DIA HANTU

DIA HANTU
MASA LALUMU


__ADS_3



Refano menarik tangan Narura dan menatap lekat mata indah Narura. "Kenapa kau mau menjadi milik adikku?" pertanyaan Refano terlontar begitu saja.



Narura menatap balik Refano. "Karena dia menginginkannya" jawab Narura.



"Berapa kali kau bercinta dengannya? "



Narura menatap jijik pada Refano setelah mendengar pertanyaan hina itu. Tangannya terangkat dan siap menampar wajah rupawan Refano.



Tapi dengan cepat, Refano menangkap pergelangan tangan Narura.



"Dari sikapmu, sudah kupastikan kau masih gadis, heh, lumayan juga Devano menahan hasratnya" kata Refano.



"Apa yang kau lakukan padanya!! " bentak Narura.



"Aku hanya menculikmu sayang, selain itu, kau tidak perlu mencemaskannya, dia masih mencintai Bianca"



Entah kenapa, mendengar pernyataan Refano, hati Narura teriris seolah tidak terima apabila Devano mencintai gadis lain.



"Kau tidak tahu ya, kalau Devano pernah bercinta dengan Bianca, oh tidak, bukan pernah, tapu sering"



Narura benci mendengar itu. Dengan sekuat tenaga, Narura mendorong dada Refano. Refano agak terpundur.



"Berhenti memanipulasi diriku.. Siluman aneh! " bentak Narura.



"Kita lihat saja... " Refano memegang dahi Narura. Seketika Narura tersungkur dan pingsan dipelukan Refano.



In the Flashback



Narura merasa dirinya pusing dan melihat  kesekeliling. Dia mengingat sesuatu yang sebelumnya terjadi padanya.



Dia ingat saat Refano memegang dahinya dan membuatnya tak sadarkan diri.



Narura memperhatikan ke sekelilingnya. Dia terkejut mengingat dirinya berada di dekat Diamond Castle.



"Ahh? Aku sudah kembali? Devano, aku harus mencarinya"



Narura segera bangkit dan berlari ke istana Diamond. Dia menyapa para penjaga. Tapi sepertinya, para penjaga tidak menyadari keberadaan Narura.



Narura tidak terlalu peduli, dia memasuki istana dan melihat  Himeka begitu sibuk memerintah para pelayan untuk menghias ruangan.



"Ibu " kata Narura, tapi Himeka juga tidak menyadari keberadaan Narura.



Narura penasaran. Dia mencari cermin dan ingn melihat  pantulan dirinya di cermin.



Narura menemukan cermin dan bercermin. Dia terkejut mendapati dirinya tidak memiliki bayangan.



"Ti.  Tidak mungkin " gumam Narura.



Narura berlari keseluruh ruangan di istana itu dan berusaha mencari Devano.



"Vanooo!!! "



"Vannooo!! "



"Vano kau dimana!! "



Akhirnya, Narura menemukan Devano.


__ADS_1


"Devano " panggil Narura.



Devano menoleh. Narura senang mengetahui Devano menyadari keberadaan dirinya.



"Sayang" kata Devano. Narura tersenyum dan berjalan menghampiri Devano. Tapi langkahnya terhenti saat melihat  Devano memeluk seorang wanita berambut putih.



Jantung Narura seakan terhenti saat itu juga. Melihat  pria yang selama ini menggodanya tengah memeluk wanita lain didepannya.



"Sayang " desah Devano saat wanita berambut putih itu mencium bibirnya.



Jadi, Devano tidak melihat  keberadaan Narura. Tadi Devano hanya melihat  keberadaan wanita yang tak lain adalah Bianca.



Air mata Narura menetes. Sakit rasanya. Selama ini dia yakin tidak mencintai Devano, tapi kenapa rasanya sakit melihat  Devano dengan wanita lain.



"Oh rupanya kalian berdua berada disini? " Himeka menghampiri Devano dan Bianca.



"Hai ibu" sapa Bianca.



Ibu? Biasanya Narura yang memanggil Himeka dengan sebutan Ibu.



"Hai sayang, besok kalian akan menikah.. Apa kalian akan tetap bersama sampai hariha?  Seharusnya kalian menuruti tradisi" kata Himeka.



Pernikahan? Besok? Apa ini lelucon? Bukankah Devano dan dirinya akan menikah bulan depan?



"Ah ibu cerewet sekali, putramu ini selalu menggodaku" kata Bianca.



"Iya bu, aku senang sekali menggoda wanitaku ini" kata Devano.



Himeka tersenyum geli kemudian berlalu. Devano dan Bianca saling menatap kemudian mereka kembali menyatukan bibir mereka.



Narura mengalihkan pandangannya dan meneteskan air matanya lagi.




Narura sudah menebak apa yang mereka lakukan dikamar. Rasanya sakit jika mimpi buruk ini terus berlanjut.



"Aku mau kembali ke duniaku!!! " teriak Narura.



The Flashback Off



Narura terhenyak dari mimpinya dan mendapati dirinya berada diatas ranjang dikamar bercat hitam.



Dia juga melihat  keberadaan Refano yang menatap dirinya penuh arti.



"Kenapa? " tanya Refano.



Grepp



Tiba-tiba, Narura memeluk Refano dengan eratnya dan menangis pilu di dada bidangnya.



Refano masih terkejut dengan reaksi Narura. Perlahan tangannya merangkul tubuh Narura.



"Aku mau pulang... " desis Narura disela isak tangisnya.



"Kau tidak bisa pulang" kata Refano.



Narura melepaskan pelukannya dan menatap Refano. "Kumohon.. Aku mau pulang"



"Kau akan hidup bahagia dengan ku "



"Apa maksudmu, kenapa kau menginginkanku? "

__ADS_1



"Karena kau memang milik ku mulai saat ini"



"Kalian berdua sama saja!! " teriak Narura.



Refano memeluk Narura. Tapi Narura berontak. "Lepaskan aku!! Aku mau hidup normal di duniaku!!! "



"Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah! "



"Devano sialan" geram Narura.



"Yang barusan kau lihat adalah pada saat Refano akan menikah dengan Bianca, meski pernikahan mereka batal, tapi Devano masih mencintainya"



"Aku tidak peduli!! Lepaskan aku siluman!! "



"Aku akan memilikimu! "



♡♥♡♥♡♥♡



Devano menghancurkan semua barang yang ada dihadapannya sampai hancur berkeping-keping.



"Hentikan Dev!! " sedari tadi Himeka berusaha menghentikan tindakan putranya itu, namun tidak digubris oleh putra bungsunya itu.



"Kenapa pria sialan itu menculik gadis ku! Dulu dia merebut calon mempelaiku!! " teriak Devano.



"Kita tidak tahu sebesar apa kekuatannya Dev, aku tidak menyangka dia memiliki kekuatan ayahmu"



"Aaarrrgghhhh!! Narura pasti ketakutan disana bu"



"Kita akan memikirkan cara untuk mengalahkan Refano dan membawa kembali calon istrimu Dev"



"Aku akan membunuhnya bu, tidak peduli meski kau melarangku, maaf bu, tapi harus ada satu orang yang mati diantara kita berdua "



Devano pun berlalu setelah mengucapkan sumpah serapahnya.



Himeka hanya mampu menghela napas berat.



"Kenapa semua ini terjadi pada kedua putraku oh ya tuhan"



"Dia hanya milik ku, bukan milik siapapun"



Devano Lee



By


Ucu Irna Marhamah
















__ADS_1



__ADS_2