
Setelah beberapa menit diperiksa, akhirnya fira sadar. Ia menyadari bahwa saat ini sedang dalam perawatan, karena matanya menangkap kantong infus yang berada di pandangan pertama saat ia membuka mata. Fira melihat sekitar dan berusaha mengenali dua orang yang saat ini sedang duduk di kursi yanh tersedia diruangan itu.
"permisi...". Fira menyadarkan dua orang yang tengah sibuk dengan ponsel mereka.
"nak...kamu sudah sadar, kamu masih terasa sakit atau pusing?". Tanya lidya yang di ikuti oleh faro di belakang
"saya tidak apa apa bu, mungkin tadi asam lambung saya naik tiba tiba. Maaf sudah menyusahkan kalian, terimakasih sudah membantu saya. Kalian boleh tinggalkan saya. Nanti say akan hubungi seseorang untuk menjemput saya nanti". Jelas fira setelah mengucapkan terimakasih.
"tidak, kami akan menjagamu dan akan mengantarmu pulang pylang setelah infusnya habis". Tegas lidya karen ia benar benar khawatir pada wanita yang ia kagumi sebelumnya.
tok tok tok
"selamat sore. bagaimana keadaan orang itu far?". Kedatangan arga membuat semua melihat keodanya.
"mbak fira?!". Arga terkejut melihat fira yang terbaring.
"tuan arga?". Fira sedikit mengernyitkan dahinya.
"kalian saling kenal?". Tanya lidya, sedangkan faro masih diam mengamati situasi saat ini. Bukannya tidak khawatir, namun faro masih memperhatikan tingkah acuh fira terhadap orang sekitarnya, jika biasanya setiap wanita akan bertingkah aneh ketika berhadapan dengannya berbeda dengan fira. Fira hanya fokus pada lidya.
"iya mi, kami bertemu di butiknya mba fira beberapa waktu lalu". Jelas arga
"oh, kamu juga punya butik? Boleh dong tante mampir kapan kapan?". Goda lidya menghangatkan suasana yang terasa kaku.
"silahkan, lagian itu terbuka untuk sipaa saja yang butuh pakian bu?!". sambar fira.
"ga, ikut aku sebentar". Perintah faro pada asisten pribadinya. Arga mengikuti langkah faro dan meninggalkan lidya dengan fira.
"bu, pria tadi siapa?" tanya fira
"dia anak saya, dia memng seperti itu, tidak banyak bicara dan dingin kayak esbatu. Saya saja selalu kehabisan kata menasihatinya agar terlihat tidak sombong". Kalimat lidya seakan terdengar seperti tengah curhat pada sahabat.
"tidak apa bu, mungkin memang bawaannya seperti itu. Saya cuma tidak enak dengan menyusahkan kalian. Saya sudah menghubungi teman saya jadi sebaiknya ibu kembalilah pulang. Ibu terlihat lelah". Kalimat fira sopan.
"fi! Fira...kamu kenapa fi..kok bisa di infus gini! Jangan bilang kalau asam lambung kamu kumat! Aku kan udah bilang, jangan terlalu sibuk. Bukannya kamu udah fokus ke satu proyek aja. Terus kenapa bisa jadi begini sih fi...kamu mau aku sama tian setres lagi gara gara asam lambung kamu itu ha!?!". Fania datang tanpa memberi aba aba sehingga dia sendiri tidak menadari telah melewati beberapa orang dari depat pintu dan juga saru orang didalam yaitu lidya.
"fan..ssttt. Jaga aikao kamu bisa gak sih! Gak lihat apa kalau disini bukan cuma aku doang?!". Ujar fira menggeram melihat sahabatnya panik seperti biasa.
__ADS_1
"apa!". Fania sejenak menolah dan melihat lidya tepat dibelakangnya. " e.eh ada orang ya....hehe..maaf bu... Tapi...sepertinya kita pernah ketemu ya? Dimana yaa!?". Kalimat fania tergantung karena lidya langsung mengingatkannya.
"kamu benar, kita pernah bertemu di supermaket". senyum lidya hangat.
"oh iya. Aku baru ingat. Jadi ibu yang bawa fira ke sini??". Tanya fira lagi
"benar. Kami tidak sengaja lihat fira kesulitan tadi jadi kami bawa dia ke klinik terdekat". ringkas lidya.
"terimakasih ya bu". Ucap fania sopan
"fi, aku temui dokter dulu ya. Kamu udah boleh pylang atau belum. Aku gak suka kamu disini lama lama. Trauma!". Fania langsung menuju pintu keluar untuk menemui dokter. Tapi setelah pintu terbuka fania menabrak faro sangat kuat karena fania terlalu terburu buru.
"auh! Sakit!". Rintih fania
"hati hati lain kali. perhatikan jalan". Kalimat faro terdengar dingin
"lagian lo juga gak ketuk pintu! Gue pula yang lo nasihatin!". Bentak fania pada faro.
"fan..?". Sapa fira
"kamu jalan jangan kayak ngejar orang maling. Pelan juga masih sempat ketemu dokter juga kan fan?". Nada fira masih lembut bercamour malu melihat tingkah temannya.
"kamu tu gak tau apa kakau aku tu cemasin kamu fi. Tetap aja gak ngerti sama kekhawatiran aku sih?!". Sekarang beralih fania malah berubah marah pada fira.
"permisi mba.. Sudah jangan buat pasien lin terganggu sama kehadiran kita di si..". Arga membuka suara karena sudah terdengar mengganggu ketenangan pasien, tapi lagi lagi fania memarahi arga.
"iya gue tahu. Gue cuma ngingetin kalian kalau mau mas...". Kali ini kalimat fania tang terhenti.
"kalau kamu mau buat masalah disini gak usah jemput aku. Aku bisa hubungi taksi dan aku juga bisa konsultasi ke dokter tanpa bantuan siapapun!". Kali ini fira tampak jengah dengan kekhawatiran sahabatnya. Ia mengerti bahwa fani tidak ingin penyakit lamanya kembali dan membut semua sedih dan putus asa lagi.
fira mencabut saluran infus dengan tangannya. Hal itu membuat faro tertegun melihat perbuatan wanita dihadapannya. Walaupun cairan infus sudah tinggal sedikit. Tapi fira mencabut tanpa bantuan dokter. Memang tidak mengeluarkan darah dari hasil cabutan jarum ditangannya. Tapi tetap saja itu bukan hal yang baik.
"fira?! Apa yang kamu lakukan nak..kamu belum cukup tenaga?". Lidya ikut terkejut melihat kedua wanita yang emosinya sedang meledak itu.
"aku sudah sesikit baik bu. aku sudah panggil dokter tadi dengan alat itu. Jangan khawatir aku sudah terbiasa mencabut jarum itu dari lenganku". Kalimat fira menenangkan lidya.
"fira!". Fania tentu tidak bisa berkata kata dengan sahabatnya yang keras kepala.
__ADS_1
"sudah fan aku udah gak apa apa. Kamu puas!?". Fira membawa tubuhnya dusuk sisebuah kursi yang teraedia. Sejujurnya dia maaih terasa pusing tapi dia tidak mau sikao fania membuat lidya dan faro mengetahui bahwa penyakitnya memang selaku kumat.
"kamu memang keras kepala. Pulang sendiri!". Fania langsung keluar dan benar benar pulang ke rumah.
Faro heran melihat keduanya tapi mau bagamana. Dia tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.
Dokter memasuki ruangan setelah kepergian fania. "fira....kamu melakukannya lagu?". Dokter yang mengenal fira hanya bisa menggeleng karena sudah melihat jarum infus sudah lepas dari lengan pasiennya yang keras kepala.
"maaf dok, terpaksa. Fania tadi buat onar. Maaf ya dok. Maaf ya kalian juga pasti terkejut". Ucap fira bersalah atas tindaknnya.
Lidya mengangguk begitupun arga. Tidak dengan faro yang tersenyum melihat tingkah fira yang terbilang langka. Senyuman itu ditangkap oleh arga. "ternyata ada juha wanita yang bisa buat lu senyum far". Bathin arga.
"baiklah fira. Ini resep dan kamu juha tahu bukan apa saja nasehat saya sebelumnya?". Kalimat dokter.
"baik dok. terimakasih". Setelah di angguki dokter, fira memasukkan. Serep yang diberikan dojter ke dalam tasnya.
"terimakasih sudah bantu saya". Fira menundukkan tubuhnya sedikit.
"kami senang dengan itu sayang...kalau begitu kami akan antar kmu pulang" ajak lidya
"aku bisa naik taksi. Gak apa apa. Kalian sudah banyak bantu saya sampai sini. Rumah saya juga dekat dengan klinik ini kalian pulang saja, lagain taksi juga banyak lewat sini". Tolak fira.
"tidak, kami akn mengantarmu. Kami rasa inu akn jadi tanggung jawab kami. Karena kami yang membawa kamu ke sini jdi kmi harus menuntaskan kewajiban kami mengantarkanmu pulang". Kalimat faro keluar. Fira tidak ingin berdebat karena tenaganya memang sedang tidak normal. Akhirnya iya menerima tawaran faro dengan terpaksa.
"baiklah". Ucap fira
sesampainya di apartemen mungil fira, ketiganya tidak menyangka bahwa fira tinggal disini.
"apa kamu tinggal disini?". Faro
"ya, lebih enak di sini sedikit lebih ramai". Jawab fira mendengar kalimat fira. Faro berkesimpulan bahwa fira memiliki tempat tinggal lain sebelumnya.
Mendengar semu percakapan fira. Arga yakin jika hidup fira sangat tertutup.
@@@
MAAF DENGAN KETIKAN YANG MASIH BELUM SEMPURNA ATAU KURANGNYA KETELITIAN DALAM MENGETIK. WALUPUN SUDAH DI CEK , NAMUN KESEMPURNAANNYA MASIH KURANG
__ADS_1