
Terlihat seorang laki-laki remaja tengah berlatih pedang di tempat yang sepertinya padang rumput yang sangat luas.
Seorang pria dewasa berambut panjang mengawasinya di tempat teduh. Pria yang tak lain adalah Refano itu tersenyum melihat peningkatan dari gerakan keponakannya itu.
Beberapa menit kemudian, laki-laki tampan itu duduk disamping Refano kemudian meneguk minumannya.
"Di usiamu yang ke-14 ini tampaknya kau begitu semangat untuk berlatih" puji Refano.
"Benarkah? " tanya Alex.
"Iya, oh iya kemarin ini aku menemui Sam" kata Refano
"Lalu? " tanya Alex.
"Sepertinya dia sama sekali tidak dipedulikan ibunya" kata Refano.
"Bukankah dia memang tidak menyukai anak kecil? " kata Alex dingin.
"Kupikir dia akan menyayangi anaknya, mungkin dia memang menyayangi anaknya namun dengan caranya sendiri " kata Refano sambil menatap lurus kedepan.
Alex melirik Refano. "Paman menyayangi anak itu? " tanya Alex.
"Ahaha tidak juga, aku lebih menyayangimu dan Yoona, tapi bagaimana pun juga, Sam keponakanku seperti kalian " jawab Refano.
"Hmm" Alex bergumam tak jelas
"Ok, aku bingung dengan pertumbuhannya yang cepat, sekarang usianya sudah 9 tahun" kata Alex
"Dia memang tumbuh dengan cepat karena dia keturunan druckless sempurna jadi bisa saja dia akan melangkahi unurmu yang setengah druckless" jawab Refano.
"Memangnya bisa seperti itu? " tanya Alex.
"Iya, kami para druckless lahir kemudian tumbuh cepat dengan usia yang merambat. Namun setelah kami mencapai usia kedewasaan, kami tidak akan cepat tua" jawab Refano.
"Aneh" kata Alex. Refano hanya tersenyum mendengar celetukkan keponakannya itu.
"Kapan paman akan menikah? " tanya Alex yang berhasil membuat Refano mendelik kesal padanya.
"Kenapa? Apa aku salah bicara? " tanya Alex.
"Jika saja ayah payahmu itu tidak membunuh calon istriku, maka aku tidak akan sendiri terus" gerutu Refano namun masih dengan ekspresi datarnya.
"Ya, dia memang payah" kata Alex.
"Ok, jangan bahas itu, apa kita bisa membahas yang lain? " tanya Refano.
"Aku tidak punya topik yang bagus" kata Alex kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu. Refano menghela napas panjang kemudian menyusul Alex.
♡♥♡♥♡♥♡
__ADS_1
Yoona membaca buku dikamarnya. Besok ada ujian. Tiba-tiba lampu kamarnya mati.
Yoona mencari stop kontak kemudian menyalakannya namun lampu tak kunjung menyala. Mungkin ada perbaikan listrik. Dia pun berniat keluar dari kamar untuk mencari pencahayaan.
Namun, saat dia menarik knop pintu, pintu tak kunjung terbuka. Padahal dia yakin tidak mengunci pintu saat memasuki kamar tersebut.
"Apa kau takut? "
Yoona terkejut mendengar suara wanita yang berasal dari belakangnya.
Yoona berbalik, namun bagaimana pun dia tidak bisa melihat keberadaan wanita itu karena keadaan ruangan yang sangat gelap.
"Siapa itu? " tanya Yoona.
Tiba-tiba dia mencium bau anyir yang menyengat seperti darah. Dia merasa ada tangan dingin yang menarik kuat kakinya hingga dia jatuh terduduk.
Yoona berusaha mendengar suara batin seseorang yang dia yakini tengah menerornya.
Namun yang terasa hanyalah kebencian yang mengganggu pikiran si pengganggu.
"Apa yang kau mau? " tanya Yoona.
"Matilah kau! " terdengar teriakan dari atas dan crass. Ada sesuatu yang menusuk lengan Yoona. Yoona tidak berteriak, namun dia meringis kesakitan.
Yoona yakin saat ini darahnya mengalir membasahi kaos putihnya. Yoona yakin sesuatu yang menusuk lenganya itu adalah pisau yang sangat tajam.
Yoona bangkit. Namun dia merasakan keberadaan nya didepan wajahnya. Yoona yakin wanita itu kini tengah menatapnya namun Yoona tidak merasakan hembusan napasnya ataupun detak jantungnya.
Yoona berpikir dia pasti hantu. Namun dengan segenap kekuatannya, dia mengeluarkan air dari telapak tangannya dengan hati -hati kemudian air itu membeku dengan secepat yang dia bisa, dia menghajar wajah itu dengan es batu buatannya.
Druaggss terdengar teriakan keras dari wanita itu. Yoona segera meninju pintu kamarnya dengan kepalan tangannya yang terbungkus es batu hingga hancur.
Yoona tidak mengira kekuatannya akan sebesar itu. Dia segera menuruni tangga, namun dia tidak hati-hati sehingga dia jatuh berguling-guling sampai ke lantai satu. Namun Yoona masih sadar dan segera bangkit walau masih mengaduh.
Yoona memegang dahinya yang berdarah. Dia terkejut melihat kuku besar sebesar gading gajah menancap di lengan kanannya. Awalnya dia mengira itu adalah pisau ternyata kuku aneh yang menjijikan.
Yoona mencabutnya dan melemparkannya ke sembarangan arah, dia berbalik dan akan berlari, namun langkahnya terhenti dan tubuhnya gemetar hebat melihat sesuatu yang menakutkan dan mustahil dan sangat mengerikan kini berada dihadapannya.
Keringat dingin mengalir deras dari dahinya. Yoona menatap tak percaya pada apa yang di lihatnya yaitu seekor naga besar sekali mungkin sebesar bus atau mungkin lebih kini mata besarnya menatap tajam kearah Yoona.
"What the... " gumam Yoona pelan karena takut dan tidak percaya.
Naga itu membuka mulutnya dan siap menghembuskan api. Yoona berlari dan berusaha keluar dari mansion ibunya itu.
"Demi tuhan! Apa itu!! " teriaknya kemudian berlari kearah pintu keluar. Namun pintu itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.
"Oh tidak.. "
Yoona berbalik dan naga itu sudah berada dihadapannya.
__ADS_1
"Berhenti menggangguku!! " teriak Yoona. Naga itu menghembuskan api kearah Yoona. Yoona dengan cepat mengarahkan kedua telapak tangannya ke naga itu dan menyemburkan banyak air.
Api kalah dengan air, namun ada juga beberapa barang yang terkena api dari naga itu sehingga terjadi kebakaran.
Naga itu terlihat marah kemudian menggerakkan ekornya dan berhasil membuat Yoona terlempar ke dinding kemudian jatuh ke lantai.
Yoona meringis kesakitan. Naga itu mendekat namun tiba-tiba seseorang berjubah berdiri di depan Yoona.
Yoona terkejut. Darimana orang itu berasal? Atau lewat mana disaat semua pintu dan jendela di mansion itu tertutup.
Dengan mantra aneh, naga itu menggeram kesakitan kemudian menghilang dari pandangan Yoona.
Pria berjubah itu sedikit menoleh. Yoona terkejut ternyata dia masih kecil dan mungkin tidak jauh berbeda dengan usianya.
Tiba-tiba, pria itu menghilang. Yoona masih terpaku, namun kemudian, dia teringat kalau mansionnya kebakaran.
Terdengar teriakan warga dari luar. Yoona segera memadamkan api didalam mansion. Asap mengepul karena efek air yang menyiram api.
Terlalu banyak asap yang masuk ke paru-paru Yoona dan dia pun tak sadarkan diri.
♡♥♡♥♡♥♡
Perlahan mata Yoona terbuka. Dia melirik kesana kemari. Dia tidak mengenal ruangan bercat putih ini.
Narura yang sedari tadi menemani Yoona, menyadari Yoona telah terbangun. Dia segera memeluk putrinya itu.
"Yoona sayang "
"I.. Ibu"
"Dokter! Dokter! Anak saya sudah siuman" kata Narura.
Dokter dan suster memasuki ruangan tersebut. Dokter memeriksa keadaan Yoona.
"Ini diluar dugaan Ny. " kata Dokter.
Narura terlihat cemas. "Maksud dokter apa? " tanya Narura.
"Meskipun anak ibu tertusuk pisau dan terjatuh dari tangga kemudian terjebak didalam kobaran api, tampaknya dia tidak shock sama sekali dan kondisi mentalnya baik-baik saja " kata dokter.
Narura menghela napas lega mendengar penjelasan dokter.
"Aku bahkan tidak shock, mungkin karena aku sudah kehilangan mental normalku" batin Yoona.
♡♥♡♥♡♥♡
__ADS_1
By
Ucu Irna Marhamah