DIA HANTU

DIA HANTU
TAMU TAK DI UNDANG


__ADS_3



Malam ini, Narura tertidur lelap di kamarnya. Yoona juga dikamar lain. Tiba-tiba lampu nakas padam. Beberapa menit kemudian, lampu nakas menyala kembali.



Terlihat seorang pria berjubah berdiri didekat ranjang king size tempat Narura terlelap.



Pria itu mendekat dan membelai lembut kepala Narura. Narura membuka matanya perlahan. Dia terkejut mendapati keberadaan pria itu.



Narura beringsut menjauh dari jangkauan pria itu yang tak lain Devano.



"Se.. Sedang apa kau disini? " tanya Narura.



"Narura ku mohon, ayo ikut denganku"



"Untuk apa! Kau sudah menikah dengannya! "



"Naru, kau masih istri sah ku, aku masih berhak atas dirimu"



"tidak, lepaskan saja  aku dan hiduplah dengan dia senyaman mungkin"



"Naru, maafkan aku, aku tidak menepati janjiku untuk melindungimu"



"Kau memang payah"



Deg



Jujur, Devano merasa sakit mendengar ucapan Narura. Narura benar selama ini dia memang sering lengah dan cenderung membuat Narura dalam bahaya.



"Pergilah Vano"



"Aku sudah kehilangan Alex, kau dan oh ya dimana anakku yang kedua? Apa dia sudah lahir? Pasti sudah, katakan dimana dia? "



Narura menggeleng. "Dia tidak membutuhkanmu, dia selalu bertanya tentangmu, tapi.. Aku tidak tahu harus menjawab apa.. Dia lahir tanpa seorang ayah dia dicaci maki dan dihina teman sebayanya, dan kau.. Kau menikah dengan wanita lain dan aku yakin kau pasti memiliki anak darinya"



"Tapi Naru, aku ingin bertemu dengannya, dia anakku juga"



"Tidak! Jika kau dan dia bertemu, aku tidak bisa menjamin apakah dia aman dari istrimu itu, cukup aku kehilangan Alex, aku tidak mau kehilangan anak lagi"



Devano terlihat murung "baiklah, aku yakin suatu sat nanti aku akan bertemu dengannya" Devano menghilang dari pandangan Narura.



Narura segera berlari ke kamar Yoona. Dia melihat  Yoona masih terlelap dalam tidurnya. Refano yang duduk dikursi meja belajar Yoona menoleh.



"Dia kesini? " tanya Refano.



Narura mengangguk. "Aku tidak mau Devano mengambil Yoona" gumam Narura pelan. Tapi Refano masih bisa mendengarnya.



Refano menghampiri Narura. "Bagaimana menurutmu? Apa yang akan kita lakukan? " tanya Refano.



"Aku tidak tahu, kurasa dengan melihat Yoona aman bisa membuatku agak nyaman"



Refano membelai kepala Narura dengan lembut. "Aku berharap kau dan Refano kembali lagi"



"Terimakasih, atas simpatimu padaku" kata Narura kemudian berlalu.



♡♥♡♥♡♥♡

__ADS_1



Keesokan harinya, Narura membuka toko bunganya seperti biasa.



Hari ini Yoona pergi ke sekolah sendiri. Ya, karena Shiray pindah dengan bibi Liem, maka Yoona tidak memiliki teman lagi.



Narura melayani pembeli yang mulai berdatangan. Seorang wanita berambut seputih salju dengan jubah putihnya memasuki toko.



Deg



Narura menelan air liurnya. Bagaimana tidak wanita itu kembali lagi ke hadapan Narura dengan seringaian sinisnya.



"Hai, Naru"



"Mau apa kau kemari Bianca? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang ku mau? "



Wanita yang tak lain adalah Bianca itu pun tertawa mendengar pertanyaan Narura seolah lelucon yang pantas ditertawakan.



Beberapa pembeli menoleh padanya. Namun Bianca seolah tidak melihat  ekspresi mereka.



"Ada yang lucu? " tanya Narura.



"Haha, tentu saja, mendengar ucapanmu tadi seolah kau memang sudah merasa kalah, dan tentu aku sudah mendapatkan segalanya"



"Kalau begitu disebelah sana pintu keluarnya" Narura menunjuk pintu keluar toko.



"Jangan dulu mengusirku Narura, aku kemari ingin memperingatkanmu, jika kau berniat merebut kembali Devano, maka putri cantikmu juga akan mati seperti Alex"



Narura menautkan alisnya. Dia tahu Alex masih hidup. Dan dia benci mendengar setiap untaian kata-kata yang berasal dari mulut laknat Bianca.




Bianca tersenyum sambil membuka jubahnya memperlihatkan seorang bayi yang mungkin sedari tadi dia gendong.



"Lihatlah, ini bayiku, Bayiku dengan Devano, owh, aku sangat bahagia" kata Bianca.



Deg



Kata-kata Bianca berhasil membuat jantung Narura berpacu cepat karena muak dan sedih bercampur kecewa.



"Bayi inilah pewaris kerajaan Diamond suatu hari nanti"



Bayi itu terlihat manis dan tampak tidak berdosa. Namun entah sampai kapan bayi itu  bisa mempertahankan kepolosannya. Karena bagaimana pun dia pasti akan di didik oleh monster semacam Bianca.



Rambutnya seputih salju sangat mirip dengan Bianca. Dia juga memiliki mata indah sama dengan mata Devano.



"Dia tampan kan" kata Bianca dengan angkuhnya sambil tersenyum mengejek.



"Kalau begitu kau tidak punya alasan lagi untuk mengganggu aku dan anakku, kau bisa mendapatkan semuanya" kata Narura.



Terdengar lonceng berbunyi menandakan seseorang memasuki toko. Ternyata Yoona.



Bianca menatap Yoona dengan tatapan benci. Yoona sangat mirip dengan Narura. Pas sekali seperti duplikatnya Narura.



"Ibu, aku lapar" kata Yoona sambil memeluk ibunya. Narura membalas pelukan Yoona. "Kalau begitu ayo kita ke ruangan ibu" kata Narura.



Seorang pembeli menghampiri mereka. "Bunga tulipnya berapa ya? "

__ADS_1



"Biar aku saja bu" kata Yoona.



Narura mengangguk kemudian berlalu untuk membawa makanan.



Yoona melayani pembeli dengan ramah. Bianca memicingkan matanya.



Setelah pembeli itu pergi, Yoona memperhatikan Bianca dan bayi yang ada dipangkuannya.



"Permisi Ny. Apa ada yang bisa kubantu? " tanya Yoona ramah dengan senyuman manisnya. Membuat Bianca mendecih dalam hati.



"Tidak ada gadis manis" jawab Bianca sambil tersenyum dipaksakan.



Yoona menatap bayi yang digendong Bianca. "Ny. Bayimu manis sekali" kata Yoona sambil menggoda bayi yang ada dipangkuan Bianca.



Bayi itu tertawa senang dengan apa yang dilakukan Yoona padanya.



Bianca yang melihat  reaksi putranya tersenyum sinis.



"Hmm, kau tidak sadar, sebenarnya kau sedang mengajak adikmu bermain" batin Bianca.



Yoona yang mendengar ucapan dalam pikiran Bianca terkejut. Seketika dia menatap Bianca.



"Kenapa Yoona? " tanya Bianca.



"Apa yang dia bilang tadi? Adik? Lalu dari mana dia tahu namaku? " batin Yoona.



Narura memasuki ruangan dan memberikan kotak bekal berwarna merah muda pada Yoona.



"Kau boleh keruangan ibu sayang, ibu mau bicara dengan Ny. Ini ya" kata Narura sambil membelai pioi putrinya.



Yoona mengangguk kemudian berlalu.



Narura menghela napas berat kemudian menatap Bianca.



"Tak kusangka bayiku tertarik pada putrimu" kata Bianca.



"Apa maksudmu? " tanya Narura.



"Tidak biasanya putraku mudah tertawa apabila diajak bercanda oleh orang asing, namun putri manismu dengan mudahnya bisa membuat putraku tertawa.. Mungkin putraku tahu kalau Yoona adalah kakaknya"



Narura benar-benar muak mendengar ucapan-ucapan tidak berguna dari mulut Bianca. Dia tahu Bianca bicara seperti itu untuk memperkeruh suasana hati Narura dan memperburuk mentalnya.



Narura menyadari secara tidak langsung Bianca membullynya seperti teman -teman Yoona yang selalu membully Yoona agar mentalnya melemah.



Narura harus kuat demi Yoona dan Alex yang entah dimana dia saat ini.



"Jika kau sudah selesai, silakan pergi dari sini" kata Narura.



Bianca tersenyum. "Ingat kata-kata ku" kata Bianca kemudian berlalu meninggalkan toko bunga milik Narura.



Narura menghembuskan napasnya kasar. Dia tidak akan mengalah pada nasib yang menghantuinya setiap saat. Bukan saatnya memikirkan hantu karena..




By

__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2