DIA HANTU

DIA HANTU
PENOLONG TAMPAN


__ADS_3



Yoona terbaring diatas ranjang rumah sakit. Dokter tengah memeriksanya. Narura yang berada di ruang tunggu terlihat cemas.



Dokter keluar dari ruangan tersebut. Dia menghampiri Narura. "Pemyakitnya tidak bisa di sembuhkan, selain itu, penyakitnya memang tidak berbahaya" kata dokter.



"Terimakasih, dok"



Narura menghampiri Yoona. Yoona menoleh. "Tidak bisa ya bu? " tanya Yoona.



"Maaf sayang " kata Narura sambil memeluk Yoona. Yoona membalas pelukan ibunya.



"Bukan salah ibu" kata Yoona. "Tapi kau perlu di rawat disini " kata Narura.



"Iya, tidak masalah, ibu pulang saja" jawab Yoona. "Ibu akan menemanimu" kata Narura.



"Lalu toko bunga ibu? " tanya Yoona. "Biarkan saja, ibu mencemaskanmu sayang " kata Narura.



"Lalu pekerjaan ibu sebagai dokter? " tanya Yoona. "Ibu kan bekerja disini. Ibu bisa memantau pasien dan kau secara langsung" jawab Narura.



Yoona mengangguk.



Mereka berbincang layaknya seorang ibu dan anak yang saling menyayangi. Mereka begitu saling peduli dan saling memperlihatkan kepedulian masing-masing.



Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan. Ternyata seorang pria paruh baya dengan seragam dokter.



"Permisi, Ny. Narura, kita perlu mengoperasi seorang pasien yang terkena tembakan, kami membutuhkan bantuan anda" kata dokter itu.



Narura menatap Yoona yang mengangguk padanya seolah berkata pergi saja ibu, jangan khawatirkan aku.



"Yoona, ibu akan segera kembali" kata Narura sambil mencium dahi Yoona kemudian berlalu mengikuti langkah dokter yang baru saja memintanya ikut serta mengoperasi seorang pasien.



Yoona menghela napas berat. Dia melirik koran yang berada diatas nakas. Yoona memilih mengambil koran itu dan membaca nya.



Lama sekali Yoona membaca koran itu. Lama-lama dia mengantuk. Tiba-tiba, suara derit ranjang di samping bilik kamar Yoona terdengar nyaring.



Maklum, Yoona berada di kamar yang terbagi 4 bilik. Yoona berada di bilik kedua dekat pintu keluar. Yoona menoleh ke samping kirinya.



Terlihat siluet wanita dari tirai yang sedang berdiri. Yoona merasa janggal. Ranjang pasien di bilik kiri itu terdengar berderit menandakan ada pergerakan orang di atas nya. Lalu yang berdiri itu siapa? Tidak ada suster atau pun dokter di kamar berbilik 4 itu.



Deritan ranjang terdengar lagi. Bulu kuduk Yoona meremang. Siluet wanita berambut lumayan panjang itu masih berdiri disana di balik tirai berwarna biru telur asin itu.


__ADS_1


"Hei! Jangan berisik, aku mau tidur" suara seorang pria dari bilik kanan Yoona. Yoona menoleh ke kanan. Ternyata pasien itu juga mendengar nya.



Yoona merasa sedikit tenang setelah ada pasien lain yang mendengar deritan ranjang di bilik sebelah kiri Yoona.



Yoona menatap siluet yang masih ada dan berdiri seperti semula disana.



Perlahan Yoona beranjak dari ranjangnya. Dia berjalan mendekati tirai itu dimana siluet wanita itu berada.



Perlahan, dengan segenap keberanian yang ada, Yoona menyingkap tirai itu. Tidak ada wanita yang berdiri di balik tirai itu.



Yang ada hanya seorang pasien laki-laki yang tengah terbaring dan tampak nya laki-laki itu sedang tertidur. Yoona mengerutkan dahinya.



Yoona berbalik dan matanya membelalak melihat  seorang wanita berwajah mengerikan terbaring di ranjang nya dan kini menatap nya dengan mata melotot.



"Aaaaa!!!!! " teriak Yoona sambil terpundur saking takutnya. Pasien di bilik kanan menyingkap tirai dan menatap Yoona yang terlihat ketakutan.



"Apa yang terjadi gadis kecil? Kau melihat  kecoa!?!!" gerutu pasien pria itu sarkas.



Yoona menggeleng. Kemudian dia berlalu keluar dari kamar pasien. Dia merasa tubuhnya dingin saking takutnya. Wajahnya sudah pucat dengan keringat dingin mengalir membasahi dahinya.



Yoona berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil memeluk tubuhnya sendiri. Malam ini rumah sakit begitu dingin.




Yoona tidak pernah menyakiti orang lain, bahkan dia sendiri yang sering di sakiti orang lain.



Yoona bergidik saking dinginnya malam ini. Dia melirik kesana kemari. Mungkin dia bisa menemukan  ibunya. Saat ini dia ingin ibunya. Apa ibunya masih mengoperasi pasien yang katanya terkena tembakan? Memangnya susah sekali mengeluarkan peluru dari tubuh seseorang?



Entahlah, gadis yang kini berusia 13 tahun itu akan tahu setelah dirinya menjadi seorang dokter. Yoona menghela napas berat. Tidak ada satu orang pun yang lewat di lorong rumah sakit.



Sepi sekali lorong yang di lewati Yoona. Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari dalam lantai dan menarik pergelangan kaki Yoona hingga dia terjatuh. Yoona segera bangkit dan menelisik lantai. Tidak ada apapun.



Lantai yang dia pijak tampak normal. Yoona memegang tengkuknya merasa takut.



"Yoona "



Terdengar suara wanita memanggil namanya serak. Yoona terpundur. Dia benar-benar takut.



"Yoona "



Kali ini terdengar lebih jelas. Yoona masih terpundur. Langkahnya terhenti karena dia merasa menubruk tubuh seseorang.



Yoona menunduk melihat  tangan borok penuh luka dan berbau nanah itu memegang tangannya yang putih mulus.

__ADS_1



Yoona menangis dalam diam. Dia berdiri terpaku. Tidak mampu bergerak dan berteriak. Lidahnya kelu. Yoona tidak sanggup lagi.



Yoona bahkan lupa kalau dia masih bisa mempertahankan diri dengan kekuatannya. Namun seperti nya penyakit lupa itu sudah membuat Yoona melupakan semuanya.



Yoona menghentakkan tubuhnya ke belakang berusaha menjatuhkan hantu wanita yang menyeramkan itu. Dia pun ambil langkah seribu menjauhi lorong.



Dia kembali ke kamar rawatnya. Namun pintu nya tertutup dan terkunci dari dalam.



Tiba-tiba terdengar suara desisan. Yoona yakin itu suara ular. Yoona membalikkan badannya. Dia melihat  sisik.



Yoona mendongkak menelisik mencari kepala makhluk yang lain ini.



Ternyata kepala naga. Lutut Yoona tertekuk dan Yoona pun terduduk ke lantai. Naga putih yang sangat besar itu menatap Yoona dengan nyalang.



"Yoona, aku ingin kau mati.. Kau mau mati cepat.. Atau pelan-pelan? "



Kata naga putih itu yang ternyata bisa bicara. Suaranya seperti wanita. Yoona tercengang dan menatap takut naga putih itu.



"Ke.. Kenapa.. Aku tidak mengenalmu.. Ny. Naga" kata Yoona pelan.



"Ibumu bersalah, dia merebut Devano dari ku, sebagai gantinya, aku akan membunuhmu" kata naga putih itu. Yoona menggeleng ketakutan.



"Lepaskan gadis kecil itu! "



Suara bariton itu mengejutkan Yoona dan naga putih itu. Yoona menoleh ke sumber suara. Naga put



Terlihat seorang pria dewasa yang usianya sekitar 23 tahunan itu menatap dingin naga putih yang berada di hadapan Yoona.



Yoona tidak mengenali pria itu. Pria itu mengulurkan tangannya pada Yoona. Yoona pun bangkit dan tanpa ragu berlari ke belakang pria asing itu.



Yoona merasa aman di belakang pria itu. Meski dia tidak mengenal siapa pria itu. Yoona memegang erat jubah pria tampan itu.



"Kenapa kau ikut campur Raja Evallium?! " bentak naga putih itu.



Seringaian muncul di bibir kissable sang Raja. "Tentu saja, jangan ganggu Yoona " kata Raja.



Yoona terkejut mendengar namanya di sebut pria yang ternyata adalah seorang raja. Darimana dia tahu namanya?



♡♥♡♥♡♥♡



By

__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2