DIA HANTU

DIA HANTU
RAMUAN KEHIDUPAN UNTUK YUKARI


__ADS_3



Samuel berdiri didepan patung ibunya yang berada didalam peti bermantra.



Devano menghampirinya. "Maafkan ayah nak, karena bukan hanya ibumu saja yang menjadi tanggung jawabku"



Samuel menatap Devano. Remaja itu pun berlalu meninggalkan ayahnya.



Devano menghela napas berat. Dia pun berlalu meninggalkan peti itu.



♡♥♡♥♡♥♡



Yoona sudah memiliki banyak teman di JHS, semua temannya sangat baik dan menyayangi Yoona. Hari ini Yoona sedang duduk dibangku taman di sekolahnya.



Dia bisa mendengar kata-kata hati setiap orang yang lewat didepannya. Kadang Yoona tersenyum mendengar pikiran konyol mereka.



Tanpa dia sadari, seorang pria tampan tengah memperhatikannya didekat pohon sakura.



"Bisakah kita dekat dan menjadi sahabat? Aku ingin kita memiliki hari -hari bersama, Yoona" batin pria itu.



Yoona bisa mendengarnya kemudian menoleh ke asal suara batin itu. Pria itu segera bersembunyi.



"Siapa itu? " gumam Yoona. Yoona beranjak dari duduknya kemudian berjalan menghampiri pohon sakura itu.



Yoona melihat laki-laki itu sedang berdiri bersandar pada pohon tersebut.



"Permisi? " sapa Yoona.



Pria itu terlihat terkejut dan menoleh. Seketika pipinya merona begitu pun detak jantungnya yang berdebar sedari tadi.



"Yo.. Yoona? " kata pria itu.



"Ah? Kakak tahu namaku? " tanya Yoona.



"Iya, aku kan kakak kelasmu, tentu saja harus tahu nama setiap adik kelasnya" jawab pria itu.



"Oh begitu ya, tapi seragam mu kan seragam SHS, aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya" kata Yoona.



Pria itu terlihat salah tingkah. "Intinya, usiaku lebih tua darimu" jawab pria itu ketus.



"Emm.. Iya.. Maaf" kata Yoona sambil menunduk merasa bersalah.



"Emm.. Tidak kau tidak perlu meminta maaf, oh ya perkenalkan, namaku Ryuga Immamura " kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.



Yoona melihat tangan pria itu kemudian menerima uluran tangannya. Mereka bersalaman.



"Namaku Yoona Ayame, senang berkenalan dengan kakak" kata Yoona.



"Aku tahu, kakak? Memangnya aku terlihat tua? " batin Ryuga.



Yoona tersenyum geli mendengar isi hati Ryuga. Ryuga terpesona melihat senyuman manis Yoona.



"Oh iya, jangan panggil aku kakak aku belum tua, usiaku hanya berbeda 5 tahun darimu, lagian kita sama anak sekolah kan meski berbeda tingkatannya" kata Ryuga.



"Memangnya kau tahu berapa usiaku? " tanya Yoona.



"Aduh keceplosan" batin Ryuga. Yoona tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Ryuga seolah dia tahu semuanya tentang Yoona.



"Biasanya kan kelas 1 JHS itu 11-12 tahun kan? Usiaku 18 tahun bulan depan, aku kelas 3 SHS yang masih satu lokasi dengan JHS ini" jawab Ryuga mencari alasan.



"Ooohh begitu, lalu aku harus memanggil apa? " tanya Yoona.



"Panggil saja Ryuga " jawab Ryuga.



"Aku merasa tidak sopan jika memanggil nama" kata Yoona.



"Kan aku yang minta" jawab Ryuga.



"Baiklah" jawab Yoona.

__ADS_1



♡♥♡♥♡♥♡



Alex tengah membaca beberapa buku di perpustakaan Refano diistana Chinnimon. "Ok, ramuan ini pasti akan berhasil" gumam Alex.



Setelah yakin dia membaca buku yang benar, dia mencari pamannya. Alex mendapati Refano tengah duduk di bangku taman di samping istana.



Alex segera menghampirinya. "Paman" panggil Alex.



"Ada apa Al? " tanya Refano. Alex memperlihatkan buku yang baru saja dia baca.



"Ramuan ini bisa menghidupkan kekasih paman " kata Alex.



"Hmm, itu bagus" jawab Refano.



"Kita akan membuat ramuan ini atau tidak? " tanya Alex.



"Terserah kau"



"Paman, kau sudah tua, kapan kau akan menikah? " gerutu Alex namun masih dengan ekspresi dingin.



"Usiaku memang tua, namun wajahku lebih muda dari ayahmu" jawab Refano ketus.



Refano dan Alex tengah membuat ramuan itu di laboratorium kuno mereka.



"Demi tuhan, bau nya menjijikan, apa yang akan kau lakukan dengan ramuan ini? " tanya Refano sambil menutup hidungnya.



"Menyiram tubuh kekasihmu" jawab Alex.



"Kau yakin ini akan berhasil? " tanya Refano.



"Apa salahnya mencoba? " Alex malah balik bertanya.



"Masih ada bahan yang kurang" kata Alex.




"Daun murty amion" jawab Alex.



"Tidak ada benda itu disini " kata Refano.



"Kalau tidak ada, maka akan gagal" kata Alex enteng.



"Ok, aku akan mencarinya di taman Diamond" kata Refano.



"Kau akan ke istana Diamond? " tanya Alex.



"Iya, apa salahnya, itu juga istanaku" jawab Refano.



"Ya sudah terserah dirimu paman" jawab Alex.



♡♥♡♥♡♥♡



Refano memasuki istana Diamond. Himeka berlari memeluk putra sulungnya itu.



"Ibu" Refano membalas pelukan ibunya kemudian membelai punggungnya.



"Ibu merindukanmu, tampan" kata Himeka.



"Aku juga bu" kata Refano.



Mereka pun duduk di ruang keluarga. Berbicara empat mata layaknya seorang ibu dan anak.



"Dimana Devano dan Sam bu? " tanya Refano.



"Dev sedang menyelesaikan masalah kerajaan diluar, Samuel ada mungkin di taman samping" jawab Himeka.



"Boleh aku menemuinya? " tanya Refano.



"Tentu saja, dia keponakanmu" jawab Himeka.

__ADS_1



Refano membungkukkan badannya pada Himeka kemudian berlalu ke taman samping.



Terlihat seorang remaja membelakanginya, tampaknya dia tengah mengasah belatinya.



Refano menghampirinya, dengan cepat, remaja itu berbalik dan melayangkan belatinya.



Refano tak kalah cepat langsung berkelit. Pria berambut seputih salju itu tampak terkejut. "Paman Refano " gumam remaja yang tak lain adalah Samuel.



"Maaf kukira siapa " kata Samuel kemudian membungkukkan badannya pada Refano. Refano tersenyum melihat perkembangan keponakannya yang ini.



"Tidak masalah, bagaimana kabarmu? " tanya Refano.



"Aku yakin paman pasti sudah mendengar kabar soal ibuku, aku sangat terpukul. Tidak mengira nenek yang sangat aku sayangi mengutuk ibuku dan ayahku juga membiarkan semua itu terjadi dihadapannya. Aku tahu ibuku sepenuhnya salah soal masa lalu ayahku, tapi apa ibuku tidak berhak diberikan kesempatan kedua? Aku tahu ibuku tidak peduli padaku, aku tahu ibuku tidak pernah memperhatikanku, namun dibalik semua itu, aku yakin ibuku sangat menyayangiku" kata Samuel panjang lebar dan sarat akan kesedihan.



Refano menepuk bahu Samuel. "Aku mengerti Sam, mungkin itu sudah takdir, lebih baik sekarang kau mencari kebahagiaanmu dengan cara lain" hibur Refano.



"Aku tahu, hanya paman yang peduli padaku " kata Refano.



"Aku peduli pada semua keponakanku" kata Refano. Samuel menunduk.



"Oh ya apa kau tahu tanaman ini? " tanya Refano sambil memperlihatkan kertas berisikan sketsa tanaman yang diminta Alex.



"Ini daun murty amion daun kehidupan, untuk apa paman? " tanya Samuel.



"Apa ya alasannya? " batin Refano.



Samuel menaikkan sebelah alisnya. "Paman? "



"Aku membutuhkannya, apa disini ada tanaman semacam ini? "



"Iya, ayo ikut dengan ku" jawab Samuel kemudian berlalu diikuti Samuel.



♡♥♡♥♡♥♡



Alex masih berkutik dengan ramuan -ramuan nya. "Benar sekali paman Refano, baunya menjijikan " gumam Alex.



Tak lama kemudian, Refano datang dengan tanaman yang di pesan oleh keponakan tercintanya.



"Ini benda yang kau mau" gerutu Refano sambil memberikannya pada Alex. Alex menerimanya.



"Ini juga untuk kekasihmu" kata Alex.



Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan mereka.



"Kenapa kau mau repot -repot membuat ini semua? " tanya Refano.



"Anggap saja aku membayar kesalahan ayahku yang telah membunuh kekasihmu jika ramuan ini berjalan" jawab Alex.



Refano menghembuskan napas kasar. Beberapa menit kemudian, ramuan ala Alex jadi juga.



"Akhirnya ramuan untuk menghidupkan kembali kekasihmu jadi juga" kata Alex.



"Ayo kita ke pemakaman" kata Refano.



"Tidak, berikan ramuan itu! "



Refano dan Alex terkejut mereka berdua menoleh. Ternyata Samuel.



"Samuel? Sedang apa kau disini? "



♡♥♡♥♡♥♡




By



Ucu Irna Marhamah



__ADS_1


__ADS_2