
Yoona kecil tengah membereskan bunga yang menurutnya tidak rapi.
Senyumannya terukir dibibir manisnya. "Ah, dimana ibu ya, oh ibu pasti pergi ke rumah sakit" gumam Yoona.
Terlihat seorang gadis kecil yang sebaya dengan Yoona berniat mengejutkannya dengan mengendap-endap mengejutkannya. "Bingo!! "
"Aku sudah menyadari keberadaanmu Shiray" kata Yoona tanpa menoleh.
Shiray mendengus kesal. Yoona membalikkan badannya kemudian tersenyum.
"Selalu saja" pikir gadis yang bernama Shiray itu.
"Aku mendengarmu" kata Yoona.
"Ah? Ih kau curang selalu membaca pikiran orang lain" gerutu Shiray dengan manisnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa membaca fikiran orang lain.. Kadang aku merasa kalau aku ini berbeda dengan yang lain" jawab Yoona dengan ekspresi sedih.
Shiray memeluknya. "Aku hanya bercanda, jangan sedih, tidak apa-apa, aku akan merahasiakannya dari orang lain"
"Terimakasih Shiray-chan"
"Sama-sama Yoona -chan"
Narura memasuki toko bunganya. Dia terkejut melihat Yoona dan temannya berpelukan.
"Ada apa ini gadis -gadis manis? Apa kalian diganggu anak laki-laki lagi? " tanya Narura cemas.
Yoona dan Shiray berhenti berpelukan mereka berdua menoleh pada Narura yang masih mengenakan seragam dokter.
"Tidak bu, tidak ada apa-apa" jawab Yoona.
Narura memeluk Yoona kemudian Shiray.
"Ya sudah bibi Naru, aku mau pulang ya, bibiku pasti sudah menunggu" kata Shiray.
Narura mengangguk.
"Dadah bibi, dadah Yoona" Shiray pun berlalu meninggalkan Narura dan Yoona.
"Ibu, kenapa aku seperti ini? " tanya Yooyna.
"Apanya sayang? "
"Kenapa aku bisa membaca pikiran orang lain? Bisa mengendalikan air? Bisa menumbuhkan kembali tumbuhan yang mati? " tanya Yoona bertubi-tubi.
"Sayang, itu kemampuanmu yang istimewa dan tidak dimiliki orang lain"
"Tapi bu kenapa? Kenapa harus aku? Aku tidak bisa mengendalikannya bu, bagaimana jika teman-temanku mengetahuinya aku akan semakin dibully"
"Tenanglah sayang "
"Siapa ayahku bu"
Pertanyaan itu. Bukannya Narura terkejut, karena setiap saat Yoona menanyakan itu. Narura harus berkali-kali memutar balikkan otaknya untuk menjawab pertanyaan itu. Narura menyayangi putrinya sangat menyayangi putrinya. Kini Yoona sudah besar dan mengerti di usianya yang ke 4.
"Maaf ibu" kata itu yang lolos dari bibir Yoona.
Narura tahu, pasti Yoona membaca pikirannya yang semerawut barusan. Narura tidak akan menyebutkan nama itu atau memikirkan kejadian itu kejadian yang sama sekali tidak bisa diterima akal sehat manusia.
__ADS_1
"Aku sangat menyayangimu Yoona" Narura memeluk Yoona.
"Aku juga ibu, maafkan aku" tangisan Yoona pecah.
Narura melepaskan pelukannya kemudian mengusap air mata di pipi Yoona dan mencium kening Yoona dengan penuh kasih sayang.
"Ibu, aku sudah besar" kata Yoona dengan pipi meroka karena malu dicium ibunya.
Narura tersenyum. "Kau tetap Yoona kecilku"
♡♥♡♥♡♥♡
Keesokan harinya, Yoona dan Shiray berangkat kesekolah. Disekolah, Yoona sangat cerdas. Dia juga berbakat dibidang matematika dan perhitungan. Sehingga banyak sekali murid yang iri dan selalu membullynya.
Jam pulang telah tiba ditandai dengan suara bell yang berbunyi nyaring.
Yoona pun pulang sendirian karena dia tidak sekelas dengan Shiray. Ingin sekali dia menunggu namun perutnya sudah benar-benar lapar. Jadi dia jika duluan.
Ditengah perjalanan, dia dihadang 3 anak perempuan sebayanya.
"Hai anak haram" sapa salah satu dari mereka. Bukan baru kali ini saja Yoona mendengar hinaan cacian dan cercaan temannya, dia sudah kebal akan pembullyan.
"Huu, untuk apa cantik jika kau tidak jelas asal usulnya!" ledek yang lain.
"Aku mau lewat" Yoona berlalu tapi rambutnya ditarik dan terjadilah pembullyan.
Sakit, tentu saja, kenapa Yoona diam? Apa dia bisa mengatasi mereka? Tentu saja. Lalu kenapa dia tidak melawan mereka padahal dia memiliki lebih dari cukup kekuatan.
Buagh
Yoona tersungkur dengan darah mengalir dari hidungnya.
Buagh
Tiba-tiba salah satu dari mereka tersungkur. Yoona berusaha melihat siapa yang menolongnya. Ternyata Shiray dengan ekspresi kemarahan.
"Kalian bertiga, cih gadis -gadis sialan, jika berani, lawan aku, kalian tidak berani ya" ledek Shiray.
Mereka berdua melawan Shiray namun apa daya Shiray benar-benar hebat dan jago bela diri untuk ukuran gadis 10 tahun.
Yoona menghela napas berat. Setelah Shiray berhasil membereskan mereka , dia menghampiri Yoona dan membantunya berjalan.
"Demi tuhan, kenapa kau tidak gunakan saja kekuatanmu untuk membalas perbuatan mereka " gerutu Shiray sambil berjalan dengan membopong Yoona.
"Aku tidak mau membuat mereka makin menghinaku" jawab Yoona.
"Hmm, aku benar-benar kesal pada mereka Yoona, aku merasa sedih melihat mu dicaci oleh mereka. Aku juga anak yang tidak memiliki orang tua seandainya bibi Liem tidak mengadopsiku mungkin masa depanku sudah suram" kata Shiray.
"Jangan bicara begitu, aku jadi tidak enak, bibi Liem memang baik dan sangat menyayangimu Shi" kata Yoona.
"Hmm, sebenarnya aku lebih menghawatirkanmu" batin Shiray.
Yoona tersenyum. "Terimakasih kau sudah menghawatirkanku"
"Ah? Kau membaca pikiranku lagi ya" gerutu Shiray.
"Maaf, itu terjadi dengan sendirinya" kata Yoona.
♡♥♡♥♡♥♡
__ADS_1
Yoona diam dikamarnya bersama Shiray. Shiray bercermin sambil tersenyum geli melihat gaya rambut barunya yang pendek.
"Bagaimana menurutmu rambutku ini Yoo? " tanya Shiray.
"Kau cantik, tapi menurutku rambutmu lebih baik apabila rambutmu panjang" kata Yoona.
"Ah, tapi kan ini gaya baru Yoo"
"Iya, oh ya ku dengar bibi Liem akan pindah.. Lalu bagaimana denganmu? " tanya Yoona dengan ekspresi sedih.
Shiray menghampiri Yoona kemudian memeluknya. "Aku ikut bibi Liem, tenanglah kita pasti akan bertemu lagi. Aku akan merindukanmu"
"Hmm kau sahabat terbaikku, karena mungkin juga kau satu-satunya sahabatku"
"Masih ada waktu 2 bulan lagi, kita masih bisa bersama"
Yoona dan Shiray tersenyum bersama.
♡♥♡♥♡♥♡
Narura tengah melayani pelanggan yang membeli bunga padanya.
Yoona memasuki toko. Narura menoleh "sudah pulang sayang? Ibu sudah menyediakan makanan di kotak itu" Narura menunjuk kotak bekal makanan berwarna merah muda.
Yoona mengangguk tanda merespon ucapan ibunya. Narura melihat ada luka di kening putrinya itu.
"Yoona? Apa kau di bully lagi? " tanya Narura setelah pelanggannya pergi.
Yoona menunduk kemudian menggeleng. Narura mengguncangkan kedua lengan Yoona.
"I.. Iya"
"Demi tuhan! Aku akan mendatangi rumah mereka" geram Narura sambil berlalu.
"Ibu jangan ibu, itu akan memperburuk keadaan " kata Yoona sambil menyusul Narura yang menutup tokonya.
"Ibu"
Tidak ada jawaban
"Ibu kumohon"
Narura mendengus kemudian menoleh menatap putrinya yang berlinangan air mata.
"Ibu heran, kenapa kau tidak melawan mereka, apa mereka juga membully mentalmu? "
"Aku takut lupa malah menggunakan kekuatanku"
Grep
Narura memeluk Yoona dengan erat, "aku menyayangimu, sangat menyayangimu Yoona"
*Aku tidak ingin melihat ibu sedih, aku mau melihat ibu bahagia meski dengan caraku sendiri
aku memang tidak kuat
aku sakit bu aku sakit
aku ingin ayah aku ingin
dia
Yoona Ayame
__ADS_1
By
Ucu Irna Marhamah