
Lidya sangat ingin melibat sang anak bahagia di saat ia tutup usia nanti. Namun hingga saat ini sang anak masih tetap pada pendiriannya. Sejak komunikasi kidya dengan fira dari awal bertemu hingga sampailah lidya beekunjung ke butik milik fira, fira tidak mau memberikan nomor telepon pribadinya pada siapapun kecuali orang tertentu seperri sahabatnya dan orang orang yang lebih lama mengenalnya.
"nyonya mami, apa nyonya tidak sehat? Nyonya terlihat pucat!?". Ucap pelayan yang selalu setia memperhatikan majikannya.
"saya sedikit pusing saja. Bisa kamu suruh faro untuk pulang?". Pinta lidya
"baiklah nyonya". sang pelayan langsung menghubungi faro segera.
Di tempat yang berbeda faeo tengah mengadakan rapat dengan beberapa pemilik peeusahaan. Namun apapun yang berhubungan dengan keluarganya ia akan mengutamakan keluarga dahulu.
"halo". Faro menjawab
"...".
"baiklah, hubungi dokter, dua puluh menit lagi saya sampai". Ucap faro lalu mematikan sepihak.
"baiklah saya rasa cukup untuk hari ini, terimakasih untuk kerjsamanya". kalimat arga.
Semua tmu rapat telah meninggalkan ruangan, faro teelihat gelisah dan tergesa merapikan berkas di hadapannya.
"ada apa far? Ada masalah dirumah?!". Arga menebak.
"ya, mami tiba tiba sakit. kau urus semua aku balik dulu!". Gegas faro.
"baiklah, hati hati bawa mobil". Arga menggeleng setelah kepergian faro yang tergesa. "semoga kau cepat temukan wanita yang bisa membuat hidup dan hatimu tenang, far". Bathin arga. Ia meneruskan pekwejaannya yang tertinggal.
***
"mi..mami??!". Suara faro menggema di seluruh ruangan.
"nyonya mami ada di kamar beliau tuan". Seorang pelayan mendekati faro dan memberitahu keberadaan lidya.
"oh iya ". Faro berlari menaiki tangga menuju kamar lidya dilantai dua.
Faro membuka pintu dan melihat lidya tengan istirahat di ranjang besar mikiknya. Faro gusar melihat lidya yang terbarik lemah. Ia teeingat akan dua orang yang peegi meninggalkannya lebih dulu pqpi dan rania.
"mi..kenapa bisa begini?". Faro memegang tangan lidya dan menciumi punggung tangan wanita dihadapannya.
"kamu pulang nak...". Lidya terbangun ketika menyadari kehadiran faro.
"pelayan kasih tahu aku tadi". Ucap faro
"mami tadi tiba tiba pusing, gak tau kenapa. Mami juga gak kerja hal berat tadi". Keluh lidya
"tidak apa mi, mami cuma kurang asupan vitamin. Mami gak ada minum vitamin yang di berikan dokter dalan beberapa hari ini kata pelayan tadi. Bisa mami jelasin kenapa mami lupa minum satu vitamin satu hari itu??". Kalimat faro
"mamibeberapa hari ini sering makan diluar, terus malamnya karena udah gak nafsu buat makan jadi mami langsung tidur, lalu melupakan mereka". Jujur lidya
"keluar??? Memangnya mami kemana?? Mami ngumpul teman teman mami juga ada jadwalnya kan??". Tanya faro penuh selidik.
"mami berkunjung ke butiknya fira". Lagi lagi lidya tidak dapat berbohong.
"fira....fira yang tempi hari kita bantu itu??!". Faro terus meyakinkan
"iya nak. Mami beberapa hari ini berkunjung ke butiknya. Karena dalam minggu ini dia ada di butik. Mami juga melihat dia bekerja beberapa minggu ini. Dia seorang wanita yang pekerja keras. Mami suka dengan wanita itu faro". Jelas lidya panjang
"maksud mami?!". Faro menemukan kalimat inti dari penjelasan lidya
"mami menyukainya faro, mami mengharapkan lebih dari kedekatan mami ini. Kamu lihat kondisi mami diusia segini mami masih belum menggendong seorang cucu". Lidya menerangkan
"tapi mi! Aku tidak ada rasa apapun pada wanita itu. Tidak mungkin aku mendekatinya karena terpaksa kan mi?!". Tolak faro lembut.
"kamu coba buka hati kamu kembali sayang. Mami tahu kamu paati bisa membuka hati kamu kembali dan kamu bisa seperti dulu menjadi pri yang hangat lagi nak". Jelas fira
"mi, lain kali kita bahas ya, mami istirahat dulu". Faro menghentikan percakapan.
__ADS_1
"kalu begitu mami gak akan sembuh haya demi kamu, biar mami nyusul papi dan rania!". Rajuk lidya
"MI! Mami bisa gak sih jangan bicara seperti itu sama faro?!! Mami mau ninggalin faro sedangkan kalian berkumpul di alam lain Begitu???". nada faro kesal mendengar kalimat lidya
Lidya hanya diam dan membelakangi faro yang tengah emosi karena ulahnya. Faro pergi meninggalkan kamar kisya dan menuju kamarnya di lantai satu. Faro tidak habis pikir dengan apa yang kelur dari mulut sang mami. Walupun faro menaruh rasa penasaran kepada fira tapi belum tentu itu perasaan suka melainkn hanya perasaan keingintahuan saja.
"aaarrggghhh!!!!". Faro frustasi. "kenapa harus wanita itu?? Kenap harus dia!". Faro membuka jas yang maaih terpasang rapi di tubuhnya, menghempas js kerja itu kesebuah kursi besar yang ada di kamarnya.
Faro peegi ke kamar mandi untuk membaauh wajah yang terasa panas karen cuaca siang ini tampak begitu cerah dengan pancaran matahari yang terasa panas.
Setelah mencuci muka, faro kembali merogoh handuk kecik dan mengeringkan wajahnya dengan pikiran yang masih bercampur.
"apa aku harus mengikuti permintaan mami???". Gumam faro.
***
Seminggu sudah berlalu, lidya sudah kembali sehat seperti biasa. Tapi faro tidak mengizinkan lidya keluar rumah. Oleh sebabnya lidya hanya bisa patuh pada sang anak. Ia juga sadar dengan perkataannya yang akan menyusul suami dan menantunya pasti membuat perasaan faro sedih. Hasilnya lidya hanya bergekut dengan pwkerjaan rumah yang sengaja ia cari agar tidak bosan.
Di apartemen mewah, seorang pria tampak sedang bermalas malasan. Ia masih teringat dengan kalimat sang mami tentang mendekati fira. "apa wanita itu bisa didekati dengan mudah?? Jika dilihat dari kewaspadaannya mungkin sedikit sulit mendekatinya". Faro meremas rambutnya karena terlalu sulit menebak nebak.
Tepat di hari sabtu faro setia menghuni apartemennya. Ia mengingat kapan terakhir kali ia bertemu fira di apartemen yang sama. "mungkin saja minggu ini dia beekunjung kemari?". Lagi lagi faro menerka nerka
Faro tidak akan menunggu lagi, jika ia tersu meneeka. Maka rambutnya akan habis karen memikirkan hal yang tidak terjangkau oleh otaknya.
faro bangkit dari tempat pembaringannya lalu menuju kamar mandi, tidak butuh waktu lama membersihkan tubuhnya faro keluar dengan menggunakan stelan santai, celana tiga perempat dan kaos oblong. Faro keluar daei apartemen dan melihat pintu apartemen fira terbuka. Sepertinya fira sengaja membuka pintu itu. Karen faro teringat ketika ia pertama kali datang ke apartemen ini. Iya teringat percakapan nya dengan pelayan....
....
"maaf, kenapa pintu itu terbuka seperri itu?". Tanya faro pada pelayan
"oh, jika ada kerusakan, pemilik apartemen harus membuka pintu agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pelayan dengan pemilik". Ringkas pelayan khusus bangunan itu.
....
Ting !
Lift terbuka, faro melihat sosok fira dalam lift itu. "selamat siang..". Sapa faro
"siang". Fira terlihat tersenyum
Deg
Senyuman fira membuat jantung faro tidak normal. Entah kenapa faro terasa aneh ketika melihat wanita di hadapannya tersenyum.
"oh iya, tadi aku lihat pintu apartemwn kmu terbuka". Faro mencoba memulai
"iya, ada lampu yang tidak berfungsi jadi aku panggil pelayan khusus untuk memperbaiki". Jelas fira
"oh begitu, ada yang mengawasi merek di dalam?". Faro bertanya lagi
"aku menggunakann kamera tersembunyi di ruangan luar jadi mereka tidak bisa berbuat apa apa. Juga aku bisa meninggalkan mereka paling lm ya tiga puluh menit". jelas fira lagi yang membuat faro kagum dengan persiapan fira.
"baiklah, swmoga harim menyenangkn". Kalimat faro
"kamu juga". Balas fira dan berlalu menuju apartemennya.
***
Hari ini begitu terasa panjang jika tidak bekerja. Faro tidak ada sedikitpun kegiatan di hari sabtu ini. Setelah ia makan siang diluar ia kembali ke apartemen. Jam masih menujukkan pukul tiga sore.
"bekerja lebih baik dan waktu cepat berlalu, apakah pengangguran seperti ini setiap hari??".faro saat ini sedang menyaksikan layar televisi.
bosan dengan acara televisi, faro berjalan menuju balkon yang pemandangan jatuh pada pemandangan kota yang penuh dengan kendaraan yang melaluinya.
setelah melihat lihat, faro mengedarkan pandangannya kearah lain dan menemulan sosok wanita yang tadi ia temui di lift saat mau makan siang.
__ADS_1
Fira terlihat sedang mengikat rambut sehabunya, faro terpana melihat penampilan fira yang begitu minim. Walaupun tubuh wanita itu tertutuo namun pakaan mini yang dikenakannya membuat pikiran oria dingin itu merayap entah kemana mana.
"ya tuhan! Nikmat apa ini". Racau faro.
"baiklah fania! minggu depan aku akan kesana!". Fira telihat kesal dan menganggalkan alat sambung dengar ponsel pintar miliknya.
fira kembali mengedarkan pandangan dan melihat faro sedang menatapnya heran.
"apa kau baik baik saja?". Tanya faro
"ya, kau sedang apa?" kembali fira yang bertanya
"aku hanya menghabiskn waktu namun sayang ternyata sukit melalui satu hati tanpa bekerja". Keluh faro mendekati balkon yang bersebrangan dengan fira.
"apa sabtu minggu kau libur?". Fira
"hmm..behitulah. biasa aku menginap dirumah mami, tapi kali ini aku sengaja menghindar karena mami membahas hal yang tidak maauk akal padaku akhir akhir ini". Curhat faro tanpa sadar.
"jadi kau kabur dari mami mu?". Terka fira
***
Empat bulan berlalu, kedekatan faro dan fira sudah bisa dibilang dekat. Mereka sering bertemu di akhir pekan faro seeing beekunjing ke apartemen fira hanya sekadar tawaran faro membawa makanan untuk sisantap bersama. Sebaliknya fira sesekali mengunjungi faro dengan memberikan makanan buatannya.
Pertemanan mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Walaupun baru beberap bulan.
"arga, kamu tahu apa tang dikerjakan faro setiap minggu?". Tanya lidya oda arga ketiga ia bekunjung ke rumah melihat sang tante.
"tidak tante, yang arga tahu dia hanya di apartemen". Kalimat arga
Lidya tidak tahu dengan kedekatan faro dan fira beberapa bulan ini. Tapi libya tidak mau ikut campur dengan kehidupan sang anak.
***
Entah sudah minggu keberapa, faro tiba tiba tidak keluar dari apartemnya. Faro audah bertukar kode pintu dengan fira bwgitu juga sebaliknya.
"far...faro....kamu ada didalam...". Fira memanggil ragu
"aku di kamar fi...uhuk uhuk!". Suara faro lemah
"faro...kamu sakit? Aku masuk ya?". Fira minta izin untuk memasuki kamr pria itu.
"ya, tidak apa apa. Aku juga masih mengenakn pakaian". Faro masih semoat bergurau dengan wanita yang terlihat mencemaskannya.
"udah lemah gini masih sempat juga becanda! Tubuh mu hangat. Udah minum obat?". Tanya fira
"udah tapi belum ada reaksi!". Rutuk faro
"ya sudah. Aku ambilkan kompres dulu. Tunggu disini!". Fira berencana mengambil kompres ke dapur namun entah apa yang mendorong faro maraih lengan fira sehingga wanita itu tepat tersandar di ranjang sampin far terbaring.
"FAR!". Fira dibuat terkejut dan berusaha menjauh namun sia sia
"biarkan seperti ini sebentar fi". Kalimat faro melemah dan tangannya erat memeluk tubuh fira. Fira yang berada dalam dekapan faro merasa tegang karena sejak sekian lama ia menjauhi pria hri ini ia kembli merasakan sentuhan pria di tubuhnya.
"ya tuhan...apa yang aku lakukan...jantung aku juga gak karuan lagi ...pasti mudah terdengar oleh pria ini!". Bathin fira. Bagaimana tidak fira mengenakn pakaian rumahannya yang biasa mini. Sedangkan faro tepat menyandarkan kepalanya pada dada fira yang terbuka tanpa ada kain membatasi. Kedua lengan faro melingkar di pinggang fira yang juga lolos dari balutan kain. Sehingga fira dapat merasakan hangat tubuh faro.
Setengah jam berlalu. Faro terbangun dengan tubuh yang segar. "aku tertidur??". Faro membuka mata namun tubuhnya masih memeluk fira yang tertidur dalam pelukannya.
"ya tuhan..apa yang terjadi..." faro masih enggan melepas pelukannya. Ia terus memerhatikan wajag lelap fira. Faro semakin sadar bahwa ia mulai menyukai wanita itu. Faro kembali merebahkan kepalanya dan menyatukan pipinya tepat pada dada fira yang terbuka. Faro melepas kecupannya tepat di dada wanita itu. Setelah perbuatannya itu. Barulah faro melapas pelukannya dengan pelan. Tapi itu disadaei oleh fira "kamu sudah bangun?". Fira membukmata dan langsung duduk daei sandarannya.
"maafkan aku. Aku ridak sadar apa yang aku lakukan sebelumnya, kerika aku bangun ku sudah memelukmu seperti tadi". Jelas faro waspada.
"tidak apa. sepertinya demammu sudah hilang. Lebih baik kamu mandi dengan air hangat. Aku akan siapkan dan setelah itu kita keluar mencari makanan, karena perutku menahan lapar sejak aku datang tadi!". Rajuk fira berpura.
***
__ADS_1