
fira dan Faro terkejut melihat isi lemari mereka yang sudah berubah isinya. Mereka menyadari bahwa isi lemari telah ditukar oleh lidya. Mengetahui maksud lidya. Faro menelepon sesorang.
"fi, sayang....maafkan mami..mami tidak tahu apa yang terjadi dengan kita terutama kamu". Kalimat faro merasa tidak enak.
"tidak apa. Aku yang salah kerna tidak bisa menjadi wanita yang sempurna untuk keluarga kamu". Kalimat fira tak kalah menyesal
Fira menjauhi faro dan melangkah menatap jendela yang ada di kamar faro dan juga kamarnya. Kamar mereka berdua.
"inilah yang aku takutkan faro. Suatu saat mami akan meminta keturunan pada kita. Sedangkan aku...aku belum mempunyai keberanian untuk itu. Faro....apa kamu yakin dengan menikahiku kita akan bahagia dan apakah orangtuamu akan bisa menerima ak...". Sepanjang kalimat fira tidak terdengar baik di telinga faro
"sayang sudah. Aku tidak mau lagi mendengar kalimat yang membuatku marah!". Faro memang tidak menyukai kalimat bersalah fira. Faro sudah menerima kekurangan fira dari awal. Dia tidak menyesal dengan apa yang dia lakukan dengan menikahi fira. Wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Ponsel faro tiba tiba berdering. "halo..baiklah tinggalkan pada security". kalimat faro dan langaung memutus panggilan.
"siapa?". Fira penasaran
"aku tadi meminta seseorang mengantarkan pakaian yang nyaman untukmu". Ucap faro memegak pipi tirus fira yang menjadi kebiasaannya. Sejak ia menjadi suami wanita itu.
"terimakasih ya...kamu begitu baik faro. Tapi aku masih saja...". Fira menghentikan kalimatnya dan ingin melanjutkan tapi faro mencegah kalimat yang akan keluar dari mulut fira.
"sudah. Aku tidak mau lagi mendengar kalimat yang sama. Yuk kita keluar. Aku akan mengambil titipan di depan. Kamu sekarang lebih baik bantu mami untuk menyiapkan makan malam". pinta faro, fira mendengar itu langsung menyetujui.
***
Akhirnya waktu makan malam datang. Lidya, fira dan faro sudah berada di meja yang sama. Hidangan di meja tampak menyelera. Faro yang melihat beberapa menu berbeda sangat penasaran dengan rasanya.
"yuk, tunggu apalagi...kita santap!". Ujar faro tidak sabar
Lidya dan fira hanya tersenyum mekihat tingkah faro yang bersemangat.
"bagaimana...apa makan malam kali ini ada yang tidak sesuai dengan lidahmu?". Tanya lidya yang menambahkan nasi pada piringnya.
"swperrinya lidahku mendapat pelayanan terbaik mal ini mi". Kalimat faro yang tengah sibuk dengan santapannya saat itu.
"baguslah...tapi kalau mami lihat, kamu hanya menyantap menu yang dibuat oleh fira ...menu yang mami masak kamu tidak menambahkannya...". Lidya merajuk dibuat dengan sengaja.
"uhuk..uhuk..uhuk!!". Mendengar kalimat lidya faro tak menyangka ternyata fira sangat pandai memasak. selama ini faro hanya meminta fira memasakkan sesuatu yang dia pinta saja.
"kamu kenapa...makannya pelan pelan faro...minum dulu". Fira mengusap punggung faro yang tersedak makanannya dan memberinya minum.
"kamu ini ada aja, bikin cemas tau! Lagian makan kayak orang gak pernah makan!". Kalomat lidya
"khm..habis mami sama fira kenapa masak menu yang enak! Gak salah kan faro khilaf!". Kesal faro karena lidya memojokkannya.
"banyak alasan kamu!" lidya kembali menyendok makanan yang ada dipiringnya.
__ADS_1
"kamu juga, kenapa kanu gak pernah bilang sama aku kalau kamu sangat ahli dalam memasak?". Faro benar benar tidak menyangka dengan masakn yang di buat oleh istrinya.
"kan kamu gak peenah bilang ke aku kalau kamu mau makan apa yang aku buat. Secra selam ini kamu hanya meminta aku untuk membuat menu yang kamu minta saja kan???". kalimat fira membela.
"""
Saat ini ruang keluarga sudah di huni oleh lidya dan fira. Sedangkan faro diruang kerja menyelesaikan pekerjaannya yang tiba tiba mendadak.
"fira...apa mami boleh bertanya?". Kalimat lidya ragu
"kenapa mi, mami mau nanya apa?". Jawab fira menghadap ke arah mertuanya.
"apakah mami bisa mendapati cucu mami dalam waktu dekat? Mami sangat merindukan seorang cucu nak". Kalimat lidya penuh harap.
"mi,fira akan berusaha untuk memwnuhi keinginan mami. Bantu fira dengan doa ya mi". Kalimat fira oenuh dengan pelnyesalan.
"sayang...mami selalu mendoakan kalian yang tebaik. Maafkan mami karena sudah membuatmu merasa mami desak". Kalimat lidya dan memeluk fira penuh dengan kasih sayang
"tidak apa mi. Fira mengerti dan memahami perasaan mami. sekarang mami istirahat ya. Fira mau lihat faro dulu". Pinta fira dan di iyakan oleh lidya.
Lidya merasakan ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang anak dan menantunya. Firasatnya tidak pernah salah. Ia berniat mencari tahu apa yang sedak mengganjak di hatinya.
"aku merasakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Aku harus mencari tahu.". Bathin lidya.
***
"hei..sayang...mami sudah istirahat??". Tanya faro yang menghampiri fira dan memeluk dan mengecup keningnya.
"sudah, tapi...". Fira tanpak ragu
"sayang...kenapa...mami ada membuatmu kecewa??apa mami membahas sesutu yang membuatmu sedih?". Faro menebak
"bukan aku merasa bersalah pada orangtuamu karena belum bisa memberikan keturunan untuknya. Bagaimana ini faro..aku kasihan..apa kita harus menggunakan cara itu agar...". Kalimat fira tehenti karena faro menghentikannya
"aku tidak mau membahas hal tidak masuk akal itu lagi fi. Plis!". Pinta faro.
Keduanya terdiam. Ruangan itu tiba tiba senyap, hening seketika. Keduanya saling berpelukan dan hanyut dalm pikiran masing masing. Sedangkan dibalik pintu lidya mendengarkan percakapan mereka dari tadi.
lidya semakin penasaran depan apa yang sebenarnya ank menantunya tutupi dari dirinya.
"aku harus mencari tahu apapun itu dan bagaimaaoun caranya aku harus tahu apa yang membuat mereka seperti itu!". Bathin lidya lalu kembali ke kamarnya.
**"
udara pagi ini terasa sangat dingin pendingin di kamar faro dan fira sudah mati sejak tadi malam, tapi udara dingin pagi ini terasa begitu meresap ketulang. Membuat keduanya lebih memilih tetap bertahan dalam selimut mereka.
__ADS_1
Lidya sedang sibuk memeriksa ruang kerja faro, mencari tahu tentang kecurigaannya terhadap anaknya saat ini. "surat apa ini?". Lidya membac isi surat yang ia temukan di balaki berkas yang tidak terjangkau. "ya tuhan..! Faro...apa ini..kalian menikah dengan surat perjanjian?!". Lidya syok dengan apa yang telah ia temukan.
***
Sudah pukul sembilan pagi, faro dan fira sudah bangun dan sudah segar keluar dari kamar mereka. Mereka berjalan sambil berbincang ringan menuju dapur. Beeniat untuk membuat air hangat dan menyantao beberapa camilan.
"tuan dan nyonya muda mau saya buatkan apa!". Sambut pelayan.
"air hangat dan camilan ringan saja bi?!". pinta faro.
Fira dan faro memantau setiao sudut ruangan, benar. Mereka mencari lidya. "mami mana bi?" tanya faro.
"tadi nyonya mami sedang di ruang kerja katanya mau mengambil sesuatu untuk dibaca tuan. Karena akhir akhir ini nyonya mami merasa suntuk. Katanya semua buku bacaan dikumpul disana" faro mengangguk dengan penjelasan pelayan tanpa mencuriagai sesuatu.
Pelayan memberikan apa yangvtelah di minta oleh faro. Faro dan fira meminum dan memakan camilan dengan tenang dan nikmat.
***
Faro beralih ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi malam terhenti.
"mami..". Panggil faro pada lidyabyang sedang memandang ke arah jendela.
"mami mau bicara. Tutuo pintunya!". faro merasakan hawa sang mami sedang tidak baik.
"ada apa mi?". Faro maaih belum menyadari maksud dari lidya.
"mami mau penjelasan tentang ini?!". Lidya melempar map di tangannya ke atas meja kerja. melihat itu faro langsung menegang karena itu adalah surat perjanjian pernikahannya.
"faro bisa jelaskan semuanya mi. Ini bukan seperti yang mami pikirkan. Faro ada alasan untuk semuanya mi". Faro berusaha meyakinkan.
"mami mengerti kamu terpaksa menikah tapi tidak juga dengan sebuah perjanjian seperti ini faro..." lidya kecewa pada sang anak.
"mami plis! Mami mau tau apa makaud daei isi semua itu hukan. Faro akan jelaskan!". Faro meyakinkan lidya.
Setelah lidya tenang dan mau mendengar penjelasan faro. Faro pun memualai menceritakan semua pada lidya apa yang sebenarnya terjadi...
"ya tuhan! Siapa lki lki yang tidak punya otak itu faro! Mami akan beri dia pelajaran! Bisa bisanya dia meeusak mental seorang wanita yang baik seperti fira!". Setelah mendengar penjelasan daeo faro, lidya dibuat meradang dan teeus mengutuk pria dai msalalu fira itu.
"itulah sebabnya faro menundanya mam. Namun jika mami tetap meminta maka fira menyuruhku melakukan nya dengan cara lain". ucap faro lemah
"maksud kamu??". Tanya lidya lai lagi penasaran.
"dia meminta faro melakukan itu tanpa sadar dengan menggunakan obat". Kalimat faro tiba tiba membuatnya menangis. "mana faro tega melakukan itu pada wanita yang faro sudah mencintainya mam, faro rela menunggu dari pada faro melakukan lermintaannya yang menurut Faro tidak wajar!". Faro meleoas tangisnya di oangkuan sang mami.
Lidya melihat fari sangat menyayangi fira. Iya juga paham dan mengwrti bagaimana di posisi fira saat ini. Ia sangat kasihan dengan ank dan menantunya. Di harus membuat fira percaya dan yakin pada anknya karena anaknya mamou membuat fira bahagia sampai kapanpun.
__ADS_1
***
sudah seminggu...faro dan fira kembali ke rumah mereka. Lidya sudah menerima kekurangan fira sejak ia mengetahui masa kelam menantunya.