
Malam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Namun faro belum bisa memejamkan matanya sedetikpun. Sudah lama sejak pertemuannya dengan fira benerapa bulan lalu, setelah itu merek tidak pernah bertemu lagi. Faro sangat penasaran dengan kehidupan fira yang terlihat sederhana tapi sebenarnya kaya. Entah kenapa faro sulit menghilangkan sosok wanita itu dari pikirannya.
"sial! Kenapa aku selalu teringat dengannya??. Aku juga tidak banyak bicara dengannya tempo hari, aarrggghhh!!". Faro frustasi karena sosok fira.
Faro melihat jam, dia berencana pergi ke minimarket didepan apartemennya. Itulah kebiasaan faro, jika dia dalam keadaan frustasi seperti itu ia akan melampiaskannya pada makanan instan yang ada di minimarket itu.
"untung minimarket ini buka dua puluh empat jam". Faro tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana, sepeda yang ia gunakan membuat waktu tempuh menjadi singkat.
"selamat malam mas,,". Sapa karyawan minimarket yang mengenal faro.
"malam, kamu sift malam sekarang?!". sapa faro balik
"iya mas," jawab karyawan tersebut. Faro berkeliling mencari camilan dan menemukan beberaa dan mengambil mie instan juga untuk dia sedu di minimarket.
"tolong kasih air panas", faro memberikan semua ke kasir.
"semuanya tiga puluh lima ribu mas". Kasir
"oke, makasih ya". Faro lalu mencari tempat duduk untuk menyantap mie instannya. Namun sebelum ia menduduki tempat yang ia temukan, faro melihat sosok fira sedang menikmati beberapa camilan dan juha beberapa kotak mie instan yang sudah habis.
"mau berbagi tempat duduk denganku?". Suara faro memecah lamunam fira
"mmm silahkan" lagi lagi fira cuek tidak melihat lawannya
"apa kamu sudah sembuh?". Mendengar pertanyaan dari pria itu ia langsung menoleh.
"kamu bukannya anak bu lidya? Ngapain malam malam ke sini?" fira teekwjut melihat sipaa pria yang menanyai kesehatannya
"kamu masih ingat?". Faro sambil menyantap maknannya
"ingatlah, kamu orang yang bantu aku tempo hari, gak ada yang bakal lupain kebaikan seseorang". kalimat fira
"bukannya kamu memiliki riwayat sakit perut? Kenapa memakan makanan seperri ini?". Tanya faro santai
"lagi pengen aja, lagian aku makan beginian juga sesekali". Fira melanjutkan memakn mie itu lagi.
Akhirnya keduanya menikmati makan malam yang larut bersama di minimarket itu. Faro sengaja mebawa perbincangan ringan dengan fira karen ia tahu bahwa fira sedikit pendian, entah itu baru kenal atau bagaimana.
"kau kesini pakai apa?". Faro
"aku jalan kaki deket kok sepuluh menit sampai". Jawab fira.
"mau aku antarkan kembali? malam juga sudah larut". Faro
__ADS_1
"gak apa, kamu duluan aja". Lagi lagi penolakan
"baiklah,hati hati!?". Ucap faro mengayuh sepedanya.
Sesampainya di apartemen, faro tidak langsung memasuki huniannya. Ia sejenak berdiri di loby melihat suasana yang terlihat indah diluar sana. Pandangannya jatuh tepat pada sosok yang tadi bertemu dengannya di minimarket.
"wanita itu menggunakan pakaian seperti itu di saat malam! langkah apa yang membuat wanita itu kemari...apa jangan jangan....tidak, tidak mungkin dia tinggal disini. Tapi..jika benar berarti dia juga mempunyai privasi dan menyembunyikannya dari semua orang". Gumam faro menerka nerka,
"selamat malam mna fira...apakah malam ini anda tidak bisa tidur lagi?". Sapa seorang pelayan menyambut kedatangan fira diloby
"ya, seperrinya saya tidak diperbolehkan menikmati tidur malam yang nyenyak dan setiap itu terjadi beberapa porsi makanan instan masuk dalam perut kecilku". fira menjawab sambil tersenyum. Faro yang yang melihat senyuman itu dibuat tertegun. Karena yang ia temui beberapa hari lalu dan barusan ia bertemu di minimarket ia tidak melihat senyuman wanita itu.
"dia sangat cantik dan manis jika tersenyum, tapi sayang kau tersenyum hanya untuk orang orang tertentu saja". Lagi lagi faro bergumam kebingungan. Faro berjalan menuju lift untuk kembali menuju apartemennya.
"kau juga tinggal disini?".faro tidak sadar jika dibelakngnya fira mengikuti langkahnya.
"e.eh, iya. Kamu juga disini?".faro kembali bertanya.
"ya, sudah beberapa tahun lalu. Tapi aku lebih sering di apartemen kecil yang di pemukiman warga. Disini hanya untuk menghilangkan stress karena kebih tenang". Lift terhenti di lantai yang mereka tuju. Tidak disangka tujuan mereka sama. Apartemen mereka terletak dilantai yang sama.
"hai, fira...kamu kembali?". Sapa seorang pria yang tinggal bersebelahan dengannya.
"mas, iya udah lama tidak menempati kesunyian, haha". Tawa fira disambut oleh pria itu. Pandangan faro terlihat tidak bersahabat dengan apa yang ada dihadapannya.
Malam panjang yang dilalui faro dan fira membuat mereka bertmi di lokaai yang sama dan satu lantai tempat hunian mereka.
***
Sekarang sudah kembali ke hari dimana semua pekerja kantoran seperti faro. Pagi ini dia disibukkan dengan beberapa rapat dan kesibukan proyek yang saat ini dia rencanakan.
"fa, istirahat dulu, nih kopi". Arga menawarkan secangkir kopi setelah rapat kedua yang ia laksanakan dari pagi.
"thanks!". Faro menyeruput kopi yang diterimanya.
"apa ada sesuatu yang membuatmu pikiranmu terganggu?". Arga mekihat faro yang tengah dalam memikirkan sesuatu.
"maksudmu?". Faro masih dalam keadaan tenang menikmati kopinya.
"kau seperti memikirkan sesuatu". Tebak arga
"tidak, aku hanya memikirkan pekerjaan". Faro masih menanggapi dengan santai
"kau yakin tidak berhubungan dengan seseorang?". Lagi lagi arga menebak kebenaran dari tangkapannya terhadap faro.
__ADS_1
"uhuk, uhuk...seseorang apa yang kau tanyakan padaku?!". Faro tersedak kopi yang akan ia telan.
"kau tidak bisa berbohong padaku walau sedikitpun far, aku sudah lama mengenalmu. Siapa orang yang membuatmu termenung jauh seperti hari ini. Setahu aku kau seperti ini diwaktu kau akan mendekati rania dulu. Apakh ada sosok wanita yang membuatmu penasaran selain rania?". Arga langsung pada intinya karena arga tidak suka berbelit belit. Ia tahu bahwa faro menginginkan informasi tentang seseorang.
"kau ini. Tidak bisakah aku saja yang bertindak sendiri?!". Kesal faro ketika arga mengetahui semua apa yang ia pikirkan.
"bukannya begitu, tapi aku tidak mau kau membuat onar lagi seperti dulu mencari tahu informasi sendiri tapi malah membuatmu stress berat" jelas arga dengan semua kebenaran yang ia ketahui.
"fira". Satu nama mendarat dari mulut faro
"apa!". Jelas membuat arga terkejut
"ya, dialah yang membuatku bepikir hari ini". Lagi lagi faro masih menjaga ketenangannya. Keduanya tidak sadar bahwa lidya mendengarkan percakapan mereka dari awal. Lidya bertujuan mengajak anaknya mengunjungi sebuah tempat siang ini namun terhenti mendengar percakapan kedua pemuda yang ada dalam kehidupannya.
"apa aku tidak salah dengar? Bukannya dia jauh berbeda dengan wanita idamanmu, yang aku tahu wanita seperti rania yang menunjukkan tipe wanita pilihanmu. Tapi...kali ini seorang wanita yang berbanding terbalik dengan kriteri faro almehra...". kalimat arga
"entahlah ga, sejak pertama kali aku bertemu dengannya aku tidak bisa berhenti dengan pikiran yang selalu melibatkan wanita itu. Tambah lagi tadi malam aju bertemu dengannya dan kau tahu?! Fira juga memikiki apartemen di sebelah apartemen baruku".
"fira memang baik sopan dan mandiri. Apa kau yakin ingin menyelidiki identitasnya lebih jauh lagi?". Arga memastikan keyakinan faro.
"ya, aku tidak mau otakku terganggu karena rasa penasaranku sendiri arga.." faro memelas
"apa kamu menyukainya?". Kalimat itu tiba tiba terdengar dengan munculnya sang mami dihadapannya.
"mami?!!". Keduanya terkejut
"mami mendengar semuanya. Mami setuju dengan rencna kalian. Mami menyukai wanita seksi itu". Racau lidya asal.
"MI!". Faro kesal karena sang mami menggoda lagi.
"hahahaha....kau terlihat tertangkao basah faro!". Ditambah arga menertawakan sepupunya sendiri.
"apaan. Kalian mau membuatku malu?!". Faro merajuk dan berlalu oergi meninggalkan kedua orang keluarganya di ruangannya saat ini. Lidya dan arga kebali tertawa senang karena faro sudah mulai membuka hati untuk seorang wanita.
"jangan lupa! Cari tahu identitas dan informsi dasar tentangnya lebih dulu!?". Faro berucap di balik pintu dan berjlan menuju ruang rapat.
***
"apakah sudah waktunya aku membuka hati untuk wanuta? Tapi kenaoa harus fira??". Faro menerawang kelangit langit kamarnya. Memulai bertanya pada dirinya sendiri tentang oerasaan aneh yang ia rasakan saat ini pada fira.
Faro mengingat lagi sosok wanita yang sedang ia pikirkan. Soaok wanita cuek yang memiliki senyum yang sangat manis, penampilan yang jauh beda dari rania. Jika rania tertutup dalam berbusana. Fira adalah wanita yang sederhana dengan busana yang menunjang dengan tubuhnya yang langsing.
"ya tuhan. Jika memang engkaubtekah membukakan hatiku untuk seorang wanuta maka mudahkanlah jalanku untuk mendekati dan mengetahui saru sam lain". Faro berdoa dalam hati dan matanya lalu terpejam sehingga larut dalam mimpi malamnya.
__ADS_1