dia tidak pergi kemana pun.



"Hhh, Devano apa yang kau lakukan "



"Jangan banyak bergerak, atau kejantananku akan kembali bangun" ancamku.



Narura berhenti bergerak dan menatapku. Aku tersenyum melihat  kepanikan diwajahnya. Kenapa? Karena kejantananku kembali menegang dan menggesek paha mulusnya.



"Tidak.. Jangan lagi" gerutu Narura.



"Aku tidak punya pilihan sayang.. Kau harus bertanggung jawab"



♡♥♡♥♡♥♡



Kami makan bersama dimeja makan. Narura terlihat senang dengan sarapannya.



Para pelayanku membuat makanan yang lezat pagi ini membuat mood kami meningkat.



Selesai makan, kami menuju kampus. Setelah Narura memasuki kampusnya, aku pun menuju kantorku.



Sesampainya dikantor, aku disambut oleh para karyawanku. Aku membalas mereka dengan anggukkan.



Aku pun memasuki ruanganku dan mulai bekerja. Beberapa jam kemudian, aku mendengar ketukan pada pintu ruanganku.



"Masuk" kataku.



Pintu terbuka dan masuklah Simon asisten pribadiku.



"Tn. Ada yang ingin bertemu dengan anda"



"Siapa Sim?



"Saya tidak tahu, dia tidak ingin menyebutkan namanya. Dia seorang wanita"



"Suruh dia pergi "



Simon pun berlalu.



Aku pun melanjutkan pekerjaannya.



Kreeekk



Pintu terbuka. Aku menoleh dan terkejut melihat siapa yang datang. Sungguh, aku tidak mengharapkan keberadaan dia.



"Hmm, kau senang berada didunia manusia, sayang? "



Wanita cantik berambut seputih salju itu menghampiri ku. Tidak! Dia tidak lebih cantik dari Narura ku.



"Sedang apa kau disini Bianca? "

__ADS_1



Senyuman terukir dibibir wanita itu. Dengan tidak sopannya dia duduk dipangkuanku kemudian mencium bibirku dengan penuh napsu. Menjijikan!!



Aku tidak mau bahkan tidak sudi membalas ciuman Bianca.



"Kenapa sayang? "



"Pergilah"



Bianca mengangkat bokongnya beranjak dari pangkuanku.



"Seseorang mengubahmu" dia menatap ku dengan tajam.



"Kembalilah ke dunia kita Lee, kemudian kita menikah dan memulai hidup baru"



Cih, menikah dia bilang.



"Aku tidak mau.. Kuharap kau mengerti kata PERGI " kataku.



"Baiklah, kupastikan gadismu tidak selamat! " wanita itu menghilang dari pandanganku. Dasar jalang!



Aku harus segera menemui Narura.



End Devano POV



Narura memasuki mansion. Dia melihat  para pelayan sedang bekerja seperti semestinya.



Narura berlalu ke kamarnya. Disana dia berganti pakaian setelah sebelumnya dia mandi dulu.



Narura merebahkan badannya ke ranjang. Perlahan dia menutup matanya.



Tiba-tiba bau anyir dan amis tercium oleh hidungnya.



"Hhh" Narura bangkit untuk duduk dan dia menatap ke sekeliling. Bulu kuduknya meremang.




Tidak ada jawaban.



Tiba-tiba, sekelebat bayangan melesat dihadapannya. Narura terkejut. Bulu kuduknya meremang.



"Si.. Siapa.. "



Tiba-tiba, seorang wanita cantik berdiri didepan ranjang Narura sambil tersenyum menakutkan.



Narura gemetar melihatnya. "Kkau.. Si.. Siapa..?? "



Wanita yang sama yang tadi di kantor Devano. Dia tersenyum menakutkan.



"Kau cantik juga, pantas saja, raja menyukaimu"



"Toloooonggg!!! "



Para pelayan di luar terkejut dengan teriakan Narura. Mereka segera bergegas ke kamar.



Salah satu dari mereka mengetuk pintu kamar. Takutnya sang Nn. Marah atau ketakutan jika melihat  mereka menembus pintu.



Tidak ada jawaban.



Salah satu dari mereka menembus masuk dan melihat  Narura apakah dia baik-baik saja.



Narura menoleh pada Naomi, "Nn. Apa anda baik-baik saja? "



Narura mengangguk.



Pelayan itu pun berlalu dengan menembus pintu.



♡♥♡♥♡♥♡

__ADS_1



Devano memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Sial! Macet lagi!! " Devano memukul setir.



"Aku kan bisa menggunakan kekuatanku, arrgh dasar bodoh" Devano menelepon seseorang.



"Kemari Vic, aku membutuhkan bantuanmu"



Tiba-tiba seorang pria muda duduk disamping Devano.



"Bawa mobil ini ke mansionku, aku akan ke mansion dengan kekuatanku sendiri "



Pria muda itu mengangguk. Devano pun menghilang dari pandangannya.



Tiba-tiba Devano muncul didepan mansionnya dengan setelan berbeda. Yaitu jubah berwarna biru tua dan baju dalam serta celananya berwarna hitam.



Dia bergegas memasuki mansion dengan jubah berkibar karena hentakan kakinya ke lantai.



Devano melihat  keseluruh ruangan. Para pelayan bekerja dengan wajar. Tidak ada Narura. Hatinya cemas.



"Marine"



Seorang pelayan muda menghampiri Devano karena merasa namanya dipanggil.



"Selamat sore Yang Mulia"



"Sore, panggil aku Tn."



"Ah? Iya Tn. Maaf saya lupa"



"Dimana Naru? "



"Nn. Dikamarnya"



"Hmm, kau boleh pergi"



Marine membungkukkan badannya kemudian berlalu. Devano bergegas menaiki tangga menuju kamar Narura.



Kini dia sudah berdiri didepan pintu kamar Narura. Tanpa permisi dia memasuki kamar tersebut.. Emm maksudnya menembus pintu kamar tersebut.



Dia melihat Narura tengah duduk menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.



Devano menghela napas lega melihat  keberadaan Narura. "Hhh, kukira sesuatu yang buruk terjadi padamu sayang"



Narura tersenyum manis. Devano juga tersenyum. Narura berjalan menghampiri Devano sambil membuka selimutnya.



Devano terkejut melihat  Narura hanya memakai lingerie berwarna merah darah.



"Naru, apa yang... "



Ucapan Devano tidak dilanjutkan karena Narura melahap bibirnya.



Tiba-tiba, Devano mendorong Narura hingga tersungkur. Narura terkejut dengan aksi Devano.



Devano menatap Narura dengan tajam.



"Kenapa Lee? " tanya Narura.



"Narura tidak pernah memanggilku Lee, keluar dari tubuh Narura... Bianca! "



Narura tersenyum mengerukan. "Jadi kau tahu ini aku sayang, kau memang tidak bisa melupakan ku"



"Narura tidak pernah bertindak seperti jalang! Keluar kau! Atau aku akan membunuhmu!!"



Bianca tertawa sambil membawa pisau dan mengarahkannya ke jantung. "Silakan jika kau bisa"



By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2