
Bianca bergegas memasuki kamarnya. Dia melihat
Devano tengah duduk sambil meminum sampanye nya.
Bianca menghampirinya. "Darimana? " tanya Bianca sambil menatap Devano dengan penuh selidik.
"Dunia manusia " jawab Devano enteng. Bianca membelalak.
"Apa yang kau lakukan ditempat itu? Kau mnemui Narura? "
"Iya"
Deg
"Apa yang kalian lakukan? "
"Seperti suami istri"
Bianca sangat geram. "Apa kau lupa ancamanku Lee? "
"Memangnya kenapa? "
"Aku akan melakukannya jika kau membangkang padaku"
"Terserah padaku apapun yang ku lakukan bukanlah sepenuhnya hakmu, ini hak ku dan Naru masih istri sah ku. Dia permaisuriku, aku menikahimu karena kau mengancamku!! Ingatlah hanya karena kau mengancamku, bukan berarti aku takut padamu! " bentak Devano.
Bianca menatap Devano dengan tajam. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya! "
"Aku akan memiliki Narura dan kedua anakku tidak tapi ketiga anakku, termasuk Sam!! "
"Sam anakku! Sam anakku Lee!! "
"Aku tahu, tapi bukankah selama ini kau tidak pernah memperdulikannya? Kau hanya memanfaatkannya sebagai senjatamu untuk melawanku! "
Bianca kehabisan kata-kata. Devano berlalu meninggalkan Bianca yang terdiam 1000 bahasa.
"Sialaaaann!!!! " teriak Bianca.
♡♥♡♥♡♥♡
Banyak tetangga Narura yang menjenguk Yoona. Mereka sangat antusias dan peduli.
"Yoona hebat, meskipun kau dalam keadaan terkepung api, kau bisa selamat tanpa luka bakar" kata salah satu dari mereka.
Yoona tersenyum. "Itu hanya keberuntunganku saja" kata Yoona.
"Yang tidak aku mengerti kenapa bisa terjadi kebakaran, padahal tidak ada sumber api" kata yang lain.
Yoona menghela napas berat. Dia sudah mengiranya, mereka pasti curiga.
"Mungkin kau tahu kenapa jadi kebakaran? "
Yoona menggeleng. "Aku tidak tahu"
♡♥♡♥♡♥♡
Narura membopong Yoona menuju ke meja makan. Mereka pun makan malam.
"Makan yang banyak yang sayang, agar kamu cepat sehat" kata Narura.
"Iya bu, tapi sebelumnya aku mau membicarakan sesuatu " kata Yoona.
"Katakan"
__ADS_1
Yoona menceritakan apa yang menimpanya kemarin sampai membuat mansionnya hampir hangus terbakar api.
Narura menautkan alisnya. Dia yakin Bianca lah dalang dibalik semua ini. Masih beruntung tuhan berpihak padanya dan menyelamatkan putrinya itu. Narura tidak akan berpikir tentang Bianca atau Yoona bisa mendengar dan membaca pikirannya kan gawat.
"Aku tidak mengira ternyata ada juga hal-hal mustahil didunia ini selain kemampuan diriku "
"Oh ya bu, besok aku akan pergi ke asrama untuk memulai JHS ku" sambung Yoona.
"Apa? Jadi kita akan benar-benar berpisah? " tanya Narura.
"Aku pasti baik-baik saja ibu" hibur Yoona berusaha menenangkan ibunya.
Padahal ada hal lain kenapa Yoona memilih berasrama. Pertama, dia mencari sekolah yang jauh agar tidak di bully oleh teman yang mengenalnya. Kedua, dia mau belajar mandiri dan mencari teman baru. Bukannya dia tidak sayang ibunya, Tapi di juga harus membuat perubahan dari sekarang.
"Baiklah, semoga kau memiliki banyak teman ya sayang" kata Narura.
Yoona tersenyum manis. Dia merasa beruntung memiliki seorang ibu sebaik Narura. Rasanya dia tidak perlu tahu siapa ayahnya. Cukup ibunya saja yang selama ini ada untuknya.
♡♥♡♥♡♥♡
Keesokan harinya, Yoona berangkat naik taxi. Narura melambaikan tangannya. Yoona membalas lambaian tangan ibunya.
Narura berhenti melambaikan tangannya setelah taxi itu menjauh dari mansion.
"Dia cantik seperti dirimu " Narura terkejut kemudian menoleh ternyata Devano yang berdiri disampingnya sejak tadi.
"Vano" gumam Narura.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya, namun mau bagaimana lagi aku cukup tahu diri dia pasti shock setelah mengetahui kalau ayahnya bukan manusia" kata Devano.
"Apa yang kau lakukan disini? Bianca pasti mencarimu" kata Narura.
"Kau istriku juga aku masih punya hak akan dirimu, jadi sekarang ikut aku " kata Devano sambil menarik tangan Narura.
"Ke istana kita, rumah kita"
Tiba-tiba semuanya gelap. Narura merasa berputar-putar dan tersedot ke sebuah lorong.
Tiba-tiba dia berada ditempat yang dikenalinya dulu. Sekarang sudah banyak berubah. Istana itu saksi kebahagiaan keluarga kecil Narura dan Devano.
Narura tersenyum mengingat setiap potongan memori yang berkelebat di kepalanya. Alex anaknya yang selalu membuatnya tertawa karena tingkah polosnya.
Air mata Narura mengalir membasahi pipinya. Devano yang melihat itu segera menghapus air mata istrinya.
"Ayo" mereka pun memasuki istana. Para pelayan terkejut dengan kedatangan raja mereka bersama permaisuri yang sangat mereka rindukan.
Narura melihat lukisan pria tampan berambut seputih salju di dinding. Langkahnya terhenti untuk melihat dengan jelas lukisan itu.
"Dia putramu? " tangan Narura.
"Iya, dia Samuel Lee" jawab Devano.
"Dia tampan sekali, tapi sepertinya dia sudah remaja, tapi bukankah usianya jauh lebih muda dari Yoona? Namun dengan melihat lukisan ini, jadi terkesan dia lebih tua dari Yoona " kata Narura heran.
"Makhluk druckless memang ditakdirkan mengalami percepatan usia secara pesat berbeda dengan manusia. Aku yakin meski Sam adiknya Yoona, namun Sam pasti akan lebih tua dari Yoona " jawab Devano.
"Sekarang dia dimana? " tanya Narura .
"Dia berlatih pedang di asrama bangsawan" jawab Devano.
"LEE!!!! "
Narura terkejut mendengar teriakan nyaring itu dia pun menoleh. Ternyata Bianca. Devano juga menoleh.
__ADS_1
"Kenapa kau bawa dia kesini! " bentak Bianca.
"Dia istriku " jawab Devano enteng.
Bianca terlihat semakin marah dia menyerang Devano dan Narura dengan pengendalian apinya.
Devano melindungi Narura. Perkelahian pun tak terelakkan. Devano berkelahi dengan Bianca.
Karena kekuatannya imbang, mereka sama-sama terpundur karena mendapatkan serangan.
Bianca menciptakan busur dan anak panah yang terbuat dari api, kemudian dia mengarahkannya kearah Narura. Narura gemetar ketakutan.
"Tidak!!! " teriak Devano sambil berlari kearah Narura. Anak panah itu dilepaskan dan.....
CEB
Anak panah itu mengenai dada Devano. "Eeiugghh"
"Vano!! " Narura panik dan segera mendekati Devano.
Bianca sama sekali tidak merasa bersalah meski dia tahu sasarannya malah mengenai suaminya.
"Heh dasar tidak berguna, kalau begitu ku bunuh saja kalian berdua!! Agar aku yang menjadi ratu disini memimpin Diamond dibawah kekuasanku! " kata Bianca sambil mengarahkan kembali anak panahnya ke arah mereka berdua.
Narura menutup matanya karena khawatir. Devano masih menghalangi tubuh Narura dari Bianca. Dan....
Jreeeessss
"Aaaa!! " teriakan itu sangat jelas. Narura terhenyak begitu pun dengan Devano.
Tidak ada anak panah. Kini perut Bianca tertusuk tombak berwarna merah.
Devano dan Narura menoleh ternyata Himeka. Jadi Himeka menyerang Bianca sebelum Bianca menyakiti kedua orang yang sangat dia sayangi.
"Tidak ada yang boleh mengotori istanaku dengan darah. Tidak ada yang berhak memimpin istana ini selain bangsawan keturunan kami. Kau hanya gadis lumpur yang dipungut Devano dulu " kata Himeka kemudian melemparkan kembali tombak yang kedua.
Jleeebbsss
Kali ini mengenai jantungnya. Himeka tersenyum mengerikan. Narura ketakutan dan bersembunyi dibalik punggung Devano.
"Eeuurrgghh " ringis Bianca kesakitan.
"Kau tidak lebih dari makhluk hina yang merebut kebahagiaan seseorang, kuharap kau tahu diri"
Himeka melemparkan tombak yang ketiga.
Crassshhh
Darah semakin banyak mengalir keluar dari luka yang dibuat oleh tombak itu.
Himeka mengucap mantra. "Dewi keadilan, hukumlah druckless laknat ini. Hatinya dan nuraninya sudah keras dan tidak ada lagi yang perlu di selesaikan dengan cara yang baik, dengan mengorbankan usia muda ku, aku kutuk wanita laknat ini menjadi batu!!! "
"Tidak!!!!! " teriak Bianca. Namun seketika dia menjadi batu dengan keadaan mengenaskan.
Himeka tersungkur dengan wajah keriput. Narura dan Devano menghampirinya.
"Ibu" Narura membantu Himeka berdiri. "Narura " Himeka memeluk menantunya itu.
Devano menghela napas lega. Setidaknya saat ini Narura dan Himeka, ibunya aman dan baik-baik saja. Hatinya kembali lega. Dia yakin setelah ini semuanya akan baik-baik saja.
lagi tamat, eits masih ada chapter selanjutnya jangan dulu dibuang dari perpustakaan kalian yaa..
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1