
Hari ini hari libur. Yoona membantu ibunya menjaga toko bunga.
Seorang pria berjubah memasuki toko tersebut. Dia menghampiri Yoona.
"Selamat siang, silakan pilih bunga yang anda sukai" sambut Yoona. Pria itu tersenyum.
Narura menoleh melihat wajah pria itu. Narura tidak mengenalnya. Namun bau maskulinnya dan jubah itu mengingatkannya pada seseorang.
Refano Lee
"Aku tidak mau membeli bunga. Aku mau memberikan bunga ini" kata pria itu sambil memberikan sebuket bunga berbentuk indah dengan warna hitam.
Sekilas Yoona menatap bunga itu kemudian dia kembali mendongkak menatap pria tinggi itu.
"Maaf Tn. Tapi aku tidak suka warna hitam, aku lebih suka warna putih, mungkin ibu suka, aku akan menerimanya, terimakasih Tn"
"Ibumu memang menyukainya, kenapa kau suka warna putih? "
"Karena warna putih itu suci dan polos"
"Percayalah, yang putih itu tidak selalu suci"
"Uh? "
Narura menghampiri mereka. "Yoona sayang, kau boleh pergi main dengan Shiray bukankah sebentar lagi dia akan pergi? "
Yoona mengangguk kemudian berlalu setelah berpamitan pada Narura dan pria asing itu.
"Ada apa kau kemari....... Refano? "
"Jadi kau mengenaliku Naru? " tiba-tiba wajah pria asing itu berubah menjadi Refano.
"Apa kau kemari ingin memberitahuku soal yang waktu itu kutanyakan? "
"Hmm, iya"
"Katakan, apa yang terjadi? "
"Devano kalah bertarung dengan Bianca ".
"Lalu kau tidak menolongnya? " tanya Narura.
"Aku juga kalah"
"Lalu, apa yang terjadi? "
"Bianca dan Devano menikah karena Bianca mengajukan itu sebagai ancaman"
Deg
"Lalu, bagaimana dengan Alex? "
Refano terdiam.
"Jawab aku! "
"Percayalah, Alex aman"
"Kalau begitu katakan dimana dia! "
Seseorang memasuki toko. Narura dan Refano menoleh. Ternyata Yoona dan Shiray.

Yoona Ayame
__ADS_1
"Lanjutkan" bisik Narura.
"Soal Alex, aku belum bisa memberitahumu"
"Kenapa? "
"Devano juga tidak tahu soal Alex, jadi jika dia kesini dan bertanya soal Alex, katakan kalau kau tidak tahu, ini demi keselamatan Alex"
"Kau membuatku bingun dan semakin cemas"
"Maaf, baiklah aku harus pergi, lebih baik lewat pintu" kata Refano kemudian berlalu. Saat dia melewati ambang pintu toko, Yoona memanggilnya.
"Tn. Tunggu"
Refano menoleh ternyata Yoona.
"Emm.. Itu, aku mau bertanya, apa nama bunga ini? " tanya Yoona sambil memperlihatkan sebuket bunga yang tadi diberikan Refano padanya.
"Chinnimon Mikotsutsuki" jawab Refano.
"Ohh iya" kata Yoona pelan kemudian menunduk.
"Apa kau mau bertanya lagi? " tanya Refano sambil tersenyum geli melihat tingkah Yoona, keponakannya.
"Iya, sebenarnya... " kata-kata Yoona tidak dilanjutkan.
"Katakan saja "
"Apa Tn. Mengenal ayahku?"
Deg
Refano tampak berpikir. Apa Yoona tahu soal itu? Apa Narura memberitahunya?
Yoona menautkan alisnya seraya membaca pikiran Refano berharap Refano mengucapkan nama yang membuat Yoona yakin.
Deg
"Sebutkan" batin Yoona.
"Bagaimana ini? Akan lebih baik Yoona tidak mengenal ayahnya" batin Refano yang tentunya bisa didengar Yoona.
"Apa maksudnya? Kenapa dia berpikir begitu? " batin Yoona.
"Emm.. Jika Tn. Bertemu dengannya, kuharap Tn. Mau bilang padanya kalau aku merindukannya dan ingin bercerita serta bertanya banyak hal padanya" kata Yoona.
"Aku tidak yakin akan memberitahunya" batin Refano.
"Harus" batin Yoona.
"Kuharap Tn. Mau melakukannya untukku" kata Yoona.
"Akan kuusahakan, baiklah, sampai jumpa" Refano pun berlalu dari hadapan Yoona.
Yoona berbalik memasuki toko dan menoleh pada ibunya yang juga menoleh padanya.
Narura berharap semoga Refano tidak berpikir tentang semuanya apalagi jika Yoona bisa mendengar ucapan batin Refano.
Yoona menghampiri Shiray.
"Siapa dia Yoo? " tanya Shiray.
"Aku tidak tahu"
Tiba-tiba seorang wanita memasuki toko dengan gaya sombongnya. Dia sepupunya Narura anak dari Bibi Akami.
"Hai, wanita malang" sapa Miyaki kepada Narura.
__ADS_1
Narura menautkan alisnya mendengar sapaan Miyaki yang terbilang menghina itu.
"Mau apa kau kemari? " tanya Narura.
"Hmm kupikir pria tampan itu benar-benar mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu serta mencampakkan putrimu"
Sebenarnya Narura sangat geram mendengar kata-kata laknat dari mulut Miyaki tapi dia memilih diam.
Flashback
Narura dan Devano menikah di mansion kuno itu dihadiri keluarga serta kerabat dekatnya Narura.
Termasuk bibi Akami dan putrinya Miyaki dengan Enzo suaminya.
Miyaki merasa iri dan tersaingi melihat kebahagiaan Narura yang menikah dengan pria yang tampan.
Seandainya dulu dia bertemu dengan Devano dulu sebelum dengan Enzo, mungkin dia akan lebih mendekati Devano. Itulah pikiran laknat yang ada dikepalanya.
End Flashback
"Malang sekali nasibmu"
"Jika kau tidak ada kepentingan, lebih baik kau pergi dari sini! " bentak Narura diambang kesabarannya.
Yoona dan Shiray menatap tajam wanita itu. Wanita itu pun berlalu dengan kesal karena diusir oleh Narura.
"Menyebalkan sekali wanita itu " gerutu Shiray.
"Biarkan saja, nanti dia lelah sendiri " kata Yoona.
♡♥♡♥♡♥♡
Keesokan harinya, Shiray pindah bersama bibu Liem. Bibi Liem bersalaman dengan Narura.
"Terimakasih selama ini Ny. Liem membantu kami" kata Narura.
"Kami juga berterimakasih Ny. Narura sering membantu kami juga" kata Bibi Liem.
Yoona dan Shiray berpelukan. "Jangan lupakan aku ya" kata Shiray.
"Iya, kau juga "
Bibi Liem memeluk Yoona. "Jadi gadis kecil yang baik ya, jaga ibumu" bisik bibi Liem.
"Iya bibi" kata Yoona.
Narura memeluk Shiray. "Jadilah gadis yang penurut dan harus sedikit lembut ya, jangan merepotkan bibi Liem" bisik Narura.
"Terimakasih bibi Naru" kata Shiray.
Mereka -bibi Liem+Shiray - pun menaiki taxi. Mereka melambaikan tangan kearah Yoona dan Narura.
Narura dan Yoona membalas lambaian mereka. "Hmm kita tidak punya lagi tetangga sebaik mereka" kata Yoona.
Narura tersenyum. "Mereka pasti kembali dan bertemu lagi dengan kita sayang " kata Narura.
*Sahabat adalah saudara tak sedarah yang selalu ada untuk kita disaat suka maupun duka
takkan kulupakan kau wahai sahabatku
dan janganlah kau melupakanku
Yoona Ayame
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah